TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Aku Kabur Dari Rumah


__ADS_3

Mobil Dara baru saja berhenti di depan rumah setelah beberapa menit yang lalu Vita hubungi untuk menjemputnya.


Vita terpaksa menghubungi gadis itu karena sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa—apalagi orang terdekat seperti Alif misalnya. Demikian malah dapat menggagalkan semua rencananya. Lagi pula Dara memang sudah menawarkan diri siang lalu untuk mengantarkannya ke sana jika Vita mau. Dan kebetulan dia menyanggupinya karena sedang kosong. Tidak ada orderan.


Setelah memastikan pintu tertutup rapat dan rumah dalam keadaan aman untuk ditinggalkan, Vita segera keluar untuk menemui Dara. Langkahnya terasa berat sekali meninggalkan tempat ini. Terlebih jika ia mengingat kebaikan mertuanya. Terus terang, Vita sudah sangat menyayangi beliau dan sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri. Tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain untuk itu.


‘Kamu punya kendali untuk bangkit, untuk mengubah keadaan. Kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kamu layak mendapatkan pria yang takut menyakitimu.’


Tidak banyak barang yang Vita bawa, sebab Vita memang tidak mempunyai banyak pakaian. Dia bukan wanita yang gemar berbelanja. Hanya ada satu tas sedang berisi pakaian dan satu lagi tas tangan berisi identitas beserta barang berharganya.


Setelah meletakkan tasnya di kursi tengah, Vita memilih duduk di kursi depan. Tepat di samping Dara.


“Doamu dikabulkan. Sebab kita bisa ketemu lagi sekarang,” kata Dara begitu Vita menutup pintu mobil.


“Iya, kamu benar.”


“Tidak ada yang tertinggal, Ta?” tanya Dara seraya menenggak botol air minum dalam kemasan hingga berkurang separuhnya. “Sudah izin sama ... suami atau orang tua barang kali? Maaf, aku bertanya seperti ini karena rumahmu sepi,” sambungnya lagi.


“Aku ini kabur, Dar,” jawab Vita apa adanya. “Mumpung suamiku sedang tidak ada di rumah.”


“Eh, serius?” Dara mengerjap berulang kali. “Nanti aku bisa jadi tersangka, loh.”


“Tenang. Kamu tidak akan kulibatkan. Kamu hanya aku bayar untuk mengantarku ke Terminal, itu saja.”


“Baik, kita jalan sekarang, ya. Kita harus secepatnya tiba di sana supaya kamu kebagian tiket. Waktunya sudah sangat mepet sekali. Maksimal jam delapan.” Dara berkata demikian seraya melihat jam di tangan kirinya. “Soalnya jam sembilan Terminal sudah sepi. Begitu yang kutahu.”


“Makasih, Dara.”


Dara tak menjawab, dia hanya tersenyum sekilas.


‘Aku pergi, Mas Yudha ... aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Tidak semuanya yang kamu berikan adalah sepotong luka. Ada kalanya aku merasa bahagia saat kita bersama dan aku menikmati saat-saat itu bersamamu. Kamu baik, hanya pikiranmu saja yang bimbang dan takut memutuskan. Aku rela kamu bersamanya, Mas. Berbahagialah kalian. Lingkaran ini semakin membuat kita tersiksa jika seandainya tidak ada salah satu dari kita yang mau mengalah.’


Vita menunduk. Mobil melaju meninggalkan kompleks yang sudah dua bulan ini menjadi tempat tinggalnya. Di dalam kegelapan mobil tersebut, lagi-lagi Vita menitikkan air mata.


“Kamu lagi banyak masalah ya, Ta?” tanya Dara memecah keheningan. Namun matanya tetap fokus menatap jalanan. Pembawaan menyetir Dara sangat halus dan kelihatan sangat hati-hati sekali sehingga Vita merasa nyaman. Sangat berbeda bila dibandingkan dia menumpang mobil lainnya. “Kok sampai kabur segala, memangnya tidak bisa diselesaikan dengan baik? Maaf bukannya ikut campur, tapi aku kasihan melihatmu. Kamu itu kelihatan banyak beban.”


