TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Apa Sebaiknya Kita Pisah Saja?


__ADS_3

17.


Seketika Vita membungkam. Ada ketidakrelaan dalam hatinya karena biasanya, waktu ideal yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan pendidikan di jenjang S2 adalah 4 semester atau setara dengan dua tahun. Itu pun jika Yudha mampu melanjutkannya selama dua tahun. Jika lebih—berarti mereka akan pisah selama itu?


Tapi melarangnya menimba ilmu, rasanya juga tidak mungkin.


Beberapa tahu lalu sebelum Yudha menikah, dia memang pernah melanjutkan S2-nya di negara timur tengah. Namun karena satu dan lain sebab membuatnya terpaksa berhenti di tengah-tengah. Dan kini, jika dia akan melanjutkan S2-nya di sini—tentu dia harus memulainya dari awal lagi.


“Kapan?” tanya Vita setelah beberapa saat kemudian. Namun matanya sudah berkaca-kaca karena sudah teralu jauh membayangkan bagaimana jika dia ditinggal di sini bersama anak-anaknya.


Menjalani hari-hari tanpa suami adalah bayangan mengerikan bagi setiap istri yang tidak pernah mengalaminya—sama sekali. Berbeda dengan yang sudah berpengalaman.


“Setelah dia lahir.” Yudha menunjuk perut istrinya.


“Apa ini tidak melewatkan momen penting pertumbuhan anak kita, Mas?” kali ini, tangis Vita langsung pecah. Tak terbendung. Padahal Yudha hanya mengatakan baru berencana. Belum keputusan bulat.


“Kok nangis? Ini baru rencana... Mamoy. Lagi pula aku juga tidak akan memaksakan diri untuk pergi tanpa mendapatkan ridha dari istrinya.” Yudha membuka kemasan makanan yang baru saja dibelinya untuk mengalihkan pikiran sang istri. “Kita makan dulu saja, yuk. Nanti keburu dingin.”


Vita menggeleng, wanita itu tidak sanggup walau sekadar mengeluarkan suara. Dadanya terasa sesak.


Untuk sesaat Yudha menyesal karena telah berbicara demikian. Sebab wanita itu menangis selama beberapa lama. Sampai Alif datang ke tempat ini tiga puluh menit kemudian.


“Assalamualaikum!” seru Dara langsung masuk menyidak ke seluruh ruangan. Bahkan sampai kamar mandinya pun dia ceki-ceki. “Wuih, bagusnya. Uh, mehong ini. Terima kasih untuk gratisannya, Mas. Sering-sering, ya!”


“Sama persis kata-katanya sama istriku tadi,” kata Yudha menandai kebiasaan mereka berdua.


“Memalukan,” gerutu Alif melihat kelakuan istrinya, “seperti tahanan yang keluar dari sel.” Tapi anehnya, pria itu juga melakukan hal yang sama.


“Eh, aku jadi lupa sama kakakku yang memberikan semua gratisan ini. Memang benar, harta itu bisa menggelapkan mata hehee....” Dara mendekati Vita yang ternyata berwajah muram karena sebab yang tidak ia ketahui. “Lah, ini kenapa Vita jadi begini, Mas? Kamu apain dia?” tanyanya terdengar menuntut.


“Ini juga makanan tergeletak di meja sampai dingin.” Dara sontak menutup makanan yang ada di atas meja, “maaf, aku takut khilaf. Anakku ini biar masih ada di dalam, tapi sering banget bikin emaknya celamitan.”


Yudha kembali duduk di samping istrinya lagi. Pun dengan Alif yang melakukan hal sama, di samping Dara.


“Tadi aku bilang ke dia, aku mau melanjutkan S2-ku di Bandung. Dia sedih, padahal baru rencana,” Yudha menceritakan penyebabnya agar mereka tidak sampai salah paham.


“Orang hamil sensitif, ya. Kayak orang PMS,” sahut Alif sambil mencolek-colek pinggang istrinya sehingga wanita itu langsung memberikannya peringatan.


“Wahai tangan, tolong dikondisikan.”


