TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Pindah Ke Ibukota


__ADS_3

Bab 23


Pemakaman baru bisa dilakukan esok harinya karena semalam hujan deras diiringi petir yang menggelegar. Jadi semalaman, yang mereka lakukan hanya mengaji di tempat. Barulah keesokan paginya, semua orang tampak terburu-buru membawa Almarhum ke tempat seharusnya.


Beberapa orang baru saja pergi dari pemakaman, menyisakan keluarga inti saja. Yaitu Kauman, Dawiya, Ros dan juga Haikal. Sedangkan anak-anak, mereka titipkan sementara ke orang rumah untuk menjaganya sampai mereka kembali.


Kesedihan masih sangat tergambar di wajah Haikal. Ros sangat memahami itu meski suaminya tak mengeluarkan tangis.


“Kal, Ayah sama Bundo pulang dulu,” pamit Dawiya menepuk pundak anaknya yang sontak mengangguk.


“Ros, kami pulang dulu, ya.” Kali ini Dawiya menatap menantunya.


“Iya, Bun. Mungkin kami sebentar lagi.”


Dawiya pun berbisik sebelum pergi, “Bujuk suamimu pulang, kasihan anak-anakmu di rumah.”


Usai mereka pergi, Ros mengusap-usap punggung Haikal yang masih berdiri memandangi tanah yang baru saja mengubur istri keduanya tersebut—tanpa mau mengalihkan pandangannya sedikit pun.


“Memang tidak mudah mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi. Sama sepertiku. Dan aku juga berharap, kelak tidak akan pernah kehilanganmu lagi,” ujar Ros memecah kesunyian.


Haikal langsung menoleh, bibirnya tersenyum dan meraih tangan istri pertamanya, “Wanita lain, mungkin akan pergi jika suaminya memilih untuk menikah lagi apa pun alasannya. Tapi hebatnya kamu masih tetap setia disisiku. Itulah yang semakin membuatku bangga dan merasa begitu dicintai.”


“Aku tahu kau melakukannya bukan untuk kepentinganmu sendiri,” balas Ros semakin mengeratkan genggaman tangan mereka, “lagi pula rugi besar kalau aku pergi. Apalagi sudah keluar dua tuyul dalam hidup kita. Bahkan kata pertama yang keluar dari bibir anak pertama kita itu bukan aku, tapi “Abi, sini, Bi. Main, Bi,” Ros menirukan gaya bicara Yudha, “sebal.”


Haikal terkekeh. Sembarangan. Benihnya dikatakan tuyul.


“Tapi janji setelah ini jangan menikah lagi, ya.”


“Tidak akan,” aku sudah capek, lanjut Haikal dalam hatinya. Tidak mungkin dia keluarkan di di sini karena dapat menyakiti hati Naya yang melihatnya, “Kita pulang?”


“Serah, kalau tetap mau di sini ya, silakan. Nanti aku bawain kasur.”


“Sama kamu?”


“Malas!” cebik Ros pura-pura kesal, dia mendahuluinya melangkah, tetapi Haikal justru mengejarnya dan mencubit pinggangnya.


“Jangan cepat-cepat jalannya.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


“Mau pacaran.”


“Mengajak pacaran di kuburan,” kekeh Ros merasa lucu.


Dua insan yang mempunyai rasa cinta sama besarnya tersebut berjalan berdampingan dan saling menatap dalam senyuman.


“Ujian cinta kita sudah berakhir, Ros. Kesabaranmu sudah terbayar,” ujar Haikal pada saat mereka mulai menjauh dari titik awal.


Ros mengangguk dengan mata berlinang, ada rasa haru dan bahagia karena kini dia sudah menjadi satu-satunya. Tetapi sedih karena harus dengan cara seperti ini. Sesungguhnya dia pun menyayangi Naya, berteman dengannya juga sangat menyenangkan. Hanya saja, mereka tidak dapat membohongi diri untuk baik-baik saja ketika dihadapkan pada kenyataan—bahwa mereka adalah istri dari satu orang yang sama.


Tak peduli ada beberapa orang yang melintas, Haikal memeluk istrinya dan mencium keningnya sangat dalam. Di bawah sinar matahari terik, keduanya berjalan saling menggenggam tangan dan saling mengasihi.


“Aku mencintaimu dalam setiap napasku.”


“Apalagi aku,” balas Ros semakin terisak.


“Berjanjilah untuk selalu mendampingiku hingga tua, sampai anak-anak kita dewasa, menikah, dan lahir keturunan kita kelak.”


“Sampai ajal tiba pun, aku akan tetap setia mendampingimu, Bi.”


Cobaan dan ujian adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan dialami semua hamba. Ketika kesulitan datang mendera, bukan berarti Tuhan sedang berpaling. Namun, justru sebaliknya.


Tuhan senantiasa memberi masalah pada hambanya bukanlah tanpa solusi, dalam Alquran jelas Allah katakan bahwa untuk mendapatkan pertolongan, maka bersabarlah dan salat untuk mengingat Dia adalah solusinya.


Allah mengingatkan kita untuk tidak meratapi nasib, tidak lemah dan cengeng.


