TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Launching Anak Ke Empat


__ADS_3

23.


Perusahaan Tour And Travel milik keluarga Al Fatir benar-benar sudah tidak bisa melakukan pergerakan lagi semenjak beberapa hari lalu. Tidak ada aktivitas lagi seperti biasanya dan hanya tersisa beberapa staf-staf penting yang masih menjalankan penyewaan kendaraan-kendaraan besar.


Oleh karenanya, Alif membuat kantor sendiri di salah satu ruangan yang tak terpakai rumahnya sendiri, yakni terletak di lantai satu yang dekat dengan pintu. Mendesainnya senyaman mungkin agar bisa betah berlama-lama duduk di sana. Dan semua ini tak lepas dari bantuan sang istri, karena desain sebelumnya terlihat horor.


“Ini memang terlihat lebih baik, sih, Ra. Tapi—”


“Tapi apa?” sela Dara penasaran dengan pendapat suaminya.


“Jadi terlihat lebih feminim.” Aku ini kan laki-laki, masa banyak bunga-bunganya di dalam. Nanti dikira aku ini pria lemes, lanjut Alif dalam hati. Dia tak ingin menyuarakannya langsung karena takut salah bicara.


“No problemlah, Lif... yang penting jangan seperti kemarin. Masa catnya warna hitam, kamu itu bikin kantor—bukan bikin lapak dukun.”


“Kesukaan setiap orang kan, beda-beda.”


“Tapi kamu punya istri sekarang, jadi jangan Cuma memikirkan kesenangan sendiri.”


“Iya, Dara... kalau aku menolak, tentu sudah dari kemarin-kemarin. Sekarang semuanya sudah dipasang. Tidak mungkin di ubah juga,” ujarnya dengan sangat sabar walau jawaban ini tetap tidak membuat wanita itu senang. Sebab Dara sudah mulai cemberut.


“Ra,'’ panggil Alif menggodanya, mencegah terjadinya ledakan bom atom, “Uni Dara...!”


Pria itu mendekati istrinya dan meletakkan kepalanya di dadanya. “Hanya begitu saja kamu marah.”


“Bukan marah, tapi aku kurang mood kalau hasil kerja kerasku kurang diminati.”


“Aku suka, Ra. Suka. Aku cuma komentar feminim, itu saja. Apa aku salah?”


“Tuh, kan, kamu berarti kurang suka. Kalau suka, ya, suka aja. Tidak perlu ada embel-embelnya feminimlah, inilah, itulah....”


“Usus, oh usus. Semoga kau lebih panjang daripada ukuran seharusnya,” kata Alif bermaksud berbicara kepada diri sendiri agar bisa lebih sabar menghadapi sang istri yang sedang sedikit-sedikit baperan.


“Biar apa?” tanya Dara.


“Ya, biar lebih panjang itunya....”


“Apanya? ucapanmu itu kedengarannya ambigu.”


“Apa saja boleh.”


Alif mulai menyalakan monitor untuk memantau semua usahanya dari sana. Termasuk investasi saham dan lain-lain. Mungkin aktivitas inilah yang akan rutin dilakukannya selama beberapa waktu ke depan. Tepatnya sebelum perusahaan kembali beroperasi. Namun andai mungkin.


“Hei, kamu main trading, ya?” tanya Dara menyelidik. Dia takut suaminya ikut terjerumus ke dalam dunia seperti itu.


“Apa kamu tidak bisa membedakan investor sama trader?” Alif bertanya balik. Investasi dan trading itu memang sama-sama dilakukan untuk mendapatkan keuntungan. Namun tentu sangat berbeda jika kita bisa mengetahui lebih jauh.


“Ya, tahu. Aku Cuma takut kamu....”


“Aku paham apa yang kamu maksud,” sela Alif menanggapi kekhawatiran istrinya. “Jangan berlebihan, aku menafkahi anak istriku dengan uang yang halal. Bukan uang yang kurang jelas asal-usulnya. Paham Bestai?”

__ADS_1


“Tidak perlu pakai huruf A juga, Lif. Aku ini manusia, bukan feses,” ujar Dara serampangan membuat Alif terkekeh.


