TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Katakan, Siapa Laki-laki Itu?!


__ADS_3

26.


Rahma menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk segera menampik tuduhan tersebut, “Tidak ... kamu salah, Kak. Aku tidak akan menyerahkan diriku dengannya sekalipun aku harus hidup terlunta-lunta.”


Rahma bertekad untuk membesarkan anaknya sendiri. Keberuntungan yang sering tak berpihak kepadanya, membuat wanita itu sudah semakin kuat dan terbiasa menjalani segala macam kepahitan hidup.


‘Aku bukan Rahma yang manja lagi seperti dulu. Rahma sekarang adalah Rahma yang beda. Kamu kuat, Rahma. Kamu bisa!’


“Tega, kamu meninggalkan kedua anak-anak kita hanya demi anak haram itu?” Rio bertanya kemudian.


“Aku tidak punya pilihan,” lirih Rahma dengan tenggorokan yang hampir tercekat, “Maaf, aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, Kak. Tapi kamu harus tahu, semata-mata yang aku lakukan ini demi kalian. Biarlah aku yang akan menanggung sendiri dosa ini nanti.”


Rahma beranjak berdiri dan mengeluarkan beberapa oleh-oleh yang dibawanya dari Indo. “Ini titipan makanan dari Ibu, sama ini ada pakaian tambahan biar kamu bisa ganti-ganti. Kemarin baru bawa baju sedikit, kan?”


Rio tak menjawab.


Sesudahnya, Rahma kembali duduk di samping Rio untuk menyampaikan beberapa hal yang memang harus lelaki itu ketahui darinya dan kenapa ia menjadi seperti ini sekarang.


“Aku sangat paham bagaimana perasaanmu...” kata Rahma dengan mata yang menderai, “tapi alangkah baiknya kalau kamu mau mendengar penjelasanku. Aku juga punya hak untuk membela diri, kalau aku tidak seperti yang kamu pikirkan....”


Rio tersenyum kecut, “Apa pun alasannya, kamu tidak boleh melakukannya, Rahma. Selain ini menyakiti aku, kami, apa kamu tidak tahu perbuatan ini adalah dosa besar? Kupikir kamu adalah wanita yang paham agama. Tak kusangka ternyata kamu serendah ini.”


“Kamu pikir aku senang melakukannya? Bukan mauki seperti itu,” sela Rahma segera, “tidak ada seorang wanita mana pun yang senang dan haha hihi setelah dia memberi nafkah keluarganya dengan uang haram,” katanya dengan suara penuh tekanan. Jeda sejenak, Rahma kembali melanjutkan, “Lantas selama ini, kamu pikir dengan apa aku membeli kebutuhan keluarga kita? Membayar baby sitter kita? Mengemis di jalanan?”


“Termasuk untuk aku juga?” tanya Rio membuat emosi Rahma kian tersulut.


“Lalu di mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Kak? Coba kamu pikirkan lagi—jika sekali kontrol saja aku bisa mengeluarkan uang sampai berjuta-juta, terus bagaimana dengan obat-obatan dan lain-lainnya?” kata Rahma dengan dada naik turun, “terapi, membeli kruk, membeli kursi roda dan masih banyak yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu. Apa kamu sudah tidak bisa membaca lagi setiap struk yang keluar dari mesin kasir? Apa perlu aku tunjukkan semuanya padamu?”


“Seharusnya kau biarkan saja aku mati, daripada kamu memberi makan atau membiayaiku dengan uang haram!” kesal akhirnya Rio meninggi di sisa tenaganya. “Bukan aku tak pandai berterima kasih, tapi pantas jika selama ini aku tak kunjung sembuh—sebab uang yang kamu gunakan adalah uang haram, Rahma.”


Rahma kian terisak.


“Kenapa dari dulu kamu tidak pernah berubah?” tanya Rio dengan mata berkilauan, “kamu selalu—saja bertindak bodoh yang akhirnya merugikan dirimu sendiri. Tidakkah kamu belajar dari pernikahanmu yang sebelumnya?”


“Maaf, Kak... maaf...” lirih Rahma kini menyadari semua kebodohannya. “Aku siap bertanggung jawab dengan semua perbuatan yang aku lakukan. Tidak masalah seandainya kamu mengatakan sama ayah, sama ibu, apa yang sebenarnya terjadi sama aku.”


“Kamu pikir, aku sudah tidak punya urat malu lagi dengan mene lanjangi istriku sendiri di depan orang tuanya?” Rio menatap tajam istrinya yang masih menangis pilu, “asal kamu tahu, aku bukan laki-laki seburuk itu.” Terdengar helaan napas kasar dari lelaki ini. “Aku heran dengan pendeknya akal pikiranmu. Bukan hanya itu, kamu juga gampang sekali putus asa, seperti apa katamu barusan.”


“Aku bingung... aku bingung harus gimana? Aku hanya seorang perempuan yang dituntut untuk bisa melakukan berbagai hal, sedangkan aku sendiri tidak mampu.”

__ADS_1


“Katakan, siapa laki-laki itu, akan aku antar kamu sampai ke rumahnya?!” ujar Rio mengancam.


“Tidak, Kak. Tolong jangan lakukan ini. Aku tidak mau. Lebih baik kamu ceraikan aku saja daripada kau antar aku ke sana.”


Telah Rahma pikirkan, hidup bersama Arkana hanya akan menambah luka baginya. Masih lebih baik jika mereka berpisah, maka dia akan hidup lebih tenang. Sesungguhnya hidup sendiri masih lebih baik daripada hidup berkeluarga dengan orang yang salah.


“Kenapa tidak mau? Apa dia laki-laki beristri?”


