TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Bekerjasama Membuatnya Cemburu


__ADS_3

“Loh, Kak. Kamu kok masuk ke sini?” tanya Rahma ketika mendapati suaminya masuk ke dalam kamarnya pagi hari.


“Aku mau mandi,” hanya itu saja yang dikatakannya sebelum pria itu masuk ke dalam sana.


Setelah Yudha keluar, Rahma langsung mendekatinya dan bertanya, ada apa dengan wajahnya? Kenapa dia masuk dan mandi di kamar ini? Bukannya hari ini adalah harinya bersama Vita?


“Aku tidur di perpustakaan semalam,” jawab Yudha yang lagi-lagi hanya menjawab seperlunya.


“Kalian berantem?”


Yudha tak menjawab. Memang tidak ada yang perlu dijawab dari pertanyaan ini.


“Gara-gara aku menginap di rumah inikah?” tanya Rahma menduga-duga. “Aku jadi tidak enak sendiri. Karena aku kalian jadi berantem. Memang sebaiknya aku menginap saja, Kak.”


“Tidak perlu, kamu tetap di sini,” jawab Yudha tak setuju. Karena rencana renovasi itu sudah diperkirakan hanya menghabiskan waktu satu bulan.


“Aku tidak apa-apa kalau harus menginap, Kak. Janji aku tidak akan bilang ke Ayah sama Ibu. Biar tidak jadi keributan.”


“Dengar aku Rahma, tetap di sini,” ulang Yudha agar Rahma mengerti.


Larangan dari suaminya membuat Rahma terdiam dan menghela napasnya. Kalau tahu akan begini akhirnya, dia lebih baik tetap tinggal di rumah Ibunya saja—walaupun harus tidur di satu tempat yang sama dengan berdesak-desakan. Karena tempat yang lain masih dalam tahap pembongkaran.


Entah disengaja atau tidak, namun tanpa Yudha sadari, kejadian ini memang menjadi sebuah kebetulan. Ya, sebuah kebetulan yang berhasil memorak-porandakan hubungannya dengan Vita. Membuat Vita menjadi semakin menduga-duga bahwa semua ini adalah bagian dari rencananya.


‘Padahal membuat Vita percaya adalah hal yang paling sulit. Tetapi keadaan seakan terus menjerumuskanku.’


Rahma memijat pundak Yudha, berupaya memberikannya kenyamanan agar emosinya lekas menurun. “Maaf ya, Kak. Ini salahku.”


Yudha menoleh. “Bukan salah siapa pun.”


‘Seandainya Tuhan memberikanku kesempatan, aku akan mengulangi lagi jalan hidupku dengan pilihan arah berbeda. Mungkin aku tidak akan pernah melangkahkan kaki ke pesantren itu yang menyebabkanku bertemu dengan Rahma. Mungkin aku juga tidak akan pernah melangkahkan kakiku ke desa yang menyebabkanku bertemu dengan Vita. Kupikir hidupku jauh lebih baik sebelum aku mengenal mereka.’


Namun sayangnya. Waktu tidak ada gunanya menyesali semua yang telah terjadi yang hanya akan menambah barisan kekecewaannya saja.


“Kalau mau cerita, cerita saja, Kak. Aku siap mendengarkan,” kata Rahma menawarkan diri.


Yudha menoleh, berusaha memaksakan senyum. “Sebenarnya ini masalah sepele, kalau dia tidak terlalu keras kepala.”


Rahma menaikkan alisnya. “Begitukah?”


Yudha mengangguk dan menghamburkan diri ke pelukan istrinya. “Aku bisa malu kalau menceritakan semuanya padamu. Tapi sekarang aku sudah jauh lebih baik, karena orang ini ....” Yudha menunjuk dada Rahma.


“Itu tugasku, bukan?”


“Ya, kau memang istriku yang paling baik.”


Rahma tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan.


Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar untuk melakukan sarapan. Keduanya turun dengan saling bergandengan tangan dan saling menatap penuh cinta, bagaikan dunia hanya milik mereka berdua.


Pandangan romantis itu tak sengaja luput dari pengawasan Vita melalui celah pintu kamar wanita itu, tanpa mereka ketahui. Dan secara tak sadar, Yudha telah melukai Vita yang sepenuh hati menerima keadaannya dengan tangan terbuka.


Bagaimana tidak? Kelakuan ini membuat Vita semakin geram lantaran menduga bahwa malamnya sudah dipergunakan untuk istri keduanya. ‘Nah, tidurlah kamu di sana! Jangan balik-balik lagi ke sini.’


Dalam hati, Vita mengerutuki kebodohannya sendiri karena sudah rela mencintai pria yang sama sekali tidak mencintainya. Menyerahkan hidupnya untuk mereka tanpa alasan yang berarti.


Sementara di bawah, Umi dan Alif sedang bekerja sama menyiapkan sarapan sambil bercanda satu sama lain. Anak sulung yang sudah matang secara usia tersebut, masih saja senang bermanja-manja dengan Uminya.


Bruk!


“Ya Allah, Nak,” ucap Umi Ros terkejut karena tiba-tiba Alif memeluknya dari belakang dengan gerakan menyentak. Dia menggandul seperti bayi yang sedang minta digendong.


“Kaget ya Mi?” tanya Alif tanpa merasa bersalah.


“Ya kagetlah. Umi kira siapa tadi.”


“Kenapa? Umi berharap Abah yang melakukannya?”


“Hus!” Umi memukul tubuh putra bungsunya dari depan. “Tahu apa kamu anak kecil.”


“Tapi kalau tidak ada kami, kalian suka begitu.”

__ADS_1


“Suka begitu gimana? Idih sotoy ini anak. Awas-awas!” Umi Ros berusaha melepaskan belitan tangan anaknya. “Kalau kamu begini nanti kapan selesainya Umi menyiapkan sarapan.”


“Kan menantu ada dua sekarang. Suruh bantu, kek.”


“Jangan suka ceplas-ceplos, nanti kedengaran. Tidak enak Uminya.”


Membicarakan menantu adalah hal paling sensitif yang berpotensi menimbulkan kerenggangan. Beliau pikir, tidak usah disuruh pun, mereka akan mempunyai inisiatif sendiri. Sebagaimana seorang wanita yang telah bersuami, mereka pasti mempunyai rasa tanggungjawab.


“Lah kan, betul. Nanti Alif juga mau kasih menantu buat Umi.” Alif langsung menunjukkan ke tiga jarinya.


“Hebat itu kalau kamu bisa melakukannya.” Umi Ros menyerahkan wadah besar berisi nasi goreng kepada putranya. “Sudah, jangan bercanda terus, bawakan ini saja ke depan.”


“Ke mana?”


“Ya ke tempat makan, lah, Nak. Masa ke kelurahan.”


Alif terkekeh dan mencium pipi Uminya.


“Kamu itu sudah besar, tapi masih saja kolokan!” dumel Umi Ros melihat kelakuan putranya yang sangat berbeda dengan kakaknya tersebut.


Alif dan Umi Ros menuju ke meja makan. Bertepatan dengan itu, Yudha dan Rahma juga terlihat turun menapaki tangga.


“Pagi, Mi,” sapa Rahma.


“Pagi juga, Nak.”


Yudha menarik tempat duduk disusul oleh istrinya yang duduk di sebelahnya.


“Ada yang bisa dibantu, Mi?” ucap Rahma menawarkan diri.


“Tidak usah, Nak. Semua sudah selesai. Buatkan minum saja untuk suamimu, gih!” titah Umi mengarah ke belakang. Namun beliau segera tersadar bahwa ada yang kurang di meja ini. “Loh, Vitanya mana, Nak?” tanya beliau kepada Yudha.


