TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Ketemu Bidadari


__ADS_3

Bab 2.


“Wah, datang kapan, Ustaz?” tanya lelaki lain yang mempunyai wajah mirip dengan orang sebelumnya. Dan kembali terjadi seperti tadi, beliau meraih tangannya untuk dicium—namun dengan segera, Haikal sembunyikan tangannya di belakang tubuh. Dia merasa tidak pantas untuk diperlakukan seperti alim ulama. Sedangkan pekerjaannya saja mencuri, salat pun selalu tinggal.


“Ustaz muda ini, memang rendah hati. Dia tidak mau dicium tangannya seperti ustaz-ustaz lain, Da,” kata orang sebelumnya yang di duga adiknya karena terlihat lebih muda.


“Saya... saya bukan Ustaz—”


Si tua menyela, “Ya, aku tahu, biasanya orang-orang seperti Anda memang suka merendah," beliau tersenyum, "Terima kasih dan selamat datang di desa Beringin, Ustaz. Semoga tujuanmu yang mulia ini, akan mendapat ganjaran yang besar kelak di sisi Allah. Kami memang sangat butuh orang pandai agama yang bisa mengajarkan kami yang bodoh. Kami ingin sekali bisa salat, supaya kami selamat dunia akhirat,” ujarnya membuat Haikal semakin tak mengerti.


Kesimpulannya, tetua di desa ini menjanjikan akan mengirimkan orang pandai agama untuk mengajar. Tetapi dari kemarin, orang yang dimaksud belum juga datang dengan alasan yang tidak mereka ketahui. Dan secara kebetulan, dia hadir berpakaian aneh seperti ini kemudian di anggap sebagai orang yang mereka maksud.


Kenapa bisa begitu? Apa wajah ini meyakinkan?


Ah, tetapi apa pun itu, Haikal gunakan saja kesempatan yang ada. Yang penting sekarang dia selamat dari tangkapan orang-orang bodoh berseragam itu. Dia sedang sangat malas untuk memikirkannya.


“Apa kalian tidak tidur?” tanya Haikal setelah beberapa saat kemudian. “Ini sudah malam.”


“Aku tadi dengar keributan, jadi bangun,” jawab lelaki setengah baya.


“Kalau rumahku di geledah polisi,” sahut lelaki yang lebih tua.


“Oh... polisi,” kata Haikal sekadar menanggapi. Namun matanya tetap waspada mengawasi luar musala yang masih sedikit terlihat karena suasana di sana remang-remang. Hanya ada sedikit penerangan menggunakan teplok/dian/sentir yang berbahan bakar minyak tanah. Pada zamannya, listrik memang belum masuk ke pedalaman.


“Perkenalkan, nama saya Arok,” kata lelaki yang lebih tua sembari mengulurkan tangan lagi.


“Saya—saya Salman,” balas Haikal asal cetus. Dia terpaksa menggunakan nama samaran tersebut agar kelak selamat dari pencarian, andai sesuatu terjadi padanya.


“Saya Arok, dan ini adik saya Beren.”


Beren juga mengulurkan tangannya. “Wah, namanya bagus, ya. Nama-nama orang yang memang pandai agama. Ada unsur-unsur arabnya seperti itu,” ujarnya sembari memuji ketampanan pemuda di depannya. Wajahnya yang bersih, cambangnya yang sedikit tebal dan wajah yang sedikit ke timur tengahan membuat mereka percaya bahwa dia memang orang keturunan orang suci.


‘Ada untungnya juga Bundo dinikahi Ayah Kauman,’ batin Haikal merasa di untungkan. Sebab Kauman adalah keturunan orang sana meski kurang jelas Arab mana yang dimaksud. Sedikit yang ia ketahui, neneknya pernah menjadi budak salah seorang dari mereka pada saat pedagang kain itu berlayar ke perairan Sumatra.


“Permisi! Tok tok tok!”

__ADS_1


Mata Haikal sempat melebar tatkala melihat orang-orang berseragam itu muncul lagi ke hadapannya. Namun ia berusaha tenang agar tak terlalu di curigai.


“Ada apa, Pak?” pria yang bernama Arok keluar dan bertanya.


“Apa ada pria bertopeng masuk ke dalam sini? Dialah seorang pencuri,” jawab polisi menjelaskannya serta.


“Tidak ada, Pak.”


“Heh, kamu lihat apa tidak?” salah seorang polisi bertanya kepada Haikal.


“Saya tidak tahu, saya di sini dari tadi sedang beribadah,” jawab Haikal berusaha menyembunyikan kegugupannya. Rupanya dia belum sanggup dipenjara. Penjara pada zaman itu sangat mengerikan. Banyak desas-desus yang terdengar, jarang ada yang keluar dengan masih dalam keadaan selamat. Entah benar atau tidak. Lagi pula, dia tak ingin membuat malu ayah dan bundonya.


“Jangan-jangan kamu lagi pencurinya! Tinggimu hampir sama dengannya,” tuding mereka tak segan-segan. Membuat Haikal semakin tersudut. Dia bahkan merasa tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.


‘Tenang... tenang... dia tidak akan mencurigaimu sampai sejauh itu. Kau sudah membuang topengmu ke sungai tadi.’


