
20.
“Saya tidak punya jaminan apa pun,” jawab Rio masih dengan nada frustrasi, “jadi jangan tawarkan bantuan semacam ini.”
“Yang penting sekarang Anda bisa sembuh dulu, urusan hutang-piutang bisa Bapak pikirkan nanti.” Yudha tidak terlalu mempermasalahkannya karena dia masih memiliki aset lain yang bisa dia keluarkan dalam keadaan mendesak. Toh, andai Rio sembuh, dia pasti akan mengembalikan uangnya lagi.
“Itu jika saya sembuh—kalau tidak? Saya harus bayar pakai apa? Kasihan istri saya kalau harus menanggung beban saya lagi. Saya pikir ... lebih cepat saya mati, akan lebih baik.”
“Istighfar, Pak....” Sebagai manusia biasa, dia khawatir Rio bakal melakukan hal yang tidak-tidak sebab karena keputusasaannya.
Benar apa kata orang, bahwa orang sakit cenderung mempunyai akal yang lebih pendek. Banyak sekali pikiran-pikiran buruk yang menambah keruh otaknya, padahal, oleh karena sebab itulah penyakitnya menjadi semakin parah.
“Begini Pak Rio ....” Yudha mencoba memberikannya sedikit pengertian, “apakah Pak Rio tahu? Hampir 100 persen penyakit datangnya dari dalam pikiran. Beberapa penyebabnya adalah marah, dendam, sering merasa bingung, takut, suka berpikir negatif, khawatir, sering bersedih dan putus asa.”
Rio sontak terdiam.
“Penyakit Leukimia atau kekurangan sel darah putih yang Bapak alami, adalah karena disebabkan oleh sedih yang berkepanjangan.”
Dalam hati, Rio membenarkan apa kata pria di depannya. Dia mungkin pernah sedih berkepanjangan karena kehilangan istri pertamanya. Hanya saja, dia baru merasakan dampaknya sekarang.
Lantas Yudha juga menjelaskan, bahkan hanya 10% saja penyakit yang datangnya berasal dari makanan. Ternyata, sedemikian berpengaruhnya pikiran kita terhadap kesehatan tubuh. Itulah kenapa Tuhan melarang hambanya memusingkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi.
Beberapa di antaranya yang menyebabkan penyakit:
Marah, bisa mengakibatkan darah tinggi.
Dendam, bisa menyebabkan imun tubuh kita mati. Dari sinilah, banyak penyakit bermula: kolesterol, hipertensi, serangan jantung, rematik, arthtritis, stroke/penyumbatan pembuluh darah.
Bingung, bisa mengakibatkan gangguan pada tulang belakang bagian bawah.
Takut, bisa menyebabkan mudah terserang penyakit ginjal.
Suka berpikiran negatif, bisa menyebabkan gangguan pencernaan.
Khawatir, bisa menimbulkan sakit punggung.
Ter singgungan, bisa mengakibatkan insomnia. Dan masih banyak lagi.
“Betapa Allah telah menciptakan sesuatu dengan sangat beraturan. Bahkan dalam hal sekecil apa pun,” ujar Yudha dengan uraian panjang, “pentingnya hidup bahagia dan bersyukur supaya bisa mempunyai kualitas hidup yang lebih baik.”
“Terima kasih atas penjelasannya, Pak,” ucap Rio setelah beberapa saat kemudian. Dia merasa pikirannya menjadi lebih terang benderang.
“Saya rekomendasikan Bapak untuk berobat di rumah sakit Singapura. Di sana, fasilitasnya lebih memadai karena Singapura adalah negara maju. Angka keberhasilannya pun jauh lebih tinggi. Kalau mau, saya bisa bantu memberangkatkan ke sana dengan satu orang pendamping.”
__ADS_1
“Maafkan saya, Pak. Tadi saya lancang,” kata Rio pelan. Dia benar-benar merasa tidak enak dan malu sendiri dengan tindakannya barusan tanpa memikirkan perasaan istri Yudha dan anak-anaknya. Rahma bukanlah barang yang bisa dia titipkan kepada sembarang orang. Belum tentu juga Rahma akan mau menerimanya.
“Tidak apa-apa, Pak Rio... saya mengerti perasaan Anda.”
Sementara di belakang, Dara yang baru saja turun dari atas juga langsung ikut menguping. Wanita itu memutar bola matanya malas saat mendengar obrolan jelas dari ruang tamu.
“Ha, tamu dari Bikini Button itu minta bantuan? Tidak salah, wey?” Dia pun berujar memble ciri khas emak-emak, “Padahal aku masih ingat, waktu kamu di rawat rumah sakit, aku hadap-hadapan sama Mbak Rahma, dan dia bilang katanya jijik sama Mas Yudha sampai meludah-ludah. Eh, suaminya malah ke sini datang minta tolong. Ini sama saja menelan ludahnya sendiri.”
“Masa Rahma bilang seperti itu, Nak?” tanya Umi Ros tak habis pikir.
“Iya, Mi... Mbak Rahma itu sudah berubah sekarang. Dia juga sudah buka hijabnya. Pakaiannya juga seksong banget banget bangettttt.”
“Kasihan juga, ya. Pasti dia butuh bimbingan dan teman untuk melewati hari-harinya yang baginya—mungkin cukup berat. Begitulah, orang kalau sudah tidak punya apa-apa lagi, pasti ditinggalkan teman-temannya. Jadilah dia semakin terpuruk dan akhirnya stres hingga macam-macam cara mereka melampiaskannya.”
Umi menoleh kepada menantunya yang sedari tadi masih meringis merasakan kontraksi, “Sudah enakan?”
“Rasanya seperti mau keluar.”
