TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Pembukaan Season 2


__ADS_3

Selamat datang di season 2 ya!


Happy reading!


Maklum, namanya seorang ibu pasti akan sibuk di pagi hari untuk mengurus keluarganya. Terlebih, bukan hanya suaminya saja yang harus dia urus. Tetapi anak-anaknya kini sudah tumbuh besar: Rayyan umur lima tahun, si kembar umur tiga tahun, sehat dan gendut-gendut.


Beruntung ada Ratih; anak Bi Retno yang kini sudah menjadi baby sitternya, sehingga pekerjaan Vita agak sedikit terbantu. Meskipun kelelahan tetap tak bisa ia hindari.


“Mas Yudha mau berangkat sama Alif atau berangkat sendiri?” tanya Vita saat membantu mengancingkan baju suaminya. Enam tahun sudah usia pernikahan mereka semenjak terjadi genderang perang yang mengakibatkan keluarga kecilnya sempat luluh lantak—tak lama kemudian bersatu lagi, hingga sampai sekarang, mereka akan mempunyai anak ke empat.


“Alif berangkat pakai mobilnya sendiri, dia suka mampir-mampir soalnya. Beli ini beli itu, aku pusing kalau harus mengikutinya.”


“Itu pasti buat Dara.”


“Iya, Dara katanya lagi suka makanan yang aneh-aneh. Persis sepertimu!” Yudha menjembil pipi istrinya sampai membekas kemerahan.


Merasa sebal, Vita membalas dengan lirikan tajam. “Parah kamu, Mas,” ujarnya setengah menggerutu. “Ingat umur, ya. Jangan sampai anak-anak lihat bapaknya begitu.”


“Belum kelihatan terlalu tualah. Justru gadis-gadis suka yang dewasa seumuranku.” Yudha melihat wajahnya di cermin sembari menyisir rambutnya dan mengoleskan parfum ke bagian-bagian tertentu.


“Ya, gadis perawan tua,” celetuk Vita asal. “Aku sih kalau masih gadis mending pilih yang berondong.”


“Yang berondong masih suka minta uang sama orang tuanya.”


“Awas, ya. Jangan jelalatan di luar,” ancam Vita. Dia tahu laki-laki ini sering jadi bahan gunjingan cewek-cewek di kantor. Sebab Yudha adalah atasan yang paling ramah. Berbeda dengan Alif yang cenderung lebih judes dan to the point sehingga sulit untuk di dekati.


“Aku hanya jelalatan di dalam kamar,” balas Yudha tak mau kalah. “Apa penampilanku sudah rapi?” pria itu meminta pendapat.


“Sudah ...,” jawab Vita dengan nada panjang. “Jangan pulang terlalu sore, kasihan sama anak-anak. Mereka jarang ketemu sama kamu, Mas.”


“Aku usahakan,” jawab Yudha langsung gegas keluar. Membuat Vita mendadak jadi cemberut. Padahal dia mengharap Yudha mencium atau memeluknya lebih dulu, sebab jika mereka sudah di luar, Vita jamin Yudha tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Ada banyak orang di sana yang hilir mudik melakukan pekerjaannya masing-masing. Bi Retno, Mbak Ratih, Umi, Abah, terkadang security yang bolak-balik keluar masuk mengantarkan paket dan surat-surat dari luar.


Vita akui dia tidak punya ruang privasi lagi selama di sini. Tidak bebas seperti keluarga lain yang mempunyai rumah sendiri. Mereka hanya mempunyai waktu berdua jika malam, dan itu pun andai mereka masih mempunyai tenaga. Terkadang, kantuk lebih dulu menyerang sehingga mereka lagi-lagi melewatkan momen langka itu.


Vita menghela napasnya sejenak, “Kalau misalkan berlibur pun, aku harus membawa serta anak-anak. Terus terang aku stres, tapi aku terlalu malu untuk mengeluh.” namun kemudian Vita menggeram, “Arrrgghh, bomatlah.”


Wanita itu terlebih dahulu berbenah kemudian menuju ke kamar anak-anaknya melalui pintu connecting. Vita duduk di pinggiran ranjang menatap si kembar yang masih sangat nyenyak, “Masih bobo rupanya, biasanya jam segini sudah bangun, main-main di luar. Tumben.”


Dia mengecup Umar dan Mauza secara bergantian. Keduanya tidur dengan saling memeluk satu sama lain. “So sweet, anak Mama ....”


Klek.


Terdengar pintu kamar terbuka disusul dengan masuknya tubuh seseorang. “Eh, ada Bu Vita,” ucap Ratih begitu melihat siapa yang sedang duduk di dalam. “Saya mau ambil tas sama bukunya Kak Ray, Bu.”

__ADS_1


“Silakan,” Vita tersenyum dan mengangguk, “Rayyan sudah pakai seragam, Mbak?”


“Sudah, Bu. Lagi sarapan sama Papanya,” jawab Ratih. “Oh, iya. Saya lupa ngasih tahu. Besok Kak Ray ada acara outbound, Bu.”


“Oh, ya? Ke mana?” tanya Vita antusias.


“Ke Jambore kata Miss Bella dan membolehkan orang tuanya untuk ikut.”


“Repot kalau aku harus ikut, Mbak. Karena otomatis, si kembar juga harus di ajak. Terkecuali kalau Mbak Ratih di rumah jaga mereka.”


