TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Apa Kamu Tahu Makna Bahagia?


__ADS_3

“Kadang-kadang aku sedih memikirkan hidup kita,” ucap Yudha penuh perasaan. “Aku tidak pernah bertanya, apakah kamu bahagia hidup denganku yang tidak bisa memenuhi satu-satunya keinginanmu.”


Keduanya masih dalam posisi sama-sama terbaring menatap atap-atap langit kamar. Saling mengobrol tentang apa yang mereka rasakan dan apa saja yang mereka lakukan pada saat siang hari yang telah mereka lewati. Suatu kebiasaan sudah lama tidak mereka lakukan yang kini baru bisa mereka lakukan kembali—karena terlalu banyak menggunakan waktu mereka dengan perdebatan yang sia-sia.


Vita menoleh ke samping. Melihat wajah suaminya yang penuh dengan rasa penyesalan. Dia dapat menangkap nada kesedihan di dalamnya. Dan selepas berbicara seperti itu, sudut matanya terlihat berair.


“Aku juga sering mengucapkan kata-kata yang membuatmu marah. Sebenarnya—aku tidak sampai hati untuk mengatakannya. Aku hanya ingin Mas Yudha mengerti keadaanku yang pencemburu ini, itu saja,” jawab Vita dan menjedanya selama beberapa saat.


“Kadang aku juga berpikir, kenapa aku harus kesal dan marah dengan keadaan yang sudah terjadi. Dengan keadaan yang tidak mungkin berpihak, dan dengan semua serangkaian kesalahan yang kamu buat. Sebenarnya aku bisa memaafkan, Mas Yudha juga masih bisa memperbaikinya, tapi aku tidak mempunyai hati yang seluas itu.” Vita menggeleng setelah berkata demikian. “Aku tidak sanggup, Mas. Kalau boleh aku memilih, aku lebih baik pergi dari kehidupan kalian.”  


“Apa sedikit pun kamu tidak pernah bahagia hidup bersamaku?” tanya Yudha setelah Vita berhenti berbicara. “Apa kamu juga menyesal menikah dengan pria sepertiku?”


“Kamu tahu apa makna bahagia, Mas?” tanya Vita setelah beberapa saat kemudian. “Aku yakin kamu tidak mengerti makna bahagia yang sesungguhnya itu seperti apa. Sekarang aku tanya, apa mungkin di dalam rumah tangga kita yang penuh dengan pertengkaran ini membuatku bahagia?”


Terdengar helaan napas kasar dari Yudha usai Vita berkata seperti itu. Tak lama kemudian Yudha terbangun. Serta merta dia memakai kaus dan sarungnya kembali.


Vita memperhatikan saja apa yang sedang Yudha lakukan. Pria itu beranjak berdiri dan meninggalkannya keluar dari kamar. Entah apa yang akan dia lakukan.


Agak lama Yudha berada di luar sana. Hingga akhirnya, beberapa puluh menit kemudian Vita merasa ranjang yang ia tempati bergerak. Namun ia memilih untuk tak membuka mata lantaran sudah sangat mengantuk.


“Sudah tidur?” tanya Yudha membisik di telinganya. Dia juga merasakan wajahnya tengah diperhatikan. Diusap kepalanya dan dicium keningnya cukup lama.


Tetapi bukannya Vita merasa bahagia, justru dia merasa begitu sedih. Sanggupkah dia berpisah dari pria ini?


Ketika nanti dia akan menjauh, semua yang biasa Yudha lakukan akan berubah menjadi sebuah kenangan yang akan menghiasi malamnya yang sepi.


‘Nyatanya, dia yang menjanjikanku bahagia adalah dia yang paling memberiku luka. Ternyata sesakit itu berharap kepada manusia. Terima kasih luka, caramu mendewasakanku sangatlah luar biasa.’

__ADS_1


Pagi menjelang dengan kesibukan Vita melakukan aktivitasnya. Setelah membersihkan diri dan melakukan ibadah, dia langsung menyibukkan diri di dapur. Wanita itu membuat nasi uduk yang dimasak di magicom agar lebih praktis, kemudian dia hanya tinggal menambahkan pelengkapnya saja; seperti bihun goreng, telur dadar, balado kentang, sambal, kerupuk dan juga orek tempe. Begitulah makanan orang Jakarta yang Vita tahu, dari semua kalangan. Dan ia pun berusaha menyesuaikan diri.


