
Yudha terhuyung. Pria itu terjatuh dalam kondisi mata terbuka. Rasa terbakar, rasa tercekik pada tenggorokan membuat Yudha menatap kosong. Ada rasa sesak di dadanya yang membuat napasnya menjadi tidak nyaman.
Dia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Namun pria itu segera dapat menyadari bahwa apa yang diminumnya bukanlah kopi biasa. Dia telah diracuni. Wangi almond yang terkandung dalam minuman ini membuatnya tak mencurigai apa pun sebelumnya.
‘Vita, Rayyan putraku. Aku mencintai kalian ...,” jerit hatinya menyerukan nama mereka. Dalam keadaan seperti ini, hanya mereka sajalah yang dia ingat.
Sementara Rahma sudah menjerit-jerit. Dia memanggil semua orang yang ada di rumah. Lagi-lagi semua orang di sana dibuat geger olehnya.
“Ya Allah, ada apa lagi ini Rahma ...,” desah Umi Ros setengah jantungan. Beliau berlari tergopoh-gopoh tanpa sempat memakai hijabnya terlebih dahulu. Air matanya langsung jatuh ketika melihat putranya tergeletak di lantai dengan posisi memegangi dadanya.
“Umi bisa mati muda kalau kalian begini terus-menerus, Nak ....”
“Maaf Umi maaf ....” Rahma terisak-isak. “Akulah yang menyebabkannya.”
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Umi Ros sambil mengangkat tubuh putranya. Menaruh kepalanya di pangkuannya. “Bangun, Nak. Sadar. Istigfar.”
“Dia ke-keracunan,” jawabnya dengan suara tergagap. Dia juga takut dan tubuhnya gemetaran. Mungkinkah nyawa laki-laki itu akan mati di tangannya? Bagaimana nasibnya ke depan nanti? Pikirnya jauh melanglang buana.
“Astagfirullah!” pekik Umi Ros dengan dada bergemuruh. “Telepon Abah! Telepon Alif! Siapkan mobil segera,” titahnya dengan nada panik. Sebenarnya Umi ingin sekali menanyakan kenapa ini bisa terjadi, namun keselamatan Yudha lebih penting daripada membahas persoalan ini yang bisa ia urus nanti.
“Apa yang dia minum?” tanya Umi ketika mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Umi terpaksa membiarkannya ikut karena Rahma terus memaksa.
“Ko-kopi,” jawab Rahma dengan suara bergetar.
“Untuk apa kamu terlihat menyesal kalau upayamu meracuni anak saya berhasil?” tegas Umi Ros melototnya tajam. Hilang sudah kelembutan yang selama ini selalu ditunjukkannya. Beliau telah habis kesabaran.
“Awalnya tidak begitu, Mi,” jawab Rahma masih menangis seperti tadi.
“Atau kamu ingin minum racun itu, tapi Yudha yang meminumnya begitu?” tanya Umi Ros lagi dengan suara menyudutkannya. “Begitu Rahma?”
Tak lama kemudian, Rahma mengangguk pelan.
Umi Ros menggelengkan kepala pada saat melihatnya. Semakin besar kebencian terhadap menantunya itu. “Umi kecewa sama kamu,” ucapnya lirih namun begitu menusuk ulu hati. “Pikiranmu sangat pendek. Pengetahuanmu benar-benar dangkal dan akalmu tidak sehat!”
Deg!
Rahma terus menunduk. Dia tidak berani mendongakkan kepalanya.
“Hukuman menunggumu. Bersiaplah!”
“Maaf Umi ... Rahma tidak sengaja. Rahma tidak bermaksud begitu.” Rahma menjerit. Dalam keadaan sedemikian genting. Wanita itu menangis meraung-raung di sana.
__ADS_1
“Apa belum puas juga selama ini kalian menyiksa putra saya?” Umi segera menghubungi Bi Retno di rumah. “Simpan bekas kopi di kamar, Bi. Jangan di buang. Itu barang bukti untuk melaporkan wanita ini ke polisi.”
“Baik, Bu.”
Panggilan ditutup.
“Umi jangan ... plis, Mi. Tolong maafkan Rahma.” Rahma terlihat begitu memohon.
“Tidak. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”
“Umi ... Rahma janji tidak akan—m”
Umi Ros langsung menyela. “Sekali lagi saya bilang tidak.”
Semua petugas medis langsung bersiaga ketika mobil Umi Ros tiba di depan IGD. Mereka bekerja sama memindahkan Yudha ke atas brankar.