“Tapi Ratih juga kurang yakin Pak Yudha bakal mengizinkan Ibu Vita pergi,” kata Ratih memberikan pendapatnya.


“Iya sih, kamu benar juga,” kata Vita setelah pikir-pikir. “Berarti kali ini Kak Ray berangkat sama Mbak Ratih saja dulu.”


“Baik, Bu ....” Ratih menurut.


‘Kasihan Ray. Maafin Mama ya, Nak. Mama belum bisa membagi waktu buat Kakak.’ Mata Vita berkaca-kaca saat membayangkan anak pertamanya itu sering dia abaikan karena banyak sebab. ‘Mudah-mudahan kamu mau mengerti keadaan Mama sekarang.’


Sementara di tempat lain, Dara juga sedang melakukan hal yang sama, yakni menyiapkan suaminya sarapan dan lain-lain sebagainya. Namun bedanya, kedua manusia ini melakukan aktivitas dalam suasana hening. Tidak ramai seperti di rumah mertuanya.


“Kapan anakku lahir, sih. Sepi,” dumel Alif kepada istrinya yang sedang memasukkan beberapa barannya ke dalam tas. Selama menikah, Alif menjadi ketergantungan kepada istrinya termasuk hal-hal sepele seperti ini. Sebab jika dia menyiapkannya sendiri, pasti ada saja yang tertinggal di rumah yang menyebabkannya balik lagi.


“Memangnya di bikin dari tanah yang lima menit liat langsung jadi,” jawab Dara. Kandungannya masih dua bulan, tapi Alif sudah menanyakannya terus-menerus. Dia pikir, ini bayi kucing yang dua bulan sudah bisa lahir dan langsung jalan-jalan?


“Jangan ditunggu, ya. Soalnya malam ini aku mau rapat sama Abang ke Senen,” kata Alif setelah semuanya siap.


“Ngawur.” Alif menahan tawa sekaligus kesal secara bersamaan. “Aku berangkat dulu, jangan lupa kissnya.”


Dara menyodorkan pipinya, berpasrah diri dengan apa yang hendak Alif lakukan.


Alif menciumnya namun juga berprotes, “Padahal aku yang minta kiss.”


“Sama saja, Misua.”


“Ya bedalah. Tapi orang kurang peka sepertimu mana tahu.”


“Ini belum ada setahun kamu bisa mesra begini, nanti lima tahun ke depan apakah masih sama?”


“Oh ... sama dong!”


“Awas, kalau bohong,” ucap Dara mengancam.


“Iyaaaa,” jawab Alif tak ambil pusing. “Aku pergi dulu, ya.” Pria itu mengecup keningnya, kemudian keluar rumah. “Tunggu di rumah Umi saja biar kamu ada teman.”

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Alif selalu menyuruhnya untuk ke sana selama ia bekerja. Dia pikir, memang lebih baik begitu supaya Dara ada yang mengawasinya. Terlebih di kehamilan pertama ini, Dara masih kurang tahu mana saja yang harus dilakukan. Setidaknya dengan Vita, dia pasti bisa sambil berbagi pengalaman.


Namun setelah Alif pergi, justru Vitalah yang datang ke rumahnya. Wanita itu datang dengan membawa jus mangga di tangannya.


“Ya ampun, kamu tuh suka repot-repot orangnya, Ta.” Dara langsung menyeruputnya, tapi juga sambil menggerutu. Perempuan seperti dia memang aneh!


“Alah, tinggal di minum saja kamu banyak protes.”


“Enak, loh. Sering-sering, ya.” Dara terkekeh menyebalkan.


“Aku ingat kamu, jadi aku bikin banyak sekalian. Kasihan kamu sendirian. Pasti mau bikin juga malas kan?”


“Kamu memang paling peka heheee....” lagi-lagi Dara menyengir lebar. Tetapi sesaat kemudian dia juga heran dengan wajah kakaknya yang ditekuk, tidak ceria seperti biasanya, “kenapa hei, mukamu kusut begitu. Ada masalah?”


“Banyak sebenarnya sampai bikin moodku jelek hari ini. Makanya aku butuh hiburan.”


“Butuh hiburan kenapa datang ke sini?”


“Habis mau ke rumah Kang Sule jauh tempatnya ....”


Dara hanya terkekeh.


“Akhir-akhir ini ... Mas Yudha pulangnya selalu telat, Dar. Kenapa, ya? Dia kelihatan sibuk banget. Seperti ada yang di pikirin, tapi ditutupi....”


“Ternyata bukan Cuma aku yang merasa begitu,” kata Dara menanggapi. “Kamu tidak perlu overthinking. Mereka diam pasti karena punya alasannya, pasti demi kita juga.”


Mempunyai keadaan yang sedang sama-sama membuncit membuat Dara mengerti keadaan masing-masing.


“Apa ... perusahaan sedang kolep, Dar?” tanya Vita menduga-duga.


“Itu bisa saja terjadi, namanya juga usaha—pasti ada pasang surut.”


“Semoga tidak sampai pailit.”


“Ih, amit-amit jabang bergedel.”


Vita sontak tergelak dan melemparkan bantal bulu yang di dekatnya.


***


To be continued.


Novel ini akan lebih banyak komedinya men temen. Jadi jangan khawatir pelakor, ya.

__ADS_1


Btw siapa yang mau tau kabar rahma?


Komen di bawah👇


__ADS_2