TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Ingin Melihat Kesungguhanmu


__ADS_3

Mestinya sekarang sudah selesai. Tetapi lantaran rempah-rempah tadi gosong, membuat Vita lebih lama berada di dapur, sebab ia harus menyiapkan ulang semua yang telah terbuang dan menggantinya dengan yang baru.


Barulah satu jam kemudian semua masakan terhidang. Sederhana. Hanya ada tumis kangkung, sambal, lalap serta ayam ungkap yang digoreng.


Vita memang selalu menyediakan banyak ayam ungkap di frezer. Tujuannya selain supaya lebih praktis, sewaktu-waktu ia bisa mempunyai masakan cadangan apabila mereka berdua dalam keadaan terdesak. Misalkan ada tamu mendadak, atau lapar pada saat tengah malam.


Refleks, Vita pun menyiapkannya di meja dan menuangkannya ke atas piring. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya dulu—jadi secara otomatis, tubuh itu bergerak tanpa harus diperintah.


“Segini?” tanya Vita memperlihatkan banyaknya nasi yang diambilkannya.


“Sudah cukup,” jawab Yudha menatap haru istrinya. Pria itu bahagia sekali karena diperlakukan sedemikian baik.


“Kamu makan juga, mumpung sempat,” ujar Yudha ketika dia sudah memulai makannya.


Vita menggelengkan kepalanya pelan. “Aku masih kenyang.”


“Atau mau disuapi?”


“Aku bisa makan sendiri.”


Yudha menyodorkan tangannya dengan suwiran ayam, memintanya untuk membuka mulut. “Ayo ....”


Tanpa bisa menolak, akhirnya Vita pun membuka mulut. Namun baru saja makanan itu mampir ke bibirnya, Yudha sontak mengaduh dan menjauhkan tangannya. “Aduh. Di gigit.”


“Mana?” tanya Vita salah tingkah dan langsung memukul lengannya. Setahunya dia tidak menggigitnya sama sekali. “Mas Yudha pura-pura!”


Keduanya pun tertawa bersamaan. Yudha menyadari pipi Vita yang merah bersemu. Vita tak pernah berubah, dia memang sangat sensitif sekali jika diperlakukan seperti ini.


“Mukamu merah.”


“Izh!” kepalang malu karena diperhatikan terus menerus membuat Vita segera menghindar dari tempat itu. Dia kemudian mencari kesibukan lain, yakni mengecek keadaan putranya yang sedang tertidur nyenyak.


Vita tersenyum menatap bayinya. Seperti biasa, dia tidur dengan posisi kedua tangan terangkat ke atas. Sebab hanya bagian bawah saja yang di bedong.


“Kamu itu kalau bobo kepalanya ke mana-mana. Nanti bisa peyang,” gumamnya membuat mata bayi tampan itu terbuka dan disusul oleh suara tangis.


“Eh, anak Mama bangun.” dengan sigap, dia segera mengangkatnya untuk kemudian di-ASI-hi.


Vita masuk ke dalam kamar karena merasa risik jika harus menyusui di sana. Dia sedang tak sendiri. Saat ini sedang ada Yudha di ruang makan yang hanya terhalang oleh lemari besar ruang tamu.

__ADS_1


Yudha memang masih berstatus sebagai suaminya, namun dia telah lama berpisah. Pendekatan apa pun membuatnya kembali canggung seperti saat ia baru pertama kali bertemu dulu.


“Jangan bobo sekarang ya, Nak. Tanggung. Nanti malam kamu bisa begadang.”


Rayyan merespon dengan menggerak-gerakkan tangannya.


"Anak baik ...."


Tak lama kemudian, terdengar ketukan dari luar kamar.


“Vit ....”


Wanita itu segera menyudahi kegiatannya, menutupi dadanya dan merapikannya kembali.


“Kenapa, Mas?” tanya Vita setelah membuka pintu.


“Masih ada hal yang harus kita bicarakan bukan? Ini sudah malam. Aku harus segera pergi. Dara sudah pulang. Dia pasti tidak nyaman kalau ada laki-laki di sini.”


“Oh, Dara sudah pulang.”


“Ya,” jawab Yudha melihat ke arah depan sekilas. Berniat menunjukkan mobil yang baru saja terparkir. “Atau kalian mau ikut denganku? Umi selalu menanyakan cucunya. Beliau ingin sekali menjenguk Rayyan. Tapi sayang, beliau sedang sangat sibuk.”


