TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Ulangilah Sebanyak Kau Mau


__ADS_3

Rahma tercekat, tak menyangka disebut dengan nama lain dengan suara yang jernih. Ia tergagap. Hilang kemampuan ucapnya disebabkan oleh keterpanaan saat bertukar tatap. Alangkah lembut sorot mata itu menjenguk. Suaminya terpukau melihat bayangan istri pertamanya hingga Rahma seketika kehilangan kepercayaan diri.


“Aku bukan Vita ...,” lirih Rahma membalas yang sontak menyurutkan senyuman pria itu.


“Astaga. Sadarlah, Bang!” kata Alif menyahut. “Jangan berhalu, ini Rahma. Lama-lama kamu jadi tidak waras.” Alif beranjak berdiri untuk meninggalkan mereka berdua. “Aku harus pergi, Rah. Terserah kau mau apakan dia.”


Rahma hanya mengangguk. Setelah Alif pergi meninggalkannya, Rahma menyuapi Yudha dalam keadaan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang Rahma keluarkan. Demikian karena ia takut hal ini bisa memicu pertengkaran.


Meski kenyataan ini tidak mudah diterima di dalam hatinya, namun Rahma segera dapat memahami karena memang sudah menjadi risikonya menikah dengan pria yang sudah beristri. Walau bagaimana pun, Vita tetap wanita pertama yang Yudha sentuh dalam hidupnya.


Keadaan Yudha jauh lebih baik minggu-minggu selanjutnya. Pria itu sudah mulai berbicara meski hanya seperlunya saja. Ya, sangat berbeda sekali karena biasanya Yudha selalu bersikap hangat kepadanya. Kini tidak lagi—atau mungkin belum karena masih dalam suasana berduka sendiri.


Pun pada saat malam—jika Rahma mengajak suaminya berbicara tentang apa saja yang dia lakukan hari ini, maka yang terlihat hanya sekadar mendengarkan tanpa berusaha memahaminya. Seakan semua itu tak terlalu penting.


Dalam hati, Yudha memang selalu berharap istrinya lekas-lekas mengakhiri uraian panjangnya karena dari keseluruhan isi yang terdengar adalah berupa serentetan keluhan. Entah karena tidak ada topik lain atau karena pada dasarnya dia memang seperti itu?


Tetapi kalau dipikir-pikir, terlalu banyak mendengar seseorang mengeluh bisa membuatnya risik juga!


Masih banyak masalah di dunia ini yang lebih pantas pria itu dengarkan, daripada keluhan sepele tentang masalah pedaringan perempuan.


Selanjutnya, Yudha mengalami semacam perilaku aneh yang disadari oleh sebagian orang yang memperhatikannya. Yudha menjadi amat pendiam dan pemurung. Hal ini terlihat jelas perbedaannya karena dia adalah orang yang sedikit berbicara sebelumnya.


Kendatipun tidak ada pekerjaan lain setelah pulang dari kantor, apa pun yang dikerjakannya di rumah seperti selalu tergesa-gesa. Yudha ingin cepat-cepat pergi ke perpustakaan setelah itu. Selalu. Dia terlalu sibuk di atas sana seolah sedang berjimak dengan buku-bukunya.


Demikian Yudha lakukan karena tak ingin salah melihat atau salah menyebut nama. Karena yang tampak di matanya selalu berubah-ubah.


Aneh memang. Apa yang dirasakannya kini tak ubahnya semacam perilaku orang yang sedang terkena gangguan jiwa.


Meskipun sudah tidak ada Vita lagi di sana, namun dia tetap memberikan waktunya secara adil.

__ADS_1


Waktu yang diberikan kepada Rahma tetap tiga hari. Empat harinya akan dia gunakan sendiri. Terkadang tidur di kamar Vita, terkadang tidur di kantor, atau terkadang meluangkan waktu untuk mencari istri pertamanya tersebut semampunya.


Perubahan Yudha ini sampai terdengar ke telinga Nely. Rahma terpaksa mengadukan hal ini kepada orang tuanya lantaran tidak tahu lagi harus berbagi kepada siapa.


Tidak mungkin wanita itu mengadukan apa yang di alaminya kepada kedua mertuanya, karena tampaknya ... mereka tidak terlalu peduli lagi. Mereka terlihat berbeda. Apalagi semenjak mereka tahu, ialah penyebab utama dari kepergian Vita pada saat itu.


Apa yang di alami terhadap putrinya tersebut membuat Nely semakin berang. Niat untuk tetap menikahkan anaknya dengan Yudha agar kehidupan putrinya lebih baik dan derajatnya terangkat lebih tinggi, tak tersampaikan. Karena akhir-akhir ini yang diterima Rahma adalah sebuah pukulan telak menyedihkan.


