TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Drama Mantan Istri


__ADS_3

“Pagi, sweety,” sapa Yudha ketika hari mulai beranjak pagi. Alarm membangunkannya tepat pada pukul empat WIB. Suasana begitu sunyi, sehingga napas mereka terdengar lebih jelas. Polos, skin to skin dalam satu selimut yang sama.


Vita mengerjap merasakan belaian lembut di pipinya dengan gerakan memuji.


“Pagi juga Pak suami,” Vita membalas.


Mendengar suara lembut membuat Yudha semakin memeluknya begitu erat. “Aku suka suaramu, suka gayamu, dan suka semuanya.”


“....”


Karena Vita kembali terpejam, Yudha kembali membangunkannya dengan membuka paksa kelopak matanya. “Ayolah, buka matamu, Vit. Sudah pagi.”


“Ya ampun, Mas Yudha,” ucap Vita dengan suara agak kesal karena merasa sangat terganggu. “Jahilmu itu tidak ada obatnya.”


Yudha hanya terkekeh.


“Sebentar lagi, ya. Masih belum azan. Masih ngantuk.”


“Kita harus mandi wajib, jadi harus bangun lebih pagi.”


Nyatanya tidak begitu. Dia sendiri tak kunjung bangun karena masih sangat menginginkan.


“Capek ...,” keluh Vita dengan mulut yang wara-wiri menguap. Selain karena hal yang mereka lakukan semalam, dia juga harus mengurus anaknya yang sedikit rewel. Jadi Vita harus wara-wiri bangun tengah malam untuk menenangkannya. Namun baru beberapa jam dia bisa tertidur pulas, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Mau tidak mau, dia harus bangun untuk melakukan kewajibannya.


“Ini mau apalagi?” tanya Vita pada saat Yudha kembali memposisikan diri berada di atasnya.


“Menafkahimu.”


“Bukan seperti itu caranya.” Vita mendorong tubuh Yudha agar pria itu lekas-lekas turun, namun sayangnya sangat alot. Dia tidak akan pernah bisa mengimbangi tenaganya yang besar.


“Nafkah ada dua macam, kamu lupa?”


Vita menjawab dengan pertanyaan, “Katanya mau bersih-bersih, takut telat?”


“Kita bisa melakukannya singkat.” Yudha memaksa Vita untuk menuntaskan syahwatnya dan kembali membuat perempuan itu terombang-ambing.


***


Pagi beranjak siang. Setelah melakukan check out segala macam, semua keluarga turun ke lobby untuk menunggu jemputan mereka datang.


“Kalian mau ikut pulang juga?” tanya Umi Ros. “Maksud Umi, apa kalian tidak ingin bulan madu dulu atau menginap beberapa hari di sini,” lanjut beliau lagi memberi saran.


“Insyaallah nanti mau cari hari libur lagi, Mi,” jawab Yudha. “Setelah itu kita pergi ke luar kota.”

__ADS_1


“Ya sudah, Umi duluan,” pamit Umi Ros setelah mencium rambut lebat cucunya. Keduanya pergi dengan membawa koper kecil berisi keperluan mereka setelah dua hari menginap.


Tinggallah mereka bertiga yang juga langsung menuju ke dalam mobil dan sama-sama kembali ke dalam rumah. Tidak terlalu jauh lokasi Hotel itu—lantaran tak sampai satu jam, ketiganya sudah tiba di depan halaman rumah.


Yudha turun terlebih dahulu dibandingkan istrinya. Dia membuka pintu samping, serta menurunkan barang-barangnya untuk Ratih bawakan masuk.


Karena Ray terlihat kesilauan, Yudha menaruh telapak tangannya di atas kepala sang putra untuk melindungi sinar matahari yang menimpa wajahnya.


“Sampai merem-merem begitu,” gumam Yudha.


“Silau, Papa ....”


Tidak ada yang menduga, bahwa mereka sedang kedatangan seorang tamu. Karena mereka tidak menanyakan mobil asing yang terparkir. Tadinya, Yudha pikir itu mobil milik teman Abah atau Uminya.


Tiba di pintu, matanya langsung menangkap sosok berhijab nan anggun sedang tersenyum ke arahnya dan menjawab salam. Dia sendiri, tanpa siapa pun menemaninya. Karena Umi Ros juga baru saja sampai.


Bingung, keduanya saling tatap. Bertanya-tanya lewat matanya. Kenapa Rahma bisa datang ke sini?


“Vita, Kak Yudha,” sapanya, sontak berdiri. Dia mendekati Vita terlebih dahulu dan memeluknya erat.


Vita bergeming dengan apa yang dilakukannya. Bukan tidak bisa membalasnya, tetapi dia sedang dalam kesulitan. Kedua tangannya menahan tubuh Rayyan yang ada di dalam dekapannya.