Terkadang, kita dihadapkan pada kenyataan yang benar-benar tak sesuai dengan kehendak kita. Namun, belajar ikhlas dan berprasangka baik penting dilakukan. Karena, kita tak pernah tahu, “... Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  QS. Al-Baqarah [2: 216]


🌺🌺🌺


Menjelang usia ke 33 tahun, akhirnya Haikal memutuskan untuk pindah ke Ibukota. Mengingat di sanalah, paling mudah para pengusaha mendapatkan peluang. Dia merasa di sini belum berhasil.


Keputusan ini sempat disayangkan oleh Kauman dan Dawiya, terlebih, mereka sedang senang-senangnya mempunyai cucu. Namun, mereka tidak bisa melarang anak-anaknya dalam meraih cita-cita, sebab inginkan kehidupan yang mandiri dan lebih baik.


Pun dengan Arok dan juga istrinya. Dipisahkan dari Beringin ke Pariaman saja rasanya begitu berat, apalagi kalau pisah sampai berbeda pulau?

__ADS_1


Tetapi setelah membujuk dan menjanjikan banyak hal, akhirnya keputusan itu disetujui.


“Sekarang kan, sudah ada Hp, Bun. Kita bisa berkabar kapan pun kita mau,” ucap Ros saat mereka sedang berpamitan.


“Awas kalau kalian melupakan orang tua, Bunda kutuk jadi tempe!”


“Enak, eh.” Ros terkekeh mendengarnya.


Jakarta Timur, adalah kota pilihan mereka untuk menetap. Mereka dibekali modal dan juga harta untuk membangun rumah sendiri. Tujuannya adalah, agar cucu-cucu mereka langsung menemukan tempat yang nyaman.


Selang beberapa tahun kemudian, terbangunlah perusahaan biro perjalanan dengan nama Al Fatir yang berdiri gagah di sana meski pada akhirnya—akan tenggelam dengan bangunan-bangunan lain seiring berjalannya waktu. Karena pembangunan di sana, berkembang sangat pesat.


Ditemani oleh sang istri, usaha Haikal mendapat banyak sekali prestasi pada zamannya. Mereka sampai membuka dua cabang lain di luar kota.


Dua anak-anaknya sudah besar. Tinggi dan gagah seperti dirinya, tapi mempunyai perpaduan wajah antara mereka berdua.


Menjelang remaja, Yudha dimasukkan ke dalam pesantren Kyai Hasyim Ashari untuk menepati janjinya kepada beliau, yang masih ada di dalam kota ini.


Sedangkan Alif sendiri menolak untuk dimasukkan ke dalam sana dan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di sekolah swasta. Anak keduanya memang mencintai kebebasan. Dia tidak suka terlalu dikekang dalam lingkungan yang menurutnya tersebut, cukup mengerikan.


Setelah lulus, Yudha melanjutkan pendidikan S1 di Yaman dan kembali dengan membawa gelar LC. Alif, melanjutkan kuliahnya di Jakarta saja. Meskipun ada niatan untuk melanjutkan S2-nya ke luar negeri, tetapi tidak tersampaikan karena pada saat itu masih terlalu banyak berpikir sehingga berakhir demikian.


Yudha memang pernah melanjutkan S2-nya lagi ke negara tersebut, tetapi sampai di pertengahan, dia harus kembali karena urusan mendesak. Sebab, Abah jatuh sakit. Dan itu adalah pertama kalinya beliau sakit dalam jangka waktu yang lama sehingga ia terpaksa berhenti di sini.


“Usiaku, mungkin sudah tidak muda lagi. Jadi kau yang akan menggantikanku menjalankan usaha yang sudah kubangun dengan susah payah,” ujar Haikal kepada Yudha di depan Alif juga.


Tidak ada iri atau dengki dalam diri Alif melihat abangnya yang paling dipercaya oleh Abahnya. Namun justru ia bersyukur karena berarti dirinya tidak diberi tanggung jawab lebih.


“Baik, Bah. Doakan agar aku bisa akan menjalankan amanah,” jawab Yudha yang terpaksa berhenti melanjutkan S2-nya demi sang ayah.


Umi Ros sendiri bangga terhadap semua anak-anaknya. Bahkan sampai detik ini, pun. Wanita itu tak pernah berhenti menyebut Naya di dalam doanya. Sesekali dia menyampaikan pesan kepada kedua anaknya, bahwa Umi Naya juga teramat menyayangi mereka.


“Jangan lupa, selalu doakan beliau setelah lepas salat,” ujarnya kepada kedua anaknya.


“Iya, Mi,” Yudha menjawab.


“Alif?” tegur Umi Ros karena Alif diam saja.

__ADS_1


“Yaaaa....” jawab Alif dengan nada panjang. Dalam hati, dia sangat bangga terhadap Abahnya sendiri dan keberhasilan yang selama ini dicapai. Tetapi ada sisi lain yang tidak pernah ia terima, yakni poligaminya—sebab ia berpikir, berarti Abah pernah menyakiti Uminya sendiri.


bersambung....


__ADS_2