“Kapan-kapan saja,” tolak Vita tersenyum samar. Senyum yang menyiratkan arti kekecewaan.


“Yang terjadi?” Vita mengernyit. “Aku tidak mengerti maksudmu, Mas.”


“Ikut denganku, biar kamu tahu.”


“Aku belum siap bertemu dengan ... Rahma,” jawab Vita dipelankan di akhir kalimat. Menyebut nama itu membuat hatinya kembali tersayat dan matanya mengembun. Luka itu belum juga kering karena lagi-lagi harus tergores.


Yudha tersenyum. “Akan aku ceritakan semuanya nanti di sana. Apa yang terjadi pada kami.”


Vita tetap menggeleng. “Tidak, Mas. Aku tidak ingin tahu apa pun tentang kalian. Jangan mengorek lukaku lagi. Aku masih belum bisa menerima semua kenyataan itu. Aku lebih baik hidup susah, sendiri, tapi bahagia. Daripada selalu hidup bersama suami, namun berbagi dengan orang lain. Aku tetap minta pisah, bagaimana pun keadaan kalian.”


“Sepertinya kamu memang menutup rapat-rapat kesempatan untukku memperjuangkanmu lagi. Lantas bagaimana aku bisa bergerak? Aku tidak bisa memaksamu yang malah justru membuatmu semakin membenciku.”


Vita terdiam. Perbincangan mereka juga sempat terhenti sejenak pada saat melihat Dara melintas dan mengucapkan permisi.


“Aku menunggu jawabanmu yang aku sampaikan minggu lalu,” sambung Yudha lagi.

__ADS_1


“Pindah ke mana?” tanya Vita kemudian mengerti apa yang Yudha maksud.


“Besok akan aku beritahu tempatnya. Aku harap kamu tidak menolak untuk kuajak pergi.”


“Ray belum empat puluh hari, aku tidak bisa membawanya pergi keluar rumah,” tolak Vita lembut.


“Masih saja percaya mitos.” Yudha terkekeh.


“Ini demi dia. Menunggu sampai empat puluh hari, menurutku bukanlah waktu yang lama.”


Yudha tersenyum. Dia menatap bangga istrinya. Vita memang benar-benar wanita tangguh dan serba bisa. Di usianya yang biasanya masih digunakan bermain-main itu, dia sudah bisa menjalankan tugasnya menjadi seorang ibu muda tanpa bantuan orang tua. Dia bisa melakukannya banyak hal hanya berdasarkan pengalaman.


“Kamu memang istri yang paling hebat,” puji Yudha tersenyum menyebalkan.


“Ya, hanya pria bodoh saja yang tak puas memiliki aku,” ujar Vita serampangan.


“Aku sudah menyesal, dan aku pun sudah mendapatkan hukumannya, bahkan yang paling mengerikan sekalipun. Masih mau menghukumku lagi?”


"Hukumanmu masih terlalu ringan," jawab Vita. Dia memang belum mengetahui banyak hal yang sudah terjadi pada Yudha selama beberapa bulan ini. "Harusnya angry brid laki-laki sepertimu itu dipotong saja."


"Itu terlalu kejam. Sakit."


"Lebih sakit aku."


Yudha menatap bola matanya lekat. “Jawab dengan jujur.”


“Apa?”


“Apa rasa cinta itu masih ada? Rasanya kamu sulit sekali untuk diyakinkan.” Terus terang Ia sakit hati dengan pertanyaannya sendiri. Takut jawaban yang keluar tak sesuai dengan apa yang diharapkan.


“Apakah cinta mengenal kata masih?” temaram di balik bola mata Yudha membuat Vita akhirnya menoleh ke arah lain. “Tapi aku sudah terlanjur kecewa.”


“Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya.”


Vita memejamkan matanya sejenak, sebelum ia menjawab dengan suara lirih, “Menjadi orang kedua yang kamu temukan sebelum Rahma, membuatku meyakini dan membuka seluruh kemungkinan bahwa dia akan lebih kamu ingat seumur hidupmu.” Vita menggeleng sendu. “Tidak, jangan bahas ini dulu. Pulanglah, Mas. Kita akan bahas ini lagi setelah masa nifas aku sudah selesai.”


“Aku harap, aku tidak kecewa dengan jawabanmu.”


'Aku pun juga ingin melihat kesungguhanmu.'

__ADS_1


***


To be continued.


__ADS_2