TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Bangga Dicintai Sebesar Itu


__ADS_3

Vita terduduk lemas. Semangatnya mendadak hilang. Hatinya meredup, karena apa yang menjadi harapannya ke depan seperti pupus hari ini. Lanjutan tentang kisah ini begitu suram. Bentangan kekecewaan menganga lebar di depannya.


“Ternyata dia masih mencintai mantan istrinya.”


Usai merenung sesaat dan menghapus jejak air matanya, dia kembali ke kamarnya sendiri. Di sana, Yudha sudah menunggu dengan hanya memakai bathrobe. Sebab istrinya lama kembali.


“Ada sandungan?” tanya Yudha memperhatikan Vita meletakkan pakaian-pakaiannya ke atas ranjang.


“....”


“Pergimu lama sekali.”


Lantaran Vita tak kunjung menjawab, Yudha kembali bertanya. “Kamu membawa bajuku sebanyak ini? Aku harus pilih yang mana?”


Menyadari ada yang berbeda, Yudha mendekati istrinya yang sedang menyibukkan diri melakukan banyak hal untuk menghindari kontak mata dengannya.


“Hei, kamu kenapa?” Yudha menangkap tangan istrinya untuk menghentikan gerakannya. “Kenapa masuk-masuk wajahmu langsung begini?”


“Tidak apa-apa,” jawabnya setelah sekian lama. Kemudian berusaha melepas cekalan tangan Yudha. Namun kesulitan. “Lepas! Sakit tahu.”


“Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu bicara. Jelaskan dulu apa penyebabnya sehingga wajahmu berubah. Kita sudah hampir menikah secara resmi Vit. Tolong jangan buat situasi menjadi kacau sebab karena hal kamu tutupi dariku!”


“Kau yang selama ini menutupinya dariku, jangan menyalahkan orang lain.”


“Menutupi apa?” tanya Yudha tak mengerti. “Ini pasti kamu salah paham. Ayo terus terang ada apa? Apa yang mempengaruhi pikiranmu?”


Wanita itu membelakangi tubuhnya dengan tangan bersedekap dan bibir yang mengerucut.


“Vita, jangan dibiasakan begini. Tidak baik. Aku memang mempunyai salah dan luput besar dalam rumah tangga kita, tapi kamu juga harus menyadari. Kamu terlalu keras kepala di dalam menyikapi masalah. Tolong lembutkan hatimu sedikit untuk mengertiku.”


Yudha menuntun wanitanya untuk duduk di pinggiran ranjang. “Aku bukan malaikat yang mengerti isi hati seseorang.”


Vita menunduk, “Mas Yudha masih menyimpan baju-bajunya Rahma ...,” ucapnya lirih dan sedikit terisak.


“Itu bukan menyimpan, tapi memang belum dibereskan. Aku mana sempat mengurusi hal remeh-temeh itu.” Yudha tersenyum. “Lagi pula aku selalu tidur di sini. Lain kali tanyakan dulu, jangan asal menuduh.”


“Bohong. Aku tahu kamu suka membual.”


“Kalau tidak percaya ya sudah.”


“Ih, kok gitu!” cebiknya bertambah kesal. Apalagi saat melihat suaminya hanya senyum-senyum menyebalkan, seperti tak mempunyai salah. Astaga ... Vita ingin sekali memasukkan wajah tampan itu ke dalam karung beras bulog lima kg.


“Sampai kapan pun, aku akan tetap mempunyai masa lalu. Kalau kamu tidak pernah mau belajar menerimanya, kamu akan tersiksa sendiri.”


“Tapi cinta itu bisa dihapus,” Vita menyela. “Apa tidak cukup hanya ada aku dan Rayyan?”


“Yang bilang cinta siapa?” tanya Yudha tak habis pikir. “Itu hanya baju yang tertinggal. Kenapa jadi panjang? Kita sudah bercerai, kita sudah mempunyai hidup masing-masing.”


“Mas Yudha masih cinta sama dia?” karena tak kunjung menjawab, Vita kembali menuntut, “jawab?”

__ADS_1


“Aku lebih memilihmu, tidak perlu sekhawatir itu. Sudah kuceritakan semuanya bukan? Masih kurang jelas?”


Mata Vita bertambah basah.


Yudha tertawa bangga karena dapat dicintai sebesar itu. “Sampai segitunya ....”


“Kau ini memang menyebalkan!” Vita memukul-mukul dada sepuasnya. Keduanya saling menggelitik hingga tawa mereka terdengar sampai keluar kamar dan menjadi bahan gunjingan orang-orang rumah.


“Sampai sekeras itu?” tanya Alif geleng-geleng kepala mendengar kelakuan abang dan kakak iparnya. “Cindil diungsikan ke kamar orang karena orang tuanya mau pacaran.”


“Hus!” Umi Ros memukul putra keduanya dengan buku majalah. Tidak setuju dengan apa yang Alif katakan. “Umi yang mengambil Cindilnya tadi. Umi yang menyuruhnya.”


“Umi menyuruh mereka pacaran?” tanya Alif.


“Bukan begitu ceritanya.”


Namun Alif tidak mau tahu. “Baik sekali jadi orang, Mi. Suruh aku pacaran juga, Mi.”


