TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Merasa Tak Pantas


__ADS_3

18.


Rahma menahan napas dan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia menoleh, menggenggam tangan Rio dan menciumnya untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya. “Kamu pikir berpisah itu mudah?” tanya Rahma menatapnya sendu. “Kamu pikir melupakanmu juga mudah? Harus berapa kali aku jelaskan bahwa aku trauma dengan perceraian?”


Sudut mata Rio kini berair dan perlahan menetas.


“Jika pun kamu mati, lebih baik aku hidup sendiri, kau paham?” ucap Rahma penuh penekanan.


“Tapi anak-anak masih membutuhkan seorang ayah. Ayah yang lebih baik dariku, ayah sehat yang bisa memenuhi kebutuhan dan melakukan tanggung jawabnya.”


“Kamu pikir dia memerlukan orang lain?” kali ini nada bicara Rahma terdengar lebih keras dari sebelumnya, “kalau pun mereka harus memilih, mereka lebih nyaman hidup dengan ayah kandungnya, serapuh apa pun dia, semiskin apa pun dia.”


“Aku tidak layak untukmu. Kamu menikah denganku karena kamu berharap aku bisa membahagiakanmu, tapi pada kenyataannya kamu tidak mendapatkannya. Wajar kalau aku memberikanmu pilihan. Egois kalau aku hanya memikirkan diriku sendiri yang sudah tidak ada gunanya, bahkan menyusahkanmu. Membuat langkahmu terhenti....”


Rahma menggelengkan kepala, “Sudah, Kak. Jangan pikirkan macam-macam lagi. Yang penting kamu berjuang untuk sehat, supaya kamu bisa melakukan tanggung jawabmu lagi sebagai seorang suami dan ayah, demi Feby dan Dirly.”


“Rahma ....”


“Aku tidak mau dengar apa-apa lagi,” Rahma mencukupkan obrolan, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada perbincangan lagi setelah itu sampai keduanya tiba di rumah, bertemu dengan anak-anak mereka.


Keesokan harinya, seperti janjinya kemarin—Sang Ayah, Kusuma Permadi datang ke rumah untuk membantu Rahma. Beliau pun di sambut oleh cucu pertamanya dengan sangat senang.


“Kakek...” seru Feby menghambur ke pelukan pria tua tersebut, “Kakek kok di sini?”


“Iya, Kakek mau main sama cucu Kakek yang cantik ini.” Beliau mengangkat tubuh gadis kecil yang berambut panjang ini ke pangkuannya. “Ya Allah... cantiknya cucu Kakek, sudah besar ya, sekarang. Semakin pintar lagi....”


“Loh, Ayah...” panggil Rahma membuat lelaki tua itu menoleh, “kapan datang? Rahma kaget. Tiba-tiba sudah di sini.”


“Baru sampai, Nak,” jawab lelaki tua itu tersenyum, “Rio sudah bangun?”


“Sudah, tapi masih di kamar. Nanti kalau ada panas matahari, Rahma ajak dia keluar supaya dapat vitamin D.”


“Nah, itu bagus. Kamu sudah mau berangkat kerja?”


“Sebentar lagi, Yah,” jawab Rahma.

__ADS_1


“Nanti kesiangan, lho. Ini sudah jam tujuh. Apa ada yang belum selesai, biar Ayah bantu kerjakan?”


Rahma tersenyum haru, betapa baiknya hati ayahnya ini. Berbeda dengan ibu mertuanya yang sifatnya lebih mirip seperti ... d4jal. “Tidak ada sih, Yah. Rahma tinggal mandiin Kak Rio saja.”


“Biar Ayah saja yang melakukannya. Kamu berangkat saja gih, nanti kamu telat.”


“Ya sudah kalau begitu, nanti kalau Ayah butuh apa-apa, nanti tanya ke Suster Ani ya, Yah. Maafin Rahma, Rahma ... merepotkan.”


“Tidak apa, Rio anakku. Sudah sepantasnya aku berlaku begitu. Kamu jangan khawatir, jangan pikirkan apa-pun. Fokus saja bekerja.”


Rahma mengangguk. Dia pun meninggalkan keluarganya di rumah untuk menemui Arkana yang semalam menghubunginya. Laki-laki itu sempat marah lantaran kemarin tidak mau mengambil uang pemberiannya.


“Apa kamu sudah mendapatkan pelang gan lain? Jadi kamu menolak pemberianku,” tanya Arkana ketika perempuan itu sampai di gedung kantornya.