Alif kembali berkomentar, “Kalau Abang mau kuliah di Bandung, kalian berenam ‘kan bisa tinggal di sana. Kenapa harus pisah? Suami istri itu bebas,” Alif menjeda sesaat, “berapa lama sih, memangnya di sana? Paling Cuma dua tahun. Kalian juga tidak perlu khawatir Umi sama Abah. Mereka orang tua kita juga, pasti akan kami perhatikan.”

__ADS_1


“Kalau kalian tidak sempat berkunjung ke sini, biar kami yang ke sana. Mana-mana yang bisa,” Dara menyahuti.


“Ini baru rencana, kalau misalkan kamu kurang setuju—aku bisa mengurungkan.” Yudha berkata kepada istrinya yang menunduk.


“Maaf ... aku terlalu berlebihan. Tadinya aku pikir kamu mau meninggalkan kami semua,” ucap Vita pelan. “Terus terang aku belum dan tidak bisa.”


Yudha menarik napas dalam sebelum ia kembali berbicara dengan mereka semua mengenai kekhawatirannya, “Sepertinya—usaha kita yang satu ini tidak terlalu bisa kita harapkan lagi.”


Sontak semuanya langsung terdiam.


“Ke depannya, perusahaan harus berhenti beroperasi sejenak untuk menyetop pengeluaran berlebih dan menghindari pailit. Kita akan lanjutkan lagi nanti setelah pandemi mereda. Itu pun dengan beberapa pertimbangan. Ini saran dari beberapa teman tadi sewaktu kami rapat. Dan mereka bersedia untuk membantu mendongkrak lagi nama yang sudah meredup.


“Itulah yang membuat aku tadi berpikiran untuk melanjutkan S2 yang dulu sempat terkatung-katung. Karena andai benar perusahaan kita bangkrut, kelak aku tidak terlalu bingung karena aku bisa menjadi pengajar, atau lain-lain dengan pendidikan yang aku punya,” lanjutnya dengan kepala yang mulai pening. “Aku punya empat anak yang harus aku jamin masa depannya. Memang benar, setiap anak sudah diberi rezekinya sendiri-sendiri. Namun kita juga patut khawatir dan itu wajar. Karena pertanyaannya, dari mana datangnya jika tidak melalui usahaku dulu?”


Alif mengangguk setuju. Terkadang ucapan ini memang sering disalah artikan oleh sebagian banyak orang yang ingin mempunyai banyak anak. Padahal tidak mungkin rezeki akan jatuh begitu saja dari langit.


Vita terdiam setelah menyimak pembicaraan suaminya. Ada perasaan menyesal karena sempat berakal sangat pendek. Oh ... jadi ternyata ini alasannya?


“Maaf ...” ujar Vita sekali lagi dengan lirih. Dia menatap suaminya menanti jawaban.


“Kita akan bicarakan lagi nanti sama keluarga. Pasti selalu ada jalan keluar.”


“Nah gini kan, adem. Ya kan, Da?” tanya Dara sembari memeluk Alif karena tak mau ketinggalan mesra seperti pasangan di depannya.


“Tadi pas kalian tinggal anak-anakku sedang apa?” tanya Vita yang kali ini sudah mulai kembali semringah.


Dara yang menjawab, “Lagi tidur semuanya. Ada sih, beberapa kali menanyakan induknya. Tapi aku bilang, sebentar lagi mereka pulang bawa mainan, gitu, Ta. Jadi kamu kalau pulang bawa mainan, ya.”


“Kita dijadikan tumbal lagi, Mas.”


“Tidak apa-apa, nanti kita belikan mereka mainan.”


Keduanya pun makan siang di sana. Sebelum akhirnya di usir pergi oleh kedua penguasa baru. Mau secepatnya senang-senang di sana katanya. Dasar pasangan tidak tahu di untung!


***


Rahma langsung pulang ke rumahnya siang itu. Dan untuk mengistirahatkan badannya—ia butuh waktu sejenak untuk di kamar, pastinya dengan anak bayinya yang saat ini sedang bergerak-gerak lincah di atas ranjang.