Rahma hanya menggelengkan kepala. Ia berjanji untuk tidak mengatakannya dengan siapa pun.


“Cih, secinta itu kamu sama dia sampai-sampai kamu menyembunyikan identitasnya. Kenapa? Kamu takut aku melukainya?” tanya Rio tersenyum sumbang, “jangan khawatir, untuk saat ini keadaanku sedang lemah, jadi itu tidak akan terjadi.”


“Aku tidak mau dia sampai tahu, lalu mengambil anaknya kalau sudah lahir. Aku hanya seorang ibu yang tidak mau kehilangan anak-anaknya, bukan ini saja, tapi juga yang lain. Jadi, tolong hargai keputusanku. Biar aku menentukan jalan hidupku sendiri nantinya akan seperti apa.”


“Kita akan berpisah setelah anak itu lahir,” kata Rio akhirnya tanpa berpikir panjang.


Rahma menangguk, air matanya semakin deras, “Iya, tidak apa-apa, aku cukup tahu diri. Aku ini wanita kotor yang tidak pantas bersama kalian. Tapi, kalau aku boleh minta, biarkan semua anak-anak denganku saja.”


“Yakin?” Rio bertanya, “dengan apa kamu akan menafkahinya? Aku tidak rela kalau kamu memberikannya makan dari hasil—”


“Cukup!” sela Rahma di sela isak. “Aku memang bersalah, tapi tidak perlu kamu jelek-jelekkan aku sampai segitunya,” dia berkata dengan nada lebih keras, “tidakkah membekas sedikit saja di hatimu semua kebaikanku selama ini?


“Aku sudah menjelaskan semuanya tadi. Kupikir kamu akan paham apa yang aku rasakan selama ini dan bagaimana sikap orang tuamu denganku sebelumnya.


"Andai aku egois, pasti kamu sudah kutinggalkan dari dulu. Tapi buktinya, aku selalu pulang ke rumah, menerima sepenuhnya keadaanmu dan merawatmu tanpa kenal lelah.”


“Coba kamu pikirkan juga bagaimana perasaanku, Rah?” ucap Rio sama-sama menangis pilu.


Rahma mengangguk, “Iya, aku paham, aku mengerti. Kalau kamu menyuruhku demikian, maka harusnya kamu juga, pikirkan bagaimana perasaanku.” Wanita itu beranjak berdiri dari tempatnya duduk, “Baiklah, sepertinya aku tidak bisa lama-lama di sini, karena kamu pasti benci melihatku.”


“Mau ke mana, kamu?” tanya Rio. Dalam hati kecilnya, ia merasakan rindu yang sangat besar, tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengungkapkannya.


“Aku menginap sehari di Hotel,” jawab Rahma sembari mengangkat tasnya ke bahunya, “besok aku balik ke sini kalau aku mau pulang ke Indo,” dia mengulurkan tangannya untuk memohon diri, “aku pamit, ya, Kak....”


Namun bukannya menerima, Rio malah justru menarik tangannya hingga ia terjatuh di pelukan laki-laki itu. Di bawah tubuhnya, Rahma merasakan getaran tangis seorang laki-laki tak berdaya, “Maafkan suamimu ini, Rahma... maafkan suamimu,” terasa usapan lembut mendarat di punggungnya, “akulah penyebab dari semuanya. Andai aku tidak sakit, pasti kita akan baik-baik saja sekarang.”


“Sudahlah, Kak... yang terpenting sekarang, kamu cepat sembuh supaya bisa cepat pulang ke rumah demi keluarga,” ujar Rahma terdengar lebih tegar daripada sebelumnya, “semua menunggumu.”


Keduanya merenggangkan pelukan dan saling menatap.

__ADS_1


“Kamu cantik ...” puji Rio beberapa saat kemudian, membuat Rahma seketika memukul dadanya dan mencebik kesal. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini suaminya justru memujinya demikian?!


“Tidak lucu!”


Rio tersenyum, “I miss u.”


Akhirnya Rahma pun ikut tersenyum. Rasanya sudah lama sekali dia tak pernah lagi mendengar kata-kata rindu dari bibir suaminya.


“Maaf...” bola mata Rio mulai melunak, demikian dengan suaranya. “Kamu boleh pukul aku.”


“Aku akan memukulmu kalau sudah sembuh, kali ini pengecualian.”


“Tidurlah di sini, biar Hans saja yang tidur di Hotel.”


Rahma menatap suaminya tak percaya. Semudah itukah Rio memaafkannya?


“Apa kamu serius, Kak?”


“Menurutmu?” Rio menunjukkan kesungguhannya dengan mencium kening istrinya.


Rahma tersenyum bahagia. Dia pun kembali memeluk tubuh suaminya sembari menitikkan air mata. “Apa itu artinya kamu mau menerima dan menyayangi anak ini seperti anakmu juga, Kak?”


“Anakmu adalah anakku juga, bukan?”


“Terima kasih, Kak. Terima kasih karena sudah mau memberikanku kesempatan. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Aku akan mencari pekerjaan yang halal.”


Satu malam, Rahma menginap di sana. Hubungan keduanya menghangat sampai kemudian, Rahma kembali pulang ke Indonesia.


Namun apa yang terjadi ketika Rahma sampai di negaranya sendiri?


Dia malah mengalami pendarahan.


🌺🌺🌺


Bersambung. Vote, likenya jangan sampai lupa, ya?


Hehe, aku ada berita baru, nih tentang abah&umi Ros. kalian boleh cek infonya di Instagram (instastory) aku @ana_miauw. ada apa sih, sebenarnya?


Oh, iya, Mau up lagi gak?

__ADS_1


__ADS_2