“Bisa kelihatan sama kamu ya, Dar?” Vita bertanya balik.


“Iya, seperti itu yang kulihat. Tidak tahu kalau orang lain.”


“Ini masalah rumah tangga, Dar. Mungkin tidak pantas bila diceritakan karena ini adalah aib. Tapi cukup kuceritakan garis besarnya saja. Aku dimadu dan aku tidak sanggup diperlakukan begini.”


“Ya ampun. Hanya membayangkan saja aku sudah merasa sesak,” ucap Dara menoleh sekilas.


“Ceritanya sangat panjang.”


“Ya, aku bisa menggambarkannya. Kamu tidak sendirian, Ta. Banyak sekali wanita yang juga bernasib sama sepertimu. Aku yakin pasti kamu bisa melewatinya.”

__ADS_1


“Kupikir jalinan pernikahan itu aneh, Dar. Hanya mereka yang sudah menikah saja yang bisa merasakannya.”


“Seperti apa misalnya?” tanya Dara kemudian.


Vita menjawab dengan jelas, “Apa pun yang terjadi, hakikatnya kami tidak bisa melepaskan diri satu sama lain. Semarah apa pun kami, sehebat apa pun pertengkaran yang terjadi, suami atau istri akan tetap pulang dan tidur bersama. Aku seperti terjebak dalam lingkaran takdir yang memasung, sehingga aku sulit untuk melepaskan diri.”


“Ucapanmu bisa menjadi lain kalau kamu tidak mencintainya,” kata Dara yang dibenarkan oleh seorang wanita di sampingnya.


Vita tersenyum miris, “Tapi sayangnya dia tidak mencintaiku.”


“Aku tidak mau mengatakanmu—bodoh,maaf—sekali. Itu urusanmu dan hanya kamu saja yang tahu. Tapi menurutku, terikat dengan pria yang tidak mempunyai perasaan sama denganmu, itu hanya akan menghancurkanmu secara mental. Percayalah.”


“Ya, kamu betul, Dar. Aku sedang merasakannya.”


“Pasti ada manis di penghujung rasa pahit itu, Ta. Bukankah pahit itu sifatnya menyembuhkan?”


Vita tersenyum. “Kamu itu bijak sekali.”


Dara kembali menoleh, “Anyway, kamu belum punya anak ‘kan?”


“Aku lagi hamil,” lirih Vita.


“What?” tanya Dara dengan mata yang agak di belalakkan. Terang saja dia terkejut. Nekat sekali perempuan yang berada di sampingnya ini. Kabur dalam keadaan sedang mengandung. “Suamimu sudah tahu?”


“Aku sengaja menyembunyikannya.”


“Apa kamu yakin bisa hidup tanpanya dalam keadaan seperti ini?”


“Ya, aku percaya. Mukamu meyakinkan.” Dara mengusap pundaknya berupaya memberikan dukungan. “Sabar, ya.”


Vita tersenyum dan mengangguk.


Sebagai sesama perempuan, Dara merasa iba dengan nasib perempuan yang ada di sebelahnya. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih lanjut, namun dia tidak enak hati mengorek lebih dalam—terlebih mereka belum terlalu mengenal. Dara takut Vita malah menjadi tidak nyaman dengannya.


Sesampainya di Terminal, Dara menemaninya untuk mencari bus yang menuju ke Kota Banjar. Bus sudah banyak yang pergi pada saat itu lantaran hari sudah semakin malam. Namun masih ada beberapa sisa bus yang masih berjejer menunggu kursi penumpang penuh.


“Mau ke mana, Mbak?” tanya salah satu crew Bus Sinar Terang.


“Banjar, Pak.”


“Ekonomi atau bisnis?”


“Bisnis,” jawab Dara lagi.


“Masih ada sih, tapi tinggal dua kursi paling belakang,” jawab petugas tersebut. “Itu mobilnya,” ujarnya menunjukkan. “Mestinya Mbak datang lebih awal supaya dapat tempat duduk yang agak depan.”


“Tidak apa-apa, Pak,” sahut Vita kemudian. “Saya beli semua dua kursi itu biar bus bisa langsung berangkat.”

__ADS_1


“Oke, siap. Jadi total tiga ratus lima puluh ribu.”


