
Kancing-kancing baju telah terlepas satu persatu sehingga tak menyisakan satu pun. Lima jari itu kini sedang merangkak dari arah perut menuju ke atas. Wajahnya pun ikut turut mendekat untuk saling bekerja sama membuat wanita ini meminta lebih. Nyatanya tindakan kecil ini berhasil mengundang lenguhan manis keluar begitu saja. Dia sangat menyukai suara itu dan sungguh ... Vita pun hampir gila dibuatnya.
Jeda sesaat, Vita dapat melihat tatapan dingin, sedikit sayu penuh kerinduan. Memperhatikan wajah tampan dengan senyuman lembut yang membelah dagunya yang sedikit bercambang. Kulitnya putih bersih, lebih putih darinya karena kulit Vita berwarna kuning langsat. Tubuhnya memang tidak terlalu atletis, namun pas dan enak dipandang mata. Harumnya, jangan ditanya lagi. Benar-benar memabukkan dan membuat kesadarannya hampir hilang ketika ia berada di dekatnya.
Kegiatan itu berlanjut. Pria itu melepas pakaiannya dan menjatuhkannya sehingga teronggok di lantai. Namun ketika tangan itu hampir mendarat di sebuah kulit tipis berwarna merah jambu, seketika Vita tersadar.
“Jahitan belum kering. Jangan macam-macam,” ancamnya dengan mata mendelik.
“Ya Tuhan ....” Yudha mende sahkan napasnya ke udara, “Kepalaku,” ujarnya.
“Kenapa?”
“Pusing.”
“Lunasi dulu semua janjimu, baru aku kasih.”
“Baiklah. Peluk aku saja kalau begitu,” katanya akhirnya pasrah.
Di balik punggungnya, Vita menahan tawa. Dia tidak berbohong, apa yang dikatakan, memang demikian adanya. Lain hal, dia juga belum sempat menyediakan pil kontrasepsi untuk membuat dirinya aman dari benih yang nantinya akan dititipkan.
“Hanya menahan tidak akan membuatmu mati, Mas. Bersabarlah.”
“Aku tahu.”
***
Jadwal pertemuan dengan sahabat Abah Haikal sudah ditentukan setelah kemarin beliau menghubungi sahabatnya lewat telepon. Nama perempuan itu Deana, biasa dipanggil Dea. Dia berumur 24 tahun, masih sendiri. Sempat di khitbah, namun gagal karena, ya karena mungkin tidak berjodoh.
Malam ini adalah waktunya. Umi Ros dan Abah sudah bersiap. Mereka tampak serasi dengan memakai baju agak formal agar terlihat lebih berkesan, karena yang didatanginya bukan keluarga sembarangan.
“Mana anak kita, Mi?” tanya Abah. “Jadi berangkat atau tidak?”
“Jadi dong, Bah. Sebentar lagi.”
Sebentar kemudian, Alif keluar dengan memakai pakaian rapi juga. Baju semi formal lengkap dengan jam tangan dan tatanan rambut yang begitu rapi. Membuat Umi dan Abah terpukau dibuatnya.
“Nah, begini kan bagus. Sekali lihat saja cewek bisa jatuh cinta,” puji Umi tersenyum.
“Buang pakaian-pakaianmu yang robek itu ke tempat sampah. Tidak patut lagi dipakai,” ujar Abah karena tidak menyukai fashion Alif yang sebelumnya.
“Biar celana sobek, tapi harganya mahal. Mending Alif jual di o el ek.”
__ADS_1
Umi langsung berkomentar. “Mana ada orang yang mau beli baju bekasmu. Memangnya kamu siapa? Zayn malik?”
“Sedikit mirip,” jawab Alif percaya diri. Namun kemudian menambahkan, “Jempol kakinya.”
Abah dan Umi seketika tertawa.
“Ya sudah, kita berangkat sekarang,” kata Abah selanjutnya. Khusus untuk hari ini, Abah yang menyetir mereka ke tempat tujuan—karena memang hanya beliau yang tahu tempatnya.
“Sayang sekali, Yudha sama Vita tidak ikut,” kata Umi ketika mereka sudah dalam perjalanan. Ya, beliau terus teringat dengan mereka, tak mengenal waktu, siang mau pun malam.
“Masih perkenalan, Mi. Belum lamaran. Belum tentu juga Alif cocok nantinya,” sahut Abah.
“Mungkin Umi kangen sama mereka.” Alif ikut berkomentar meski matanya tak beralih dari game yang tengah di mainkan di ponselnya. “Teleponlah, Mi. Daripada terus kepikiran.”
“Umi Cuma khawatir, kalau Vita tetap tidak mau kembali sama Abangmu ....”
“Ya wajarlah kalau tidak mau. Alif tahu sekali bagaimana Vita tersiksanya hidup sama Abang. Abang kan bodoh.”
