TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Jagoanku Sesungguhnya


__ADS_3

31.


Hari-hari kian berlalu tanpa mereka sadari. Kini Zunaira sudah berusia tiga bulan. Semakin lucu dan menggemaskan. Dialah kesayangan semua orang, apalagi kakak-kakaknya yang kelak akan menjaganya ketika gadis kecil ini tumbuh dewasa.


Vita dan juga Yudha juga sudah semakin paham bagaimana cara adil di mata anak-anak setelah beberapa kali menemui pakar parenting. Oleh karenanya, Rayyan kini menjadi anak yang lebih tenang dan penyayang kepada adik-adiknya. Bahkan tak jarang, bocah yang sudah mulai memasuki kelas satu SD tersebut, membantu menjaga adik bayinya saat melihat mamanya tengah kerepotan.


“Terima kasih, Kaka... sudah mau bantu jagain Adik,” ujar Vita memeluk dan mencium sang anak. Setelah banyak belajar, kali ini mereka selalu lebih mengutamakan anak tertua dulu agar dia tak lagi salah paham.


“Sama-sama, Ma,” jawab Rayyan.


“Kaka ada PR?”


Anak lelaki itu mengangguk.


“Belajar di sini, Nak. Nanti Mama liatin.”


Gegas anak itu mengambil buku di kamarnya sendiri, kemudian kembali dengan menumpahkan semua peralatan belajarnya ke bawah. Dia belajar di lantai yang sudah dilebarkan karpet khusus bermain. Dengan posisi tengkurap, Rayyan mulai membuka PR-nya yang harus dia kumpulkan besok.


Sebenarnya, Vita sudah menyiapkan meja khusus belajar, namun rupanya anak itu lebih nyaman dengan posisi seperti itu. Jadi, dia tidak ingin berkomentar lagi.


Beruntung si kembar sedang bermain di luar dengan baby sitter nya, jadi kali ini, Rayyan dapat belajar dengan tenang.


“Begini kan, Ma?” tanya Rayyan menunjukkan cara dirinya mengerjakan.


“Iya, ini sudah benar.”


Vita terus mengawasi sulungnya tersebut mengerjakan PR sembari menimang Zunaira yang ada di pangkuannya. Sesekali wanita itu mengusap kepala sang putra, sembari mengingat perjuangannya dulu bertahan hidup di tengah-tengah suasana hati yang begitu tertekan.


‘Bagaimana aku tak menyayangimu, Nak... kamu adalah jagoanku. Anak paling hebat yang aku miliki. Kamu adalah cahaya bagiku di saat aku sempat kehilangan banyak harapan. Kamulah cinta pertamaku yang akan selalu aku kasihi sepanjang waktu. Kelak kamu dewasa nanti, Mama harap, kamu bisa perlakukan perempuanmu dengan sebaik-baiknya. Jadikan dia satu-satunya dalam hidupmu sebagai penebus rasa sakit yang pernah Mama alami. Kamu harus tahu itu.’


Pernah mengalami di poligami membuat Vita mewanti-wanti; jangan sampai anaknya mengalami hal yang sama seperti ayahnya. Dia yang akan mengajarkannya sendiri nanti bagaimana cara memperlakukan perempuan agar mereka tak salah dalam mengambil langkah.


🌺🌺🌺


Usia kandungan Dara kini telah menginjak umur sembilan bulan lebih. Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh pasangan tersebut untuk menyambut kelahiran anak pertama mereka—termasuk menjemput kedua orang tuanya yang berada di Semarang. Agar mereka dapat mendampingi putrinya selama dia bersalin.


“Sudah ada di mana, Da?” tanya Dara kepada Alif yang berada di seberang.


“Bekasi.”


“Kok lama banget sampainya,” protes Dara tidak sabaran.


“Iya, macet. Ini jam pulang kerja,” jawab Alif samar-samar karena bercampur bunyi bising kendaraan.


“Di tutup kacanya biar kedengaran lebih jelas.”


“Lagi va*e. Pusing.”


Namun begitu, Alif tetap menuruti perkataannya karena detik kemudian suaranya kembali jernih. “Kenapa? Apa kamu kontraksi lagi?”


“Kadang-kadang. Aku belum terlalu bisa membedakan. Soalnya mirip sama orang mau BAB.” Dari siang, Dara memang sudah merasakan kontraksi meski frekuensinya masih sangat jarang.


“Kamu itu gimana, sih?” Alif terdengar bersungut-sungut.