Dara melebarkan mata, dia menghempaskan tubuhnya di samping Vita, “Eh, jangan brojol sekarang, Ta. Belum sah.”
“Kan sudah akad,” ujar Umi menoleh kepada Dara dan Vita secara bergantian.
“Bukan itu maksudku, Umi sayang. Kan belum sembilan bulan bayinya. Kalau masih bisa, pertahankan dulu sampai umur segitu, Ta. Biar bayinya cukup umur. Jangan pikirkan apa-apa lagi, Mas Yudhanya juga menolak, kok. Kalau sampai dia berani macam-macam, kita bisa kabur sama-sama.”
“Enak saja kamu ngomong, terus kami ditinggal?” dumel Umi Ros, sambil menyodorkan minum dan terus menyarankan Vita untuk melatih pernapasan.
Vita sontak tertawa, “Kalau maunya begitu, mending Mas Yudha saja yang kita usir. Kenapa harus kita yang kabur secara ramai-ramai. Dagelan kamu, Dar.”
Dara ikut tertawa, ‘Tujuanku memang untuk membuatmu tertawa, Ta.’
🌺🌺🌺
Kusuma menggeram di dalam mobilnya, karena sudah satu jam ini, dia belum menemukan sedikit pun tanda-tanda di mana putranya berada. Begitu juga dengan sang istri yang tengah mencari dengan cara menghubungi orang-orang terdekat.
“Bukannya dapat info malah aku yang di marah-marahi. Orang sakit kok, bisa sampai hilang. Memangnya tidak dijaga? Begitu katanya.”
“Orang lain menilai berdasarkan dari apa yang mereka lihat,” Kusuma menanggapi. “Ibu sendiri lebih mementingkan tanaman daripada anak.”
“Habis Ibu capek, Yah... sudah tua seperti ini, bukannya bahagia malah dapat kabar buruk terus. Punya anak sakit melulu. Di pernikahan pertama dulu istrinya, sekarang begitu lagi. Kapan sih, kita bisa tenang?”
“Manusia kalau tidak mau punya masalah, mending mati saja.”
“Ayah!” seru sang istri. Tidak terima hatinya kendatipun apa yang dikatakan suaminya itu memang sepenuhnya benar. “Aku belum ingin mati, enak saja.”
__ADS_1
“Mati tidak ada yang tahu. Apalagi umur kita sudah tua seperti ini, pasti tidak akan lama lagi. Yang muda saja banyak yang cepat mati jaman sekarang, mah. Makanya, berbuat baiklah selalu karena kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jaga lisan, jaga sikap, jaga perbuatan, jaga amal, sudah cukup belum untuk bekal kita di akhirat.”
Mendengar hal itu membuat sang istri menunduk dalam. Mengingat betapa banyak kesalahannya selama ini, terutama kepada anak dan menantunya.
Di tempat lain, Rahma sedang gelisah menanti kabar, karena sampai sekarang, ibu mertua dan ayah mertuanya belum juga menghubunginya.
Dia pun mencoba mengirim pesan.
Rahma: apa ada kabar terbaru tentang Kak Rio, Bu?
Lima menit kemudian terdengar balasan.
Ibu mertua: belum, kami masih mencari. Sekarang kami mau mencoba mencarinya ke klinik-klinik terdekat. Nanti kalau ada apa-apa, secepatnya Ibu kabari kamu lagi.
Rahma sedikit menyunggingkan senyum. Dilihat dari pesan yang baru saja diterimanya, sepertinya ibu mertua sudah mulai mau berbicara lebih ramah dengannya.
“Semoga kamu cepat ketemu, Kak. Kami janji akan merawat kamu sampai sembuh... kamu jangan putus asa seperti ini. Kamu harus tahu, kami semua sayang sama kamu.”
Dua jam berlalu, setelah lelah menunggu, akhirnya Rahma mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
Gegas Rahma keluar untuk menemui siapa yang baru saja datang—dan tanpa di duga dia adalah suaminya sendiri, pulang menggunakan taksi.
“Syukurlah kamu pulang, Kak. Kami semua panik mencarimu.” Rahma sontak berlari memeluk suaminya setelah Rio turun dari mobil. “Sudah dibayar taksinya?”
“Sudah,” jawab Rio tersenyum. Wajahnya sudah jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Seperti telah mendapatkan semangat baru.
“Kamu habis dari mana?” tanya Rahma yang tak langsung dijawab oleh sang suami, “eh, tapi dari mana kamu, itu tidak penting, yang penting kamu sudah pulang sekarang dengan selamat. Wajah kamu juga lebih merah, tidak sepucat kemarin. Atau selama ini kamu suntuk di rumah, Kak?”
“Ya, itu bisa jadi,” jawab Rio asal. “Mungkin aku butuh udara segar di luar supaya pikiranku lebih jernih.”
“Sebentar, aku telepon Ibu sama Ayah dulu. Mereka mencarimu tadi...” setelah keduanya masuk, Rahma langsung mencari-cari kontak ponsel ayah mertuanya.
“Maaf ya, sudah bikin kalian panik,” ucap Rio pelan.
“Sudah, jangan dipikirkan. Tapi lain kali kalau mau pergi lagi, kasih tahu kita dulu, ya, Kak....”
Panggilan tersambung beberapa detik kemudian membuat wanita itu mengalihkan pembicaraan, “Yah, ini Kak Rio sudah sampai di rumah. Iya. Baru saja pulang. Iya ... Ayah sama Ibu langsung pulang saja.”
Namun baru saja wanita ini menutup teleponnya, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. Mual membuatnya berlari cepat ke kamar mandi.
***
Bersambung....
__ADS_1
Vote, likenya jangan lupa.
Kabooorr!