TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Minta Sate 200 Tusuk


__ADS_3

Telah banyak memori yang mereka ukir selama setahun ini. Tetapi semuanya tentang cerita yang indah. Tentang bulan madu mereka di Bali, liburan-liburan mereka ke luar kota, ke luar negeri—dan rencananya, tahun depan, mereka akan melakukan ibadah haji bersama keluarga. Berikut Umi Ros, Abah Haikal dan juga Alif.


Seperti sedang aji mumpung—namun apa yang mereka lakukan, yakni untuk melengkapi masa-masa yang pernah terlewatkan di awal-awal pernikahan.


Potret-potret kebersamaan itu sudah terpajang di dalam kamar mereka yang dibingkai dengan pigura cantik. Ada pun foto pernikahan mereka yang di pajang dengan ukuran paling besar, yang langsung menyambut mereka pada saat masuk ke dalam kamar itu.


Perkembangan pertumbuhan Rayyan sangat baik. Dia anak yang pintar, cepat tanggap dan sangat aktif. Anak itu adalah kebahagiaan semua keluarga, cinta keluarga dan juga pelipur lara bagi setiap orang yang menyayanginya.


“Terlebih Abah. Abah tidak akan pernah bisa tanpa cucunya. Ke mana pun pergi, Raylah yang pertama kali harus ditemui kalau pulang. Sehingga ikatan batin mereka sangat kuat,” kata Umi Ros di suatu hari pada saat mereka berdua saja dengan menantunya.


“Maka dari itu, Umi bilang sama kalian. Tetap di rumah ini. Rumah ini akan menjadi milik kalian nantinya. Alif sudah punya rumah sendiri. Jadi untuk siapa lagi rumah ini kalau bukan untuk kalian?” imbuh beliau sambil menyirami tanaman yang ada di taman belakang rumah.


Sementara Vita sendiri sedang memberi makan ikan-ikan peliharaan.


“Insyaallah kami akan tetap di sini, Umi. Bersama kalian,” balas Vita dengan tulus. “Lagi pula, hanya Abah dan Umi orang tuaku sekarang. Mau ke mana lagi?”


Umi Ros mengangguk. Keduanya berpelukan dan disaksikan oleh Yudha serta Abah Haikal di atas sana. Benar-benar menyejukkan jiwa.


“Apa kau tidak ingin memelukku juga, Bah?” ucap Yudha menyindir.


“Tentu.” Abah merentangkan tangannya. Keduanya berpelukan mengharu biru. “Terima kasih sudah memberikan menantu paling baik dan cucu yang paling menggemaskan. Berikan kami cucu lagi. Kalau bisa yang banyak.”


Kelak kalau Vita mendengar saran konyol ini pasti akan kaget. Bapak dan anak, tidak ada bedanya.


“Pasti, Bah,” jawab Yudha semakin yakin karena mendapat dukungan.


“Kalau Abah suka anak kecil, kenapa Abah cuma punya dua anak? Kenapa tidak lima atau sepuluh?” tanya Yudha setelah merenggangkan pelukan. Dia juga penasaran, selama ini dia tidak pernah bertanya kenapa dia hanya mempunyai satu saudara saja.


“Hanya dikasih segitu,” jawab Abah.


“Tapi buatnya sering ‘kan Bah?”


Pertanyaan itu membuat Abah sontak murka. Beliau memukulkan remot TV ke punggung putranya sehingga lelaki itu mengaduh keras.


“Auuwww!”


“Orang tua buat plarakan! Sembarangan kamu,” ucapnya sinis.


“Aku menyesal memelukmu, Bah.”


Abah tak lagi membalas, namun tatapannya masih menajam. Beliau mengawasi saja gerak-gerik anak pertamanya itu pergi meninggalkannya ke bawah dengan wajah setengah meledek.


Tatkala Yudha sudah turun, Abah Haikal duduk di kursi hendak menyalakan televisi. Namun sayang, remot itu sudah mati karena terkena benturan.

__ADS_1


“Yasalam,” ujarnya seraya berdecak. “Yud! Yud!” panggilnya kebingungan. “Ini remot TV mati bagaimana?”


“Remot memang benda mati, Bah!” seru Yudha dari bawah. “Lain kali kalau ingin memukulku pakai TV-nya langsung ya, Bah. Jangan pakai remot. Tanggung.”


“Ya, sini kamu, Abah pukul kau pakai TV.”


Yudha tertawa di bawah. Dia puas membuat pria tua itu kebingungan menyalakan televisinya.


***


“Saya sudah sampai di depan kampus, Bu,” ucap sopir dari seberang telepon.


