TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Laki-laki Tidak Berguna


__ADS_3

Dara menepikan mobilnya pada saat Vita meminta untuk berhenti. Ternyata wanita itu mual dan memuntahkan seluruh isi perutnya di samping mobil—tepatnya di selokan kecil. Tidak ada yang dapat menghentikan perihal sakit yang satu ini, pikir Dara. Maka dari itu, dia membiarkan saja Vita demikian sampai keadaan Vita membaik dengan sendirinya.


Seraya menunggu, Dara menyandarkan tubuhnya ke mobil. Dia merasa iba sekali terhadap wanita ini. Vita dalam masalah besar, padahal harinya masih sangatlah panjang, namun kegelapan sudah lebih dulu datang menghadang!


Mungkin Tuhan ingin membantu Vita melalui dirinya—seperti itulah kesimpulan yang dapat Dara simpulkan setelah lama dia berpikir. Rasanya, ini bukan sebuah kebetulan karena dia berkali-kali bertemu dengannya dalam keadaan membutuhkan pertolongan.


Tadinya dia sudah sempat keluar dari Terminal itu karena sudah mendapat orderan. Namun baru sekitar beberapa meter, pesanan itu dibatalkan dengan alasan hujan deras, demikian penumpang itu memberikan alasan. Penumpang itu mengatakan akan memesan kembali setelah hujannya sedikit mereda.


Dara mengulurkan sebotol air mineral untuk Vita setelah wanita itu berhenti memuntahkan isi perutnya. Dara memperhatikan saja apa yang sedang Vita lakukan. Wanita itu berkumur, kemudian meminum airnya hingga habis setengah.


Belum sempat Dara mengajaknya berbicara, wanita itu kembali membungkuk. Tetapi bukan untuk muntah lagi seperti tadi. Namun untuk menangis. Ya, saat itulah tangisnya pecah, tersedu-sedu, wajah itu basah oleh air mata. Tangisannya amat mengiris. Untuk beberapa lama, Vita membiarkan saja dirinya merintih-rintih di sana sampai hatinya terpuaskan.


“Aku memahami apa yang terjadi. Semua itu disebabkan karena ketidakluasan hatiku untuk menerimamu. Sekarang hidupku telah terhenti pada tujuan, kecuali anakku. Dengar, Yudha. Akan kupastikan kamu tidak akan pernah menemukan kami.”


Saat hari sudah cukup malam, Dara memutuskan untuk membawa Vita melanjutkan perjalanan. Keadaan Vita masih sama, saat dalam perjalanan pulang, air matanya kembali menguras. Menunjukkan betapa besarnya cinta yang dia miliki. Namun sebesar apa pun perasan itu, semua tidak ada gunanya.


Mobil memasuki gerbang yang di dalamnya terdapat beberapa deretan kontrakan cukup luas. Di sinilah Dara tinggal sendiri.


“Kamu tidur di sini dulu, ya. Terserah besok kamu mau ke mana, yang penting malam ini kamu ada tempat dulu,” kata Dara begitu mematikan mesin mobil.


“Maaf, Dar. Lagi-lagi aku merepotkanmu.”


“No why-why,” kata Dara memberi sedikit penghiburan sehingga berhasil membuat Vita tersenyum samar. “Lupakan sejenak masalahmu. Jangan terlalu memikirkan pria itu, belum tentu dia memikirkanmu. Kamu bisa rugi!”


Vita tersenyum. Memilih untuk tidak menjawab.


“Di sini kamar kosong bekas kamar temanku. Kamu pakai yang ini saja,” ucap Dara begitu mereka masuk ke dalam. Di dalam sana terdapat dua kamar; ruang tamu dan ruang tengah yang di sekat dengan lemari besar, kemudian dapur dan juga kamar mandi yang posisinya berdekatan. Keseluruhan dari tempat ini masih bersih sekali. Kemungkinan bangunan baru.


“Kamar mandi sama dapur ada di belakang. Kalau butuh apa-apa, di luar itu ada warung. Mau makan tinggal ambil saja di meja,” kata Dara lagi sambil menunjukkannya.


Tidak ada lain yang bisa Vita ucapkan pada saat itu selain rasa terima kasihnya. Tetapi setelah dipikir-pikir, dia memang lebih baik tidak pulang ke rumahnya dulu. Karena bisa saja dia masih dicari untuk dibawa pulang lagi ke rumah suami plin-plan itu!


