
Baru beberapa menit, Umi Ros dan Abah Haikal jalan dari lokasi ruko mereka. Siang itu hujan rebas-rebas membasahi mobil yang baru di cuci di tempat pencucian, sehingga membuat sang pemilik bersuara.
“Kalau tahu mau hujan, lebih baik Abah cuci saja besok,” gumamnya menoleh ke samping.
“Nanti minta tolong orang rumah supaya dikeringkan lagi,” kata Umi Ros tak mau ambil pusing.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Mereka sengaja pulang secepat ini karena Abah akan melaksanakan shalat jum’at di masjid dekat rumah. Suatu kebiasaan yang biasa dilakukan beliau setiap hari itu.
“Besok Sabtu Minggu, bagaimana kalau kita menyusul anak-anak?” ujar Abah penuh harap.
“Apa kita tidak mengganggu mereka nantinya?” Umi justru beranggapan lain.
“Abah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rayyan. Apa seperti ini ya, rasanya mempunyai seorang cucu? Sayang sekali Abah sama dia.”
“Iya, Umi juga sebenarnya rindu. Tapi kita harus tahu, Bah. Vita belum sepenuhnya menerima Yudha. Karena masalahnya, ternyata Yudha menikahi Rahma tanpa izin darinya.”
“Itulah kesalahannya, padahal dari jauh-jauh hari, Abah sudah mengingatkan hal ini.”
“Selain karena didesak, Yudha juga bukan orang yang tega, Bah. Umi sangat mengetahui karakter anak kita seperti apa. Dia memang lain daripada yang lain.”
“Ke depannya, kita harus lebih ikut campur mengenai masalah ini. Supaya kejadian ini tidak terulang. Apalagi sekarang sudah ada Rayyan.”
“Benar, Bah.”
Kendaraan sudah belok melintasi gerbang kompleks rumah mereka. Melewati beberapa deretan rumah, sampai kemudian mereka sampai di depan rumah sendiri. Namun ada yang berbeda ketika mereka datang, mereka menemui taksi yang baru saja melintas dari depan rumahnya.
“Sepertinya kita kedatangan tamu,” gumam Umi Ros.
“Iya, tapi tamunya sudah di bawa masuk. Apa Bi Retno sama security mengenalnya?”
“Waduh kurang tahu kalau untuk itu, Bah.”
“Siapa yang datang, Pak?” tanya Umi Ros ketika beliau turun dari mobil.
“Ibu Nely, Bu. Katanya ada kepentingan dengan Mas Yudha. Sudah saya bilang Mas Yudha-nya belum pulang. Tapi beliau kekeh mau menunggu Ibu saja,” jawab security tersebut.
Umi Ros dan Abah saling tatap, bertanya-tanya lewat matanya.
“Ada apa lagi ini?” gumam Abah Haikal. Bagaimana tidak cemas? Selalu huru-hara yang terjadi bila orang ini datang.
“Memangnya Ibu Nely tahu kalau kami mau pulang sekarang. Kalau pulangnya sore bagaimana? Tetap menunggu juga?”
“Beliau sudah tahu, kalau hari jum’at. Pasti Ibu sama Bapak pulang siang,” timpal security lagi.
__ADS_1
“Hafal betul si Ibu itu sama kebiasaan kita,” kata Umi Ros kepada suaminya.
“Kita masuk saja. Tidak usah khawatir,” bisiknya pelan.
“Terima kasih, Pak,” ucap Umi Ros.
“Sama-sama, Bu.”
Keduanya masuk ke dalam ruang tamu. Di sanalah mereka langsung bersitatap.
“Assalamualaikum, Bu Nely,” sapa Umi Ros memaksakan senyum.
Tidak bohong, beliau memang sebenarnya tidak suka dengan orang ini—lebih tepatnya sikapnya yang semakin menjadi. Apa belakangan ini Ibu Nely mengalami semacam benturan di kepalanya? Padahal sebelumnya tidak sedemikian parah....
“Waalaikumsalam,” jawab Nely menyambut uluran tangan mantan besannya tersebut.
“Lama menunggu, Bu?”
“Ya, lumayan. Ada sepuluh menitanlah.”
“Abah mau langsung mandi saja, sebentar lagi masuk waktu dzuhur. Takut terlambat,” pamit Abah memohon diri kepada istrinya. Sebenarnya beliau ingin menemani, tapi ibadah lebih penting daripada mengurusi orang ini yang tiada habis-habisnya menuntut segala kekurangannya. Serakah.
“Baik, Abah.”
