TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Hanya Kamu Satu-satunya


__ADS_3

Tangan kekar itu menegakkan dagunya agar dapat menatap wajahnya secara penuh. Saat itulah, Vita menemukan telaga sangat jernih yang memantulkan sinar lembut. Mungkin tubuhnya telah lunglai, sehingga ia terseret saat dipeluknya. Tubuhnya benar-benar meremang ketika kulit wajahnya bersentuhan, begitu lembut menghangatkan.


“Jangan menghindar lagi dariku,” ujarnya pelan tepat di telinga. “Berhentilah menyiksaku lebih lama lagi.”


“Kamu memang terlalu memesona untuk kumiliki,” ucap Vita mengakuinya.


Yudha tersenyum dari samping wajahnya. “Hanya kamu satu-satunya. Percayalah.”


Mendengar Yudha berkata demikian membuat Vita menjauhkan wajahnya.


“Hanya kamu satu-satunya,” kata Yudha mengulang. “Kami sudah bercerai. Hanya tinggal menunggu akta cerai keluar.”


Wanita itu masih diam, mencoba menyerap perkataannya yang entah kenapa begitu segar merasuk ke rongga hatinya.


“Banyak yang terjadi setelah kamu pergi.”


“Kamu menceraikan dia demi aku dan Rayyan?” tanya Vita tak enak hati.


“Bukan,” jawab Yudha menyanggah. “Kami memang sudah tidak ada kecocokan lagi. Kelak kalau diteruskan, aku bisa semakin tertekan oleh keluarganya. Bukan tak mungkin aku juga bisa mati muda dibuatnya.”


“Jangan berbohong untuk mengelabuiku.”


“Untuk apa aku berbohong padamu?” Yudha tersenyum. “Kita besarkan anak kita sama-sama.”


Vita melepaskan tangannya yang semula sedang saling berpilin, namun Yudha menariknya kembali agar terus saling bersentuhan.


“Kita akan menikah ulang.”


Vita menggeleng. “Aku akan menyakiti Rahma kalau seperti ini.”


“Berhentilah memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkanmu.”


“Tolong jangan sekarang. Beri aku waktu untuk memikirkannya.”


“Kita bisa menunda untuk mengesahkan pernikahan kita, kalau kamu memang butuh waktu untuk memikirkannya. Tapi tolong jangan menolak. Kalau kamu masih ragu, kamu lihat baik-baik wajah anak kita. Dia butuh kita berdua yang selalu ada di sampingnya. Sampai kapan pun.”


Vita menggeleng pelan, “Belum tentu aku satu-satunya di kemudian hari nanti. Kamu mempunyai potensi untuk berpaling dariku. Aku masih trauma.” Wanita itu membalikkan tubuhnya untuk mengusap mata yang sudah mulai mengembun lagi mengingat masa-masa terpuruknya.


“Aku janji tidak akan mengulangi lagi kesalahanku.”


“Sebuah ucapan tidak akan bisa menjadi jaminan.”


Yudha telah kehabisan kata-kata untuk membalas ucapannya. Namun tak lama kemudian, muncullah ide yang tak disangka-sangka. “Semua asetku akan menjadi milikmu, atas namamu.”


Vita tersenyum geli dibaliknya. Ini merupakan kesempatan emas. Tak ada lagi yang bisa Yudha bawa pergi kalau pria itu berani macam-macam dengannya—kecuali keluar rumah hanya dengan memakai pakaian dalam saja.


“Bagaimana? Apa itu masih kurang meyakinkan?” ucap Yudha lagi karena sekian lama Vita terdiam.


“Nanti akan aku pikirkan lagi,” ujarnya hendak meninggalkan Yudha sendiri.


Tetapi karena Yudha yang begitu rindu, membuatnya harus sedikit memaksa. Pria itu menahannya dan menempelkannya ke dinding.


“Kamu memang bisa menolak nafkah lahir dariku, tetapi kamu tidak akan bisa menolak nafkah batin dariku,” ujarnya menekan tubuh.


“Jangan macam-ma—hmmmh.”

__ADS_1


“Sekarang giliran aku yang banyak bicara,” kata Yudha dengan napas yang tak beraturan. Membungkam dengan bibirnya. Meraba dengan sentuhan-sentuhan lembut tangannya. Keduanya larut dalam kerinduan yang memabukkan. “Kita bisa lanjutkan di dalam,” ujarnya dengan mata mengabur.


Vita terkekeh. “Kamu pergi berapa hari?”


“Dua minggu.”


“Berarti aku belum selesai nifas.”


Pria itu langsung menggeram kesal.


***


Malam itu berlalu dengan sangat menyenangkan. Harum bayi rumah itu menjadikan suasana menjadi lebih hangat tercipta. Tak henti-hentinya Yudha mengajak putranya bermain, karena sedikit-sedikit bayi itu sudah pintar menampilkan senyum bahagianya.


“Ternyata dia sudah bisa senyum, Vit.”


“Memang iya,” jawab Vita membenarkan.


“Apa dia rewel selama berada di kandungan?”


“Tidak, aku tidak mengalami kesusahan-kesusahan yang biasa di alami oleh ibu-ibu hamil lainnya.”


