TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Salam Perpisahan


__ADS_3

30.


Rayyan kembali ceria setelah diberikan pengertian oleh kedua orang tuanya. Untuk saat ini, dia sudah dapat memahami dan tak lagi merasa dibedakan. Namun, Yudha dan Vita tidak yakin keadaan ini akan bertahan lama. Sebab biasanya kecemburuan akan tetap terjadi berulang, dan mereka kira, hal ini adalah sesuatu yang sangat wajar. Tetapi sebagai orang tua, mereka akan tetap berusaha melakukan yang terbaik dan adil untuk semuanya.


“Sepertinya kita harus konsultasi ke psikolog atau pakar parenting, Mas,” ujar Vita setelah selesai menidurkan semua anak-anaknya di kamar sebelah.


“Boleh, kapan?”  


“Kalau bisa minggu ini.”


Yudha meletakkan buku dan kaca matanya di nakas. Suatu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan, yakni membaca buku untuk memperluas pemahaman agamanya. Buku baginya adalah harta-hartanya yang paling berharga, atau ibarat makanan yang akan dia santap setiap waktu. Maka tidak salah jika dia mempunyai perpustakaan khusus di lantai tiga.


“Aku merasa kita harus bisa belajar lebih banyak lagi tentang parenting supaya kita lebih tahu, gimana cara adil sama anak-anak.”


Pria itu mengangguk, kemudian menarik istrinya ke atas pangkuan. Melepas pakaian mereka untuk bersentuhan secara skin to skin, lalu tidur saling memeluk satu sama lain. Karena hanya dengan cara demikianlah mereka bisa menyalurkan rindu. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu mencoret tanggal hari ini di kalender meja.


“Mas corat-coret di situ biar apa, coba?”


“Ini jadi pengingat. Kalau sudah empat puluh hari, nanti kamu aku bawa kabur ke suatu tempat.”


“Oh...” ujar Vita dengan nada bicara lebih panjang.


“Kamu masih ingat, aku libur berapa bulan?”


“Aku juga kali, Mas,” jawab istrinya tersenyum malu. Terhitung tiga bulan mereka libur merenda cinta di ranjang ini sehingga keduanya jelas merasa sesak. “Sabar, ya, Poy....”


“Hmmm,” gumam Yudha terlihat pasrah.


** *


Karena sudah merasa kembali pulih, Rahma berencana kembali berangkat ke Singapura untuk membesuk suaminya. Hal ini ia sampaikan ke ayah mertuanya ketika beliau tengah datang ke rumahnya menjenguk kedua cucunya. Namun beliau tidak dengan istrinya karena istrinya baru saja datang kemarin sore.


“Kebetulan di rumah juga lagi banyak pekerjaan,” ujar Kusuma menceritakan kegiatan istrinya hari ini, “banyak pesanan karena sekarang di jual juga melalui online, jadi Ibu harus stand by setiap saat.”


“Kenapa tidak menyewa asisten saja, Yah?”


Kusuma tersenyum, “Untungnya tidak seberapa. Kalau bayar orang, kita malah tidak kebagian.”


“Rahma juga pengen usaha seperti itu, jadi tidak usah keluar-keluar meninggalkan Dirly sama Febi. Tapi sampai sekarang belum dapat ide.”


“Ayah kira kamu punya bakat publik speaking yang bagus. Barang kali bisa mencoba menjadi guru les online atau mungkin freelancer.”


“Mohon doanya, ya, Yah... mudah-mudahan Rahma segera mendapat pekerjaan yang halal.”


Ayah mengaminkan meski beliau agak tanda tanya dengan ucapan menantunya barusan yang seperti mempunyai sarat dan makna di setiap kata-katanya. Ah, tetapi beliau enggan memikirkannya lebih lanjut, karena hati kecilnya menampik, mungkin ini hanya perasaannya saja.


“Jadi gimana, Yah. Rencananya, Rahma mau pergi besok.”

__ADS_1


“Kalau merasa sudah jauh lebih baik, ya, tidak apa-apa. Ayah izinkan. Tapi memangnya tidak apa-apa berangkat sendiri lagi?”


“Tidak apa-apa, Yah. Rahma berani, kan, sudah biasa.”


“Baiklah kalau begitu. Biar Ayah sama Ibu tidur di sini sampai kamu pulang.”


Rahma sangat berterima kasih karena ayah mertuanya punya pengertian. Hingga keesokan harinya, dia pun pergi menggunakan pesawat Singapore airlines.


Pukul setengah tujuh, dia sudah berada di Terminal 3 Bandara Soetta. Di boarding room, wanita itu menunggu sembari memainkan ponselnya agar tak terlalu merasa jenuh.


Namun di sela-sela fokusnya menatap layar, Rahma mendengar suara tak asing dari samping tempatnya duduk.


“Sendiri? Mau ngapain ke Singapura?”


Matanya sontak melebar tatkala dia menoleh dan melihat sosok Arkana di sana. Pria itu menatap lurus ke depan tanpa menoleh kepada dirinya yang masih terkejut atas kedatangannya yang secara tiba-tiba.


“Kok, Bapak ada di sini?” Rahma bertanya.


“Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kamu datang ke sana?” Arkana mengulang karena dia belum mendapatkan jawaban.


Rahma mengalihkan pandangan ke arah lain, “Suamiku ada di sana,” jawabnya sendu.


“Semoga suamimu cepat sembuh,” kata Arkana singkat.


“Terima kasih, Pak.”


Deg!


