TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Pergi Ke Singapura


__ADS_3

33.


Agaknya, Rahma kecewa dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Abah Haikal. Tetapi ... apa boleh buat? Mobil mereka sudah jauh dan tidak mungkin bisa mereka kejar. Sebenarnya bisa saja salah satu dari keluarga, menghubungi Yudha agar pria itu mau putar balik. Tetapi mereka tidak melakukannya, sebab jika dilihat dari roman wajah Rahma, tampaknya—bukan tidak penting, tetapi tidak terlalu mendesak.


Ummi Ros berkata, “Apa ini sangat penting, Rahma? Kalau tidak, kami bisa membantumu untuk menyampaikannya.”


“Aku hanya mau berterima kasih, itu saja, Mi. Tapi secara langsung,” jawab Rahma menunduk malu mengingat perbuatan tercela yang pernah dia lakukan. Tetapi, sampai hari ini mereka selalu berbuat baik padanya.


“Mereka pergi ke Bandung,” kata Abah kemudian.


“Maaf aku potong sebentar,” Alif tiba-tiba menyela, “Rah, kami masuk ke dalam dulu,” pamitnya merangkul Dara ke dalam karena angin di luar cukup besar dan mereka peduli Sakira.


“Oh, iya, Alif... selamat atas kelahiran bayinya,” ujar Rahma sejenak mengalihkan soal. Membuat Dara dan Alif terhenti pada saat Rahma mendekati mereka berdua untuk melihat Sakira dalam gendongan, “Dia sangat menggemaskan,” wanita itu mengagumi parasnya dan sempat mengusap pipinya yang tumpah-tumpah. Sakira memang bayi yang besar.


“Terima kasih, Mbak... kami pamit ke dalam dulu, ya,” ujar Dara dengan suara yang lebih ramah daripada terakhir mereka bertemu. Dia paham bagaimana cara bersikap dengan orang yang menghargainya juga.


Namun tiba-tiba, Rahma memeluknya. Membuat semua orang yang ada di sana tersenyum haru, “Tolong maafkan aku. Aku pernah ngomong kasar sama kamu.”


Dara tersenyum menatapnya pada saat mereka melepaskan pelukan. “Semua orang pernah merasakan berada di titik terendahnya karena aku pun pernah demikian, jadi saling memaklumi saja.”


Rahma mengangguk, matanya masih mengawasi keduanya saat mereka masuk ke dalam rumah yang dulu juga pernah di tempatinya.


Usai mereka pergi, Rahma kembali mendekati mantan mertuanya tersebut, tanpa sadar air matanya mengalir deras.


“Apa Umi merindukanku?” tanyanya kemudian.


“Oh, iya jelas. Kamu putriku juga,” jawabnya lantas saling memeluk. “Umi senang kamu kembali seperti ini,” ucap Umi Ros dalam pelukannya. Usapan lembut pun Rahma rasakan di punggungnya sehingga ia merasa di sayang.


“Aku sedang keliru Umi....”


“Dengar, Nak. Seberat apa pun masalah, pasti akan berlalu. Memang berbicara itu lebih mudah daripada kita yang menjalaninya. Mungkin Umi pun belum tentu kuat jika ada di posisi Rahma. Tapi, alangkah baiknya kita lebih bersabar lagi dan berpasrah diri. Yakinlah, Tuhan memberimu cobaan karena Dia sayang kamu dan tahu karena kamu mampu melewatinya.”


Rahma mengangguk. Dalam hatinya dia menyadari apa yang dilakukannya selama ini dengan menjual diri benar-benar tak ada gunanya dan hanya sia-sia belaka. Nyatanya, tindakan bodoh dan konyol ini malah justru menistakan dirinya sendiri di hadapan Tuhan dan banyak orang. Uang yang di dapatkannya tidak berkah, tidak bermanfaat untuk apa pun dan cepat habisnya.


“Bagaimana keadaan suamimu sekarang?” tanya Abah Haikal.


“Suamiku masih dirawat intensif, Bah. Sekarang lagi tahap kemoterapi,” jawab Rahma setelah dapat kembali menguasai diri.


“Sudah berapa kali kemo?”


“Sudah tiga kali, tapi masih dalam tahap evaluasi karena sepertinya, sel-sel kankernya masih ada,” jawab Rahma.


“Ini pasti berat sekali buat kalian, bersabarlah.”


“Iya, Bah....”


“Beritahu kami kalau mau membesuk, insyaallah kami mau ikut denganmu ke sana, ya, Bah?” Umi menoleh kepada suaminya yang mengangguk.


“Oh, iya, jadi lupa apa tujuanku ke sini,” kata Rahma tersenyum, “Yudha sama Vita kapan pulang?”


“Yudha mau S2 di Bandung, Nak...” jawab Umi Ros, “jadi kurang lebih ya, dua tahun.”