“Ini baby Ray?” tanyanya setelah merenggangkan pelukan. Dia juga mencium pipi Ray dan mengusap kepalanya. “Kalau anakku masih hidup, pasti dia sebesar ini juga.”


“Kalian jahat, resepsi tapi aku tidak di undang,” ujarnya lagi namun tak mendapat tanggapan apa-apa.


Mendongak, Rahma kembali berbicara mengutarakan niatnya datang kemari. “Eum, maaf, aku datang ke sini. Aku mau mengambil barang-barangku yang belum sempat kuambil. Tadinya, aku ingin mengambilnya langsung, tapi aku lupa kalau aku harus minta izin kalian dulu.”


“Ambillah,” kata Yudha akhirnya.


Ditanggapi oleh Yudha membuat wajah Rahma tiba-tiba berubah semringah.


“Kak Yudha bisa bantu aku, barangku sangat banyak. Aku tidak mungkin bisa membereskannya sendiri.”


Dia seolah melupakan sesuatu bahwa mereka telah berpisah.


“Ada Ratih yang akan membantumu,” Vita menyahut untuk segera menyela.


“Tapi ... kamar itu kan kamarnya Kak Yudha, bukan kamar Ratih.”


“Mbak Rahma, plis. Mengertilah kalian bukan muhrim lagi. Nanti bisa jadi fitnah.” tegas Vita dengan mata agak menajam. “Tidak usah kujelaskan juga pasti Mbak tahu.”


Tatkala mendengar kata ‘bukan muhrim’ wajah Rahma langsung terlihat berbeda.

__ADS_1


Lalu mengapa? Memang kenyataannya demikian?


“Ayo, Mas. Masuk,” ajak Vita menarik Yudha dengan satu tangannya.


Sesampainya di kamar atas, Vita menggumam kesal, “Aneh-aneh saja.”


Sementara Yudha, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia membasuh mukanya. Matanya merah menatapi pantulan lelaki pengecut di sana. Dia merasa bersalah yang begitu besar.


Bukan menyesali apa yang terjadi, tetapi menyesal dengan dirinya sendiri yang dulu tidak bisa mengendalikan diri sehingga menyakiti dua orang perempuan sekaligus secara bersamaan.


Ia berharap, kelak Rahma bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik selain dirinya. Agar kehidupannya jauh lebih bahagia.


Satu jam berlalu, Yudha keluar saat mendengar keributan orang-orang rumah. Barang-barang Rahma sedang diturunkan dari atas, kemudian dikeluarkan dan dinaikkan ke atas mobil kap. Mungkin karena saking banyak jumlahnya, sehingga mobil biasa pun tidak akan bisa memuat.


Heran, padahal hanya beberapa bulan saja dia berada di sini. Tetapi barang Rahma sudah sebanyak itu.


Ada tiga koper besar berisi pakaian, tas-tas branded, kemudian sepatu-sepatu dan juga alat-alat make up. Belum lagi yang lainnya berupa perawatan tubuh, alat olahraga miliknya sendiri dan lain-lain.


Pada suatu kesempatan—sebelum Rahma pergi, Yudha memanggilnya untuk berbicara empat mata.


“Ibumu sudah sehat?”


“Sudah, Kak.” Rahma menjawab dengan tenggorokan tercekat. Menahan rasa sakit tak terperi.


“Syukurlah.”


Rahma mengangguk dengan kepala yang terus menunduk. Dia tidak bisa mendongakkan wajahnya yang begitu bodoh, menampakkan kelemahannya karena menangisi lelaki ini dan segala kenangan yang tersisa.


“Aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Rahma,” ucap Yudha setelah jeda keheningan beberapa saat. Teringat dulu pada suatu waktu, ia pernah melakukan kekerasan pada perempuan ini. Mencekik, memukul dan membentak-bentaknya segala rupa layaknya orang yang sedang kesurupan.


“Aku juga, kita sama-sama punya salah bukan? Aku pernah meracunimu, hampir membuat nyawamu hilang,” kata Rahma mengaku.


“Apa yang kamu lakukan karena ketidaksengajaan. Sedangkan aku melakukannya secara sengaja.” Yudha tersenyum miring menyadari betapa brengsek dirinya. “Pulanglah. Bahagiakan dirimu.”


“Baik, Kak. Terima kasih karena sudah mengajariku banyak hal untuk menyanggupi hidup.”


Yudha mengangguk. Tatkala Rahma melangkah pergi, dia melihat tetesan air mata yang tertinggal ke permukaan lantai. “Ini tangis yang terakhir kali untukmu. Kamu akan segera menemukan penggantinya.”


***


 To be continued.


Biasakan!

__ADS_1


Jadi pembaca gelap boleh tapi jgn lupain angkat jempolnya, setidaknya untuk mengapresiasi bacaan gratis ini. Tengkyu pemirsa.


__ADS_2