“Ya, mana aku tahu...” jawabnya tak terlalu peduli orang sedang panik di seberang sana.


“Minta tolong sama Vita atau siapa suruh menemanimu dulu.”

__ADS_1


“Aku maunya sama kamu...” suara Dara seperti sedih. Di saat-saat seperti ini, bukan orang lain yang dia butuhkan tetapi suaminya sendiri.


“Sabar, ya, sebentar lagi sampai, kok. Ini Ibu sama Ayah mau ngomong.”


Sebentar kemudian, ponsel terdengar berpindah tangan.


“Halo, Nduk?”


“Iya, Bu.”


“Kamu jangan panik, tarik napas berulang-ulang, banyak minum air putih, kalau bisa dibawa jalan-jalan sedikit, tapi jangan naik turun tangga,” ujar beliau mulai memberikan petuahnya. “Sama siapa kamu di sana, jangan sendirian.”


“Ada Vita tapi di luar kamar.”


“Lagian suamimu, sudah Ibu bilang, tidak perlu di jemput, nanti kami bisa naik Travel saja. Eh, malah tahu-tahu sudah di depan rumah.”


“Sekalian mau ngecek Bistro,” Alif menyahut.


“Tapi waktunya kurang tepat, seharusnya kamu datang sebelum hari H biar tidak terjadi seperti ini lagi. Pasti anakku keder suaminya belum sampai-sampai. Perempuan mau melahirkan itu tidak butuh apa-apa, dia Cuma butuh suaminya,” Kata Sang Ibu Mertua memberi sabda. Dan itu terdengar jelas di telinga Dara sehingga perempuan tersebut menjauhkan teleponnya agar tawanya tak sampai terdengar ke seberang.


Sesekali Dara ingin melihat ekspresi suaminya saat dimarahi oleh mertuanya sendiri—namun sayang, sekalinya ada, dia tidak dapat melihatnya.


Kini gantian Ayah yang bicara, “Halo, Ra?”


“Iya, Yah...” Dara menjawab.


“Sekarang keadaanmu gimana?”


“Aku baik-baik saja, kok, Yah. Jangan terlalu khawatir.”


“Ada baiknya kalau kamu berangkat ke rumah sakit saja sekarang. Nanti kami bisa langsung menyusul ke sana.”


“Ya sudah, terserah kamulah.”


Usai telepon dimatikan, Dara tersenyum senang. Membayangkan bagaimana orang tuanya begitu berlebihan mengkhawatirkan dirinya. Itu pertanda bahwa mereka sangat menyayanginya.


Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya Alif dan orang tuanya tiba di depan rumah. Mereka masuk dengan membawa banyak oleh-oleh.


“Duh, kenapa harus repot-repot begini, Bu. Lain kali kalau mau datang tinggal datang saja, tidak perlu bawa oleh-oleh,” kata Umi menyambut mereka semua. Terlebih dahulu beliau menerima semua barang yang dibawa, sebelum akhirnya mereka saling memeluk.


“Rasanya gimana mampir ke rumah besan tidak bawa buah tangan. Mungkin karena sudah kebiasaan kali ya, Um.”


“Iya, sih. Saya juga begitu kalau mampir ke mana-mana. Beda sama laki-laki.”


“Laki-laki justru malu kalau bawa tentengan,” sahut Abah, pria berusia enam puluh tahunan tersebut memeluk besan laki-lakinya yang sudah sehat walafiat dan tak pernah membawa tongkat lagi.


“Padahal semua perempuan selalu bawa buah ke mana pun, tapi masih bawa yang lain juga,” kata Ayah Hilman membuat mereka tertawa bersamaan.


“Dasar wong edan!” gumam Ratna saat mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Alif diam, namun dalam hatinya mengatakan, ternyata mertuanya bisa receh juga.


“Dara mana, Um?” tanya Ibu Ratna segera setelah mereka duduk.


“Tadi masih ada di kamarnya,” jawab Umi Ros, “sudah kami paksa ke rumah sakit saja sekarang, tapi katanya mau menunggu Alif saja. Mereka memang apa-apa selalu berdua, lengket, dah macam perangko.”


“Masih anget, Um... belum ada setahun,” sahut Pak Hilman yang di sambung oleh sang istri, “nanti kalau sudah seperti kita yang sering sakit pinggang ini, ya, beda lagi ceritanya.”

__ADS_1


Semua tertawa mendengar celotehan Ibu Ratna.


“Fatigun harus selalu sedia setiap saat, ya, Pak?” ujar Abah.


Baru saja mereka meneguk minuman, terdengar suara teriakan dari atas.