“Kapan Rahma bisa ketemu mereka, ya, Mi?”


“Nanti kalau mereka pulang ke sini, Umi kabari kamu, ya.”


Rahma mengangguk. Ketiganya sempat mengobrol selama beberapa lama, sebelum akhirnya Rahma bertolak dari sana karena orang rumah meneleponnya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Rahma langsung di sambut oleh anak perempuannya. Dia mengucapkan bahwa ada sebuah paketan besar yang datang beberapa menit yang lalu. Namun, dia tak berani lebih dulu membukanya, karena menunggu mamanya pulang.


Paket itu berbentuk kotak berukuran besar. Sedang di atasnya tertulis nama si pengirim, yakni Rio Permadi.


‘Untukmu yang tercinta.


Setiap hari bersamamu adalah sebuah anugerah. Namun, ada satu hari yang lebih indah, yakni hari ulang tahun pernikahan kita. Happy Anniversary, Sayang. Semoga kita selalu bersama hingga jannah.’


Rahma tersenyum melihat tulisan tangan ini. Dia sangat mengenalnya dan ini tulisan Rio sendiri. “Tulisan tanganmu itu selalu bagus, Kak. Meski sedang sakit pun....”


Rahma mengeluarkan ponselnya untuk membalas lewat pesan singkat.


“Selamat hari ulang tahun pernikahan juga, Kak. Sungguh Allah telah menyayangiku dengan mempertemukan seorang imam dan guru terbaik dalam mengajarkan kesabaran. Engkau adalah mujahid yang paling indah dan tak pernah kulepas. Akan aku ikat erat dirimu dengan ketakwaan dan cinta yang tulus dari hati, selamanya,” demikian pesan yang tertulis di akhiri emoticon love dan kiss. Detik berikutnya, terkirim.


“Dali siapa, Ma?” tanya Febi.


“Dari Papa, Sayang.” Rahma menoleh dan tersenyum. Dia kemudian meraih tubuh putrinya untuk dipangku.


“Kapan Papa pulang?”


“Papa masih berobat, Sayang. Doakan Papa supaya cepat sembuh, ya.”


Febi mengangguk, kemudian mengungkapkan perasaan rindunya, “Febi kangen sama Papa....”


“Mama juga, Sayang. Nanti kalau Mama pergi ke sana, Mama ajak kamu, ya?”


Febi mengiyakan. Satu bulan berikutnya, mereka pun bertandang ke Singapura bersama Abah Haikal dan Umi Ros sesuai janjinya selama beberapa waktu lalu.


Dari hari ke hari, keadaan Rio Permadi semakin membaik kendati penampilannya sekarang sudah terlihat sangat berbeda. Pria itu sudah di cukur gundul seratus persen karena rambutnya mengalami kerontokan.


Pengobatan kanker dengan kemo memang dapat menyerang sel-sel dan jaringan tubuh yang normal, termasuk sel keratinosit yang berada di folikel atau akar rambut. Hal inilah yang menyebabkan rambut Rio rontok parah.


“Sebenalnya Papa jelek,” jawab Febi berterus-terang. “Tapi kalena ini papanya aku, jadi ganteng,” kata Febi lagi yang belum terlalu banyak mempunyai kosakata.


Semua orang tertawa mendengarkan celotehannya yang lucu.


“Duh, pintarnya...” puji Umi Ros kepada gadis kecil ini.


Sembari memeluk putrinya, Rio mengalihkan pandangan untuk menyampaikan terima kasihnya kepada dua orang yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk menjenguknya. Yakni Abah Haikal dan Umi Ros.


“Sama-sama, Nak Rio. Sekalian sambil jalan-jalan. Istriku bilang dia mau tahu, negara Singapura ini seperti apa,” jawab Abah Haikal.


Sang istri menyahut, “Iya, biar pun katanya negara tetangga, tapi terus terang, ini pertama kalinya saya menginjak tanah ini. Ternyata enak sekali ya, Bah. Disiplin sekali warganya.”


Hans terkekeh, “Betul sekali, Bu... saya merasakan sekali perbedaannya. Udara di sini sangat bersih dan yang pasti ... bebas macet.”


“Wah... ini, sudah betah sepertinya,” kata Abah menanggapi. “Bahasa inggris gimana, aman?”


“Kadang kalau ada yang tidak tahu, saya terpaksa translate di Mbah gugel.”


“Jangan-jangan sebentar lagi mau boyong,” celetuk Umi Ros.


“Kalau untuk itu sepertinya dipikir-pikir dulu, Bu Hj. Sebab biaya ekonomi di sini bikin kanker, alias kantong kering.”


Seketika semuanya tergelak.


