
“Panas,” keluh Dara di samping Alif yang sedang fokus memandangi seorang bapak tua memotong kaki-kaki kambing.
Jarak dari rumah ke tempat pemotongan kambing akikah tidak jauh—hanya berselang dua rumah saja.
Di sekeliling mereka berdiri, banyak masyarakat mulai dari: ibu-ibu, bapak-bapak dan juga anak-anak. Beberapa ada yang membantu, beberapa lainnya seperti Dara dan Alif, hanya menonton saja. Dara juga sempat mengobrol dengan beberapa warga, namun tampaknya mereka tidak terlalu peduli dengan kedatangannya yang cukup asing ini. Tetapi kalau dipikir-pikir memang lebih baik begitu daripada mereka banyak bertanya.
“Kalau di neraka nanti panasnya seperti apa, ya?” Dara bertanya lagi karena Alif tak menanggapinya. Benar-benar kaku sekali hubungan mereka itu. Padahal mereka sudah beberapa kali bertemu, bahkan sudah pernah keluar dan makan bersama.
Namun kenapa harus membahas soal neraka juga? Menyeramkan. Karena itulah Alif memilih untuk diam.
“Aku tidak tahu,” Alif kemudian menjawab.
“Tentu saja kamu tidak tahu, memangnya kamu pernah ke sana?”
“Kan kamu bertanya barusan,” jawab Alif tak habis pikir. “Percuma saja mendebatmu. Wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah.”
“Kau ini kaku sekali. Sungguh-sungguh sekali menanggapi candaan orang, santai saja kali.” Dara melirik pria di sebelahnya dengan kesal. Lelaki model seperti inilah kelak yang tak mempunyai perasaan lebih peka terhadap perempuan, pikirnya.
“Kau sendiri yang pakai urat, kenapa pula aku yang disalahkan.”
“Aku hanya bilang panas.”
“Ya sudah, memang keadaannya begitu, terus mau apa?” Alif mulai geram. “Kalau kau merasakannya, maka aku juga. Bukannya kita sama-sama di sini?”
“Hanya seperti itu saja kenapa jawabanmu panjang sekali,” kata Dara kesal sendiri.
Perdebatan mereka itu tentu saja menimbulkan perhatian orang-orang sekitar sehingga mengundang tanya seorang nenek-nenek tua. “Jangan berantem di sini nanti kambingnya hidup lagi.”
“Apa pula ini kambing sudah dipotong masa hidup lagi,” gerutu Alif tak mengerti tentang omongan melantur nenek-nenek tua linglung tersebut.
Apakah arwahnya juga akan penasaran, karena dipotong-potong begitu?
Pria itu kembali menoleh ke gadis di sebelahnya, “Lagi datang bulan?”
Kenapa sensitif sekali pikirnya.
Jawaban Dara mengiyakan sekaligus mempertanyakan, “Kalau iya, memangnya kenapa?”
Alif menunjuk kepalanya, “Pikir sendiri.”
“Mau pulang ah.”
__ADS_1
“Eh nanti dulu,” cegah Alif sehingga mau tak mau ia menarik tangan Dara.
“Takut tidak kebagian?” tanya Dara menatapnya. “Perasaan di warung makan-warung makan pinggir jalan juga banyak kalau kau mau. Sudah matang lagi. Katanya orang kaya, tapi cari gratisan.”
‘Mulut betina cerewetnya tidak ada obat.’
“Terserah apa katamu yang penting tetap di sini sampai selesai,” kata Alif masih memegang tangannya karena takut kabur. Bukan tanpa sebab dia menahan gadis ini. Ada suami istri yang saat ini sedang membutuhkan waktu untuk berdua saja. Mereka sudah berkoordinasi sebelumnya.
“Panas sekalilah aku menunggu sampai selesai. Jadi arang nanti kulitku.”
“Itu berlebihan. Kita bisa cari tempat yang lebih dingin.”
“Aku tidak mau, aku tidak bisa jauh-jauh dari Rayyan,” ucap Dara beralasan.
“Nanti Dara,” ucap Alif lagi, namun Dara tetap tidak peduli. Dia melepas cekalan tangannya yang sebenarnya membuat jantungnya berdebar tersebut. Gadis itu ngacir dari sana menuju pulang. Dara akui, ia memang terlampau cepat bosan dengan keadaan sekitar.
Merasa tidak karuan, Alif pun menyusulnya dengan berjalan cepat. Walaupun akhirnya—langkah kaki Dara sudah tidak bisa dicegah lagi. Gadis itu telah sampai di rumah secepat kilat.
“Pada ke mana orang-orang?” gumam Dara di ruang tengah. “Kok sepi? Rayyan juga tidur sendirian.”
Alif ketar-ketir melihat setiap gerakan gadis itu. Tepat pada saat Dara akan membuka pintu kamar Vita, Alif sontak menahannya dan membungkam mulutnya yang akan berteriak. Pria itu mendelikkan mata dan meletakkan jarinya di depan mulutnya sendiri, kemudian menariknya kembali ke arah luar.
