
Bab 21.
Ros akhirnya memutuskan untuk pulang kerana selain hari sudah sore, dia mengkhawatirkan keadaan anak pertamanya yang sudah ia tinggalkan selama seharian penuh. Dia takut anak itu nakal dan membuat mertuanya kelelahan.
“Memang lebih baik kalian pulang saja. Biar aku saja yang menunggunya di sini.” Haikal bangkit untuk mengantarkannya pulang. Tetapi dicegah oleh Ros, sebab sangat mungkin Naya berada di sekitar sini dan sama-sama sedang memantau mereka.
“Eh, jangan ditinggal. Kalau Uni tahu kau pergi, ini bisa dijadikannya kesempatan untuk mengambil barang-barangnya dan kabur lebih jauh. Kami bisa pulang sendiri.” Ros berusaha meyakinkannya.
“Lalu dengan apa kamu pulang?”
“Aku bisa pulang sendiri pakai ojek.”
“Baiklah, aku carikan ojek sebentar.”
“Bi...” cegah Ros disertai gelengan kepala, “tetap di sini. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Tapi Haikal tak mengindahkannya. Yang benar saja! Ros tidak sendiri, dia membawa bayi. Haikal kemudian keluar setelah menitipkan kepada orang-orang di sana untuk mengawasi sejenak, andai Naya kembali.
Tak berapa lama, ojek pun ditemukan. Haikal terlebih dahulu memastikan anak dan istrinya dalam keadaan aman, barulah dia kembali ke tempat semula menunggu kepastian.
Semalaman suntuk pria itu begadang untuk menunggu Naya kembali ke kosannya. Tetapi nihil, dia sama sekali tidak pulang. Membuat para penghuni lain geger esokan paginya karena tidak biasa-biasanya perempuan tersebut pergi selama itu.
“Biasanya dia memang sering pergi, cari makanan atau apa, tapi hanya sebentar. Habis itu ya, balik lagi,” ungkap salah seorang pemuda yang dia kira adalah seorang mahasiswa, karena di sini dekat dengan gedung perkuliahan. “Kalau boleh tahu, Uda ini siapa, ya?”
“Aku suaminya,” jawab Haikal.
“Lah, yang kemarin siapa?” pemuda itu bermaksud menanyakan Ros.
“Istriku juga.”
“Oh....” mulut pemuda itu membulat selama beberapa lama. Sebagaimana manusia lainnya, pria ini juga menduga-duga. Pasti masalah kecemburuan, seperti itu sajalah persoalannya pria yang mempunyai lebih dari satu istri. Tidak ada lain lagi.
“Kau tahu, bekerja apa dia selama ini?” Haikal bertanya.
__ADS_1
“Mana bisa dia karajo? Hampir setiap hari Uni sakit, kadang batuk-batuk. Kami pun sebenarnya takut tertular. Jangan-jangan penyakit ....” pemuda itu membiarkan Haikal mencari jawabannya sendiri karena sangat mungkin, dia lebih tahu apa penyakit istrinya.
Haikal memejamkan matanya, beristighfar dan menghembuskan napas dalam yang ditengarai dapat meringankan sesak di dada. Jadi dengan cara seperti apa selama ini dia bertahan?
Jeda beberapa saat, si pemuda itu melanjutkan, “Tapi karena banyak yang baik hati, kami sering beri dia makan. Kadang menawarkan pekerjaan-pekerjaan ringan. Cuci pakaian atau setrika baju.”
“Terima kasih, atas kebaikan kalian.”
“Iya, Da. Samo-samo. Sesama manusia harus saling bantu. Awak doakan semoga cepat ketemu binimu. Bawa dia pulang dan obatilah sampai sembuh.”
Usai pemuda itu pergi, Haikal pun memikirkan cara. Kalau hanya menunggu, mungkin cara ini tidak akan berhasil membuat Naya pulang.
Setelah menemukan cara itu, dia pun berpura-pura pergi dan berpamitan kepada semua penghuni kos bahwasannya dia harus pulang karena ada urusan mendadak.
Naya yang pada saat itu mengetahui hal ini dari kejauhan pun, segera kembali. Menyelinap masuk seperti maling dan berjalan dengan tergesa—untuk mengambil barang-barangnya tanpa peduli hanya memakai mukena saja. Karena semalaman, dia menginap di dalam musala terdekat.
