TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Lagi-Lagi Ketemu Mereka


__ADS_3

13.


“Besok aku mau ke Hotel G.Hyatt, apa kamu mau ikut?” ucap Yudha ketika malam hari. Semua acara sudah benar-benar selesai dan semua ruangan yang dipakai juga tengah di bereskan oleh beberapa orang pekerja. “Barang kali kamu mau ikut, sekalian refreshing,” sambungnya.


“Dalam rangka apa mengajakku ke sana? Tumben ....” Vita bertanya tanpa menoleh, sebab dia sedang fokus menatap layar tabnya; mengevaluasi dua usaha kuliner yang di kelolanya semenjak setahun lalu, tepatnya setelah ia berhasil menyelesaikan S1-nya di UNJ. Mengambil jurusan yang sama seperti Dara, Tata Boga.


 Mereka memang seperti anak kembar. Semua harus sama, bahkan sampai soal jurusan pun. Kepribadian mereka juga hampir sama; keras kepala. Bedanya, Vita lebih sabar dan lebih dewasa, mungkin karena sudah menjadi seorang ibu dengan empat anak—sementara Dara, dia masih sedikit egois dan cenderung apa adanya. Tidak sungkan ia mencetuskan sesuatu yang tidak disukainya secara spontan, bahkan kadang tak terfilter. Bukan jahat, tapi memang sudah pembawaannya demikian. Namun sesungguhnya dibalik itu, Dara mempunyai hati yang begitu baik dan sangat menghormati orang yang lebih tua.


“Mau mengadakan rapat,” jawab Yudha singkat.


Vita menyudahi aktivitasnya dan segera menutup tabnya tersebut. Matanya mendadak berubah menjadi siaga satu. “Kenapa harus di Hotel?”


“Jangan overthinking dulu, Sweety. Misalnya aku mau ketemu sama cabe merah, mana mungkin aku mengajakmu juga. Yang ada, justru aku akan pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu.”


“Kan di dekat sini juga bisa, banyak tempat.”


“Mereka datang dari tempat yang berbeda. Kami hanya mengambil lokasi paling tengah biar adil,” jawab Yudha sambil melepaskan pakaiannya dan mengganti piyama tidur.


“Kamu membuatku penasaran,” ucap Vita mengerucutkan bibir, “kalau menjelaskan itu jangan setengah-setengah. Tanggung.”


“Aku mau membicarakan kerja sama dengan pebisnis yang sama denganku, tapi yang lebih hebat dan mempunyai jaringan yang lebih luas pastinya. Sekalian mau belajar dari para kompetitor. Karena sepertinya, aku masih harus banyak belajar lagi—ilmu di bidang yang sedang aku geluti, sebab belakangan ini usahaku tidak berkembang dan terancam kolaps,” papar Yudha lebih panjang dan sederhana agar istrinya dapat dengan mudah memahami.


“Oh gitu ...” ujar Vita memijat-mijat pelan punggung suaminya dari belakang. “Siapa sih, ketuanya?"


“Pak Arkana sama rekan-rekan kerjanya yang lain. Sementara aku hanya sendiri, sebab Alif ada mertuanya yang tidak mungkin dia tinggal. Jadi, aku minta kamu menemaniku,” jawab Yudha sambil menahan napas karena gerakan tangan Vita saat ini sudah mulai jahil meraba bagian-bagian sensitifnya, “kamu kenapa nakal begini, istriku ... jangan buat aku semakin pusing.”


“Dih, siapa yang nakal, aku hanya memijat. Memangnya aku melakukan apa?” kilah Vita menghentikan aktivitasnya, kemudian berbalik badan dan tidur memunggungi. Di sana ia menahan tawa, berharap dirayu, dimanja dan diberikan sentuhan-sentuhan lembut seperti biasanya. Begitulah kemauan seorang istri yang sering tidak dipahami oleh para suami di dunia ini.


“Mestinya kalau hanya memijat tidak perlu sampai ke bawah-bawah,” kata Yudha menatap punggung istrinya. “Ini pasti kamu mau, tapi gengsi ngomongnya.” Yudha berbisik di belakang leher Vita.


“Siapa yang bilang?” lagi-lagi perempuan itu berkilah, namun lima detik berikutnya ia sudah tak bisa menahan gelak tawanya lagi.


“Tuh, kamu ketahuan berbohong.”


Vita menoleh, “Habis gimana, belum boleh. Gimana bisa tahan, aku tidur bareng setiap hari sama pasangan halal.”


