TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Burung Menetas


__ADS_3

32.


Suasana di mobil begitu riuh pada saat Dara menuju ke rumah sakit. Dara berteriak, tapi Alif juga ikut berteriak karena tangannya terkena cubit dan pukul perempuan itu untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Vita melahirkan beberapa bulan lalu. Tetapi di sini, rupanya Dara masih memikirkan rasa malu karena wanita itu tak banyak berteriak lagi seperti tadi. Meski pukulan dan cubitan tetap tidak bisa Alif hindari.


Terus terang, Alif menderita sekali karena perlakuan semacam ini. Namun, dia tak bisa menyuarakannya lantaran berpikir, sakit ini tidak seberapa dengan apa yang tengah Dara rasakan.


Tak perlu tunggu lama hingga proses persalinan dilakukan, karena pada saat masuk, Dara sudah mengalami pembukaan ke delapan. Hanya butuh tiga kali mengejan, lahirlah bayi perempuan dengan berat mencapai 4 kg. Cukup besar memang, tapi bersyukur karena yang penting dia lahir dengan sehat. Tangisannya kencang—mungkin mewakili ke bar-baran maminya, kulitnya putih dan rambutnya juga tebal seperti papinya.


“Hahaha... inilah hasil keperkasaanku,” gumam Alif pada saat pertama kali menggendong anaknya sendiri. Dia cium bibirnya yang merah itu, tapi malah dihisap seperti tengah menyusu. Sangat menggemaskan sampai-sampai bibir Alif tak berhenti mengu lum senyum. Ternyata sebahagia ini menjadi seorang ayah.


“Apa kamu bilang tadi?” tanya Umi Ros yang ternyata memperhatikannya sedari tadi, “Umi dengar, lho.”


“Aku belum bilang apa-apa,” kilahnya.


“Bukannya di azani bayinya, malah langsung diledekin.”


“Iya, tahu. Dah sana Umi jauh-jauh. Nanti jadi kurang khusyuk.”


Umi Ros lumayan cemberut karena Alif melarangnya untuk mendekat. Padahal beliau juga penasaran melihat cucu ke lima dari putra bungsunya tersebut.


Beberapa puluh menit berlalu. Setelah suasana kembali kondusif dan semua sudah nyaman di tempat masing-masing, Alif mendekati istrinya yang sudah mulai mengantuk.


“Apa kabar? Apa masih oke?” Alif tersenyum dengan wajah jenakanya.


“Semoga masih aman mesinnya. Jadi masih bisa dipakai,” bisik Dara. Baginya aset itu adalah miliknya yang paling berharga untuk masa depan. “Kalau belum bisa dipakai jangan kawin lagi, ya, awas!” Dara mengancam dengan mengepalkan tangannya.


Alif hanya membalas dengan mengecup keningnya. “Terima kasih, Ra. Karena kamu, aku jadi seorang ayah sekarang,” ujarnya tak bisa mengatakan lain lagi. Dia memang kurang pandai menyatakan atau merangkai kata-kata cinta secara langsung. Pria itu lebih suka membuktikannya dengan kontak fisik. Tapi ini berlaku ketika dalam keadaan sepi. Tidak sekarang, karena semua orang tengah melihatnya, meski mereka tengah berbincang.


“Nama anak kita belum fix kemarin,” kata Dara mengingatkan.


“Terserah kamu mau kasih nama dia siapa, yang penting bagus.” Alif berkata demikian karena perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah. Ini sudah beberapa kali dibuktikan dan dia tidak mau kena marah lagi.


“Lho, kok, gitu?” tatapan Dara mulai menajam. Alif pun heran. Sakit selama melahirkan tadi ternyata tak mengurangi power nya sedikit pun.


Nah, kan?

__ADS_1


“Aku hanya suplai. Kamu yang melahirkannya, jadi kamu yang berhak memberi nama. Its okay?” Alif berharap perkataan ini dapat menyelamatkannya.


“Nah, ini baru benar.” Dara akhirnya tersenyum, dia kemudian menyebut nama yang dia pilih selama sembilan bulan ini—yakni, Nur Rezki Sakira. Nur artinya cahaya, Rezki artinya pemberian Allah SWT, dan Sakira artinya bersyukur. Jadi ketika digabungkan, dia akan mempunyai makna yang sangat indah.


“Dipanggilnya siapa?” tanya Ibu Ratna.


“Sakira saja, Bu, biar lebih gampang,” jawab Alif kemudian.


“Ya, sudah....”