Namun tak berapa lama, Naya sontak berjingkat saat melihat ada seorang laki-laki berdiri pintu.“K-kal?” pekiknya sangat terkejut.
Naya terdiam dan menunduk. Sedang isak tangis, sudah mulai terdengar dari bibirnya.
“Kenapa harus pergi? Tidak sudikah walau hanya sekadar melihatku?” sambung Haikal masih berada di posisi tadi.
“Hatiku sakit kalau melihatmu. Melihat kalian.”
“Kami pun sakit setelah kau pergi. Jangan kau pikir kami senang. Sudah banyak waktu, pikiran dan tenaga kami untuk mencarimu, Naya. Tolong bantu aku menjaga amanah ini dengan cara menjaga dirimu sendiri.” Haikal mendekatinya dan membantunya berdiri. “Kembalilah.”
“Aku tidak mau. Kau tidak mencintaiku, bukan? Jadi buat apa?”
“Selalu itu yang kau permasalahkan. Kau pikir dunia ini akan runtuh tanpa cinta. Semua orang bisa hidup tanpa cinta. Semua makhluk di dunia ini, diciptakan bukan untuk persoalan cinta saja, tapi untuk beribadah!” tekan Haikal dengan napas yang memburu. “Pulanglah, kau masih istriku. Aku menalakmu dalam keadaan emosi, dan itu tidak sah,” ucapnya lebih melembut dan mengulurkan tangan, berusaha membujuk dengan cara baik-baik, Namun, Naya tetap menggeleng.
“Nay, lembutkan hatimu sedikit. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi karena mungkin ini takdir kita.”
“Aku ini perempuan yang beda. Ilmuku belum cukup untuk mengendalikan rasa cemburu.”
__ADS_1
“Terus maumu apa sekarang?” tanya Haikal menahan diri berkata dari nada tinggi, “ingin aku menceraikan Ros dan meninggalkan kedua anak-anakku demi kamu seorang, begitu?”
Naya terdiam. Mulutnya mengatup rapat. Dia sendiri pun bingung harus bagaimana.
“Lalu bagaimana nanti pertanggungjawabanku di akhirat, dan janjiku terhadap Tuhan. Bahwa aku akan membimbingnya dan menjaga mereka sampai akhir hayatku? Ataukah kau yang akan menanggung dosanya?”
“Maaf kalau aku menyusahkan kalian...” kata Naya akhirnya menyadari.
“Pulanglah, jalani hidupmu seperti biasanya. Kau akan lebih baik di rumahmu sendiri sambil menjalani pengobatanmu. Jangan sampai kau malah semakin parah. Tolong jangan seperti ini. Kasihanilah aku sedikit. Aku pun punya banyak sekali urusan yang harus aku selesaikan.”
Naya semakin tergugu. Keduanya berakhir saling berdamai, sampai kemudian tubuh Naya ambruk tak sadarkan diri di pelukan suaminya.
Panik membuat Haikal segera membawa Naya ke rumah sakit terdekat agar cepat mendapatkan penanganan. Namun sayang, alat-alat di sana belum memadai untuk menangani penyakit yang Naya derita. Jadi, dokter menyarankan Haikal untuk merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar.
Namun alih-alih membawanya ke rumah sakit rujukan, Haikal malah membawanya ke rumah Naya karena wanita itu menolak keras untuk dibawa ke sana.
“Aku hanya ingin berdua bersamamu di sini lebih lama, bisakah?” pinta Naya terdengar memohon. “Ini untuk yang terakhir kalinya.”
“Tolong jangan berkata seperti itu. Kau harus sembuh.”
Namun Naya tak mengindahkan ucapannya, “Bisakah, Kal?”
Haikal mengangguk dengan lelehan air mata. “Ya, aku akan di sini selama kau mau.”
‘Maafkan aku, Ros... Maafkan aku karena kali ini, kau harus kembali mengalah.’
“Terima kasih atas kebaikan kalian, Kal... Hanya bersama kalian aku dianggap ada. Hanya bersama kalian aku merasa memiliki keluarga.”
Tidak seperti biasanya, malam ini ... udara terasa begitu dingin dan menyedihkan.
** *
Bersambung
__ADS_1