“Masih di kamarnya, mungkin sebentar lagi.”


“Kenapa tidak kamu panggil dia sekalian turun?” tanya Umi heran. “Ajak dua-duanya. Jangan cuma salah satu.”


Yudha memang berniat untuk menyusulnya. Namun sebelum dia beranjak, wanita itu malah sudah turun dengan wajah yang sangat berbeda dari semalam. Entah sedang pura-pura atau sungguhan, dia terlihat lebih bahagia. Tersenyum dan menyambut semua orang yang ada di sana.


“Eh, itu Vita. Ayo sini, sarapan, Nak!” tangan Umi melambai dan menarik kursi di sebelahnya.


“Pagi juga Kakak ipar kecil satu,” sahut Alif ikut menyambut dengan senang hati.


“Abah mana, Lif?” tanya Yudha.


“Belum pulang dari subuh. Mungkin masih betah di masjid,” jawab Alif yang mengerti kebiasaan rutin Abahnya. Biasanya beliau baru keluar dari sana jika sudah selesai melaksanakan shalat dhuha.


“Kak, aku ambilkan sarapannya, ya,” kata Rahma menyiapkan semua yang Yudha butuhkan.


Alif diam-diam melirik ke samping. Melihat roman berbeda dari kakak ipar kecil satunya. Entah kenapa ia selalu saja merasa kasihan melihat Vita demikian. Perlakuan yang biasa namun tidak menyenangkan seperti ini, jelas menyempitkan rongga dada setiap orang yang melihatnya. Hanya Abangnya saja yang tidak peka, pikirnya.


Sebagai penghiburan, Alif berinisiatif menyerahkan piring kosongnya. “Aku mau bermanja dengan Kakak ipar kecilku, boleh ‘kan?”


“Oh boleh,” jawab Vita mengangguk antusias. Senyumnya terukir hingga menampakkan lesung pipitnya. Wajahnya begitu tegar di hadapan semua orang meskipun Alif tahu itu bukan senyum yang sebenarnya.


“Halah, kamu itu modus. Dari tadi seperti itu. Bikin Umi mual,” sahut Umi menoyor kepala putranya.


“Mau yang mana saja?” tanya Vita seraya terkekeh pelan. “Ini juga?”


Alif mengangguk Sesekali dia melirik ke arah Yudha. Tak sabar ingin segera melihat reaksi Abangnya itu. Ternyata menyenangkan juga membuat orang lain panas, Alif suka keributan, Alif suka suara ledakan.


“Sekalian minumnya juga ya, Kakak ipar,” ujarnya lagi dengan suara yang dibuat-buat. Kedua orang itu menciptakan dunianya sendiri dan saling berbicara tanpa memedulikan orang lain di sekitarnya.


Gigi Yudha mengerat. Seolah mereka memang sengaja memanas-manasinya agar hatinya mendidih. Di saat demikian, Yudha mendadak menjadi tidak enak sarapan. Pria itu beralasan sedang mempunyai urusan dan segera cepat-cepat beranjak dari duduknya.


“Urusan apa, Bang?” tanya Alif heran. “Setahuku dikantor tidak ada urusan-urusan yang begitu penting.”


Demikian yang dikatakan Alif cukup membuat Rahma tertampar. Sebab cemburu suaminya begitu kentara. Terlihat jelas di matanya bahwa Yudha tidak rela, jika Vita dan Alif saling berdekatan seperti yang terjadi barusan.


“Aku mau berangkat sekarang, kalau kamu tidak mau berangkat denganku, terserah.”


Alif mengedikkan bahunya. “Tidak masalah. Aku bisa berangkat sendiri pakai motor.”

__ADS_1


“Oh, ya, Lif. Aku mau ke apotek. Antarkan aku pakai motormu sekalian ya,” kata Vita ikut menyahut. “Ada sesuatu penting yang harus kubeli.”


