
“Maaf, Bang. Aku telat,” ucap Alif begitu sampai di kantor. Dia terlebih dahulu ke ruangan abangnya karena ada sesuatu hal yang harus mereka bicarakan.
Yudha mengangguk, kemudian menyerahkan satu berkas yang berisi beberapa catatan hutang perusahaan. “Aku pikir kamu harus melihatnya. Ini hasil rekapan Hans, selama beberapa minggu terakhir.”
Alif membacanya dengan kening berkerut. “Tidak main-main jumlahnya,” ucapnya seraya menggelengkan kepala. “Image perusahaan juga sudah dinilai cela oleh investor. Dari kemarin kita juga belum dapat solusi.”
Keduanya hening selama beberapa saat untuk memikirkan cara.
“Bagaimana kalau kita pinjam bank dulu,” kata Alif memberikan opsi.
“Meskipun hutang bisa menjadi salah satu menambah modal untuk ekspansi usaha, tapi kalau gegabah akan bisa menimbulkan masalah lain,” ujar Yudha mempunyai pandangan yang berbeda. “Misalnya, berutang yang tidak menimbulkan efek langsung terhadap peningkatan penghasilan usaha atau menciptakan efisiensi operasional. Akhirnya, utang itu malah bisa membebani, lebih parah lagi kalau utang itu ditutup dengan utang lain yang berbunga tinggi. Suasana bisa lebih kacau daripada sekarang.”
“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Alif lagi.
“Sebelum ada masalah utang yang harus dinegosiasikan, sebaiknya utang ini dilunasi dengan aset yang masih ada,” jelas Yudha, “ini penting, terutama untuk gaji karyawan dulu yang sudah telat beberapa hari ini.”
“Banyak kendaraan-kendaraan besar yang menganggur. Daripada rusak tak terpakai, mending di jual saja, itu bisa sedikit meringankan.”
Yudha menyahut setelah beberapa saat berpikir, “Sepertinya kita perlu diskusi dulu, Lif.”
“Itu pasti. Tapi kita juga sepertinya harus merumahkan beberapa orang untuk sementara, Bang.”
“Sebenarnya aku juga kurang setuju kalau untuk itu. Karena sama saja membuat mereka berada di ambang ketidakpastian. Sebaiknya kita harus tegaskan dari sekarang. Berikan kebebasan kepada mereka yang di rumahkan; mau sampai di sini, atau menunggu sampai waktu yang tidak bisa kita tentukan. Karena bagaimana pun, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya.”
Alif mengangguk setuju, kemudian beranjak berdiri, “Ya sudah kalau begitu, aku keluar dulu.”
“Jangan lupa beritahukan Hans, kita akan melakukan rapat dadakan sebentar lagi. Tepat jam sembilan.”
“Ya!” jawab Alif sebelum ia menutup pintu.
Bisnis biro perjalanan wisata memang hampir seluruhnya tenggelam dan sesak napas semenjak pandemi covid-19. Tak ayal, jika banyak yang sudah gulung tikar karena tidak imbangnya pemasukan dan pengeluaran. Bahkan tak sanggup untuk membayar karyawannya sendiri. Seperti yang terjadi pada perusahaan milik keluarga Al Fatir.
“Sepertinya, aku harus menyesuaikan pola perjalanan yang sekarang ini lebih banyak menggunakan jalur datar,” gumamnya setelah menemukan sedikit jalan keluar. Dia pun melepas kaca matanya dan memijat keningnya. “Ya Allah ... jadikan semua ini mudah. Bukan hanya demi diriku, tapi yang lainnya yang sedang bergantung dari perusahaan ini.”
Siang itu, setelah melakukan rapat dadakan dan mencapai kesepakatan bersama, Yudha mengajak Alif untuk melakukan makan siang.
__ADS_1
Tadinya Alif pikir, Yudha akan mengajaknya ke restoran mahal, tapi ternyata, Yudha malah mengajaknya ke deretan kuliner yang ada di pinggir jalan raya dekat kantor. Lantas kemudian turun ke sebuah warung bakso dan mie ayam, sehingga membuat Alif bersungut-sungut kesal.
“Gila kamu, Bang. Masa kamu mengajakku ke tempat makan ini?”
“Belajar irit,” jawab Yudha tak terlalu peduli. “Jangan terlalu syok. Kamu harus terbiasa, ke depannya juga seperti itu. Jangan dibiasakan makan-makan yang mahal, nanti jadi kurang bersyukur. Semua makanan halal di dunia ini enak. Jangan seolah mengharamkan apa yang Allah halalkan untuk kita.”
“Tapi, Bang. Restoran juga kamu punya,” Alif kembali protes. Kenapa tidak di ajak ke sana saja pikirnya.