“Mau konsultasi lagi ke dokter?” tanya Yudha.

__ADS_1


“Aku malu,” jawab Vita segera.


“Apalagi aku, laki-laki. Mending kamu saja yang sesama perempuan,” kata Yudha juga merasakan hal sama.


“Ya sudah, untuk sementara, begini saja dulu,” Pria itu memeluk istrinya dan mencium keningnya sambil membacakan doa. Meminta keselamatan pada-Nya, juga agar dimudahkan saat istrinya melahirkan anak ke empatnya nanti. Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya keduanya pun terlelap bersamaan.


🌺🌺🌺


Ketidaksanggupan Rahma dalam mengurus suaminya membuat Rahma akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Rio ke keluarganya. Dia tidak mungkin terus menungguinya di rumah, sementara dia harus bekerja untuk mencukupi keseharian serta menjamin masa depan anak-anaknya.


Pagi itu setelah selesai berbenah, Rahma mengendarai mobilnya menuju ke rumah ibu mertuanya. Dia mendorong kursi roda Rio yang hanya pasrah saja ketika di bawa oleh istrinya ke mana pun—lantaran pria sudah tak mempunyai gairah hidup lagi.


Terserah saja mau di apakan. Sangat tidak pantas baginya melayangkan protes di tengah-tengah keadaannya yang sedemikian payah dan sudah menjadi kesusahan banyak orang di sekitarnya. Masih ada yang mau merawatnya saja ia sudah sangat bersyukur.


Namun apa yang terjadi setelah Rahma menjelaskan akan menitipkan suaminya di rumah ini; rumah orang tuanya?


Mertuanya itu malah menyambutnya dengan tatapan tak suka serta tanggapan yang mengandung makian.


“Apa begini sikap semua perempuan masa kini? Dia hanya butuh sehatnya saja, uangnya saja. Nanti kalau sudah sakit, dia akan memulangkan suaminya ke rumah orang tuanya. Sekarang aku baru tahu, ternyata orang tualah yang mempunyai cinta kasih melebihi siapa pun di dunia ini, termasuk istrinya sekalipun, yang katanya sayang dan cinta. Omong kosong kalau dia bilang tak bisa hidup tanpa dia, itu kalau lagi enak, kalau lagi susah ya beda lagi.”


Dia baru tahu belakangan ini, tepatnya semenjak suaminya sakit, ibu mertuanya ternyata mempunyai sifat yang hampir sama dengan almarhumah ibunya sendiri. Lumayan mengesalkan.


“Biar Bapak yang akan merawatnya,” kata Bapak mertuanya akhirnya menyetujui keputusan Rahma.


“Bapak ini apa-apaan sih? Bisa, Bapak merawat Rio? Bisa? Ha?” Ibu Mertua menyela. “Rio ini penyakitan, loh. Makanan yang dimakan juga bukan makanan biasa.”


“Nggak papa, Bapak usahakan bisa. Rio kan anak kita juga. Kasihan Rahma, dia kan juga harus mengurus anak-anaknya, belum lagi ... ya, seperti apa yang Rahma katakan tadi.”


“Rahma tahu Ibu kecewa, tapi Rahma benar-benar harus menitipkannya ke sini. Ini demi kesembuhan Kak Rio juga. Rahma nggak bisa manggil jasa perawat, karena terus terang sementara ini, untuk memperkerjakan suster saja Rahma masih sangat keberatan. Rahma hanya dipaksa untuk mampu saja selama ini, Pak, Bu. Tolong mengerti sedikit posisi Rahma. Nanti semua biayanya, pengobatan dan lain-lain, Rahma janji—Rahma yang akan menanggungnya. Rahma janji,” kata Rahma lagi berusaha meyakinkan dan terdengar seperti memaksa. Habis macam mana lagi? Mengurus anaknya pun mereka tidak mau, padahal Dirly dan Feby adalah cucunya sendiri.


“Memangnya kamu mau kerja apa, Rah?” tanya Bapak mertuanya membuat jantung Rahma berdetak lebih cepat, “lebih bagus kamu pakai hijab kemarin, kenapa malah kamu buka?” beliau terdengar sangat menyayangkan.