Hans kemudian menceritakan, semua biaya yang dia keluarkan untuk hidup berbulan-bulan di sini. Gaji tetap atau upah yang di dapatkan oleh para pekerja di negara ini memang besar, namun semua itu sesuai dengan perekonomian yang ada sana.

__ADS_1


Umi Ros dan Abah Haikal menyimak saja ucapan Hans yang tengah berkisah. Sesekali mereka menimbrung untuk sekadar menanggapinya. Sebab, memang tidak ada topik lain lagi yang bisa mereka bahas untuk mengisi kekosongan. Tidak mungkin rasanya andai mereka terus bercerita tentang masalah penyakit, karena yang ada—bisa membuat pasien semakin stres, yang ditengarai dapat membuat imunnya semakin menurun.


Namun begitu, mereka jadi tahu seluk-beluk negara ini sebenarnya seperti apa. Mungkin kedengarannya sedikit aneh; seorang pengusaha biro perjalanan wisata—tetapi tidak tahu negara tetangganya sendiri?


Tetapi demikianlah kenyataannya. Sebab Abah Haikal malah justru lebih sering ke negara lainnya yang lebih banyak terdapat Khazanah Islam, di bandingkan dengan negara Singapura itu sendiri.


“Tapi dari semua yang saya bicarakan tadi, bukan berarti negara ini tidak ada kekurangannya, Pak Hj,” lanjut Hans di sela-sela bicaranya, “soalnya saya sering kali susah untuk mencari tempat-tempat ibadah.”


“Jadi kesimpulannya?” Abah bertanya untuk memastikan.


Hans menjawab dengan rasa bangga, “Indonesia tetap di hati.”


Abah langsung menyerukan salah satu makanan kesukaannya, “Hidup rendang! Hidup rendang!”


Lagi-lagi suasana terdengar ramai dengan tawa semua orang.


🌺🌺🌺


Hanya setengah hari Umi dan Abah Haikal berada di sana. Selain pesawat sudah dipesan pulang pergi, mereka juga malas untuk menginap karena sudah terlalu rindu dengan keluarga yang menunggunya di rumah, apalagi cucunya.


Lagi pula, Dara belum terlalu berpengalaman mengurus bayi baru lahir. Dari kemarin, Ibu Ratnalah yang mengurusnya. Namun, mereka sudah pulang karena Razka ditinggal di rumah. Mereka bilang, Razka sangat sibuk dengan tugas semester.


Mereka tiba pukul setengah dua belas malam setelah mengudara sekitar satu setengah jam dari Bandara Changi Singapura.


“Sepertinya Alif sudah tidur,” gumam Umi Ros saat masuk.


“Jelas, Mi... ini sudah tengah malam,” jawab Abah menanggapi ucapan istrinya.


Umi Ros langsung menuju ke kamarnya sendiri dengan membawa oleh-olehnya serta.


Namun tidak dengan Abah, karena lelaki tua itu justru menuju ke lantai paling atas. Yakni menuju ke tempat paling rahasia yang tidak pernah seorang pun ketahui. Ada yang beliau rindukan akhir-akhir ini, tetapi tak tersampaikan.


Membuka laci paling bawah, beliau mengeluarkan sebuah tempat berbentuk kotak cukup besar yang terbuat dari kayu. Terkunci rapat dengan gembok demi menjaga keamanannya. Hal ini dilakukannya untuk menghormati istrinya yang lain, yaitu Ros.


Sesaat setelah membuka kuncinya, Abah mengeluarkan isinya satu-persatu foto lawas dirinya dan seorang perempuan. Dia lebih tua darinya sepuluh tahun, bernama Nayana Wulan Fajrani.


“Bahkan setelah puluhan tahun kau pergi, aku masih selalu merasakan kehadiranmu di sini....” air matanya mengalir ketika mengingat wanita ini meregang nyawa di pangkuannya. Pada saat itulah beliau menyadari, bahwa cintanya kepada Nayana Wulan juga begitu besar.


Kini pria itu memejamkan mata.


Dalam.


Sangat dalam.


Hingga berlapis-lapis kegelapan ... menariknya ke masa lalu.


🌺🌺🌺


Bersambung.


Next prekuel Abah Haikal, ya. Meski nanti happy ending. Tapi tetep ada nyeri-nyerinya dikit. Kita nanti akan sambung lagi kelanjutan Yudha, (hanya sedikit), jadi apa setelah dia selesai S2, kalau prekuel udah end.


Yudha jadi apa hayo?


“Jadi kodok, thor,” jawab deterjen ulala.


Oh my Godddd! 🤣✌️

__ADS_1


Untuk malam ini aku gak up, karena bab yang ini udah dobel (jempol ai sampai gempor), jadi jangan di tunggu, ya. besok siang aja.


Jan lupa laiknya biar makin semangat kejar update....


__ADS_2