TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Yeay! Adik Untuk Rayyan!


__ADS_3

Hanya seorang istri yang hafal suara mesin mobil suaminya, meskipun jaraknya mungkin masih terlalu jauh.


Dan inilah yang dilakukan seorang istri ketika suaminya pulang. Vita menuju ke depan untuk menyambut Yudha sambil membawa Ray bersamanya.


“Papa,” ucap baby Ray.


“Iya, itu Papa, Sayang.”


Vita mencium kepala putranya yang belum lama ini di cukur gundul. Lantaran gemas, Vita menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi sehingga dia merasa kegelian. Oleh karenanya, tangan pendek yang berbentuk seperti roti sobek itu memukul-mukul kepala mamanya seraya berteriak hampir menangis.


“Assalamualaikum,” Yudha mengucapkan salam.


“Waalaikumsalam.”


Ray juga ikut menjawab, namun dengan gumaman yang kurang jelas. Begitu tiba di hadapan mereka. Anak itu langsung mengulurkan kedua tangannya. Meminta untuk di rengkuh.


“Nanti, Sayang. Papa mau cuci tangan dulu,” kata Vita memberitahunya.


Tetapi Rayyan menggeleng. Dia memberontak. Tidak sabar untuk ikut dengan papanya.


“Aduh, Nak. Sebentar ....”


Yudha masuk ke ke dalam segera, lantas mencuci tangannya dan segera menyambut uluran tangan putranya.


“Tidak sabaran, sama kayak bapaknya,” ucap Vita.


Namun setelah dipindahkan, Ray malah justru melihat mamanya terus dan meminta kembali, sehingga membuat Yudha menggelengkan kepala. “Sebenarnya maumu apa?”


“Cuma mau menempel sebentar,” jawab Vita tersenyum merasa lucu.


“Sudah dihabiskan satenya?” Vita kemudian mengingat tentang sate 200 tusuk itu.


Yudha sontak melebarkan matanya. “Dari mana kamu tahu?”


“Dari Alif. Habis kamu aneh, sih. Masa minta sate 200 tusuk. Habis atau tidak sate sebanyak itu?”


“Sisanya aku bagi-bagikan.”


“Makanya kalau minta apa-apa itu sewajarnya. Mengerikan. Kayak hantu.”


Yudha tidak mau ambil pusing. Dia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Keluar dari sana, ia langsung menghampiri istrinya lagi yang sedang duduk di sofa. Minta dimanja dengan mencondongkan kepalanya ke pangkuan.


Vita heran melihat kepala di depannya. “Apa ini?”


“Pijat kepala,” titahnya.


Beruntung, Ray sudah bersama baby sitternya. Kalau tidak, batita itu pasti akan kebingungan melihat papanya berulah begitu.


“Malu Mas, banyak orang lalu lalang.”


Yudha menggeram kesal. “Ayolah, apa peduli mereka.”

__ADS_1


Malas mendebat, Vita menurut saja perkataan suaminya yang sedang memiliki sumbu pendek. “Ya, ya, baiklah Baginda Raja.”


Tatkala Umi Ros melintas, dia sempat menatap adegan ini dengan gelengan kepala. “Manja sekali kamu, Nak. Tidak ingat umur.”


Alif menimpali, “Iya, tidak tahu tempat. Amit-amit.”


“Diam kamu tikus,” Yudha menyahut.


“Ada yang tadi siang minta sate dua ratus tusuk, Mi,” Alif mengadukan hal ini kepada uminya.


“Siapa?” tanya Umi.


Kemudian Alif menunjukkan si pelaku melalui ekspresi wajahnya.


“Dalam rangka apa? Sedekah?”


“Bukan sedekah, dia memang sedang gila.”


Tidak suka dikatakan gila, Yudha melemparkan bantal kepada adiknya. “Sialan!”


Sesungguhnya Alif tidak akan mengerti rasanya menjadi dirinya sekarang yang terasa sangat aneh.


Adegan manja-manja ini tidak sampai di situ saja, bahkan ketika makan pun, Yudha meminta disuapi seperti orang yang sedang sakit keras. Dia mempersilakan orang-orang rumah untuk makan terlebih dahulu karena ingin menciptakan makan malam romantis dan hanya berdua.


“Aku mencintaimu, Sweety.”


“Hmm.”


***


Semua anggota keluarga sudah tidur, hanya tinggal dirinya satu-satunya yang masih terjaga. Takut mengganggu, dia berjalan mengendap menuju ke dapur. Menuangkan air panas ke dalam gelas sudah terdapat teh kantong sari manis.


“Belum tidur?”


“Astaghfirullah!” Karena tersentak, dia hampir saja menjatuhkan gelasnya. “Alif, bikin kaget saja.” Vita balik bertanya, “Kamu sendiri kenapa belum tidur? Galau?”