“Biar ini menjadi tanggung jawabku nanti di akhirat, Pak,” jawab Rahma melankolis. Selama beberapa saat, dia terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu, namun kemudian dia kembali menegakkan kepalanya lagi dengan lebih tegar meski masih ada sedikit air mata di pelupuk matanya. “Ya sudah, Pak, Bu, kalau begitu. Itu saja yang ingin Rahma sampaikan. Selanjutnya, Rahma bisa bekerja dengan lebih tenang. Untuk peralatan serta obat-obatannya, sudah Rahma jadikan satu di sini,” Rahma menunjukkan paper bag besar yang dia cantelkan di kursi roda suaminya.


“Rahma kira cukup untuk sehari, soalnya nanti sore, Rahma pasti jemput,” kata Rahma lagi dan segera beranjak tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai pekerjaannya. Sebab dia belum menemukan jawaban yang tepat.


‘Aku tahu ini pekerjaan haram, tapi aku tidak punya pilihan lain. Semoga kau mengampuniku suatu saat nanti, Kak.’

__ADS_1


“Pamit dulu ya, Bu, Pak,” ujar Rahma memberi salam.


Namun sebelum ia benar-benar melangkah, Rio menahan tangannya dan berujar pelan. “Maafkan aku, Rah. Maafkan aku ... aku memang suami yang tidak berguna,” gumamnya dengan suara yang kurang jelas.


Rahma menoleh dan tersenyum pahit. “Aku pergi dulu, Kak. Minum obatnya teratur supaya cepat sembuh, kalau kamu memang benar-benar sayang dan kasihan sama kami, yang jelas-jelas masih sangat membutuhkanmu.” Rahma melepaskan tangannya dan langsung meluncur ke lokasi, ke tempat yang kliennya janjikan. Tepatnya di Hotel G. Hyatt menemui Pak Arkana, sesuai janjinya beberapa hari yang lalu.


“Pagi, Pak,” sapa Rahma begitu perempuan itu tiba di tujuan. Yakni di sebuah restoran di dalam Hotel itu.


Lelaki yang dikenal crazy rich itu tersenyum menyambut kedatangannya dengan sangat ramah, “Pagi juga Rahma ..., kamu cantik sekali hari ini,” dia memujinya sehingga membuat Rahma tersenyum, “Silakan duduk,” Pak Arkana menggerakkan tangannya untuk mempersilakan.


“Terima kasih, Pak,” jawab Rahma dengan ramah.


“Mau pesan apa?” tanya Pak Arkana menyodorkan buku menu yang baru saja di bacanya.


“Terserah Bapak saja.” Rahma tersenyum kaku. “Bapak hanya sendiri? Atau mau ketemuan sama orang di sini?”


“Kebetulan saya memang sedang menunggu kedatangan beberapa orang. Kami ada agenda rapat pagi ini. Padahal ini sudah lewat dari jam yang sebelumnya kita sepakati, tapi mereka belum juga datang. Tapi beginilah kalau mau tahu kunci kesuksesan saya, saya orang yang selalu on time, tepat waktu, disiplin dan bertanggung jawab,” jawabnya menjeda sesaat untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, “nanti kalau rekan-rekanku semua sudah mulai datang, kamu bisa langsung masuk ke kamar dulu.” Pak Arkana mengulurkan kartu akses pintu masuk kamar yang dipesannya beberapa menit yang lalu.


Belum sempat mereka memesan minuman, tiba-tiba Pak Arkana bangkit dengan gerakan sedikit terlonjak dan tersenyum, saat menyadari ada dua orang tamunya sudah datang dan berjalan mendekat ke arahnya.


Dan betapa terkejutnya pada saat Rahma ikut menoleh, karena ternyata tamu Pak Arkana adalah mantan suaminya sendiri!


“Eh ... ada Mbak Rahma?” tanya Vita ramah. Dia tampak kaget sekaligus senang bisa bertemu wanita yang dikenalnya di tempat ini.


“Kalian sudah saling kenal?” tanya Pak Arkana.


Seketika ke empatnya saling bungkam, memandangi satu persatu wajah di depan mereka secara bergantian.


***


 Bersambung.


Aku tau kalian akan marah, tapi ceritaku nggak akan berkembang tanpa konflik. Tapi janji nggak akan ada poligami, kok. Juga nggak akan seberat yg kalian bayangkan.


Sebagai kejutan, nanti akan aku selipkan prekuel Abah dan Umi Ros setelah season ke dua ini selesai. Gimana sih, cara Abah Haikal mendapatkan istrinya?


Cerita mereka seru juga, loh. Jadi, jangan lewatkan, ya!🥰

__ADS_1


__ADS_2