Lagi-lagi Rahma terkejut. Hal yang sebetulnya ingin ia tutupi—toh, anaknya pun sudah tiada. Namun pada kenyataannya tetap tidak bisa karena Arkana justru telah mengetahuinya lebih dulu.


“Kamu tahu dari mana?” Rahma bertanya.


“Secara tidak langsung pertanyaanmu barusan membenarkan perkataanku.”


Tak berapa lama, Rahma mengangguk.


“Anak siapa itu?”


“Anakmu,” jawab Rahma dengan pasti. “Maaf karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Tolong jangan salah sangka dan mengira aku seburuk itu. Memang pada awalnya aku tak mengharapkannya hadir di tengah-tengah kami. Tapi aku ibunya, dan aku pun sangat sakit mengalami hal ini.” Jeda sejenak, Rahma melanjutkan, “Mungkin ini yang terbaik untuk kita agar kelak kita tak lagi mempunyai keterikatan.”


Arkana mengangguk. Perlahan penglihatannya mulai mengabur sehingga ia cepat-cepat menghalaunya dengan punggung tangan. Dia menyadari, mungkin ini adalah hukuman untuknya selama ini.


Tak berapa lama terdengar pengumuman agar penumpang dengan tujuan Bandara Changi segera memasuki pesawat sehingga keduanya harus berpisah.


Mereka naik di pesawat yang sama dengan kursi yang berbeda. Arkana membeli tiket bisnis, sedangkan Rahma berada di belakang dengan fasilitas ekonomi.


Saat pesawat sudah mulai lepas landas, Rahma memejamkan matanya dan merenungi setiap kesalahannya yang pernah keliru.

__ADS_1


Dia menatap bawah melalui jendela kecil tempat di sampingnya duduk. Melihat kebesaran dan kuasa Tuhan yang begitu nyata.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menjauh dari Tuhan, dia kembali menyerukan nama Allah. Mengucapkan kalimat syahadat dan kalimat istighfar berulang-ulang. Dalam keadaan demikian, dia pun mengambil scarf kecil yang terikat di pegangan tasnya, kemudian dia pakai untuk menutup kepalanya.


“Maafkan aku Ya Allah ... maafkan aku karena aku telah menjadi orang yang lalai.”


Kurang lebih satu jam kemudian, Rahma tiba di Bandara Changi. Dia sempat berjumpa kembali dengan Arkana pada saat dia tengah berjalan keluar mencari taksi. Namun hanya sekilas karena beberapa menit setelahnya, datang seorang anak laki-laki dan perempuan cantik yang diyakini adalah ibu dari anak itu, menjemputnya. Mereka berpelukan hangat seperti keluarga pada umumnya. Rahma kira, mereka adalah keluarga kecil Arkana yang pernah berpisah.


‘Mereka sudah kembali,’ batin Rahma masih memperhatikan ketiganya memasuki mobil. Sebelum mobil melaju, Arkana sempat menurunkan kaca mobil depan dan tersenyum kepadanya. Lambaian tangannya dapat ditandai bahwa telah terjadi perdamaian di antara mereka hari ini, di susul dengan pesan singkat yang masuk.


A: selamat tinggal Rahma. Maafkan saya.


“Aku juga memaafkanmu,” gumam Rahma tak ingin membalas lagi.


Wanita itu kembali meneruskan perjalanannya. Dia menaiki taksi menuju ke rumah sakit tempat suaminya di rawat.


“Nah, itu istrimu datang,” kata Hans begitu Rahma membuka pintu dan mengucap salam, “Rio sudah menanyakanmu sejak tadi. Khawatir, kok, belum sampai-sampai.”


“Oh, iya?” Rahma tersenyum. Mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan suaminya. “Gimana kabarmu, Kak?”


“Aku sangat baik,” balas Rio sangat bahagia. Meski kurus, namun terlihat di mata Rahma bahwa lelaki itu terlihat lebih sehat dari sebelumnya. “Kamu sendiri bagaimana? Sudah baikkan?”


“Seperti yang kamu lihat.” Rahma menarik kursi untuk duduk di dekat suaminya.


Beberapa hari yang lalu, Rahma sempat mengabarkan bahwa dirinya baru saja mengalami keguguran. Pantas jika pria itu begitu mengkhawatirkan keadaannya.


“Syukurlah kalau begitu, semoga kamu segera pulih.”


“Jangan pikirkan aku, Kak. Yang penting kamu sendiri.”


“Apa aku perlu keluar?” tanya Hans merasa tidak enak dengan mereka, “barang kali mau mengobrol hanya berdua saja.”


“Tidak perlu, Hans. Sekalian ada yang mau aku bicarakan denganmu.”


“Wah, apa itu? Kalian buat aku penasaran.”


“Aku hanya ingin berterima kasih, karena kamu sudah membantu membukakan jalan pikiranku kemarin.”


“Oh... itu?” Hans malu-malu hingga refleks menggaruk kepalanya, “sama-sama, Yo... itu hanya sebuah pesan sederhana yang sebetulnya minim aku ketahui.”


“Sederhana tapi berpengaruh besar. Coba kalau kamu tak menyadarkanku kemarin, entah apa jadinya kami sekarang.”


Rahma pun ikut mengucapkan terima kasih kepadanya, karena pria itu juga sudah mau membantu menemani suaminya berada di sini. Ketiganya saling berbicara sambil berbagi pengalaman satu sama lain, hingga seperti beberapa waktu lalu, Rahma tidur semalam di tempat ini dan Hans tidur di Hotel yang sudah dia pesankan.


** *


Bersambung.

__ADS_1


Happy reading!


__ADS_2