Umi menyenggolnya karena tak setuju dengan kalimat terakhir putranya. “Sering kalian mengobrol-ngobrol sama Vita di kontrakan?”
“Tidak terlalu, tapi beberapa kali.”
“Gadis yang namanya Dara itu, Alif kenal juga?”
“Baik orangnya?”
“Baik, cantik, mandiri, berani lagi. Sama kayak kakak ipar.”
“Kamu suka sama dia?”
“Kurang tahu,” jawab Alif asal.
“Kau ini memang tidak jelas.” Umi berdecak sebal.
Setelah menempuh selama tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Deana, putri kedua dari Bapak Agung dan Ibu Hartati.
Rumah dengan dua lantai yang tidak terlalu besar, namun dikelilingi halaman yang luas. Ketiganya dipersilakan masuk oleh salah satu asisten rumah tangga untuk duduk di ruang tamu.
Hawa dingin terasa di ruangan itu. Kemungkinan, si pemilik memang sudah mempersiapkannya dari tadi karena tahu pukul berapa mereka datang. Aroma terapi elektrik menyala dengan lampu cantik berwarna-warni, yang wanginya begitu menenangkan.
“Itu mereknya apa, sih Lif?” tanya umi pada benda yang berbau harum itu. Kebiasaan para ibu-ibu jika mendapati barang-barang seperti ini. Pasti keingintahuan dan ingin memilikinya begitu besar.
__ADS_1
“Umi ....” satu kata peringatan ajaib dari abah yang membuat istrinya itu langsung terdiam.
“Cuma tanya Abah. Umi mau pakai seperti itu juga di rumah biar wangi ruangannya,” jawab Umi pelan hampir tak terdengar.
Tak berapa lama kemudian, Haji Agung keluar bersama istrinya. Ketiganya langsung berdiri dan bersalam-salaman seperti yang biasa dilakukan oleh seorang sahabat ketika mereka saling bertemu. Pun dengan Alif yang langsung mendapat perhatian lebih dari mereka.
“Ini putramu yang pertama, Pak?” tanya Haji Agung masih memperhatikan baik-baik raut wajah putra kedua Haikal tersebut.
“Bukan, ini yang kedua. Kalau yang pertama sudah punya istri,” jawab Abah Haikal menyanggah tebakan mereka yang meleset.
“Oh, mohon maaf sebelumnya. Saya pikir yang pertama. Soalnya mereka sangat mirip.”
“Betul, Pak Haji, mereka sangat mirip. Hanya saja Abangnya punya perawakan sedang, kalau yang ini tubuhnya agak lebih besar,” sahut Umi Ros.
“Tapi yang pertama tidak ikut?” tanya Pak Haji Agung lagi.
“Tidak, kebetulan dia sedang di rumah istrinya dan lokasinya lumayan jauh. Jadi berhalangan hadir.”
Pak Haji Agung mengernyit melihat Alif, kemudian berkata, “Namanya ....”
“Alif Noran,” kata Alif segera menjawab.
“Oh, iya, Alif.”
Pak Haji Agung dan istrinya mengangguk-anggukkan kepala sambil terus memperhatikan. Alif jadi salah tingkah jika terus diperhatikan seperti itu. Karena dari tatapannya seperti tengah menilai-nilai dirinya. Apa aku kurang gantengkah? Batinnya bertanya-tanya.
“Nak Deanya ke mana, Pak?” tanya Abah Haikal.
“Tunggu sebentar saya panggilkan,” jawab Bu Hartati kemudian berlalu ke belakang untuk memanggil anaknya. Sebentar kemudian, beliau kembali tak sendiri. Beliau bersama dengan seorang wanita yang bercadar. Pakaiannya tertutup sempurna hingga menyisakan kedua bola matanya saja. Namun yang membuat Alif ingin mengurungkan niatnya adalah, Dea sangat gemuk dan bertubuh pendek. Tidak ideal seperti yang ia harapkan.
Biarlah orang lain menganggapnya munafik, nyatanya dirinya sendiri memang lumayan. Sangat bisa sekali dia mencari yang lebih dari ini. Alif rasa semua orang bebas memilih.
“Ini anak saya, Dea,” kata Bu Hartati memperkenalkan putrinya. “Dia tidak pintar memasak, tidak pernah bekerja berat juga. Saya harap Ibu Ros mau memakluminya. Tapi nanti pasti dia belajar kok.”
“Lebih baik saya katakan sekarang daripada nanti kaget,” sahut Haji Agung menimpali.
Alif tersenyum. Senyum yang terlihat dipaksakan jika memang mereka menyadarinya. Ini benar-benar jauh dari ekspektasinya. Sepertinya, memang tidak terlalu baik jika ingin menikah hanya karena dikejar-kejar deadline; karena usia.
Sekarang pikirannya sudah terbuka, mencari calon istri itu tidak semudah membalikkan tempe goreng di dalam kuali.
'Susah sekali mencari jodoh....'
__ADS_1
***
To be continued.