“Apa hanya karena aku tak mengambilnya, berarti aku punya pelanggan lain? Tidak kan?” jawab Rahma, “aku sudah berapa kali bilang, aku tidak mau menerima pendapatan tanpa aku melakukan apa pun.”


“Jangan sok suci. Oke, aku percaya, mungkin aku pembeli pertamamu. Tapi bukan tidak mungkin, selama kita belum melakukan perjanjian, kamu menerima orang lain juga.”


“Rasanya aku tidak perlu mengatakannya padamu,” jawab Rahma agak ketus. Terus terang dia agak nyeri mendengarnya karena telah dianggap semurah itu, meski pada kenyataannya memang benar demikian. Dia adalah wanita murahan.


Arkana mengalihkan soal, “Bagaimana soal penawaranku kemarin?”


“Aku suka dengan pendirianmu itu,” kata Arkana yang tidak Rahma pahami. “Aku menginginkanmu sekarang,” pintanya dengan tegas juga.


🌺🌺🌺


Setelah sebentar beristirahat, Rahma menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam sana, air matanya mengalir bersamaan dengan derasnya kucuran air shower. Entah kenapa akhir-akhir ini, dia memang menyukai aktivitas ini—karena dengan seperti inilah, sakitnya bisa sedikit tersamarkan.


‘Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama... Mama memberikan kalian nafkah yang tidak halal. Tolong mohonkanlah ampunan untukku jika nanti Tuhan memberikanku hukuman.’


Usai membersihkan diri dan memastikan rambutnya telah kering, dia kembali berhias di depan cermin agar terlihat segar seperti semula.


“Mau pulang sekarang?” tanya Arkana di belakangnya persis.


“Iya, aku langsung pulang. Mereka sudah menungguku.”

__ADS_1


“Aku sibuk besok, jadi kamu tidak perlu ke sini.”


Rahma mengangguk.


Kalau boleh jujur, Arkana itu sebenarnya juga laki-laki yang baik. Dia menjadi seperti ini karena pernah dikhianati oleh mantan istrinya. Tetapi sungguh, jika harus dihadapkan dengan sebuah pilihan, niscaya tidak akan pernah ada wanita yang mau berpisah dengan suaminya sendiri, apalagi telah lahir anak-anak di antara mereka.


‘Cerita ini akan berbeda jika si perempuannya memang mata duitan yang tidak sayang sama anak-anak.’


Rahma pulang ketika hari menjelang petang. Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya ia pun tiba di rumahnya dengan membawa sejumlah makanan.


Namun betapa terkejutnya ketika ia sampai di rumah, sebab dia langsung mendapati kabar buruk. Rio menghilang entah ke mana hingga semua orang dibuat kelimpungan mencarinya termasuk ibu mertua.


“Tadi sewaktu ashar, dia ada di kamarnya, Rahma... tapi tiba-tiba pas Ayah cek sudah tidak ada lagi,” kata Ayah mertuanya panik.


“Di rumah Ibu juga tidak ada, makanya Ibu langsung lari ke sini,” sahut Sang Ibu Mertua.


Rahma tidak sanggup menjawab, wajahnya tiba-tiba berubah, lama kelamaan dia menangis merasakan diri yang begitu nelangsa.


 Cobaan apa lagi ini Ya Tuhan... belum cukupkah?


“Semalam dia meminta aku meninggalkannya karena merasa bersalah,” kata Rahma setelah bisa menguasai dirinya lagi. “Rahma takut dia benar-benar pergi dariku karena rendah diri... sedangkan kondisinya masih belum stabil. Aku takut dia kenapa-kenapa. Obatnya juga tidak ada yang dibawa satu pun.”


“Biar Ayah akan cari, Ayah yakin Rio masih ada di sekitar sini,” kata Ayah gegas mengambil kunci mobil.


“Jangan, Yah... biar Rahma saja yang mencarinya,” cegah Rahma.


“Kamu yakin?” tanya Ayah Kusuma memastikan, “kamu baru saja pulang kerja. Kamu kelihatan sangat lelah.”


“Biar kami saja yang mencari. Kasihan anakmu,” kata ibu akhirnya.


Sementara di tempat lain, Rio tengah berjalan tertatih menuju ke rumah keluarga Yudha, bertujuan untuk meminta bantuan ke keluarga yang dikenalnya sangat baik itu.


***


To be continued.

__ADS_1


 


 


__ADS_2