“Kamu tanpa di suruh pun sudah sering pacaran diam-diam. Hayo sudah sampai mana pacaranmu? Jangan berlebihan, loh. Ingat dosa.”


“Aku tahu, paling Cuma pegangan tangan.”


“Pengang tangan-pegangan tangan, itu juga tidak boleh.”


“Lain kali tidak, Mi. Suka khilaf.”


“Tukang bohong.”


“Jujurmu jujur kacang hijau.”


“Kalau Umi tidak percaya, apa boleh buat?” Alif tak peduli. Tapi menurutnya, selama ini pendekatannya kepada setiap perempuan, hanya sekadar ingin mengenal lebih dalam.


***


Di rumah sakit.


Keduanya; Vita dan Yudha baru saja keluar dari ruang pemeriksaan setelah menjalani serangkaian tes seperti : tes hematologi, tes urine, tes golongan darah, dan tes lain-lain sebagainya. Menunggu hasil keluar, keduanya duduk di ruang tunggu.


Kali ini mereka tidak membawa Rayyan dalam kepergian mereka karena Umi Ros melarangnya membawa bayi ke rumah sakit.


Selain akan menghabiskan waktu yang lama, beliau juga tidak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sebab, mereka akan bertemu dengan banyak orang di sana. Rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk membawa anak-anak.


“Masih lama atau tidak, sih?” tanya Vita tidak tenang.


“Sabar ... paling sebentar lagi.”


“Aku tidak bisa jauh dari Ray.”


Yudha memberikan penenangan dengan menggenggam tangannya. “Dia bak-baik saja. Tenanglah.”

__ADS_1


Sembari menunggu, Yudha mencoba mengajaknya bicara tentang kehidupan rumah tangga mereka nanti ke depan. “Setelah ini, kita akan punya anak lagi?”


Vita menoleh, “Tapi anak kita kan masih kecil. Tunda dulu setahun kalau memang Mas Yudha mau punya anak lagi.”


“Aku ingin punya anak empat darimu.”


“Apa?” Vita sontak menutup mulutnya sendiri karena menyadari, suaranya barusan terlampau keras. “Banyak sekali keinginanmu, Mas,” ucapnya lagi dengan nada lebih rendah.


“Tidak banyak, hanya empat. Temanku ada yang sudah punya anak lima. Dua kembar, tiga dikeluarkan setiap tahun.”


“Ya ampun.” Vita heran sendiri. “Cepat sekali produksinya. Bagaimana cara mengurusnya kalau aku sendiri?”


“Nanti cari baby sitter," jawab Yudha tak mau pusing. "Maksudku, jangan terlalu lama menjeda.”


“Alasannya?”


Demikian yang di anjurkannya karena merasa umurnya sudah cukup dewasa, menurut sudut pandangnya sendiri.


“Supaya hari tua kita bahagia, tidak melulu memikirkan anak yang masih kecil-kecil.”


“Begitukah?”


Yudha mengangguk. Namun Vita memikir-mikir ada benarnya juga apa yang barusan suaminya katakan. Mungkin akan ia pertimbangkan lagi nanti. Bicara memang selalu lebih mudah daripada melakukan.


Selang berapa lama mereka menunggu dan berbincang, Vita tak sengaja melihat kedatangan seseorang yang dikenalnya. Rahma dan ibunya. Kemungkinan Rahma baru saja mengantarkan ibunya kontrol di rumah sakit ini.


Vita menyikut Yudha. “Itu kan Rahma,” ucapnya berbisik di telinga suaminya sehingga pria itu menoleh. Sama-sama melihat.


Kendatipun dekat, namun Yudha dan Vita tidak sedang berusaha menyapanya terlebih dahulu. Rasanya memang lebih baik mereka tak mengetahui keberadaannya, karena semua tahu bagaimana sikap bengis mantan mertuanya itu.


Rahma mendorong kursi roda yang diduduki oleh ibunya, kemudian duduk di kursi paling ujung. Berjarak tak kurang dari lima meter dari mereka. Hanya terhalang beberapa orang saja.


Namun yang menjadikan pemandangan ini ganjil dan menarik perhatian banyak orang, perempuan itu tampak sedang memaki-maki kasar, sambil memukul-mukul tangan anaknya sendiri serupa orang yang tak lagi mempunyai pikiran waras.


Heran. Bahkan di tempat umum seperti ini pun, Nely masih saja tak mempunyai urat malu.


“Dorongnya yang benar dong! Kamu itu bodoh. Dorong saja tidak bisa! Anak tidak tahu di untung! Bagaimana kalau tadi aku menabrak orang! Kakiku bisa bertambah sakit.”


“Sabar, Bu ... sabar. Istighfar.”


"Berisik!"


“Kasihan Rahma ya, Mas,” ucap Vita berbisik. Hatinya terenyuh melihat penderitaan perempuan itu.


Yudha tak menanggapi ucapan istrinya. Dia justru mengusap punggung istrinya dan memeluknya erat.


Hingga tak berapa lama setelah kedua wanita itu menjauh, (mungkin karena malu), Yudha kemudian berujar, “Semoga kita dijauhkan dari orang tua yang demikian buruknya.”


***

__ADS_1


To be continued.


Jangan lupa vote nya ya. ini hari senin.


__ADS_2