
Bab 6.
Terhitung dua hari ini Haikal berada di rumah. Dia juga sudah mencari keberadaan Nayana Wulan Fajrani—namun sayang, tidak ia temukan di mana-mana.
Perempuan itu juga tidak pernah bicara banyak terhadapnya. Pada hari sebelum ia tinggal, dia hanya mengatakan akan menginap untuk sementara. Setelahnya, dia akan pergi mencari penginapan. Tetapi penginapan yang mana, dia tidak memberitahukannya.
Memang ada keluarga ayahnya di sini, tetapi beliau sudah menikah lagi dan tidak terlalu peduli. Ada pun keluarga Eteknya—tetapi yang dia ketahui, mereka tinggal di kota. Namun apakah benar perempuan itu menyusulnya ke sana?
Dan hari ini, Kauman dan Dawiya berencana untuk pindah ke kota Pariaman. Sangat jauh dari rumah yang sebelumnya mereka tempati.
Haikal sendiri bimbang antara ikut atau tidak, sebab dia merasa masih mempunyai tanggung jawab yang belum selesai.
“Yakin kau tidak mau ikut?” tanya Dawiya entah yang ke berapa kali membujuk anaknya tersebut. “Bundo ini pindah, lho. Bukan piknik.”
“Aku masih ingin di sini, Bun.”
“Lalu siapa yang mengurusmu nanti? Mending kalau ada bini. Kau masih bujang.”
“Doakan ya, Bun. Semoga disegerakan.”
“Memangnya sudah punya calonnya?”
“Belum, tapi lagi di incar.”
“Bukan Naya, kan?”
“Bukan!” sanggah Haikal, “calonku ini masih gadis.”
“Oh, kirain,” ujar Dawiya terdengar lega, “Bundo tidak masalah kamu mau menikah dengan siapa. Tapi kalau Naya ya, terus terang Bundo kurang setuju. Selain janda, mandul, usianya juga beda jauh sama kamu. Lagi pula gadis lain masih banyak, tinggal kamu pilih.”
“Iya, tahu,” Haikal memutar bola matanya malas.
“Selama ini kamu dekat dengannya, itulah yang membuat kami was-was. Tetapi untunglah kalau tidak.”
“Aku hanya kasihan, Bun... sejahat itu suaminya, disiksa setiap hari tapi tidak ada yang mau menolong.”
“Kamu tahu sendiri akibatnya kalau menolong dia. Lihat kami, sekarang kami harus pindah.”
“Mereka hanya meradang satu kali, tidak mungkin mereka berbuat seperti itu lagi. Kalian saja yang terlalu berlebihan sampai mau pindah segala. Kalau mereka tahu Ayah sama Bundo pergi—mereka justru senang karena merasa menang. Jadi mereka semakin berkuasa.”
__ADS_1
“Sudah, tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Lagi pula sekalian kami juga mau mencoba usaha yang lebih baik di kota. Siapa tahu penjualan ikan ayahmu lebih maju di sana.”
“Tinggalkan alamatnya saja, Bun. Nanti kapan-kapan aku menyusul,” kata Haikal akhirnya.
“Bawa istri?” kekeh Dawiya.
“Ya, bisa. Bawa anak sekalian.”
Dawiya semakin tergelak mendengar pengakuannya. “Kalau kamu memang sudah ada calonnya, Bundo bisa lamarkan dia sekarang, Kal. Kenapa harus menunggu lagi? Ini mumpung kita masih ada di rumah.”
“Aku masih mikir-mikir.”
Dawiya menggelengkan kepalanya keheranan. Banyak sekali hal yang tidak dia mengerti tentang pemikiran anaknya tersebut yang terkadang aneh, ribet, banyak pertimbangan dan cukup membingungkan!
Pada sore harinya, Haikal hanya mengantarkan keluarganya ke pinggir jalan raya. Mereka menunggu bus panjang yang jurusan ke kota.
Banyak pesan yang Kauman dan Dawiya ucapkan. Sebenarnya, mereka begitu khawatir meninggalkan anaknya seorang diri. Namun, mereka tidak bisa memaksakan kehendak putranya yang ingin tetap tinggal.
“Bundo percaya kamu sudah dewasa dan mandiri. Itu yang membuat kami yakin meninggalkanmu.”
“Jangan pernah mencuri lagi, ya. Kami tidak mau kalau kamu sampai di penjara,” ujar Kauman setelah memeluk putranya.
“Janji, lho.”
“Janji.”
“Bagus.”