“Aku ingin makan di sini. Makanlah, mie ayamnya enak. Vita sering mengajakku makan di sini. Lidah perempuan tidak mungkin bohong. Buktinya, aku balik lagi,” jawab Yudha kembali tak acuh. Pria itu kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanannya.
“Mie ayam dua, minumnya es jeruk dua, sama air mineral satu.”
“Baik, Pak.” pelayan lelaki itu mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka untuk segera menyiapkan makanan.
Alif segera mengambil tisu untuk membersihkan mejanya semengkilat mungkin. Sesekali dia melihat ke sekelilingnya. Mungkin karena ini jam makan siang, jadi terlihat sangat ramai sehingga semua meja terisi pelanggan.
“Jangan berlebihan, malu di lihat orang.” Yudha mengingatkan.
“Takut ada virusnya,” jawab Alif terdengar judes seperti biasanya.
“Lebay ah. Siapa juga yang suka makan di sini. Tempatnya juga panas.”
“Hanya kamu saja yang banyak protes. Buktinya masih banyak orang yang datang ke sini.”
Beberapa menit kemudian, mie ayam terhidang di meja. Awalnya, Alif seperti ragu-ragu ketika hendak menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Namun setelah lidahnya mengecap, ternyata enak juga, sampai tak sadar ia telah menghabiskannya satu mangkuk. Dan Yudha hanya bisa menahan senyum melihatnya demikian. Sama sekali tidak heran, karena dia tahu Alif memang mempunyai gengsi yang lebih tinggi di bandingkan dengan anggota keluarganya yang lain.
“Enak ‘kan?” tanya Yudha memastikan.
“Biasa saja, namanya juga lapar ya begitu,” kilahnya.
Namun tak lama kemudian, terdengar suara bocah menangis, membuat keduanya sontak menoleh ke sumber suara.
“Hah, itu Rahma, Bang?” ucap Alif begitu melihat siapa wanita yang tengah masuk ke dalam kedai. Yakni mantan kakak iparnya.
Tapi, yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah ketika mendapati Rahma yang tak lagi berpenampilan agamis seperti dulu. Dia telah membiarkan rambut panjangnya terurai berwarna kecokelatan. Memakai bulu mata palsu, polesan bedak yang lebih tebal, juga berpakaian lebih ketat.
__ADS_1
“Jangan diperhatikan, biar saja,” jawab Yudha setengah berbisik. Dia sengaja menutupi wajahnya dengan buku menu agar tak terlalu kentara.
“Sebentar, Sayang. Mama mau pesan makanan sebentar,” ucap Rahma kepada anak perempuan yang berusia kurang lebih sekitar tiga tahunan. Sedangkan di gendongan susternya masih ada satu lagi bayi yang masih merah.
Dari yang mereka lihat, anak perempuan itu meminta untuk di gendong, tapi sepertinya Rahma tidak bisa melakukannya karena suatu sebab. Mungkin belum bisa mengangkat bobot tubuh anaknya.
“Mama ...” anak itu terus meraung.
Lantaran mungkin malu atau tidak enak karena mengganggu kenyamanan banyak orang di sekitar, akhirnya Rahma kembali masuk ke dalam mobil dengan mengajak anaknya yang satu itu. Pastinya setelah memberikan instruksi kepada suster, apa saja dan berapa jumlahnya yang akan di take away.
“Untung dia tidak sampai melihatmu,” kata Alif setelah mobil perempuan itu pergi.
“Lebih baik memang begitu karena bisa menimbulkan kesalahpahaman. Jangan sampai aku bodoh lagi.”
“Semua pernah bodoh karena cinta.” Alif terkekeh.
“Termasuk kamu?”
“Aku khilaf ....”
“Mana mungkin, kamu pasti sengaja. Apa yang bisa aku percaya dari laki-laki sepertimu?”
“Dih, aku sama sekali tidak butuh untuk kamu percayai. Yang penting Dara percaya sama aku,” cibirnya tak mau kalah.
“Tapi omong-omong, kenapa si muslimah paling alim itu sampai buka kerudung?” tanya Alif kemudian, membuat Yudha menghentikan bahu.
“Ada masalah mungkin,” jawab Yudha menduga-duga kemungkinan.
“Masalahnya sama manusia, marahnya sama Allah. Dasar betina.”
“Jangan asal mendiskriminasi sebelum kamu mengetahui penyebabnya,” kata Yudha tak bermaksud membela. Karena baginya, setidaknya Rahma sudah pernah berhijab, itu lebih baik daripada tidak pernah melakukannya sama sekali.
Namun sebenarnya, apa yang menyebabkannya demikian?
__ADS_1
Bersambung.