Vita mengangguk dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar. Sengaja dia membeli dua kursi, selain agar bus ini cepat berangkat, ia juga tidak ingin ditemani oleh penumpang mana pun. Dia lebih nyaman duduk sendiri agar bisa lebih bebas beristirahat, pikirnya.


“Aku sampai di sini saja ya, Ta,” ucap Dara seraya mengulurkan tasnya.


Dara sudah seperti seorang pelindung untuknya saat ini. Dalam hati, Vita berjanji untuk tidak pernah melupakan kebaikan hatinya.


“Sekali lagi makasih ya, Dar. Kapan-kapan kita masih bisa ketemu kan?”


“Santai ... kita kan ada ....” Dara menekuk tiga jari tengahnya ke dalam untuk menyisakan jari jempol dan kelingkingnya saja, lantas menempelkannya di telinga.


Vita tersenyum. Lalu menaiki bus sambil melambaikan tangannya. Berjalan dengan hati-hati menuju jok kosong yang terletak paling belakang.


Vita memilih duduk di kursi paling pinggir dekat kaca agar dia lebih mudah memandang arah luar. Sementara tasnya di letakkan di tempat duduk satunya lagi. Dunia sudah benar-benar menggelap saat ini.


Hujan pun turun rebas-rebas membuat kedalaman bus itu menjadi terasa sangat dingin. Atau mungkin hanya perasaannya saja?


Mengambil jaket dari dalam tas, Vita menutupi separuh tubuhnya agar terasa lebih hangat. Namun kedinginan malah membuatnya flasback beberapa bulan lalu di rumahnya saat mereka baru saja melakukan malam pertama.


“Tapi mulai sekarang kamu tidak akan kedinginan lagi. Karena kamu akan selalu ada di dalam kehangatanku setiap saat,” kata Yudha serupa orang yang sedang berjanji.


Tetapi nyatanya, Yudha membohonginya. Dia membagi kehangatan itu untuk wanita lain.


‘Adakah sekarang ini, orang di luar sana yang bernasib sama persis sepertiku?’ tanya Vita dalam hatinya. ‘Aku kesepian ... kehilangan banyak orang yang aku sayangi, jatuh cinta dengan orang yang salah, tidak diharapkan oleh suamiku sendiri.’


Lagi-lagi air asin menyembur tanpa kendali.


‘Aku tahu banyak orang yang mungkin nasibnya lebih nelangsa dariku. Tetapi kenapa tetap saja aku merasa sendiri? Terasing dan berjalan di tempat paling sunyi di dunia ini. Aku pun punya mimpi dan harapan sama seperti mereka. Namun siapa yang dapat memahamiku? Mengerti dan membantuku keluar dari emosi yang berputar-putar. Aku merasakan keraguan dan ketakutan luar biasa dalam mencintainya, sehingga aku merasa diri ini sudah hampir gila ....’


Satu tangannya meraba ke dalam perutnya untuk memberikan usapan penuh kasih sayang. “Maaf Sayang ... aku belum bisa memberikan keluarga yang lengkap untukmu. Pasti suatu saat nanti kamu akan menemukannya. Aku janji tidak akan pernah membuatmu merasa kehilangan figur seorang ayah.”


Beberapa menit berlalu. Mobil terasa mulai berjalan meninggalkan tempat pangkalannya. Vita memosisikan tubuhnya untuk mencari posisi yang paling nyaman.


Kepalanya menyandar dan matanya mulai terpejam. Namun pada saat bus mulai meninggalkan Terminal itu, tiba-tiba Bus berhenti.


Vita tidak terlalu memperhatikannya. Mungkin saja ada sedikit kendala atau sedang ada pengecekan ulang, pikirnya demikian.


Namun siapa sangka, pada saat dia membuka mata, ada seorang laki-laki di hadapannya. Melihatnya dengan cuatan amarah.


“Pulang!” ucapnya tak terbantahkan.


***


To Be Continued.


Harap tenang pemirsah. Besok ada wanita yang akan Yudha pilih. Siapakah wanita itu?

__ADS_1


Penasaran nggak?


like dulu dong


__ADS_2