Setelah beberapa saat dia memikirkan, akhirnya Vita mengutarakan niatnya kepada Dara. “Dar, apakah ada kontrakan kosong lagi di sebelahmu?”

__ADS_1


Dara sontak menghentikan makannya pada saat Vita bertanya. “Masih ada beberapa yang kosong di sebelah. Kenapa, kamu mau mengontrak?” tanyanya to the point.


“Rencananya begitu, Dar.”


“Tidak jadi pulang?”


“Kupikir aku lebih aman di sini. Tidak ada yang bakal menemukanku.”


“Ya, benar. Selain aman, tetangga-tetangga di sini juga tidak terlalu peduli.” Dara meneguk minum sebentar sebelum dia berbicara lagi, “Daripada kamu mengontrak, lebih baik kamu tinggal sini denganku.”


Vita sontak menggeleng. Dia hanya tidak mau kalau dirinya semakin merepotkannya lagi.


“Kenapa?” tanya Dara kemudian. “Aku sendiri. Tinggallah. Jangan pikirkan biaya.”


“Bukan begitu, Dar. Bagaimana kalau temanmu yang sebelumnya itu kembali datang?”


“Aku yakin dia tidak akan datang lagi. Kalau pun datang, dia pasti akan mencari kontrakan lain. Dia sudah punya suami sekarang. Tidak mungkin aku menerima mereka di sini. Siapa pula yang mau mendengarkan desahann mereka setiap malam. Aku sih, ogah amat.”


Ucapan Dara lagi-lagi membuat Vita tersenyum.


Rahma sudah sembuh sekarang. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Namun bergantian Yudha yang sakit dan dia yang merawatnya.


Sudah beberapa hari ini juga Yudha masih belum mau berbicara. Rahma bingung, namun dia juga sedih karena dia sudah melihat sendiri betapa besarnya cinta Yudha kepada istri pertamanya, hingga pria itu sangat terguncang begitu Vita pergi.


“Ini semua karena aku, Bu. Coba kalau aku tidak sakit, pasti ....”


Nely seketika menyela, “Sudah, berhenti menyalahkan dirimu, Nak. Orang sakit mana bisa disalahkan.”


“Coba kalau waktu itu Ibu atau Ayah datang, pasti Kak Yudha tidak perlu menungguiku. Vita juga tidak akan pergi karena cemburu, Bu. Dia merasa Kak Yudha lebih banyak bersamaku. Sekarang kita harus bagaimana? Kak Yudha sangat membutuhkan Vita, hanya dia yang bisa menyembuhkannya.”


“Yudha hanya sakit biasa, nanti juga pasti sembuh. Kamu jangan banyak pikiran, kamu bisa sakit lagi nanti.”


“Aku hanya mau Kak Yudha sembuh ....” Lama kelamaan, Rahma ikut menangis.

__ADS_1


“Hanya karena itu, kamu mengorbankan dirimu, begitu?” kata Nely lagi.


Rahma menggeleng. Tidak tahu harus seperti apa lagi menjelaskan hal ini kepada Ibunya. Tidakkah beliau memosisikan diri sebagai sesama perempuan? Apa beliau juga lupa bahwa menantunya memiliki dua orang istri?


Demi merawat Yudha, kali ini Rahma ikut tinggal di rumah Umi Ros. Toh, tidak ada Vita lagi di sana, pikirnya.


Rahma tidak peduli seberapa payahnya dia saat ini. Satu yang dia inginkan, dia mau Yudha cepat sembuh dan mau membuka suara untuknya, itu saja.


“Sampai kapan kamu mau diam saja, Kak?” tanya Rahma ketika mereka sedang berada di kamarnya. “Tolong bicaralah, apa yang Kakak rasakan. Kita berbagi supaya Kak Yudha bisa sedikit merasa lebih lega.”


Yudha tetap bungkam. Tatapannya kosong serupa orang yang sudah kehilangan separuh nyawa.


Berbagai cara sudah dilakukan oleh Umi dan juga Abah. Yudha tidak terkena guna-guna atau penyakit aneh lain. Dia hanya belum ingin berbicara kepada siapa pun.


Sudah sepekan ini, Alif juga terus mencari Kakak ipar satunya yang pergi entah ke mana.


Dia juga sempat menelepon Jodi, sahabat Yudha yang tinggal dekat dengan rumah Vita. Namun kabar yang terdengar, