TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Pertengkaran Besar!


__ADS_3

Perhatian Yudha masih tertumpu pada sebuah buku yang selalu dibacanya siang malam. Untuk menunjukkan bahwasanya dia sedang sibuk dan sedang tidak ingin diusik. Demi menghindari percakapan tidak berguna dan menjengkelkan dari istrinya. Karena semenjak tadi, dia sudah mulai memancing-mancing keributan.


“Kak ... bisakah kamu berhenti membaca itu?” tanya Rahma.


“Ya, sebentar lagi,” jawab Yudha tanpa mau mengalihkan pandangan.


“Apa kamu tidak ingin memberiku semangat? Aku down loh. Kita baru saja kehilangan anak kita. Kok kamu seperti biasa-biasa saja?”


“Aku juga tahu. Tapi ketahuilah, yang sudah mati, biar kau tangisi sampai air matamu habis pun, dia tidak akan mungkin hidup lagi,” jawab Yudha tak lama berselang.


“Kok kamu bicara seperti itu?” tanya Rahma heran. “Kamu ini seorang ayah loh. Tega-teganya.”


Terdengar helaan napas kasar dari pria itu. 'Lalu aku harus bagaimana?'


Yudha kembali memusatkan perhatiannya ke buku. Tapi kali ini dia hanya berpura-pura membaca—lagi-lagi karena sedang tidak ingin menanggapi ucapannya yang sangat tidak nyambung dan tidak masuk akal.


‘Tak bisakah dia membuka matanya sedikit lebih lebar? Apa sikap yang kutunjukkan masih kurang jelas? Apa perlu, aku menunjukkannya kepada seluruh dunia mengenai keadaanku? apa pentingnya bagi mereka? Apa dia pikir, hanya dia saja yang tengah berduka sementara orang lain tidak?'


Sudah tujuh hari semenjak kematian anak mereka. Tidak ada yang perlu ditangisi lagi. Bayi mereka sudah tidak ada. Sudah dikubur dan tidak mungkin kembali lagi.


“Kak, bisakah kamu berhenti membaca itu?” ulang Rahma bertanya.


“Aku sedang tidak ingin diganggu. Nanti kalau sudah selesai pasti aku akan bergabung denganmu.” Tentu saja Yudha kesal, tetapi dia menahan diri untuk tidak menunjukkan perubahan perasaannya.


“Aku ingin setelah ini kita langsung program anak lagi,” kata Rahma selanjutnya. Yang sontak berhasil mengalihkan perhatian Yudha dari buku bacaannya itu.


“Karena kamu operasi, jarak minimal sebelum kamu hamil lagi adalah enam sampai dua belas bulan. Begitu penjelasan dokter kemarin kalau kamu paham.”


“Tidak, aku tidak mau menunggu selama itu.” Rahma menggeleng. Ada rasa takut terbesar di dalam hatinya karena kali ini, tidak ada alasan lagi bagi Yudha untuk tetap mempertahankannya.


Mata Yudha menyorot tajam. Bagaimana pun dia menjelaskan, Rahma tetap tidak mau mendengarkan perkataannya. Dia tetap dengan jalan pikirnya sendiri.


“Tidurlah sudah malam,” ujar Yudha menahan kesal dan lekas-lekas pergi dari hadapannya untuk menghindari kekhilafan-kekhilafan yang terjadi selanjutnya. Dalam keadaan hati tak baik-baik saja, dia keluar menuju ke perpustakaan yang terletak di lantai tiga rumah ini. Di salah satu kursi, pria itu duduk termenung.


“Dosa apakah dulu yang sudah kuperbuat sampai-sampai Kau memberikanku pasangan yang sedemikian rusak?”


Pria itu mematikan lampu dan memilih untuk tidur di sana, yang justru malah menimbulkan petaka di pagi hari oleh karena hal ini.

__ADS_1


“Tidur di mana semalam?” tuding Rahma begitu Yudha masuk ke dalam kamar tepat setelah azan subuh terdengar. “Jangan terus mengabaikanku. Bukan seperti ini sikapmu yang kumau, Kak. Aku butuh kamu untuk menguatkanku.”


“Aku tidak tidur di mana-mana, aku tidur di perpustakaan ...,” jawab Yudha begitu sabar.


Rahma semakin menuntut. “Kamu memang sengaja melakukan ini, iya kan?”


“Aku hanya ingin menghindari pertengkaran yang kamu buat, Rahma. Karena ini tidak baik untuk hatiku. Kamu harus tahu, aku tidak sekuat yang kamu bayangkan.”


Yudha tidak mengerti, kenapa dia menjadi begitu nelangsa. Pandangannya mengabur yang cepat-cepat di halau dengan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Niscaya hanya Tuhanlah yang tahu betapa hancurnya hati laki-laki ini, sementara wanita di depannya ini tidak.


“Bilang saja kamu bersikap seperti ini supaya lama-kelamaan aku menyerah, kemudian meminta cerai darimu. Aku sudah tahu lagakmu, Kak.”


