
“Sekarang jelaskan, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Abah ketika mereka sudah berada di dalam ruangan perawatan. Yudha masih terpejam pada saat itu. Entah berapa lama lagi pria itu akan tersadar—padahal tanpa dia ketahui ada dua orang tercinta yang sedang menunggu kedatangannya.
“Abah ingin mendengar cerita lengkapnya.” Abah baru berani menanyakan hal ini karena sedari tadi istrinya hanya terus menangis tanpa henti.
“Umi tidak tahu jalan pikirannya. Tapi yang jelas Rahma lagi khilaf, dia bikin kopi racun itu untuk dirinya sendiri, tapi tidak sengaja Yudha yang meminum,” jelas Umi Ros singkat dan padat.
“Kenapa bisa Rahma berpikiran seperti itu?” Abah sangat heran dengannya.
“Umi tidak tahu,” jawab Umi Ros disela-sela kesedihannya. “Mungkin dia stres.”
Sementara Alif sedang berada di kamar rawat lain untuk menyampaikan kabar kenapa Yudha tak kunjung kembali setelah pria itu pulang. Alif yakin Vita pasti menunggu pria itu karena yang dia ketahui, Yudha akan kembali datang untuk membantu mengurus segala sesuatunya, berikut administrasi.
“Kamu lagi-kamu lagi,” ucap Dara begitu pria itu tiba di depan pintu.
“Iya, aku juga sudah bosan bertemu denganmu,” Alif menjawab tanpa menghiraukan gadis itu. Dia memperhatikan Vita yang sudah mulai bisa turun dari tempat tidurnya. “Kamu sudah bisa beraktivitas lagi?”
“Sudah, Lif,” jawab wanita itu lembut. “Kamu datang?”
“Iya.”
Mata Vita mengedar, seperti tengah mencari-cari sesuatu di balik punggungnya, sehingga Alif langsung mengucapkan kalimat penenang.
“Abang lagi ada urusan mendadak, sama Abah sama Umi juga. Jadi dia yang memintaku untuk datang ke sini.”
“Oh, tidak. Aku tidak mencarinya, kok,” elak Vita begitu kentara. Matanya meredup kecewa. Baru saja kemarin dia merasa sedang diperjuangkan dengan tatapan mata tulus pria itu, sekarang keadaannya sudah jauh berbeda lagi. Sejenak dia berpikir bahwa Yudha memang tidak sedang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan ini.
‘Jangan banyak berharap Vita!’
Setelah Dara selesai mengurus segala administrasi, mereka pulang pada saat itu juga. Vita berjalan dengan membawa bayinya, sedangkan Alif dan Dara membawa barang-barang bawaan mereka.
“Biarkan barang-barang ini bersamaku. Kalian pulang saja dulu,” kata Dara ketika mereka sedang berada di lobby. Gadis itu menghentikan Alif yang sedang memasukkan barang-barang bawaan. “Kau antarkan Vita saja, ada banyak sesuatu yang harus kubeli dan yang pasti membutuhkan waktu yang lama,” tambahnya lagi.
“Sok sibuk,” ucap Alif.
“Kamu juga sok tahu, orang aku mau membeli banyak makanan.” Dara menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
“Ada rupanya gadis sepertimu.”
“Aku juga heran, kenapa ada pria sepertimu. Jelek.”
Kedua orang itu saling mengejek sebelum akhirnya saling berpisah untuk masuk ke dalam mobil masing-masing, meneruskan perjalanan.
***
Di dalam sel, telah berdiam diri seorang wanita berseragam oranye dengan segudang penyesalannya. Niat bunuh diri yang gagal malah justru mengantarkannya ke tempat terkutuk yang dibenci oleh semua orang.
Kini dia telah terpenjara. Nasib buruk sudah menimpanya. Jangankan mendapatkan sebuah cinta, melihat masa depan saja sudah sedemikian suram. Sekarang, bagaimana kondisi suaminya pun, ia tidak tahu. Apakah Yudha selamat atau tidak.
Kabar masuknya Rahma ke dalam sel, mengejutkan Nely. Wanita itu langsung meluncur ke rutan saat itu juga. Wanita itu marah, kesal, benci dan sangat kecewa dengan kebodohan putrinya yang telah menghancurkan masa depannya sendiri.
“Kamu itu bodoh,” ucap Nely menahan isak dan amarah. “Bertubi-tubi sekali kesalahanmu. Sudah menyebabkan cucu Ibu meninggal, sekarang kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam penjara. Kamu membuat Ibu malu.”