** *


Keluarga Al Fatir semakin ramai dengan kedatangan Sakira di tengah-tengah keluarga mereka. Tapi sayang, datang satu anggota, akan pergi enam anggota lainnya yang biasa menghiasi hari-harinya di rumah ini.


“Ya Allah... ini benar aku dengar kalian mau pergi minggu besok?” tanya Dara tak percaya saat Vita bermaksud memberitahu sekaligus meminta izin kepada semua keluarga. “Nanti anakku mainnya sama siapa, coba?” katanya lagi sambil mencium tangan putrinya yang akan kehilangan teman bermain.


“Kita akan pulang ke sini setiap minggu... Dara,” jawab Vita tidak bisa mundur lagi.


“Ini bukan masalah minggunya, tapi setiap hari.... ahhhh.” Wanita yang keadaannya sedang sangat sensitif itu akhirnya menangis. Belum percaya bahwa ternyata waktu bergulir begitu cepat hingga mengharuskan mereka berpisah.


“Bukannya aku tidak mendukung kalian. Aku Cuma kehilangan, itu saja. Kami tidak biasa tanpa kalian di sini. Dua tahun, lho, bayangkan!”


“Jangan keras-keras nangisnya nanti Sakira bangun,” Alif menenangkan istrinya dengan mengusap-usap kepalanya. Demikian dengan Vita yang langsung mendekat dan memeluk sahabat sekaligus saudaranya tersebut.


“Jangankan kamu, kami pun begitu. Awalnya memang berat, tapi aku yakin, lama-kelamaan pasti kita akan terbiasa.”


“Nanti meja makan jadi sepi... ruang tengah yang biasanya berantakan jadi rapi... kamar kalian jadi kosong... terus....” Dara sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan bicaranya. So, ini terlalu pahit untuknya.


Sedangkan Umi dan Abah memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, mereka memutuskan untuk menyembunyikan kesedihan mereka agar tak membuat suasana menjadi semakin runyam.


“Anak kita yang tidak tegaan bisa membatalkan rencananya kalau melihat kita seperti ini, Bah... jadi Umi di sini saja.” Umi memeluk suaminya yang juga berurai air mata.


“Kita sudah bahagia saat ini, istriku. Kedua anak-anak kita sudah memiliki keluarga dan mempunyai anak. Tugas kita sudah selesai. Sekarang, kita fokus untuk beribadah, menyiapkan bekal kita di akhirat nanti.”


Uji Ros mengiyakan, “Naya pasti bahagia melihat anak-anak dan cucunya sudah pada besar sekarang....”


Abah mengangguk, beliau mengingat wanita hebatnya.

__ADS_1


** *


Kini Minggu itu telah tiba. Semua keluarga bangun pagi untuk menyaksikan mereka yang akan pergi ke Bandung hari ini. Mereka sengaja berangkat pagi seperti ini agar tidak terjebak macet saat keluar Jakarta.


“Ini sungguh berat untukku, tapi aku harus ke sana untuk menyelesaikan kuliahku, Umi...” ucap Yudha berpamitan kepada seorang wanita hebat yang telah melahirkan dan membesarkannya penuh dengan kesabaran.


“Iya, Nak... raihlah cita-citamu. Umi dan Abah akan mendoakanmu dari sini.”


Semua perempuan di sana sampai tak lagi dapat membendung tangisnya—apalagi Dara.


“Jangan keras-keras nangisnya nanti Sakira bangun,” Alif berulang kali mengingatkan istrinya yang super bandel.


“Bah ...” ujar Yudha memeluk lelaki hebatnya. “Kami pergi dulu, Bah.”


“Pergilah, jaga anak dan istrimu di sana. Terus kabari kami.”


Yudha mengangguk. Semuanya berpamitan tak terkecuali. Suasana pagi ini berubah mengharu biru.


Mereka masih menunggui sampai mobil Yudha benar-benar pergi dari pelataran rumah.


Namun baru beberapa menit mobil itu menghilang dari pandangan, tiba mobil taksi yang menurunkan seorang perempuan, bernama ... Rahma.


“Assalamualaikum....”


“Waalaikumsalam,” jawab semuanya serentak.


Perempuan itu sempat agak bingung melihat kelima orang berdiri di depan rumah. Tetapi dia kemudian langsung mengatakan tujuannya datang ke sini, “Umi, Abah... semuanya. Maaf, Rahma mau ketemu sama Kak Yudha. Apa mereka ada di rumah?”


“Mereka baru saja pergi.”


“Pergi?” ulang Rahma bertanya, “padahal ada yang ingin aku sampaikan.”


 ***


Bersambung.


likenyajanganlupa plis🥰😘

__ADS_1


__ADS_2