
Satu tahun kemudian
“Mau aku antar?” tawar Yudha ketika istrinya hendak berangkat kuliah pagi.
Ya, Vita beberapa bulan belakangan ini sudah mulai meneruskan pendidikannya di Universitas LB jurusan Tata Boga.
Alasan utamanya, karena ke depannya Vita ingin memulai usahanya di bidang kuliner. Seperti itulah yang direncanakan dan di dukung penuh oleh keluarga. Kebetulan, ada Ratih yang sekarang bersedia menjadi baby sitter untuk Rayyan. Jadi dia tidak akan terlalu kerepotan lagi.
“Boleh,” jawab Vita tanpa menatap Yudha. Dia sedang sibuk merias dirinya di depan cermin.
Tidak suka diabaikan, Yudha mengambil batang lipstik istrinya yang sedang dipakai.
“Kenapa diambil?” Vita menoleh menatap si pelaku.
“Jangan terlalu cantik. Tidak boleh.”
“Tapi aku baru memakainya separuh, Mas Yudha ... ini kelihatannya jadi aneh nanti.”
“Jangan warna yang ini, terlalu terang.” Suami posesif itu membuka laci dan memilihkan warna paling soft di antara lainnya. “Yang ini saja.”
“Bilang saja Mas Yudha cemburu, iya kan?” tudingnya dengan tatapan meledek.
“Ayo, pakailah. Hapus yang itu,” tunjuk Yudha ke arah bibir dengan selembar tisu. Wajah Yudha berubah. Seperti sedang menahan kesal.
“Mas Yudha kenapa, sih?” gumam Vita sambil menerima lipstik agak merah menyala tersebut.
“Ini, merah-merah yang ini jangan terlalu kentara,” tunjuk Yudha lagi di area pipi yang merona dan semakin membuat Vita menjadi cemberut.
“Ini sudah tipis-tipis loh, pakainya.”
“Vita!” ancam Yudha dengan mata menajam agar dia mau menuruti perkataannya.
Terang saja Yudha merasa cemburu, sebab Vita mempunyai banyak teman laki-laki di kampusnya. Apabila istrinya itu hampir memiliki kehidupan sempurna darinya; suami yang tahan lama, anak yang sehat dan keluarga yang baik—tetapi rumput tetangga selalu lebih hijau dan liar, begitulah kiasannya.
Yudha ketar-ketir mengingat Vita masih sangat muda, dan yang ditemuinya pun sudah pasti demikian.
Bukan ia tidak percaya, tetapi godaan pasti akan selalu ada. Vita mungkin tidak akan pernah berniat menyeleweng, tetapi jika orang lain yang misalnya menyukainya?
Iya seandainya orang itu berakal. Kalau tidak? Cara apa pun pasti akan dilakukan.
Ah, tapi salahnya sendiri dia dulu mengizinkan Vita untuk meneruskan pendidikannya. Tetapi omong-omong, kenapa pikirannya jadi sekeruh ini?
“Pakai baju yang biasa saja, jangan berlebihan,” kata Yudha lagi.
Vita menahan napasnya, “Mas Yudha ... aku ini mau ke kampus, bukan mau mencuci piring. Wajar kalau aku pakai baju beda. Nanti semua orang bisa heran kalau aku datang pakai daster.”
Usai Vita berkata demikian, Yudha keluar karena mendengar tangisan Rayyan. Kemungkinan anak itu sedang mencari ibunya.
__ADS_1
Vita segera menyelesaikan kegiatannya dan menaruh peralatan make upnya ke tempat semula. Agar ia tidak bolak-balik masuk ke dalam kamar lagi, dia sekaligus memasukkan ponsel, buku dan beberapa keperluan lainnya ke dalam tas. Sebelum akhirnya, ia menyusul suaminya keluar kamar.
“Kenapa?” tanya Vita kepada Rayyan yang saat ini sedang ditenangkan oleh Yudha.
“Ma—ma ...,” rengek batita itu dengan gumaman yang kurang jelas karena disertai tangis. Kedua tangan yang terulur, meminta untuk direngkuh oleh Mamanya.
Vita membawanya ke meja makan karena dia juga harus melakukan sarapan. “Kangen sama Mama?”
Rayyan tak menjawab, justru tangisannya bertambah keras.
“Minta apa dia, Mas?”
Yudha hanya mengedikkan bahu. Dia masih saja kesal memikirkan penampilan istrinya yang terlalu cantik. ‘Awas saja kalau ada yang berani menggodamu di sana, akan kucolok matanya!’
Entah sejak kapan Yudha jadi pendek usus seperti ini. Dia merasa dirinya menjadi gampang marah.
“Atau Dede lapar, mau mam?”