“Tidur ya Ade ... Mama ngantuk. Mau bobo sebentar sebelum Mama jemput Papa kamu di rumah Nenek.” Berulang kali Rahma menutup mulutnya yang terus menganga menahan rasa kantuk. Sebelum akhirnya ia pun terlelap bersamaan dengan putra-putrinya. Barulah sore hari kemudian dia menjemput suaminya pulang, meski harus mendapat omelan dari mertuanya karena Rahma datang terlalu lama.


“Maaf, Bu...” hanya itu yang bisa Rahma katakan lantaran tidak bisa menjawab dengan ucapan lain. Heran, padahal Rio anaknya sendiri. Tapi entah kenapa seperti ogah-ogahan saat merawatnya. Padahal semasa sehat, Rio selalu berbaik hati untuk membagi sedikit rezekinya pada mereka berdua. Apakah ekonomi yang buruk selalu menjadi penyebab ketika orang mulai berubah?

__ADS_1


“Kamu kerja apa sih, memangnya?” tanya Ibu mertuanya akhirnya penasaran.


“Jadi sekretaris,” Rahma terpaksa berdusta.


“Hati-hati, loh. Sekretaris biasanya—”


“Bu!” sela ayah mertuanya meski itu tetap tak dapat menghentikan.


“Ibu hanya bicara fakta yang sering terjadi. Antara dua orang itu kan saling membutuhkan. Ke mana-mana sering berdua—tak jarang, dua-duanya jadi saling suka karena terbiasa. Lalu terjadilah skandal.”


“Astaghfirullah ... Bu. Istighfar. Lagi pula Rahma sudah punya suami dan dua anak. Tidak mungkin Rahma seperti itu.”


“Aku tidak sedang menuduh, hanya sedang bercerita biasa saja. Memangnya tadi aku menyebut Rahma begitu? Tidak kan, Rahma?”


Rahma tak menjawab karena hatinya terasa pedih lagi.


Ayah mertua memberinya nasihat, “Kamu harus pintar jaga diri kamu sendiri, Rahma. Sebab suamimu sedang tidak bisa menjagamu sekarang. Pasti godaan di luar sana selalu lebih kuat—terlebih, suamimu sedang sakit sekarang. Dia adalah cobaanmu, cobaan kita semua. Ujian yang sebenarnya sebentar. Semua ini akan berlalu kalau kita mampu bersabar. Ayah akan bantu kamu melewati kesulitan. Ayah janji akan membantu merawatnya, kalau perlu Ayah akan tinggal di rumahmu mulai besok.”


“Iya, Yah... terima kasih.” kali ini tidak ada lagi air mata menetes. Karena sudah terlewat kering. Namun ia sedikit merasa bahagia karena baru saja mendengar angin segar.


“Ayah apa-apaan, sih. Tega meninggalkan istri sendiri.” Ibu mertua menggerutu. “Usaha tanaman kita nanti bagaimana? Siapa yang mengurus?”


“Ibu saja yang mengurus. Anak lebih penting daripada tanaman,” tegas ayah mertua membuat istrinya seketika terdiam.


Di perjalanan, Rio menggenggam tangannya dan berujar pelan, “Usaha apalagi yang bisa aku lakukan supaya aku sembuh, Rahma? Tunjukkan. Aku ingin sehat... kasihan kamu dan anak-anakku.”


“Aku tidak tahu, Kak... coba tanya teman-teman yang lain. Barang kali mereka pernah punya kasus yang sama,” jawab Rahma menatap fokus ke depan.


“Kupikir hidupmu akan lebih baik jika tanpa aku ...” kata Rio lagi membuat Rahma seketika menginjak rem mobilnya secara mendadak dan menoleh cepat. Beruntung mereka memakai seatbelt sehingga kepala mereka tak sampai membentur dashboard.


“Apa maksudmu, Kak?” tanya Rahma menatap tajam.


“Aku hanya tidak ingin terus membuatmu menderita... bagaimana kalau kita pisah saja?” Rio menunduk dalam, “biar Ibu yang mengurusku.”


“Apa kamu sudah gila?”


***


Bersambung.


JAngan tinggalin likenya ya

__ADS_1


Tolong diingatkan kalau typo, ya say. aku gak revisi lagi demi kalian biar gak telat baca


 


__ADS_2