“Umi!” seru suara Vita. “Umi, Dara mulas lagi!”


Semua mendadak panik dan berlarian ke atas, apalagi Alif yang pada saat itu tengah berada di toilet bawah. Beruntung telah tuntas aktivitasnya.


“Tolong minta sopir buat siapkan mobilnya, Bah,” titah Umi Ros yang di angguki oleh beliau.


Demikian yang dilakukan oleh Hilman yang baru datang. Tak peduli lelah, beliau membantu memasukkan barang yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk dibawa ke RS.


“Masih roso, Pak?” tanya Abah Haikal.


Hilman mengepalkan tangan dan mengayunkannya ke atas seraya menjawab dengan penuh semangat, “Roso!”


“Wah, semangat sekali mau lihat cucu pertama.”


“Mau cucu pertama atau kedua. Aku tetap roso. Aku ingin selalu sehat dan panjang umur biar bisa melihat mereka tumbuh nanti.”


Abah tersenyum, “Aamiin....”


Sementara di dalam, Dara tengah turun tangga di dampingi oleh banyak orang. Wanita itu meringis karena kontraksinya kini menjadi semakin sering.


Jangan ditanya lagi bagaimana berisiknya seorang Dara kalau menjerit, belum lagi Alif yang juga ikut-ikutan bersuara. Beuh!!


“HPL belum lewat sebetulnya. Tapi mungkin bayinya sudah pingin keluar,” ujar Umi Ros saat Dara sudah masuk ke dalam mobil.


“Iya, soalnya sudah banyak sepupunya yang mau mengajaknya main,” sahut Vita.


Hanya Alif, ibu, dan juga ayah yang mengantarnya kali ini, karena Umi dan Abah berniat untuk menyusul sebentar lagi.


Vita kembali berujar ketika mereka baru saja pergi dan Abah telah masuk ke dalam rumah. “Kebetulan banget, lahirnya pas ayahnya pulang.”


“Mungkin batin mereka sangat kuat,” kata Umi Ros menanggapi ucapan menantunya, “Oh, iya, Yudha ke mana, Nak? Dari tadi belum kelihatan.”


“Lagi pergi sebentar, Mi. Katanya mau mengurus beberapa pendaftaran kuliahnya.”


Ada raut kesedihan yang tergambar dari perempuan tua tersebut mendengar bahwa anaknya akan pindah sementara ke Bandung. Rumah ini akan terlalu sepi jika hanya ditempati keluarga kecil saja.


“Umi jangan sedih...” Vita memeluk ibu mertuanya. “Bandung ke Jakarta hanya dua jam saja kalau tidak macet. Kami janji kalau sedang libur panjang, kami pulang ke sini.”


Selama ini, Yudha menahan diri untuk pergi. Dia menunggu anak Alif lahir terlebih dahulu agar uminya tidak terlalu kesepian nanti. Dan bulan ini adalah saatnya.


“Tidak ada yang berisik lagi, nanti...” Umi mengusap air mata dengan punggung tangannya. “Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Belum tentu dua tahun itu Umi sama Abah masih ada,” ujarnya dengan lirih.


“Umi... jangan bilang seperti itu... kami selalu mendoakan Abah sama Umi—supaya kalian selalu sehat, diberikan umur yang panjang dan bermanfaat. Kami selalu membutuhkan bimbingan kalian yang masih sangat banyak kekeliruan ini.”


“Iya, betul, setua apa pun kalian—kalian tetap anak kecil bagi kami yang akan kami arahkan.” Keduanya tersenyum dan saling menatap.


“Terima kasih sudah mau menjadi mertua yang baik untukku, Umi. Kalian adalah pengganti orang tuaku yang sudah tiada.”


“Sama-sama, Nak... Umi juga terima kasih, karena kamu sudah mau menerima putraku dan segala kekurangannya. Mungkin, kami tidak sempurna dalam mendidik, tapi percayalah, kami telah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”


“Umi...” sela Vita menghentikan bicara mertuanya, “tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Yudha memang pernah gagal menjadi seorang suami yang adil, tapi dia tidak pernah gagal menjadi suami dan ayah yang baik untukku dan anak-anak. Dia mempunyai kelembutan yang sama seperti Umi. Sifat Umi menurun padanya. Aku bangga menjadi istrinya, Mi....”

__ADS_1


Keduanya saling memeluk dan saling menatap selama beberapa lama. Sebelum akhirnya keduanya kembali masuk ke dalam rumah.


__ADS_2