
Umi Ros baru saja menutup teleponnya dengan perasaan yang tentu saja sangat gemas dengan makian yang baru saja diterimanya. Bukan sekali dua kali, tidak sungkan-sungkan wanita tua itu menuding ‘kenapa anakku begini, kenapa anakku begitu’ seolah-olah mereka tak pernah memperlakukan menantunya dengan sikap yang lebih baik.
Demikian setiap yang dilontarkan oleh perempuan tua yang dungu tersebut sering kali membuat Umi Ros sakit hati dan kecewa yang begitu besar.
“Ada apa lagi sih, Umi?” tanya Alif merasa heran. Sesungguhnya keluarga ini jauh lebih damai sebelum Nely menjadi besannya. “Belum selesaikah huru-haranya?”
“Umi sudah capek, Nak. Baru sebentar damai, sekarang sudah ribut lagi. Begitu saja terus mau sampai kapan Umi begini? Makin tua malah semakin susah.” Mata Umi mengembun tatkala beliau berkata seperti itu. Lantaran merasa iba, Alif mendekatinya dan memeluknya dari samping.
“Ada saja cobaan manusia. Tidak diuji dari anak—dari menantu, tidak diuji dari menantu—dari besan, tidak dari semua itu—dari saudara,” kata Umi lagi seraya mengusap-usap lengan Alif yang tengah memeluknya.
“Kalau bisa, kamu cari istri yang orang tuanya baik, ya. Kenali betul-betul sebelum kamu menikah. Tapi kalau bisa." Umi Ros mengulangi. "Umi sudah capek sekali menghadapi besan yang satu ini, makanya kamu jangan menambah-nambah beban kami lagi.”
“Doakan saja, Mi. Mudah-mudahan seperti apa yang kita harapkan,” jawab Alif kemudian menenangkan.
“Hubungi Abangmu, sudah sampai mana dia sekarang. Kabari dia, Rahma sedang sakit perut.”
“Lah, tadi turun kenapa tidak memberitahuku?” kata Alif keheranan.
“Entahlah. Umi juga tidak tahu bagaimana jalan pikirannya. Sudah tahu apa-apa jadi salah kaprah begini tapi masih saja mengulangi hal yang sama.”
Alif mencoba menghubungi Yudha, namun tidak aktif. “Mungkin masih berada dalam penerbangan,” katanya setelah terdengar bunyi suara operator.
“Ya sudah, nanti kita coba lagi.”
“Ada baiknya nanti Rahma jangan tinggal di sini dulu, Mi. Nanti dibicarakan lagi sama Abang supaya Umi tidak stres terus.”
“Mana mungkin Umi melarangnya tinggal, Nak ... nanti jadi masalah lebih besar lagi. Orang tua itu sumbunya pendek sekali. Apa pun yang diterima, akan dicerna lain di kepalanya.”
Terdengar helaan napas kasar dari Alif. Rumah tangga Kakaknya itu sangat menyusahkan banyak orang pikirnya.
Lantas dengan sendirinya otak Alif bermonolog; keturunan apa Nely itu sebenarnya? Dan untuk apa manusia seperti dia diciptakan?
Seharusnya manusia seperti itu tidak tinggal di belahan bumi sebelah sini—tapi ada baiknya jika manusia seperti itu dipisahkan di belahan bumi paling ujung, bersama para kelompoknya; manusia-manusia terdungu dan terkolot lainnya.
Berbekal dari keyakinan, keduanya menuju ke rumah sakit yang biasa Rahma kunjungi. Mereka yakin Rahma akan menuju ke sana sekarang. Umi Ros masih sangat malas sekali menghubungi Nely untuk menanyakan keberadaannya. Karena dari suaranya saja sudah selalu membuat beliau naik darah.
“Sudah sampai di mana, kamu, Nak?” tanya Umi Ros kepada Yudha ketika mereka sedang di perjalanan. Kali ini nomornya sudah aktif. Hanya mereka berdua saja yang berangkat, karena Abah sedang mengadakan pertemuan di luar kota.
“Kebetulan sudah ada di Bandara, Mi. Baru saja tiba. Belum melakukan penutupan,” jawab suara dari seberang.
“Wakilkan dulu ke orang lain ya, Nak. Cepat ke rumah sakit, istrimu ada di sana sekarang.”
__ADS_1
Yudha justru menduga istrinya yang lain. “Vita ada di rumah sakit?” suaranya terdengar begitu senang.
“Bukan istrimu yang satu itu, tapi Rahma. Dia lagi sakit perut.”
Agak lama Yudha terdiam, serupa orang yang sedang kecewa setelah berharap terlalu tinggi. Tak lama kemudian terdengar suara lagi dari sana, “Berarti tidak ada yang menjemputku?”
