
Vita buru-buru menghapus air matanya dibalik punggung Yudha sebelum mereka merenggangkan pelukan. Dia sedang tidak ingin menunjukkan kesedihan ini meskipun dadanya terasa sesak dan sempit sekali.
Kendatipun terbetik dalam benaknya ingin mengumpat secara lantang bahwa dia membenci pria ini serta istri kesayangannya—tetapi anehnya, dia tidak bisa melakukannya. Semakin Vita membenci Yudha, semakin wanita itu mencintainya.
Keduanya merenggangkan pelukan, Vita tersenyum dan berusaha setegar mungkin. “Selamat ya, Mas,” ujarnya demikian karena tidak bisa mengatakan hal lain lagi.
Yudha mengangguk dan mengusap pipinya pelan. Dalam hatinya, Yudha pun mengerti bahwa ini menyakiti Vita. Namun dia tidak tahu bahwa responsnya akan sangat dramatis sekali kemudian setelah ini.
“Apa kau tidak ingin menanyakanku tentang itu?” tanya Vita. “Kita belum pernah membicarakannya bukan?”
“Ya, tentu. Aku pun ingin mempunyai anak darimu. Tapi jangan sekarang.”
“Menunggu apa?” tanya Vita segera dengan raut wajah kecewa. “Menunggu melihat kalian bahagia dulu?”
“Bukan begitu. Catat dulu berkas pernikahan kita. Kita langsung urus sekarang, ya. Lagi pula umurmu ....”
“Itu semuanya bukan alasan,” pungkas Vita agak ketus. “Mungkin kau memang tidak mau punya anak dariku. Iya kan?”
“Jangan salah paham. Kesalahpahaman hanya akan menyengsarakanmu sendiri,” tegas Yudha memperingatkan.
Vita menelan ludahnya susah payah. Dan cepat-cepat berbalik badan untuk menutupi mata kurang ajarnya yang meloloskan air asin tanpa diizinkan.
“Aku ke belakang dulu,” ujarnya segera berjalan cepat. Namun baru beberapa langkah, Vita tersandung hingga menyebabkan tubuhnya terjatuh dan sontak membuat Yudha berlari menangkapnya.
“Kamu itu kenapa sih?” diangkatnya tubuh istrinya untuk berdiri. “Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah.”
“Tidak apa-apa,” jawabnya menahan napas.
__ADS_1
“Kenapa suaramu berubah?”
Vita semakin geram mendengar pertanyaan lelucon ini. “Apa sebegitu tidak pekanya pandanganmu kepada perempuan—sehingga berulang kali aku mendengar kau bertanya ‘ada apa denganmu?’ Jelas saja aku cemburu mendengar kebahagiaan kalian. Dadaku sakit. Bukankah kau melihatnya? Bahkan aku ada di depan matamu.” Vita melepas tangan Yudha yang masih menyentuhnya. “Lepas.”
Pernyataan ini lagi-lagi membuat Yudha berdiri mematung. Bingung apa yang harus dilakukannya.
Klek. Pintu kamar mandi ditutup. Di dalam sana, seorang wanita menenangkan diri dengan mulut yang dibekap agar suara kelemahan tidak sampai terdengar sampai keluar.
‘Aku sudah memberitahukanmu tadi. Tapi kamu tidak peka dan aku tidak akan mengulanginya lagi sampai kau menyadarinya sendiri.’
Sepuluh menit kemudian, Vita keluar dari kamar mandi. Masih ada Yudha yang menunggunya di sana. Pria itu hendak menyentuhnya lagi namun Vita segera menyingkir. “Jangan sentuh.”
“Ya Allah kenapa lagi ini Vita?” Yudha bertanya dengan napas yang memburu.
“Aku punya wudhu.”
“Bilang saja kamu marah,” kata Yudha kemudian. “Aku baru pulang bekerja, baru sampai dari kejauhan. Cobalah kali ini saja kamu sambut suamimu dengan lebih baik agar—”
“Cukup Vita!” bentak Yudha tak bisa menahan diri lagi. “Kamu berkata seperti ini seolah-olah kamulah yang lebih menderita daripada siapa pun. Aku menjaga kata-kataku untuk tidak membentakmu. Tapi kaulah yang selalu memulainya, memancingku untuk mengeluarkan amarah.”
“Kaulah yang menyebabkannya!” seru Vita tak mau kalah.