Pria itu menatapnya dalam waktu yang lama, kemudian berujar dengan penuh penyesalan. “Maaf karena aku tidak menemanimu di saat-saat itu. Aku juga tidak peka dengan kehamilanmu. Mestinya aku tanyakan kamu dulu sebelum aku mengumumkan kehamilan Rahma.”


Vita menunduk. “Aku juga bersalah. Aku yang menyembunyikan Rayyan dari kalian. Aku terlalu keras kepala dan sering berasumsi sendiri. Padahal mungkin niatmu waktu itu benar. Karena akan seperti ini kejadiannya. Rayyan jadi anak ibu karena pernikahan kita tak tercatat di negara.”


“Kamu mau pernikahan yang seperti apa?”


“Assalamualaikum,” salam suara dari luar menghentikan perbincangan mereka.


“Eh, itu temanmu, Mas,” ucap Vita ketika dia melihat dari celah jendela yang tak tertutup kain gorden.


“Iya, aku yang memberitahunya semalam.”


“Oh ....”


Saat Yudha membuka pintu, terlihatlah sepasang suami istri itu dengan membawa bayinya.


“Haii ...,” sapa istri Jodi yang bernama Dena. Pun denga Jodi yang juga tersenyum menyambut pelukan Yudha.


“Akhirnya kita bisa ketemu lagi,” ujar Jodi setelah merenggangkan pelukan.


“Iya, aku baru sempat datang ke sini setelah ....”


“Huru-hara selesai,” Jodi menebak dengan tepat.


“Hem, ya seperti itulah,” jawab Yudha tanpa mengelak. Kini pandangannya beralih pada sosok kecil yang ada di gendongan Dena. “Sudah besar saja anakmu, Di. Laki-laki atau perempuan?”


“Perempuan,” jawab Jodi.


“Kita jodohkan saja, anakku laki-laki.”


“Malas ah, nanti anakku di poligami. Seperti ayahnya.”


Sindiran Jodi barusan membuat Yudha dan Dena tertawa bersamaan.

__ADS_1


“Eh, ayo masuk-masuk!” Yudha mempersilakan mereka bertiga. Bersamaan dengan itu, Vita juga keluar dengan sudah memakai hijab instan.


“Mbak Vita ...,” ucap Dena mendekatinya terlebih dahulu. Kedua perempuan itu cepika-cepiki seperti orang yang sudah saling mengenal cukup lama.


“Ini baby-nya?” tanya Vita melihat bayi mereka secara dekat.


“Iya, namanya Shanum. Dia sudah dua bulan. Jadi sudah boleh di bawa pergi-pergi.”


“Rambutnya lebat banget, ini pakai apa?”


“Tidak pakai apa-apa, Vit. Memang dari lahir seperti ini, aku belum pernah mencukurnya. Eh, mana Rayyan?” arah mata Dena mencari-cari bayi yang dia tanyakan.


“Rayyan ada di ruang tengah. Masuk saja, Den ... biar Shanum juga bisa tiduran.”


Keduanya ke ruang tengah yang hanya terhalang gorden dari ruang tamu tersebut. Meninggalkan kedua laki-laki yang sedang sibuk berbicara dengan dunia mereka.


“Masyaallah ...,” ucap Dena mengagumi ketampanan baby Rayyan. Kedua wanita itu kemudian berbincang-bincang seputar pengalaman mereka waktu hamil, melahirkan, hingga seputar parenting. Suatu kebiasaan yang biasa dilakukan oleh bunda-bunda lain ketika mereka sedang berkumpul.


“Kalau diperhatikan, istrimu ini manis juga,” ucap Jodi kepada Yudha yang juga tengah memperhatikannya.


“Jaga pandangan,” balas Yudha. Namun tersenyum bangga. Vita memang cantik, bahkan lebih cantik dan seksi dari ini ketika hanya bersama dengannya.


“Alah, taik kucing. Kamu suruh aku jaga pandangan, kamu sendiri tidak bisa menjaga benda pusakamu. Ngeyel kalau diperingatkan.”


“Semua sudah berlalu.”


“Biarpun itu berlalu, tetap saja ada yang sudah dikorbankan.”


“Terus mau diapakan? Semua sudah terjadi.”


“Jadi Rahma sudah jadi janda betulan?”


Yudha mengangguk.


“Tega sekali kamu, Yud.”


“Kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya. Jadi jangan asal menilai. Kami bercerai secara baik-baik.”


“Tidak ada yang namanya bercerai baik-baik.”


“Doakan saja, mudah-mudahan kesalahanku yang satu ini tidak akan pernah terulang.”


“Baiklah. Sepertinya kamu sudah belajar dari pengalaman sebelumnya,” kata Jodi menepuk pundaknya. “Kalau begini, aku tidak akan ragu lagi berteman denganmu.”


Yudha tersenyum menatap sahabatnya yang telah lama menjauh, sebab karena kesalahan dan kecerobohannya dulu.


***


To Be Continued.


Simpan Votenya untuk besok ya.


Ailafyu.


Happy wekeend. Jangan lupa likenya.

__ADS_1


__ADS_2