“Maaf, Bu. Rahma tidak sengaja, Rahma khilaf dan gelap mata. Sudah kujelaskan tadi, tolong jangan terus menyalahkanku. Ada sebab besar yang membuatku terdorong untuk melakukan ini,” jawab Rahma menunduk. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
“Tapi tidak seharusnya kamu berniat bunuh diri. Kamu sudah kehilangan anakmu, sekarang kamu narapidana karena hukuman akan segera dipastikan. Dan bukan tidak mungkin kamu juga akan menjadi janda ke depannya.”
“Kalau cinta kenapa kamu berniat untuk bunuh diri?” tanya Nely begitu geram. “Itu sama saja kamu akan membuat istri lain suamimu menang.”
“Rahma ... Rahma frustrasi. Rahma sudah tidak dicintai oleh Kak Yudha lagi, anakku meninggal, dan sekarang aku harus terima kenyataan bahwa Vita sekarang lebih bahagia dengan kelahiran anak laki-lakinya. Aku hancur sekali.”
“Dari mana kamu dapatkan racun itu?” tanya Ilyas. Seorang ayah yang sudah berkali-kali kecewa dengan tingkah laku kedua wanita terdekatnya, yang benar-benar sudah melewati batas.
“Rahma mendapatkannya secara online,” jawab Rahma begitu jujur.
“Kita harus sewa pengacara, Yah,” ucap Nely. “Anak kita tidak bersalah, dia hanya tidak sengaja.”
“Tapi ketidaksengajaannya membuat orang lain celaka,” tegas Ilyas menolak.
Nely tetap kekeh, “Yah, Rahma ini anak kita satu-satunya. Kalau bukan kita yang menolongnya, lantas siapa lagi?”
“Ibu pikir membayar pengacara itu murah?”
__ADS_1
“Jual saja apa yang ada, yang penting anak kita bisa secepatnya keluar dari sini.”
“Biar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
“Kenapa Ayah jadi seperti ini?”
“Terserah Ibu saja mau apakan dia. Dia begini karena hasil didikanmu. Nikmatilah! Aku sudah berulang kali memperingatkanmu.”
Pria paruh baya itu tak memedulikan istrinya lagi. Beliau memilih untuk menutup telinganya dan keluar dari sana. Membuat orang yang ditinggalkannya menjadi semakin berang.
Keesokan harinya, Umi Ros dan Alif datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait kasus ini. Dan berdasarkan undang-undang hukum pidana yang berada di negara ini, menegaskan melalui pasal 360 KUHP, bahwa; “Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang luka berat, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman selama-lamanya satu tahun."
“Umi tidak tega sebenarnya sama Rahma. Terus terang Umi tidak sampai hati memakinya kemarin. Umi sayang sama Rahma, juga sempat ada niat untuk mencabut laporan ini. Tapi kalau tidak begini ... tidak ada efek jera untuknya. Biarlah dia belajar dari kesalahannya sendiri,” kata Umi Ros saat berbicara dengan putra keduanya.
“Iya, Mi. Apa yang Umi lakukan ini sudah keputusan yang paling baik,” kata Alif membenarkan. “Bagaimana dengan kabar keluarganya, Umi. Apa mereka berusaha menghubungi Umi sejauh ini?”
“Belum ada kabar apa-apa, Nak.”
“Mungkin mereka menerima keputusan ini.”
“Umi berharap begitu, lalu masalah mereka selesai dan kami jadi tenang.” Wanita tua itu tersenyum. Keduanya berangkulan menuju pulang.
Beberapa hari setelahnya, Yudha keluar dari rumah sakit setelah dokter menyatakan bahwa kondisinya telah benar-benar pulih.
Dia tidak ingin mengingat hal apa pun yang telah terjadi pada dirinya sebelumnya. Pertama kali yang ia lakukan saat ia keluar pada saat itu adalah menuju ke rumah Vita. Ya, hanya itu. Dia ingin segera menemui putranya. Mencium aromanya yang membuatnya selalu rindu.
“Apa tidak mau menunggu besok saja? Nanti kalau kau masih sakit, kau malah menyusahkan Vita di sana,” ujar Alif yang saat ini sedang mengantarkan Abangnya.
“Mereka adalah obatku. Aku bisa sembuh secepat ini karena mereka.”
“Ya sudah.” Alif mengedikkan bahu. Rupanya Yudha sudah rindu berat.
‘Aku datang, Sayang. Kali ini tolong terimalah aku.’
***
__ADS_1
To be continued.