Dilihatnya Yudha sudah segar dan sudah berganti pakaian. Saat ini pria itu sedang berada di sofa ruang tamu yang sekaligus bisa digunakan menjadi ruang keluarga. Yudha sedang sibuk memainkan ponselnya, seperti tengah mengetik sesuatu. Mungkin—membalas pesan dari Rahma, pikir Vita.


Memang Vita pernah mendengar bahwa Rahma sedang mabuk parah, dari mulut suaminya sendiri. Itulah yang menyebabkan pria itu sering direpotkan oleh Rahma. Biar saja rambutnya keriting dan telinganya mengepul asap, salah sendiri punya istri banyak-banyak!


Bahkan belakangan ini Vita tahu sendiri Yudha lebih sering menemuinya diam-diam, tetapi dengan berusaha untuk tak mengurangi jatah waktu untuknya. Sejujurnya Vita kesal, namun dia tidak ingin menyinggung atau mengungkapkan hal ini kepada suaminya.


Demikian lantaran ia khawatir bakal mengusik hubungannya yang baru saja membaik. Lagi pula kalau dipikir-pikir, lebih baik Yudha tidak usah mengatakannya sekalian karena Vita sendiri pun tidak sanggup, kalau lagi-lagi harus mendengar Yudha membela nama Rahma di depannya.


Terserah saja mereka akan melakukan apa pun. Vita sudah bahagia dengan caranya sendiri.


Berbeda dengan Rahma, justru Vita bangga terhadap bayinya sendiri. Anak ini sama sekali tidak merepotkannya. Dia tidak merasa mual, tidak merasa pusing atau ciri-ciri yang biasa dirasakan oleh ibu-ibu hamil lainnya.


Vita malah justru merasa naf su makannya semakin meningkat. Oleh karenanya, Vita baru mengetahui kehamilannya secara terlambat. Memang pada saat itu ia sempat telat, namun Vita pikir itu hanya karena stres atau kelelahan saja. Tidak pernah menduga sebelumnya bahwa dia mendapat kepercayaan secepat ini.


Tak jauh dari Vita berdiri, ada Yudha yang entah sejak kapan mengawasinya. Dahinya pun berkerut melihat istrinya sedang tersenyum-senyum sendiri.


“Ada yang lagi senyum-senyum sendiri,” katanya membuat Vita sontak mendongakkan kepala.


“Eh, Mas Yudha.” Vita menyilakan sedikit rambutnya yang beterbangan dan membuat wajahnya sedikit terasa gatal.


Yudha memperhatikan Vita lebih dekat. Melihat tangan Vita yang sedang memotong bawang merah. “Bayangin siapa sampai senyum-senyum?” ulang pria itu bertanya.


“Siapa yang senyum-senyum?” elak Vita.


“Kamu itu kentara sekali kalau senyum. Karena ini ....” Sambil menusuk lesung pipi istrinya. Tak bosan-bosannya Yudha melihat wajah istrinya yang manis dan cukup menggoda karena saat ini dia sedang memakai dress rumahan bertali spaghetti. Yang warnanya sangat menyatu dengan warna kulitnya.

__ADS_1


“Jangan lihatin terus!” cebik Vita membalikkan tubuhnya untuk membelakangi.


“Kamu menyuruhku melihat punggungmu?”


“Lihat yang lain kan bisa.”


Lagi, Yudha mendekat untuk memeluk. Namun baru saja tangan itu melingkar, dia melepasnya kembali. “Kenapa mataku perih?” tanya Yudha sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa yang sedang kamu potong?”


Vita tak kuasa menahan gelak tawanya. “Bawang merah,” katanya kemudian. “Kenapa Mas Yudha yang kepedihan? Padahal aku yang memotongnya dari tadi baik-baik saja.”


Yudha membasuh wajahnya di wastafel pencucian piring sambil mengucek-ucek matanya. “Bawang merah sialan!” umpatnya pelan. “Sama orang saja pilih-pilih.”


“Makanya jangan dekat-dekat orang lagi ribet. Itulah akibatnya.”


“Apa yang salah? Aku hanya ingin dekat dengan istriku.”


Vita masih saja menertawakannya hingga Yudha tak bisa menahan diri untuk balik menjahilinya. Menggelitikinya sampai Vita benar-benar kewalahan dan berulang kali berteriak meminta ampun.


“Itu karma buat suami tukang poligami. Masih untung kamu tidak kugoreng jadi perkedel loh, Mas.”


Namun Yudha telah menahan diri untuk tidak tersinggung dengan ucapan-ucapan istrinya yang memang terkadang ada benarnya.


***


Bersambung.


 

__ADS_1


__ADS_2