Begitu Yudha akan dilarikan ke dalam, Umi Ros menoleh kepada menantunya. “Kamu tidak perlu ikut masuk ke dalam.”
“Tidak, Umi. Biarkan Rahma ikut. Rahma ingin mengetahui keadaannya Rahma ingin memastikan sendiri.”
“Saya sedang tidak ingin melihat wajahmu, Rahma. Jangan buat kesabaranku habis.” Tiba-tiba Umi Ros menggunakan bahasa formalnya kepada Rahma. Mulai detik ini juga, beliau sudah menganggap wanita ini adalah orang lain.
“Istri yang ingin membunuh suaminya sendiri?” tanya Umi Ros. “Keluarlah. Harus dengan apalagi saya memperingatimu. Dengan kelembutan, kamu tidak mengerti. Dengan kekerasan, apalagi. Keluarlah, Rahma. Keluar,” ucapnya berulang-ulang.
Rahma menggeleng. “Biarkan Rahma di sini. Tidak apa-apa kalau Umi tidak suka. Rahma tidak peduli. Rahma memang sudah tahu Umi tidak menyukaiku sejak lama dan mentalku memang sudah jatuh semenjak itu. Rahma sudah biasa.”
“Hei, sadarlah!” ucap Umi Ros sangat jengah dengan perempuan ini. “Sikapmu dan Ibumulah yang menyebabkan semua orang tidak menyukaimu. Jangan ngadi-ngadi kamu.”
“Umi Ros ternyata kasar sekali,” ujarnya tersenyum miris.
“Ya, terserah apa katamu. Yang jelas memang susah membuat otak dangkal kalian mengerti dan tahu diri.”
Umi Ros segera memanggil sopirnya, “Pak, bawa dia langsung ke kantor polisi. Jangan sampai kabur,” ucap Umi Ros pada sopirnya.
“Baik, Bu.”
“Rahma tidak mau. Rahma mau di sini,” Rahma memberontak pada saat Pak sopir menyentuh tubuhnya untuk dimasukkan ke dalam mobil.
“Tolong urus dia ya, Pak. Saya mau masuk ke dalam.”
“Baik, Bu.”
__ADS_1
“Lepaskan! Lepaskan aku bilang!”
“Ayo, Bu. Saya hanya menjalankan perintah. Tolong jangan mempersulit.”
“Aku tidak mau. Aku ingin lihat keadaan suamiku. Biarkan aku di sini. Aku ingin menunggunya.”
Namun Pak sopir tak peduli. Pria berusia lima puluh tahunan itu memasukkan Rahma ke mobil, dibantu oleh satu security rumah sakit itu menuju ke kantor polisi.
Semenjak saat itu, Rahma langsung dimasukkan ke dalam sel. Dia mengenakan baju terbarunya yang berwarna oranye cerah, menunggu keputusan pengadilan.
***
“Kenapa lama sekali?” gumam Abah karena sudah dua jam beliau menunggu kabar yang ia nanti dari dalam sana. Beliau langsung meluncur ke rumah sakit ini bersama putra keduanya begitu mendengar kabar mengejutkan dari Bi Retno.
Sedangkan Alif sedari tadi menenangkan Uminya yang tak henti-hentinya menangis.
“Apa perlu kita beri tahu Vita, Bah?” tanya Alif.
“Jangan,” jawab Abah Haikal segera. “Dia baru saja melahirkan, nanti pikirannya terpecah. Kasihan bayinya. Biar dia dengar kabar baiknya saja nanti. Beritahu dia Yudha tak datang ke sana karena ada urusan mendadak. Seperti itu saja.”
“Oh iya, Bah. Alif tidak terpikir sampai ke sana,” ujar Alif. Ada hening selama beberapa saat sebelum kemudian dia melihat dokter keluar dari ruangan dan mendekati mereka. “Itu dokternya.”
“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Abah segera.
“Beruntung pasien tidak terlambat dibawa ke sini.”
“Tapi anak saya baik-baik saja kan, Dok?” Umi menyahut.
“Jangan khawatir. Dari tes darah dan rontgen, racun itu belum sampai menyebar ke mana-mana dan sudah kami atasi dengan pemberian obat penawar racun yang bisa mendetoksifikasi.”
“Orangnya sudah sadar, Dok?” tanya Alif.
“Belum. Tapi sudah boleh dijenguk.”
“Terima kasih, Dok.”
“Sama-sama, Pak.”
***
To be continued.
__ADS_1