“Selalu ... saja kamu begini.” Gigi Yudha menggeletuk. Geram dengan emosi istrinya yang kian meledak-ledak. “Apa memang kamu tidak suka aku datang kemari?”
“Ya, aku memang selalu begini. Aku bukan istri yang lemah lembut, bukan istri yang anggun dan bukan pula istri yang selalu bisa menenangkanmu. Hanya Rahma seorang yang bisa melakukannya. Pergilah, temui dia saja. Jangan temui aku. Kalau perlu ceraikan saja aku.”
“Vita?! Tahan dirimu sedikit untuk tidak mengatakan kata itu!” bentak Yudha lagi dengan dada yang naik turun. “Itulah kenapa kata talak hanya di anugerahkan kepada laki-laki. Karena seperti inilah sebabnya.”
__ADS_1
“Tetapi kekuasaan yang dianugerahkan kepada laki-laki malah cenderung di salahgunakan. Contohnya sepertimu,” balas Vita tak mau kalah.
“Aku memang salah, tetapi sikapmu juga tidak bisa dibenarkan. Kamu terlalu membangkang.”
“Jangan tutup mata, Mas. Ratapi diri sendiri, kamu juga egois. Kamu seolah-olah memaksaku untuk menerima dan harus tetap memberikan yang terbaik setelah apa saja yang kamu lakukan. Seolah-olah perempuan tidak dibiarkan mempunyai rasa yang mutlak. Islam mengajarkan kita untuk memuliakan perempuan, bukan memaksanya untuk menerima segala keadaan yang menyakitinya,” Vita terdiam sejenak untuk memberi jeda sesaat bicaranya. “Stop bawa-bawa nama agama untuk membenarkan poligami. Poligami memang syariat. Tetapi alasan yang mereka gunakan, haruslah memakai alasan yang mendasar. Kalau kamu gunakan karena alasan kamu mencintainya, kamu salah besar!” tegasnya lagi dengan suara yang menekan.
Lagi-lagi Yudha tertegun. Dia laki-laki, tetapi selalu kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan istrinya yang satu ini.
Pendidikan yang rendah tidak bisa menjadi suatu ukuran bahwa mereka adalah orang yang kurang berpendidikan. Seperti contoh wanita di depannya.
Ada jeda keheningan di antara mereka selama beberapa menit, sebelum akhirnya Yudha kembali berkata, “Masuklah kamu ke kamar, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara lagi setelah ini.”
Pada malam itu, keduanya tidak bertegur sapa meskipun keduanya tidur bersama. Demikian jauh lebih baik daripada saling berdebat.
Keesokan harinya, keadaan itu masih sama. Yudha sampai makan di luar karena Vita tidak mau bertanya kepadanya sama sekali. Bahkan termasuk dalam urusan siap-menyiapkan pakaian dan makanan. Vita tetap menutup mulut meskipun dia sudah mencoba berulang kali menyapanya terlebih dahulu.
Yudha tetap berada di sana. Sangat tidak mungkin dia pulang ke Rahma karena bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Lagi pula, dia tidak ingin membuat Vita menjadi semakin marah dan benci kepadanya. Ya, hanya itulah yang dapat Yudha lakukan untuk satu istrinya yang keras kepala.
Pada malam ketiga, barulah Yudha bisa kembali mendengar suara Vita. Setelah berulang kali pria itu membujuk dan merayunya dengan berbagai cara.
Lantas, apakah pandangan dan sikap wanita itu berubah?
Ya, untuk beberapa saat ketegangan tersebut mereda. Namun Yudha percaya ini tidak akan bertahan lama. Selama Vita masih selalu diliputi rasa cemburu, hubungan mereka tetap demikian—dan mungkin saja akan berlangsung seumur hidupnya jika dia memang ditakdirkan untuk tetap memiliki keduanya.
Hanya bersama Rahmalah, hidupnya merasa tenteram dan nyaman. Sekalipun, wanita itu tidak pernah menyela, membangkang atau melayangkan protes. Dia selalu menyambutnya dengan baik. Apalagi saat ini sudah diketahuinya bahwa Rahma sedang mengandung. Oleh karena sebab itulah Rahma masih berada di urutan tangga pertama, wanita yang paling dicintainya.
***
__ADS_1
To Be Continued.
Follow my account ig @ana_miauw untuk mengetahui info2 terbaru novel ini ya. Happy weekend.