“Baik, saya keluar sekarang ya, Pak,” balas Vita langsung menutup panggilan. Kemudian memohon diri dengan teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu.


Sesampainya di depan, dia langsung menemukan mobil jemputannya. Pintu ditutup dan mobil pun melesat ke arah jalan pulang.


“Tidak mau mampir ke mana-mana, Bu?” tanya Pak Sopir.


“Sepertinya kita langsung pulang saja, Pak.”


"Baik...."


Tring ....


“Alif?” gumamnya. “Ada apa dia menelepon ke sini?”


Vita sempat deg-degan. Khawatir, sebab tadi pagi suaminya pergi dalam keadaan belum baik-baik saja. Pria itu masih mual-muntah seperti kemarin dan mengaku tubuhnya sangat lemas. Naf su makannya juga berkurang, tidak seperti biasanya sehingga badannya yang kemarin agak berisi kini menjadi lebih kurus.


Sebagai istri, dia sudah menyarankan agar Yudha absen dulu untuk beberapa hari ini. Tetapi apalah daya, banyak sekali project yang memerlukan kehadirannya. Kesibukan biasa melanda di akhir bulan karena jadwal closing kerap kali membuatnya lebih fokus untuk itu.


Menggeser icon panggilan, Vita langsung menyapa, “Ya Lif? Ada apa?”


“Abang ada di rumah atau tidak, Vit?”


“Kan di kantor sama kamu, Lif. Tadi pagi kita berangkat sama-sama,” jawab Vita.


“Itu kan tadi pagi, sekarang Vit. Sekarang gimana?”


“Aku masih ada di jalan. Belum sampai,” jawabnya. “Memangnya kenapa, sih, kok Alif malah menanyakan Abangmu ke sini?”


“Masalahnya suamimu ini lagi aneh.”


“Iya memang akhir-akhir ini dia aneh. Tapi kali ini aneh kenapa?” Vita bertambah bingung.

__ADS_1


“Dia minta sate 200 tusuk sama karyawan. Tapi harus ada dua ratus, dia tidak mau tahu.”


“Hah, yang benar kamu, Lif?” Vita terkejut bukan main mendengar permintaan suaminya tersebut. “Untuk apa dia minta sate sebanyak itu? Itu merepotkan orang namanya.”


“Maka dari itu, aku menanyakanmu. Barangkali yang ada di kantor ini bukan Abang, tapi Susanto.”


“Coba dipegang pantatnya siapa tahu panas,” kata Vita kemudian.


“Najis,” terdengar suara jijik dari seberang sehingga membuat Vita terpingkal. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Alif karena gaya bicaranya memang seperti itu.


“Suamimu itu tidak waras tahu tidak? Bikin gempar seisi kantor.”


“Kenapa bisa begitu, ya?” tanya Vita masih saja tergelak. “Kamu sudah tanyakan ke Abangmu, mau dimakan semua atau tidak sate itu?”


“Harus dihabiskan!” Alif menjawab dengan nada kesal.


“Ya sudah-ya sudah turuti saja mungkin dia lagi ngidam,” Vita menjawab asal. Ya, mungkin saja begitu.


“Kamu lagi hamil lagi?” tanya Alif menebak.


“Aku tidak tahu, Lif. Besok pagi aku cek. Tapi kalu misal iya, kenapa dia yang mengalami mual-muntah?”


Vita tidak begitu paham, tetapi hal ini memang bisa saja terjadi sebab karena besarnya rasa cinta seorang suami pada istrinya.


“I dont know. Dan ini sangat menyusahkanku.”


“Mohon dimaklumi ya. Aku yakin sate itu tidak akan habis, nanti kamu kasih saja orang-orang kantor biar mereka bisa ikut makan.”


“Yaaa,” jawab Alif dengan nada malas.


Usai menutup panggilan, Vita kemudian menitah Pak Sopir untuk mampir ke apotek dekat rumah. Rencananya, dia akan membeli testpack. Dia memang sudah telat menstruasi empat hari semenjak tanggal semestinya. ‘Tapi apakah betul aku hamil lagi?’ tanyanya membatin.


Vita bahkan masih merasa trauma dengan persalinan kemarin. Sekarang sudah diberi lagi secepat ini. Menurut kesepakatan bersama, dia akan merencanakan program nanti setelah akhir semester.


‘Tapi kalau misal sudah ada, apa boleh buat?’


Vita mengakui dirinya yang sering teledor. Tidak mengonsumsi pil kontrasepsi setelah berhubungan badan.


Tetapi mungkin sangat wajar bila ia dikatakan teledor. Ya, bagaimana tidak? Yudha memintanya setiap hari seperti tanpa jeda?!


***


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2