“Eh, jangan sembarangan, Pak... dia adalah seorang pandai agama yang di kirim oleh pemerintah untuk mengajar warga di sini!” sela Beren membelanya. “Lihat saja, penampilannya saja begitu, mana mungkin dia seorang pencuri? Dia itu Ustaz Salman! Orang suci!” ujarnya penuh penekanan.


“Dari pemerintah?” ulang salah satu polisi mengerutkan dahi. Agaknya dia tak terlalu percaya dengan pernyataan yang baru saja mereka dengar.


Terlihat beberapa polisi saling berunding, sebelum akhirnya memutuskan untuk undur diri. “Baiklah, kalau kalian tak melihat, kami akan cari ke tempat lain. Maaf dan terima kasih, Ustaz Salman, selamat malam.”


“Selamat malam juga, Pak...,” balas Arok dan Beren. Mereka masih mengawasi kepergian orang-orang itu sebelum menoleh lagi melihat Haikal yang tengah menghembuskan napas lega.


“Ustaz, ini sudah hampir pagi. Ustaz pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh,” ujar Arok.


“Iya, aku cukup lelah,” balas Haikal menanggapinya.


“Omong-omong, barang Ustaz mana? Apa kau tak membawa apa pun?” tanyanya lagi.


“Aku hanya membawa uang dan emas,” jawab Haikal membuat mereka terkekeh, meski pernyataannya barusan memang sepenuhnya benar. Uang dan emas ini ia dapatkan tadi dari rumah besar tersebut yang sudah ia bagi tiga dalam pelariannya.


“Berhubung ini sudah malam, Ustaz mau beristirahat di mana?” tanya Arok, “ini juga berlaku seterusnya karena Ustaz pasti butuh tempat tinggal sementara sampai tugasmu nanti selesai.”


Beren langsung menyela, “Sebaiknya tinggal di rumahku saja, Taz. Kebetulan aku bujang tua, jadi masih sendiri. Dari pada Arok, dia sudah punya keluarga, ada anak gadisnya juga di rumah. Pasti akan jadi sedikit canggung,” ujarnya panjang lebar.

__ADS_1


“Tapi di rumahku lebih lengkap. Ustaz bisa makan enak karena istri dan anakku pandai memasak,” kata Arok lagi.


“Tidak, Taz, pasti lebih nyaman di rumahku, aku sendiri.”


“Ya ampun... kalian ini berisik sekali,” kata Haikal kepalanya mendadak pening mendengar mereka berdua yang malah saling berebut. Sedikitnya, Haikal paham. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka sebagai seorang warga—apabila dapat menginapkan seorang ustaz di rumahnya.


“Jadi Ustaz mau tinggal di mana?” tanya mereka bersamaan.


“Aku tinggal di rumah yang masih bujang saja. Untuk makanan, aku bukan pemilih. Siapa pun yang memberiku makanan, akan aku makan. Apa saja masuk di perutku kecuali babi, anjing dan racun,” tegas Haikal kemudian membuat Beren kegirangan.


“Baiklah, ayo, ayo!” ajak Beren di ikuti oleh Haikal di belakangnya.


Di perjalanan, Beren tak berhenti melirik kakaknya yang cemberut karena tak mendapat bagian.


“Tapi saya boleh mengantarkan makanan, kan, Taz?” tanya Arok kembali menawarkan diri.


“Boleh...” jawab Haikal akhirnya. “Kalian bagi dua saja tugasnya biar adil. Seperti ini, misal Bang Beren menyediakan tempat tinggal, Bang Aroklah yang menyediakan makanannya, begitu saja.”


“Nah, iya, itu baru benar,” kata Arok sangat setuju. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah yang tidak terlalu jauh dari masjid tersebut.


Sesampainya di sana, keduanya memberi tahu, bahwa rumah mereka bersebelahan. Dan ia masuk ke dalam rumah yang lebih bagus dan lebih rapi kendati masih memakai papan kayu. Mungkin seperti apa katanya tadi, dia masih bujangan, jadi rumahnya senantiasa terawat karena tak ada anak yang mengotorinya.


'Ya, sebaiknya memang begini. Malam ini aku tidur di sini dulu. Besok, baru kupikirkan lagi cara selanjutnya untuk kabur,’ batinnya seperti itu. Namun pada akhirnya tak demikian. Sebab pada saat pagi harinya, dia malah bertemu seorang bidadari yang mengantarkan makanan enak untuknya.


“Assalamualaikum, Taz. Saya ke sini di suruh Ayah untuk mengantar sarapan,” ujarnya meletakkan piring makanan ke meja. Suaranya yang lembut dan wajahnya yang jelita membuat Haikal sampai tak berkedip sedikit pun. Seumur hidupnya, dia baru pernah melihat ada gadis secantik ini secara langsung.


“Ini keponakanku,” kata Beren memperkenalkan, “anaknya Bang Arok. Namanya Rosyadah. Cantik ‘kan?”


“Oh, cantik sekali,” jawab Haikal dengan lugas tanpa memikirkan dampaknya. Dia sampai lupa bahwa dia seorang Ustaz gadungan sekarang, sehingga ia cepat-cepat mengucap istighfar.


🌺🌺🌺


Bersambung....


Maaf lahir batin. Selamat berpuasa 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2