“Plis, jangan melawak juga kamu biar aku gagal ngambek.”


“Untuk apa juga marah-marah, nanti cepat tua.”


“Aku sudah tua?” tanya Dara segera.


“Ya Allah... salah lagi aku, dahlah. Mengcapek!”


“Hehee...” Dara menjulurkan lidah. “Aku hanya meledekmu saja tadi. Nih, aku kasih tahu, cewek itu kalau lagi butuh perhatian dia bakal cari gara-gara dulu.”


“Aku tidak suka basa-basi. Kalau kamu mau langsung aku kasih,” katanya dengan mengedipkan sebelah mata.


“Izh, ke manalah pikiranmu,” ujar Dara pura-pura kesal. Ada saja yang dilakukan oleh pria itu untuk membuatnya tertawa sehingga acap kali perdebatan keduanya malah justru berakhir panas.


Kebahagiaan ini terkadang membuat mereka lupa akan masa lalu yang cukup berliku. Yakni di saat Dara di per kosa oleh Alif di malam pertama di pernikahannya yang sebelumnya.


Entah apa yang menyebabkan pria itu melakukan hal sedemikian kejam. Merenggut miliknya yang sangat berharga yang dia jaga untuk suaminya kelak. Namun pada akhirnya, Dara memilih untuk berdamai karena dia menyadari—tidak ada yang mencintai lebih baik daripada pria ini.


“Aku tuh kalau ingat yang dulu-dulu suka lucu, tahu, Lif... masa aku nikah sama si pelaku. Kalau di laporin ke polisi juga kedengarannya pasti aneh,” kata Dara pada saat mereka tengah mengobrol di sore hari.


“Begitu, ya?” kata Alif sekadar menanggapi. Sebab pria itu sedang fokus bermain game.


“Dengar dong, Lif kalau istri lagi ngomong.”


“Coba tadi kamu ulang aku lagi ngomong apa?” pinta Dara membuat Alif gelagapan. Beruntung ada bunyi dering pesan yang menghentikannya.


‘Syukurlah... selamat Gue.’


“Siapa?” Alif bertanya kepada istrinya yang sedang melebarkan mata.


“Vita sudah mulai mules-mules katanya, tapi Mas Yudhanya sama Abah lagi pergi,” jawab Dara. Wanita itu seketika melompat memindahkan kepala suaminya yang saat ini tengah berada di atas pangkuannya. Tidak peduli si pemilik terkejut dan mengaduh kesakitan.


“Ya Tuhan, sakit kepalaku, Uni.”


“Cepat hubungi abangmu, Lif!” titah Dara sebelum ngacir ke rumah sebelah.


“Untung hasil cetakanku kuat dibawa lari-lari sama emaknya,” gumam Alif, ngilu melihat istrinya berjalan cepat.


Sesuai perintah, dia langsung menghubungi abang dan abahnya yang entah sedang berada di mana sekarang. Ia tidak tahu.


“Kalian ada di mana?” tanya Alif begitu telepon tersambung. “Jangan pergi-pergi terus kamu, Yud. Noh, istrimu mau lahiran, lagi mules, CEPAT PULANG!”


Suatu kebiasaan, Alif tidak akan menyematkan kata abang saat dia sedang kesal kepada pria itu.


“Kami sudah sampai Alif,” jawab Yudha.


“Oh....” Alif langsung meringis malu. Dia kemudian menatap rumah yang berdiri tak jauh dari rumahnya. Di sana dia melihat mobil putih alphard masuk ke dalam gerbang. “Sorry, Bang. Darahku lagi gampang naik.”

__ADS_1


Di tempat lain,Vita sedang mengaduh kesakitan merasakan mules yang luar biasa. Tangannya mencengkeram kuat tangan Dara yang malah berisik dan panik sendiri. Ada Umi Ros juga di sana, namun wanita tua itu sedang sibuk menyiapkan tas bayi yang akan dibawa mereka ke rumah sakit.