Bus telah berhenti, Dawiya mengusap kepala putranya, “Kami pergi dulu, ya, Nak. Jangan lama-lama kamu susul kami.”
Haikal mengangguk. Entah perasaan apa yang menyelubunginya. Pertama kali dalam hidupnya setelah ia dewasa, dia mendapati dirinya menangis saat melihat bus panjang itu membawa kedua orang tua mereka pergi.
“Semoga keinginan kalian tercapai.”
Sepulang dari sana, Haikal pun langsung menuju ke rumah kedua temannya. Dia hanya ingin memastikan, apakah mereka sudah pulang dengan selamat?
“Tek?” sapa Haikal kepada seorang perempuan tua begitu sampai di rumah Fajar, salah satu temannya. Dilihatnya orang tua Fajar tersebut tengah menapih beras di samping rumah.
Hingga tak berapa lama, dia pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh, “Iya, ada apa?”
__ADS_1
“Fajarnya ada di dalam?”
“Fajar sudah Etek masukkan ke Pesantren dia. Berangkat kemarin sore.”
“Pesantren?” ulang Haikal dengan alis hampir menyatu.
“Iya, daripada masuk ke penjara duluan, lebih baik Etek masukkan ke dalam sana. Nanti keluar-keluar bisa jadi orang benar,” ujarnya dalam bahasa Padang sangat kental.
“Kalau Galih Etek tahu tidak?”
“Galih juga. Mereka berangkat sama-sama kemarin, kamilah yang mengantarnya sampai ke sana. Semoga kau juga cepat menyusul supaya kelak kau tidak mempengaruhi anak-anakku lagi,” paparnya menjelaskan tanpa mau menatap dirinya. Haikal cukup tahu diri, orang ini tidak begitu menyukainya karena suatu sebab.
“Katakan pada orang tuamu, kalau mendidik anak itu yang benar, jangan Cuma dikasih makan saja, sudah begitu dibiarkan tumbuh sendiri tanpa pengajaran. Kalau begitu caranya, bagaimana anaknya tidak bobrok? Mereka pikir mendidik anak itu gampang? Kalau sudah besar-besar seperti ini mana bisa di ubah lagi? Apalagi sudah tahu maling itu enak.”
Deg.
Kata-kata Etek Nay memang pelan, tapi sangat menusuk relung hatinya. Dia dianggap telah membawa pengaruh buruk bagi orang lain. Celakanya, nama orang tuanya juga di bawa-bawa. Mungkin ini jugakah pengaruh mereka pergi?
Padahal orang tuanya adalah orang tua terbaik yang dia miliki. Tentang salahnya jalan, bukan mereka yang mau, tetapi pilihannya sendiri.
Dia tidak dicukupi dengan baik di rumah, jadi dia ingin mencari di tempat lain tanpa ingin menyusahkan orang tuanya lagi—meski cara yang digunakannya keliru.
🌺🌺🌺
Malam harinya, sesuai janji, Haikal pun kembali ke Beringin. Seperti biasa, dia melakukan perjalanan dengan menggunakan obor. Sesampainya di sana—tepatnya di depan masjid, dia terlebih dahulu berdiri dan berdiam sejenak untuk melihat bangunan tersebut.
Rasanya dia sangat malu untuk menginjakkan kakinya ke rumah yang suci ini menyadari betapa rusak dirinya. Ah, andai mereka tahu siapa dia sebenarnya, apakah mereka akan marah?
Tanpa suara, dia melangkahkan kaki ke dalam. Dia merasa hati yang teramat hampa dan kosong. Ke mana arah tujuan hidupnya sekarang? Dia merasa sendiri dan berada di jalan yang paling salah.
‘Kenapa aku harus jadi Ustaz Salman?’ batinnya begitu menyesali. ‘Apa yang harus aku katakan kepada mereka sekarang dan mulai dari mana aku mengatakannya?’
Di saat itulah dia merasa bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan dekat. Kebiasaan yang dilakukannya selama ini membuatnya menjadi kurang jika ia tinggalkan. Dia selalu membutuhkan salat, karena dengan demikianlah hatinya menjadi tenang dan nyaman. Buku yang dia baca membuatnya menjadi candu. Huruf-huruf Arab yang tertulis semakin menariknya untuk menghafal lebih jauh. Demikianlah cara ajaib Tuhan merindukan hamba-Nya.
***
Bersambung.
Aku loh, ngeri. semoga bacaan ini aman di baca saat puasa, ya. aku takut ngurangin pahala kalian.
__ADS_1