“Oke.”


“Sebentar, aku ambil tas dulu.”


Vita beranjak dari tempat duduknya lalu kembali ke atas untuk mengambil tas. Namun siapa sangka ketika ia akan keluar, tiba-tiba pintu tertutup rapat disusul dengan suara kunci yang memutar. Di dalam keterkejutannya, sontak Vita meneriakkan nama ketika mendapati sosok itu mendekat. “Mas Yudha!”


Yudha menatapnya dengan semburat amarah.


“Katanya mau berangkat?” tanya Vita berusaha bersikap biasa saja. “Atau ada yang ketinggalan, biar aku bantu carikan?”


“Tidak perlu,” jawabnya dingin. “Sengaja melakukan ini?” Dia bertanya dengan langkah kaki yang terus maju.


“Melakukan apa?” Vita berpura-pura tidak tahu.


“Supaya apa?”


“Apaan sih, kamu itu aneh. Awas ah, aku mau pergi sama Alif.” Vita berusaha menghindar, namun tidak bisa karena Yudha malah menghimpitnya sampai ke pinggir ranjang.


“Sekali lagi kamu menyebut nama laki-laki lain di depanku—”


“Apa?” tantang Vita. “Itu masih lebih baik daripada kamu menyebutkan nama Rahma di malam pertama kita,” ujarnya tak mau kalah.


Yudha semakin tersulut emosi. Pria itu mencekal pergelangan tangan istrinya dan dalam satu hentakan, pria itu sudah berhasil membuat Vita berada di dalam dekapannya, memaksa wanita itu untuk menerima apa pun yang akan di lakukannya.


Tok tok tok!


“Vit, Bang? Jadi berangkat apa no? Woy!”


Tok tok tok!


“Yah, skidipapap ini mah. Ya sudah aku pergi duluan ya, Bang!”


Dalam keadaan seperti ini, mereka sudah tidak peduli dengan suara apa pun lagi. Bahkan jika gempa bumi sekalipun!


*** 


Yudha baru saja keluar dari kamar mandi. Air mengalir dari rambutnya yang basah. Pria itu kembali menghampiri istrinya, meraih tubuhnya untuk kemudian dia peluk dan cium sebagaimana yang biasa dilakukannya.


“Kamu kesiangan,” ucap Vita mengingatkan karena jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan.


“Biar saja,” jawab Yudha yang belum mau lepas dari dekapan tubuh istrinya yang masih polos. Entah mengapa, semarah-marahnya Yudha kepada wanita ini, dia tetap merasakan rindu. Justru pertikaian yang sering kali terjadi malah membuat rasa cinta mereka semakin kuat.


“Mandi secepatnya setelah ini.”


Vita mengangguk di dalam pelukannya. Ia pun heran. Semudah itu Yudha membuatnya luluh kembali.


“Aku pergi dulu,” pamitnya setelah mencium kening.


“Nanti malam Mas Yudha ke sini lagi kan?”


“Asal kamu tidak marah, aku pasti datang ke kamarmu.”


“Aku tidak akan marah kalau Mas Yudha tidak berbuat ulah,” jawab Vita. “Semalam betul Mas Yudha tidur di sana?” Vita menunjuk arah kamar Rahma.


“Aku tidur di perpustakaan. Aku mengerti di mana aku harus tinggal. Kamu tidak perlu khawatir.”


Vita tersenyum menyadari kesalahpahamannya.


“Aku sayang sama Mas Yudha.”


Yudha mengangguk. Memejamkan matanya dan mencium tangannya.


“Kalau aku minta sesuatu apakah boleh?” tanya Vita penuh harap. “Aku janji tidak akan marah-marah lagi kalau Mas Yudha menuruti permintaanku yang satu ini.”


“Apa?”


“Pisahkan kami dalam rumah yang berbeda.”


***

__ADS_1


To be continued


__ADS_2