“Mau bikin minum juga,” jawab Alif. Dia juga sedang sulit tidur, karena perutnya lapar.


“Sedang apa kalian?”


Lagi, terdengar suara lain di dekat mereka.


“Aku kira Mas Yudha sudah tidur tadi,” kata Vita kepada Yudha yang tiba-tiba sudah berada di dapur.


“Jangan berpikir macam-macam. Kami tidak sedang melakukan apa pun. Dia belum lama di sini.” Vita segera menjelaskan karena takut suaminya beranggapan lain.


“Ada apa perlu apa, kamu juga ikut-ikutan ke dapur?” tanya Yudha pada adiknya.


“Apaan si. Kau benar-benar menjijikkan posesif begitu,” jawab Alif to the point. Pria itu mengambil gelas dan menuangkan satu sachet kopi ke dalamnya. “Aku hanya mau membuat minum. Nih lihat!” dia menunjukkan bungkusnya. “Siapa juga yang mau menggoda istrimu. Aku bukan pria gatal sepertimu.”


“Kau lebih-lebih gatal. Dara, Andari, Puspita, Nawang, Rumi, terus siapa lagi itu ....” Yudha tampak berpikir, mengingat-ingat perempuan yang pernah dekat dengan adiknya tanpa status yang jelas.

__ADS_1


“Heh, sudah-sudah. Mas Yudha jangan berlebihan, dia hanya buat minum.”


Vita berlalu meninggalkannya. Tetapi setelah ia berjalan menuji ruang tengah, lagi-lagi terdengar suaminya mual dan berlari ke kamar mandi.


“Ya ampun, Mas! Belum selesai-selesai mualnya?” gumam Vita tanpa berniat ingin menolong karena sudah terlalu sering.


Namun melihat suaminya seperti itu membuat Vita teringat testpack yang dibelinya dari siang. Dia kemudian berpikir, mungkin bisa dipakai sekarang sebelum dia minum air lebih banyak. Lagi pula ini juga sudah hampir pagi. Jam menunjukkan hampir dua belas malam.


Mengambil testpack, Vita masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lupa ia mengunci pintu, karena takut kalau-kalau Yudha masuk ke dalamnya sebelum ia selesai melakukan pengecekan.


Jantungnya berdebar. Sama seperti dulu saat ia mengetahui kehamilan Rayyan. Matanya tertutup pada saat ia menunggu hasil tersebut. Namun satu menit telah berlalu, dia sudah tidak sabar menunggu hasilnya.


Dan ....


Vita kemudian berteriak senang karena ia melihat ada dua garis di sana.


“Sayang! Sayang! Ada apa! Buka pintunya!”


Pintu digedor keras dari luar. Ternyata teriakannya mengundang kekhawatiran pria itu untuk segera mendekat.


Saat Vita membuka pintu, Yudha langsung menariknya keluar. “Ada apa, Vit? Kenapa? Kamu jatuh?” tanyanya meneliti tubuh Vita dari atas, sampai bawah. Sampai menyentuh-nyentuh benda terlarang.


“Khawatir sih khawatir, tapi tidak perlu menyentuh bagian ini juga,” ucap Vita menunjuk bagian dadanya.


“Hanya mengecek.”


“Modus.”


“Aku bertanya kamu kenapa?”


“Mas Yudha mau tahu kenapa belakangan ini Mas Yudha mual-muntah?”


Ekspresi Yudha tidak terbaca. Dia berusaha mencerna pertanyaan itu baik-baik. Kembali melongok ke dalam kamar mandi, dan ia mendapati kemasan testpack di sana.


“Aku sebenarnya curiga dari kemarin ... you are pregnant?” tebaknya sangat tepat. Kali ini Yudha berusaha peka karena tidak ingin teledor lagi seperti dulu. Dia sudah mewanti-wanti dan selalu mengingat tanggal tamu bulanan istrinya.


Vita memperlihatkan hasilnya yang sedari tadi disembunyikan di belakang tubuh. “Taraa....”


Yudha menganga tak percaya. “Ini betul?”


“Iyalah, masa bohong.”


Bukan istrinya yang langsung Yudha peluk, melainkan Tuhan pemilik semesta ini. Dia bersujud di lantai dan terdengar tersedu. Yudha menyadari betapa banyak dosa yang telah ia lakukan. Namun Tuhan tetap selalu ada untuknya. Memberinya lebih daripada yang ia minta selama ini.


Tak lama setelah Yudha demikian, dia langsung memeluk Vita, mengangkat dan memutar-mutar tubuh istrinya. Kemudian berakhir saling menyatukan bibir.


“Aku semakin mencintaimu, Sweety.”


“Aku juga!” balasnya kembali melakukan hal seperti tadi.


***

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2