Nely juga sempat menduga bahwa Yudha telah menikah lagi. Ihwal itu dilihat dari kelakuan Yudha yang mirip sekali dengan tindak-tanduk lelaki yang sedang menyeleweng. Jarang pulang, kurang perhatian kepada istrinya, pendiam dan suka menyendiri.


“Aku yakin kau telah menikah lagi secara diam-diam, Yudha!” tuduhan tajam itu dilontarkan dengan lantang pada saat dia bertamu secara mendadak. Datang sendiri dengan membawa kemarahan yang memuncak.


Beruntung tidak ada Abah dan Umi di rumah karena pada saat itu beliau masih berada di toko oleh-oleh Haji milik mereka. Kalau tidak, Yudha bisa menjamin kedatangan Nely bisa membuat masalah menjadi semakin besar!


“Aku tidak terima putriku diperlakukan begini,” sambungnya lagi semakin kalap.


“Alah, bohong kamu. Aku yakin pemuda sepertimu itu mempunyai unsur-unsur banyak istri. Sama seperti Abahmu.”


“Bu, tahan emosi Ibu. Jangan mencari keributan di sini,” larang Rahma dengan sangat khawatir permasalahan ini bakal merembet ke mana-mana.


Rahma tahu bagaimana runcingnya mulut ibunya. Dapat dia saksikan jika beliau sedang berdebat dengan suaminya sendiri di rumah. Tak jarang, benda-benda melayang dan menimbulkan pecahan. Membuat geger selingkungan.


“Diam, kamu. Ibu seperti ini karena ingin membelamu. Kalau kamu ditindas, kamu tidak boleh diam saja. Kamu harus melawan, paham?”


Yudha tersenyum, dia menyikapinya secara tenang. “Aku tidak pernah menindas istriku, sama sekali tidak pernah. Ditindas seperti apa yang Ibu maksud?”


“Ke mana, kamu selama ini? Kamu selalu meninggalkannya,” ucap Nely tanpa tahu bontot-bontot permasalahan.


“Ibu—”

__ADS_1


“Diam!” selaknya cepat. “Biarkan Ibu bicara. Kamu itu terlalu pendiam. Jadi laki-laki ini bisa seenaknya sama kamu.”


Kembali ke dalam topik. Nely menatap menantunya lagi.


“Meninggalkan ke mana?” tanya Yudha yang lagi-lagi kebingungan menanggapi ke mana arah pembicaraan ini. Pria itu beralih kepada istrinya dan mengernyit. Seolah bertanya, ‘Ada apa ini sebenarnya?’


“Kamu bukannya jarang pulang akhir-akhir ini. Iya kan? Tidak boleh kamu begitu, Yudha. Apalagi Rahma sedang mengandung anak kalian,” kata Nely lagi terdengar kian menuntut.


Mendengar Nely berkata barusan, membuat Yudha memahami. “Aku tahu, tidak ada yang kurang dariku untuk Rahma. Dia tetap mendapatkan waktunya tiga hari karena hari yang lain adalah milik istri pertamaku.”


“Omong kosong. Dia sudah minggat dari sini sekarang. Apa yang hendak kamu bagi?”


“Vita masih istriku, aku tidak pernah menceraikannya,” tegas Yudha berani menatap mata Nely secara tajam sehingga membuat wanita itu tampak lebih segan.


Tatapan Yudha beralih kepada Rahma saat ini, “Dan kamu Rahma. Hati-hati dalam menceritakan masalah rumah tangga. Pasangan adalah pakaian. Jika kamu mengumbar aib keluarga ini berarti sama saja kamu menelanjangiku di depan mereka.”


Rahma tertegun. Untuk sesaat dia menunduk. Menyesali diri yang amat bersalah karena telah berani menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang yang salah. Padahal dia sendiri sudah tahu, seperti apa watak ibunya; perempuan tua agak dungu yang sejatinya paling tidak bisa mengendalikan diri.


Manakala Yudha meninggalkan istrinya ke atas, Rahma berjalan cepat untuk mengejarnya. “Tunggu, Kak. Ya, aku tahu, aku salah. Tolong maafkan aku.”


Yudha menatapnya sesaat. Raut wajahnya kecewa sekali. Kupingnya masih berdenging dan hatinya terasa panas mendengar ucapan-ucapan Ibu mertuanya barusan.


“Ulangilah sebanyak yang kamu mau.”


Sesaat setelah Yudha pergi, Rahma tergugu. Di ruangan kamarnya sendiri dia mengibaskan seluruh isi mejanya hingga membuat isinya berhamburan.


***


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2