Rayyan hanya mengangguk dan mengacungkan jarinya ke makanan yang ada di atas piring. Mungkin dia rewel karena perutnya sedang lapar. Niscaya jika bukan keluarga dekat, pasti tidak akan pernah tahu apa keinginan anak itu jika dia sedang menangis. Ray masih berusia satu tahun, dia baru bisa menyebut mama dan papanya saja, itu pun kadang belum terlalu jelas.
“Kok belum siap-siap?” tanya Vita menatap suaminya yang berdiri memperhatikan. “Katanya mau mengantarku?”
“Hmm.”
“Kenapa begitu, Mas? Apa penampilanku masih salah?”
Yudha menggeleng.
“Permisi-permisi ...,” ucap Bi Retno menaruh makanan di atas meja. Vita tidak heran ada sup daging di pagi hari. Ini makanan kesukaan adik iparnya.
“Silakan, Bi.”
Namun tiba-tiba ....
Hoek!
Yudha menutup mulutnya ketika mencium aroma sup itu. Dia berlari cepat ke dalam kamar mandi tamu, karena kamar mandi itulah yang jaraknya paling dekat.
“Bi, tolong Ray sebentar ya, Bi,” ucap Vita beranjak berdiri dan memindahkan anaknya. “Suamiku masuk angin.”
“Iya, Non. Sini, Nang. Sama Bibi, ya ....”
Vita segera menghampiri Yudha dengan membawa sebotol minyak kayu putih. Lalu segera membantu memijat lembut tengkuknya.
“Singkirkan sup itu dari meja,” ucapnya begitu mendongak.
“Apa salahnya?”
__ADS_1
“Aku tidak menyukainya.”
“Sejak kapan? Biasanya juga tidak apa-apa. Tidak masalah.”
“Sejak sekarang.”
“Ya Allah, Mas. Aneh-aneh saja kelakuanmu akhir-akhir ini.” Vita menyeru dari dalam kamar mandi. “Ratih, Ratih!”
“Iya, Non!” Ratih menjawab dengan suara yang agak keras juga.
“Simpan supnya Mas Alif itu di dapur dulu ya.”
“Baik, Non.” Tanpa bertanya alasannya, gadis itu menuruti saja titah majikannya.
Sekembalinya dari dalam sana, Yudha kembali masuk ke dalam kamar untuk digantikan baju oleh istrinya—karena pakaian yang dikenakan sebelumnya basah terciprat air.
“Ini apa? Jangan suruh aku meminumnya!” tanya Yudha pada minyak kayu putih yang Vita bawa. Karena ukurannya besar, jadi dia menyangka bahwa itu adalah minuman kemasan.
“Siapa yang menyuruhmu minum ini,” Vita menanggapi dengan segenap kesabaran yang ia miliki. “Ini minyak kayu putih. Kalau mau minum, air galon juga banyak.”
Yudha membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Membiarkan kakinya menggantung begitu saja. Pria itu memijat pelipisnya karena kepalanya terasa berdenyut nyeri.
“Kalau sakit, Mas Yudha bisa libur dulu.”
“Ada apa, Nak? Kata Bibi, Yudha sakit?” tanya Umi Ros masuk ke dalam kamar. Memastikan keadaan putranya.
“Iya, ini muntah, kepalanya juga sakit sepertinya,” Vita menjawab. Memperhatikan ibu mertuanya memastikan keadaan putranya dengan menyentuh bagian kepala, leher dan perut.
“Badannya memang agak hangat,” kata Umi kemudian. “Semenjak kapan begini?”
Yudha menggeleng. Tetapi seingatnya sudah semingguan lebih. Bukan hanya itu, mood-nya juga gampang rusak karena hal-hal kecil. Sensitif.
“Sebentar, Umi panggilkan dokter, ya.”
“Terima kasih Umi,” ucap Vita.
“Sama-sama, Nak,” balas Umi. Namun ketika melihat penampilan Vita yang sudah rapih beliau kemudian bertanya, “Kamu mau berangkat?”
“Tadinya begitu, tapi kalau keadaan Mas Yudha begini, aku bisa absen dulu, Mi.”
“Tidak apa-apa, kamu berangkat saja sama Pak Sopir, nanti biar Umi yang mengurusnya.”
Vita menatap ibu mertuanya untuk meminta persetujuan sekali lagi. Hingga tak lama kemudian, dia melihat anggukan kepala—membuat ia lebih tenang saat pergi.
Tapi saat tiba di kampus, Uminya mengabarkan, bahwa Yudha sudah diperiksa dan keadaannya sedang baik-baik saja. Tidak ada suatu tanda-tanda penyakit apa pun.
“Dasar modus, pasti kamu begitu supaya aku libur ‘kan? Aku sudah hafal sama lagakmu yang aneh itu.”
__ADS_1
***
To be continued.