TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Apa Setelah Ini Kamu Masih....


__ADS_3

Hari sudah sore pada saat itu. Vita sedang mengayun-ayun tubuh merah Rayyan dalam dadanya karena Baby Ray sempat menangis. Mungkin karena hawa pada saat ini sedang panas—jangankan anak kecil, orang dewasa saja merasa tidak karu-karuan.


Vita merasakan tangan mungil Rayyan menggenggam erat jarinya. Ah, dia sangat menggemaskan. Bibirnya yang sangat merah itu terbuka dan bergerak-gerak, dia suka memainkan lidahnya dan menatapnya dengan tatapan polos.


“Jangan cepat besar ya, Dek. Mama gemas,” ucap Vita sambil berulang kali mencium pipi gembul bayinya.


Saat ini Dara masih berada di luar. Dia sudah bekerja seperti biasa setelah beberapa hari libur untuk membantunya mengurus rumah selama dia masih belum pulih benar. Vita yang memaksa Dara untuk kembali beraktivitas seperti biasa, karena Vita tahu, ada keluarga Dara di kampungnya yang harus dia nafkahi setiap bulannya.


Kesetiaan gadis itu patut diacungi jempol. Dia sangat baik sekali memperlakukannya seperti saudara kandungnya sendiri. Benar-benar membantunya tanpa mengharap balasan.


Kondisi rumah masih sangat berantakan. Banyak barang-barang berserak karena Vita sedang menyambi bekerja. Mem-packing beberapa paket pesanan yang akan diambil oleh kurir besok hari.


Pada saat itu juga, terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Refleks Vita menoleh ke arah itu. Dari balik kaca terlihat seorang pria turun dari mobil, sebelum mobil itu melaju kembali. Dia adalah Yudha yang sudah beberapa hari ini tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Jika diperhatikan secara lamat, ada yang berbeda dengannya, dia terlihat lebih kurus dari yang terakhir kali Vita lihat.


Tak lama kemudian, pintu di ketuk disusul dengan suara salam. "Assalamualaikum."


“Waalaikumsalam. Buka saja pintunya, tidak di kunci.”


“Akhirnya aku bisa ke sini lagi,” ujar Yudha tanpa bisa mengatakan hal lain. Pria itu menatap senyum dua wajah orang tercintanya secara bergantian.


“Memangnya sebelumnya ke mana saja?” Vita bertanya.


“Banyak urusan.”


"Oh...."


Yudha memilih bungkam tentang sakit beserta sebabnya yang kemarin, karena bisa terkesan seorang pria yang sedang berdusta demi mendapatkan rasa simpati dari wanita di depannya.


Pria itu mendekat, matanya menyorot lunak Rayyan yang saat ini sudah menyadari keberadaannya. Dia mencondongkan wajahnya untuk mendaratkan kecupan di pipi Rayyan, tanpa Vita benar-benar  berusaha menghindarinya.


“Boleh, aku gendong?”


Vita mengangguk. Dengan segera dia memindahkan baby Ray kepada Yudha. Kemudian wanita itu menuju ke belakang untuk membuatkan minum.

__ADS_1


Di sana Vita tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Rayyan terlihat sangat nyaman di pangkuan Ayahnya. Bayi itu benar-benar anteng. Ikatan batin memang tidak bisa dibohongi, sejauh apa pun jarak pernah memisahkan.


Sembari menuangkan minum ke gelas, mata itu menggenang. ‘Adegan ini sudah kuputar ratusan kali di kepalaku. Sekarang tampak nyata di depan mata.’


“Kamu sedang sibuk?” tanya Yudha pada saat Vita meletakkan segelas jus dingin di atas meja. Arah mata Yudha melihat barang-barang yang berserakan di lantai. Plastik, kardus, gunting, pisau kecil dan lain-lain.


“Iya, aku usaha kecil-kecilan.”


“Lain kali jangan lagi. Fokus dengan kesehatanmu dan Rayyan saja.”


“Jangan melarangku.” Karena nanti, aku akan berdiri sendiri, jadi biarkan aku merintis mulai dari sekarang, lanjut Vita tanpa suara.


“Kamu boleh keras kepala untuk yang lain. Tapi jangan keras kepala mengenai hal ini. Aku akan menanggung semua kebutuhan kalian, apa pun itu.”


“Itu tidak perlu.” Nada suara perempuan itu masih terdengar tegas.


“Ini sudah menjadi kewajibanku.”


“Hanya kepada Rayyan, bukan aku.”