“Iya, Pak. Silakan.”
“Bagaimana kabarnya, Bu, sehat?” tanya Umi Ros berbasa-basi meskipun wajah di depannya terlihat begitu kecut.
“Sehat. Rahma juga sehat. Apa kau tidak mau menanyakan menantumu juga, Jeng? Dia habis operasi, kehilangan anaknya, lalu langsung diceraikan, loh. Kejam kan, kalau dipikir-pikir. Tapi kalau Yudha bisa berpikir sampai ke sana,” cerocos Bu Nely langsung tembak ke permasalahan inti.
“Maaf, Jeng. Tapi ini sudah keputusan mereka berdua. Biarkan ini jadi urusan anak saya.”
“Nah, iya, mana anakmu, Jeng. Anak saya sudah diceraikan dan tidak mendapatkan apa-apa. Dia sedang kesusahan mencari kerja sekarang.” Si ibu tersebut mengeluarkan senjata air asin hingga terisak-isak.
“Tega sekali kalian kepada anak saya. Apa salah anak saya? Dia istri yang baik dan penurut....”
“Saya tahu pokok permasalahannya,” adalah dari engkau wahai yang mulia. Lanjut Umi Ros dalam hatinya yang begitu dongkol. Tidak mungkin beliau mengatakan secara langsung karena dapat memicu pertengkaran.
“Di antara mereka sudah tidak ada kecocokan lagi. Sudah tidak ada yang bisa dipertahankan. Yudha tahu yang terbaik bagi dirinya.”
“Yang terbaik bagi dirinya saja, bukan yang terbaik untuk Rahma!” sela Ibu Nely dengan nada meninggi.
“Saya yakin Rahma lebih bahagia sekarang.”
__ADS_1
“Tidak. Dia harus bekerja sekarang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kasihan dia. Dia tidak pernah melakukan apa-apa sebelumnya,” ujarnya yang jelas-jelas berdusta. Padahal Rahma belum melakukan apa pun selain menunggu panggilan interview.
“Tidak apa-apa Rahma belajar bekerja, biar mendapatkan pengalaman dan tahu keadaan di luar. Lagi pula suntuk kalau di rumah terus.”
“Mana Yudha saya ingin berbicara dengannya. Seharusnya Rahma dapat gono-gini supaya dia tidak terlalu berat.”
“Gono-gini?” ulang Umi Ros tak mengerti. Setahunya, Rahma tidak pernah bekerja. Tidak pernah membawa harta secuil pun dari rumahnya sendiri. Namun karena tak ingin mendebat, beliau lebih memilih menyerahkan semuanya kepada putranya. “Tunggu beberapa waktu lagi. Setelah nanti putraku pulang. Nanti Ibu bicarakan bersama dia saja, ya.”
“Sedang ke mana dia?” tanya Nely.
“Dia sedang ada urusan di luar kota,” jawab Umi menutupi. Karena tak ingin Nely semakin menyalahkan menantunya lagi.
“Luar kota mana?” tanya Nely menyelidik. “Saya hubungi dari kemarin WA-nya tidak aktif. Apa sedang di pelosok? Di kampung menantumu?”
Nely memang dungu. Tapi entah kenapa ibu-ibu ini pintar sekali jika sedang dalam kondisi demikian. Menebak-nebak.
“Tidak, dari kemarin aktif nomornya.” Wajah Umi Ros tetap tenang.
“Atau saya diblokir?” tanya Nely lagi.
“Oh kalau itu saya tidak tahu.”
“Ya sudah, kalau begitu kau sampaikan saja ini padanya. Berikan kompensasi untuk anak saya satu miliar.”
DEG!
Bagi petir di siang bolong. Umi Ros seketika melebarkan matanya. “Ibu mau memeras anak saya?”
“Saya rasa, itu harga yang pas karena sudah menjandakan anak saya.”
“Astagfirullah, ini namanya ibu menjual anak ibu kepada anak saya.” Umi Ros menggeleng-gelengkan kepalanya. Kepalanya mendadak pening beliau rasakan.
“Terserah kau saja, Jeng. Saya hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya jadi hak anak saya satu-satunya. Dia pantas mendapatkan ini.”
“Pergilah, Bu. Sebelum kesabaran saya habis,” kata Umi Ros memalingkan muka.
“Tanpa di usir pun, saya akan pergi. Siapa pula mau berlama-lama di sini. Tapi jangan lupa pesanku barusan.”
Sebentar kemudian Nely pun melenggang pergi.
***
To be continued.
__ADS_1
Vote jangan lupa.