“Tidak ada, Alif sama Umi sekarang. Kamu langsung naik taksi saja.”
“Itu sakit perut kenapa?”
“Umi belum tahu jelasnya. Kamu hubungi saja mertuamu langsung. Umi malas dengan beliau. Barusan sudah maki-maki Umi lagi.”
“Ya sudah, nanti Yudha tanyakan. Yudha minta maaf kalau sikap Ibunya Rahma tidak menyenangkan.”
“Kamu tidak salah. Umi tidak pernah marah denganmu. Seharusnya, Ibu mertuamu itu lebih menjaga sikapnya,” jawab Umi Ros kemudian. “Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu cepat cari taksi, ya.”
“Iya, Mi, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Telepon terputus ketika mereka sudah saling memohon diri. Yudha yang masih berada di Terminal kedatangan tersebut menjadi sangat was-was. ‘Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Ya Allah, jangan Kau berikan karma pada nyawa yang tidak bersalah. Cukup aku saja yang Kau hukum agar aku merasa adil.’
Tepat pada pukul tiga sore, Yudha sudah tiba di depan rumah sakit tempat istrinya dirawat.
Begitu ia datang, Rahma langsung sesenggukan meminta maaf padanya karena telah lalai dalam menjaga anak mereka.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kalian selamat. Lain kali lebih hati-hati lagi,” kata Yudha menjawab uraian panjang penjelasan serta permohonan maaf istrinya.
“Kok kamu sepertinya biasa-biasa saja, tidak merasa khawatir atau apa,” kata Nely menyahut.
Lagi-lagi Yudha bingung harus berkata apa kepada wanita ini, sehingga ia memilih untuk diam meski semua orang yang ada di sana menunggu jawabannya.
“Kalau sudah mendekati persalinan, mending pekerjaan pergi-pergi ke luar negeri ini dilimpahkan saja kepada orang lain. Jadi kalau terjadi sesuatu seperti sekarang, kamu bisa cepat tanggap,” kata Ilyas yang juga ikut menimbrung percakapan.
“Untuk sementara ini kan masih lama, Yah. Jadi biarkan saya bekerja dengan tenang. Tidak apa-apa Rahma saya tinggal. Toh kejadian ini juga tidak mungkin terulang kalau yang punya diri lebih berhati-hati,” jawab Yudha menahan napasnya agar tetap terdengar normal. Padahal posisinya sudah sangat memuncak.
“Kalau saya jadi kamu, semua pekerjaan itu akan Ibu bawa pulang. Ibu akan lebih memprioritaskan Rahma.”
“Ini terlalu berlebihan,” sela Yudha begitu Nely selesai bicara. “Harus kalian tahu, ada istriku yang lain yang sedang sama-sama mengandung juga, tapi dia tidak pernah menyusahkan banyak orang seperti ini.”
Mata Rahma langsung melebar, “Apa maksudmu, Kak?” tanyanya segera.
__ADS_1
Suara Rahma terdengar panik sekaligus takut. Dia merasakan diri yang begitu hancur. Ulu hatinya terasa sangat panas mendengar kabar yang sedemikian mengejutkan. Namun tanpa dia sadari, posisi inilah yang dulu pernah Vita alami, yang Tuhan balas dengan kenyataan serupa.
“Aku tidak mengulang, aku rasa ucapanku tadi sudah cukup jelas,” jawab Yudha singkat.
“Jadi Vita juga hamil?” kata Rahma.
“Ya, tapi lebih besar usianya. Umi lihat sendiri,” jawab Umi Ros ikut menyahut.
Rahma mulai tersedu. Pun dengan Nely dan juga Ilyas yang sama-sama terkejut dengan kabar ini.
Ya, mereka sudah gagal menjadikan cucu pertama mereka sebagai satu-satunya pewaris keluarga Al Fatir. Terlebih, anak Rahma adalah perempuan.
***
To be continued.
Terima kasih buat fans yang sudah naik menjadi fans silver ya atas nama:
A : Vivih aprilia
B : Lingga Af
C : Siti pucuk squad
Terus bawahnya :
D : E H
E : Engkong budi
F : Disyah
G : rinny aphrystanti
H : Widia Astuti
I : Mommy twins
J : za
K : sitiazzahra
__ADS_1
Kemudian masih banyak lagi yang nggak bisa saya sebut semuanya satu-persatu. Terima kasih buat kesetiaannya mengawal dari pertama sampai saat ini. Mohon di maafkan segala kekurangannya, mudah-mudahan novel ini bisa menginspirasi tentang perpoligamian. Bahwa poligami itu gak uenak rek.
Salam santuy, masih banyak karma yang lain yang belum diturunkan. Happy weekend yah sayangku, insyaallah besok aku tetep update.