“Kenapa kamu berprasangka buruk? Tapi kalau memang kau mau, aku sangat bisa melakukannya.”


Rahma melebarkan mata. Seketika bibirnya memucat. Dia hanya menggertaknya saja tadi. Namun bagaimana bisa, dengan mudahnya pria itu menjawab bahwa dia akan mengabulkannya?


“Tidak ada lagikah cinta untukku lagi di hatimu, Kak?” tanya Rahma setengah menangis.


“Perasaan cinta itu semakin lama akan semakin terkikis, jika kamu terus-menerus menggerusnya setiap hari. Aku lelah, Rahma. Hentikanlah semua keluh kesahmu yang kau buat-buat itu. Ada banyak masalah yang lebih penting daripada membuang-buang waktu untuk bertengkar. Kalau dipikir-pikir, masalah kita hanyalah sepele, jangan diperpanjang.” Ada jeda sebelum Yudha melanjutkan ucapannya lagi.


“Kamu harus banyak bersyukur. Tidakkah kamu tahu? Ada wanita yang lebih menderita selama ini daripada hidupmu. Dia bukan hanya kehilangan keluarganya, dia juga kehilangan suaminya, membesarkan anak seorang diri dan hidup apa adanya.”


“Dia pergi karenamu!” kata Yudha sedikit meninggi.


“Terus saja kamu salahkan aku.”


“Sudah, ya. Jangan dibahas. Lebih baik aku mandi,” kata Yudha mulai membuka kancing-kancing piyamanya. Namun sebelum terlepas seluruhnya, Rahma kembali berujar yang membuatnya lebih kesal.


“Mana ada istri pergi selama berbulan-bulan tanpa izin dari suami dan menyembunyikan kandungannya. Kalau aku yang jadi laki-laki lebih baik kuceraikan.”


“Begini rupanya aslimu?”


Yudha seketika hilang kesabaran. Satu tangannya mencekik leher Rahma hingga wanita itu terbatuk-batuk.


Sekuat tenaga, Rahma melepaskan jeratan tangan itu. “Le—pas! Uhuk uhukk! Apa kamu sudah gila? Kamu bisa membunuhku!”


“Hei, dengar! Akan aku pertimbangkan kamu ke depannya. Sekali lagi kamu menjelek-jelekkan istriku yang sudah banyak mengalah padamu itu, aku tidak segan-segan menceraikanmu!”

__ADS_1


“Aku akan melaporkan kekerasanmu ini ke polisi,” kata Rahma mengancam.


“Ya, laporkanlah. Aku sama sekali tidak takut.”


“Kamu memang sudah gila.”


“Tidak salah?” tanya Yudha seraya tersenyum geli. “Kalianlah yang gila dasar keluarga keledai!”


Pertengkaran itu semakin melebar. Bahkan dengan tidak terkontrol, Yudha memukul-mukul wajah Rahma dan melempar semua barang yang ada di dalam kamar itu hingga menimbulkan bunyi yang sangat gaduh. Suasana kamar benar-benar berantakan seperti telah terjadi sebuah ledakan atau perang besar.


Keributan ini memancing semua keluarga untuk mendekat, tak terkecuali Abah. Mereka semua khawatir dan resah sekali. Pasalnya, tidak hanya terdengar barang yang saling membentur, tetapi juga suara teriakan Rahma yang memekik menimbulkan geger selingkungan.


“Ya Allah ... ada apa ini?” tanya Umi Ros begitu beliau mendekat. Beliau terkejut dan geleng-geleng kepala saat melihat isi kamar anaknya yang sangat kacau.


“Istigfar, Nak. Istigfar ....”


“Aku sudah bersabar, Umi. Aku sudah melakukan apa pun yang terbaik, semampuku. Tapi beginilah dia. Tidak mau melihat bagaimana keadaanku!” jawab Yudha dengan dada yang naik turun.


“Rahma, Rahma ... kamu jangan begitu, Nak.”


“Dia memukulku, Umi. Sakit ...,” jawab Rahma mengadu. Dia menunjukkan sebagian wajahnya yang sudah luka lebam.


Abah yang juga ada di sana langsung menyahut. “Laki-laki kalau sudah lepas tangan, kadang bisa dimaklumi karena sudah tidak sanggup lagi menahan diri. Seperti itulah yang Abah tahu berdasarkan dari pengalaman yang sudah-sudah.”


Abah Haikal menoleh kepada putranya yang kedua. “Alif, kamu tolong antarkan dia ke kamar lain dulu, Nak.”


“Baik, Abah,” kata Alif mengajak perempuan yang sedang basah oleh air mata tersebut.


Usai Rahma pergi, Umi mendekati putra pertamanya dan menyiramnya dengan air segelas. Dia tampak seperti orang yang sedang kesetanan!


***


To be continued.


Emosi aku sumpah.


Jangan lupa votenya yah. Ini hari senin loh.

__ADS_1


Lanjut nggak?


__ADS_2