Yudha memejamkan matanya sejenak dan menahan napas. Dia harus mempunyai kesabaran seluas lautan untuk menghadapi istrinya yang satu ini. Keras kepalanya tidak main-main. Jika satu istrinya yang lain bersifat mengejarnya hingga membelenggu, namun satunya lagi malah membuangnya. Membentangkan jarak sejauh mungkin dan menutup pintunya rapat-rapat tanpa memberikan celah untuknya masuk sedikit pun.


Vita menggeleng. Dia sangat trauma dengan poligami yang dilakukan oleh Yudha terhadapnya. Dinikahi, di duakan, terhempas ... ah, bukan hanya itu saja. Rasanya masih sangat banyak sekali bila dia ungkit-ungkit lagi kebenaran itu. Berulang kali Vita tergores hingga berdarah-darah.


Namun bagaimana cara menyampaikannya, atau membuat pria itu mengerti?


Tidak mungkin Vita menyuruh Yudha untuk menceraikan istri pertamanya demi dirinya. Itu sangat-sangat egois, kejam dan tak berperasaan.


‘Tidak ada yang berubah. Setengah tahun lebih aku meninggalkanmu, namun kamu masih saja tidak peka.’


“Harus dengan apa cara membuatmu kembali? Masih tidak percaya, hanya kamu satu-satunya sekarang?” tanya Yudha lagi.


“Kalau Mas Yudha datang hanya ingin membahas hal ini, mending Mas Yudha pulang saja. Aku sedang tidak ingin berdebat. Jangan buat aku stres karena bisa menghambat ASI-ku.”


Vita membuang muka. Dia selalu emosi jika melihat wajah Yudha. Karena melihat wajahnya sama saja seperti ia melihat wajah madunya di sana.

__ADS_1


Demi sebuah ketenangan, Yudha merendahkan diri untuk mengalah. Masih ada batas waktu sampai nifas pikir pria itu.


“Aku ingin membelikanmu rumah,” ucap Yudha setelah beberapa saat kemudian. “Rayyan butuh tempat yang nyaman untuk tumbuh kembangnya.”


Karena Vita membungkam, membuat Yudha akhirnya berasumsi sendiri.


“Sudah aku duga, kamu akan menolaknya juga,” ujar Yudha lagi pupus harapan. Betapa rumitnya hubungan ini. Oh ya, Tuhan. Baru ada satu wanita ini saja yang menolak diberikan sejumlah materi, pikirnya.


“Sekali lagi. Ini untuk kenyamanan Rayyan, demi tumbuh kembangnya,” Yudha mengulang.


‘Coba katakanlah untukku juga.’


“Aku tunggu jawabannya,” ucap Yudha ketika pria itu hampir pergi dari sana. “Minggu depan aku usahakan ke sini lagi. Pikirkanlah baik-baik.”


Seperti yang biasa ia lakukan, Yudha mencondongkan wajahnya untuk mendaratkan kecupan di wajah sang anak. “Papa pulang dulu. Aku mencintaimu,” bisiknya lembut. Ungkapan yang sebenarnya ingin diucapkan untuk Vita, namun dibisikkan ke telinga putranya. Ya, dia sepengecut itu hingga tak berani menyatakannya secara langsung!?


Sesampainya dia di rumah, otaknya bekerja keras memikirkan seribu cara agar ia bisa kembali meraih hati Vita yang sudah sekeras batu. Karena terlalu membiarkan wanita itu sama saja membuat dia nyaman dengan kesendiriannya.


Godaan semakin banyak. Selama mereka berpisah, bukan tidak mungkin ada laki-laki yang tertarik pada istrinya. Daya pikat wanita itu cukup kuat apalagi sekarang. Sisa-sisa bekas melahirkan masih ada. Dia bukan lagi gadis remaja seperti saat pertama kali ia nikahi. Kini Vita adalah wanita dewasa dengan sikap keibuannya. Dia terlihat berkali-kali lipat memesona.


Keesokan harinya, Yudha bersiap-siap menuju ke kantor polisi. Dia berniat menjenguk istri keduanya yang belum ia temui setelah ia sembuh dari sakitnya.


“Mau Umi temani, Nak?” tanya Umi ketika dia sedang melakukan sarapan.


“Tidak usah, biar sendiri saja.”


“Makan yang banyak, tidak usah terburu-buru.”


Yudha mengangguk. Dia menerima saja apa yang Umi ambilkan untuknya. Wanita paling tulus yang dimilikinya itu setia menunggunya makan, mendengarkannya bercerita hingga mengantarkannya sampai di depan rumah.


“Hati-hati di jalan. Semoga masalah kalian bisa secepatnya diselesaikan.”


“Tolong doakan yang terbaik untukku, Mi....”


“Itu sudah pasti.” Umi tersenyum.

__ADS_1


***


TO BE CONTINUED


__ADS_2