“Kenapa otak kau ini sempit sekali, hhhh.” Alif geram dan menoyor kepala Dara ketika keduanya sudah berada di teras rumah. “Untung saja tidak kau buka pintu itu.”
“Ada Abangku di dalam. Masih kurang jelas?”
Dara sempat terdiam selama beberapa lama menatapnya. Sebelum akhirnya dia meringis malu.
“Oh ... ya ya ya. Otak aku ngebleng.” Selama beberapa menit, Dara masih saja tertawa sendiri.
“Apa jadinya kalau kamu membuka pintu itu, terus pintu itu tidak dikunci. Kau bisa malu sendiri, Dara!”
“Iya, iya. Kalau aku sedang tidak nyambung, kenapa tidak kamu bilang semenjak tadi?”
“Sudah kuberi kode dari sana tadi. Dasar lola.”
“Jadi kita mau mengungsi ke mana dulu sekarang?” tanya Dara kemudian.
Apes sekali nasib menjadi para jomblowers ini? Untuk sesaat, Alif pun menyesal telah menemani abangnya datang kemari. Karena bakal menjadi obat nyamuk untuk mereka. Beruntung ada Dara yang sedikit membantu kesepiannya. Harapannya, semoga mereka tidak berlama-lama di sini dan lekas kembali ke Jakarta.
“Mengungsi kenapa?” sahut suara Vita tiba-tiba.
__ADS_1
Keduanya menoleh, melihat Vita dengan tatapan menilai. Dari atas sampai bawah. Tidak ada yang mencurigakan. Masih sama seperti yang terakhir kali mereka lihat.
Berarti mereka semenjak tadi sedang apa, ya? Sampai Rayyan ditinggal sendiri, batin Dara kepo bertanya-tanya.
“Eum, tidak, Ta. Tadi ada berita, korban gunung meletus harus mengungsi,” jawab Dara asal. Dia tak menemukan jawaban yang pas sehingga asal ceplos tanpa memikirkan dampaknya.
Sementara Alif justru komat-kamit mengerutuki bodohnya gadis ini. ‘Bodoh, kalau tidak bisa jawab mending diam saja bodoh.’
“Di mana ada gunung meletus?” jawaban Dara akhirnya menimbulkan pertanyaan lain dari wanita itu. Beruntung ada Yudha yang menyeru dari arah dalam, memanggil istrinya sehingga Dara tak perlu susah-susah memikirkan jawabannya.
“Alhamdulillah,” ucap Dara lega. “Sudah bisa masuk apa belum, nih? Ponsel aku ada di dalam.”
Tangan Alif bergerak untuk mempersilakan. Saat ini suasana sudah aman, pikirnya. Ya, pikir Alif. Bukan poin of view mereka yang memang batal melakukan hubungan suami istri karena mendengar suara-suara mengganggu. Alhasil, Yudha kembali uring-uringan seperti hari lalu.
Ketiganya menginap di rumah ini semalam. Karena pada saat malamnya, mereka kedatangan tamu: Jodi dan juga istrinya. Cukup lama mereka mengobrol, hingga tak menyadari tamu itu pulang dalam keadaan larut dan cukup mencekam di tengah-tengah rimbunnya pohon salak.
Barulah pada saat pagi harinya, Dara berpamitan untuk pulang. Kembali ke asalnya.
“Ya Allah, Dar. Kita bakal lama lagi ya, ketemunya,” ucap Vita saat Dara bersiap-siap. Memakai sepatu, memakai masker, serta meletakkan barangnya ke dalam bagasi motor.
“Kita masih bisa saling terhubung. Ada hp,” jawab Dara tegar walau sebetulnya merasa sedih harus berpisah. "Kalau kalian resepsi juga pasti aku datang."
“Kalau Dara tidak membawa motor, pasti sudah aku antarkan ke rumah,” sahut Yudha.
“Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa.”
Sementara Alif hanya diam memaku. Sesungguhnya niat mengantarkan memang ada. Dia sangat tidak tega sekali melihat seorang gadis berkendara dalam jarak cukup jauh. Tetapi dia tidak mempunyai nyali yang lebih besar untuk mengatakan bahwa dia ingin mengantarkannya.
“Aku pulang dulu, ya,” pamit Dara setelah mencium Rayyan dan memeluk Vita juga.
“Hati-hati,” kata Vita tidak lagi dapat menahan air mata yang menetes. Entah perasaan apa yang menyelubunginya sehingga dia merasa begitu terenyuh. Saat ini, dia seperti kehilangan salah satu anggota keluarganya yang begitu berharga dan amat dia sayangi.
Kelak di kemudian hari, mereka akan jarang bertemu. Dan semenjak saat ini pula, hari mereka sudah tidak akan sama lagi....
***
To be continued.
Selamat membaca teman-teman.
Selamat menikmati akhir pekan. Semoga selalu dalam lindungan-Nya.
__ADS_1