Yudha dan yang pada saat itu baru turun dari mobil, langsung berlari ke dalam rumah. Mencari di mana keberadaan istrinya.


"Di mana Vita, Mbak?” dia bertanya kepada suster anak-anak.


“Ada di kamarnya, Pak,” jawab Ratih. Wanita ini pun ingin berlari menolongnya. Tapi ketiga anak-anak ini juga tidak bisa ditinggal. Jadi, macam mana lagi?


“Mama cakit, Ncus?” tanya Mauza dengan suara gemasnya.


“Iya, adiknya Kaka Mauza mau lahir.”


“Mauza jadi Kaka juga kaya aku?” tanya Rayyan ingin tahu, “kan Mauza masih kecil, Ncus....”


“Iya, Ka... kan ada adik satu lagi. Kecuali, kalau Mauza anak yang terakhir,” jelasnya dengan cara sederhana.


Rayyan mengangguk mengerti. Dia berlari ikut mengejar papanya ke dalam, tapi setelah sampai di sana, anak itu justru takut mendengar teriakan Onti-nya sehingga bocah itu balik lagi.


Ratih pun heran, ada dua ibu hamil di dalam. Sebenarnya, yang mau melahirkan itu siapa? Vita atau Dara?


“Sudah, Kaka Ray di sini saja sama Ncus, ya....”


“Iya, Ncus.”


Ketiga anak-anak ini kembali bermain seperti tadi. Tampaknya mereka sudah tidak terlalu peduli lagi dengan apa yang sedang terjadi dengan ibunya. Sebab Ratih terus mengalihkan perhatiannya agar mereka tidak membuat suasana menjadi semakin runyam. Sangat tidak enak jika salah satu dari mereka mengganggu atau menangis meminta ikut ke rumah sakit.


Tak berapa lama setelahnya, Dara keluar dengan membawa tas besar berisi perlengkapan baby born. Disusul oleh Yudha, Vita, Umi Ros dan Abah juga. Namun orang tua hanya mengantar sampai ke depan karena Yudha melarangnya untuk ikut. Sebab Abah masih sering mengeluh sakit gigi. Sedari tadi pun, bukan istrinya yang berteriak, melainkan Abah yang giginya berdenyut mendengar Dara berisik terus.


“Dara kamu tidak usah ikut,” tiba-tiba Alif datang memberikan pelarangan.


“Tapi aku mau ikut. Kasihan, masa mereka Cuma berdua,” jawab Dara tidak mau dihalang-halangi oleh suaminya.


“Bukan tanpa alasan. Kamu itu lagi hamil juga, sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Biar aku saja yang ikut mereka.”


“Plis, jangan larang-larang, aku mau ikut juga, ahhh sebeell,” bibir Dara sudah maju ke depan. Pertanda sebentar lagi mendung berubah menjadi hujan. Dalam keadaan demikian, Alif sangat membutuhkan pawang hujan. Tapi sayang, sepertinya pawang hujannya masih berada di Mandalika.


“Biarlah, Lif. Kalau Dara merasa baik-baik saja ya, biarkan saja ikut,” Umi Ros memberikan saran.


“Hadeh, tambah sakit gigiku.”


“Ini lagi sakit gigi terus. Umi alah bosan dengarnya.”


“Kok malah jadi kalian yang ribut? Bikin kami tambah pusing saja.” Yudha menatap mereka semua yang malah heboh sendiri mendebatkan masalahnya masing-masing. Membuat Vita yang sedang merintih sakit akhirnya tergelak tawa.


“Plis, Mas. Aku mau ikut kalian... ayolah, kakakku yang paling baik, bersih, suci, putih, harum, mulia. Izinkan aku ikut.” Dara mulai mengeluarkan rayuan paling mematikan.


“Masuk!” titah Yudha tak ingin ambil pusing.


Sehingga membuat Alif mau tak mau mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam mobil itu. Meski dengan menggerutu kesal lantaran istrinya malah lebih mendengarkan apa kata abangnya daripada suaminya sendiri. Alif benar-benar tidak paham, padahal, dialah yang selalu menaklukkannya setiap malam!

__ADS_1


__ADS_2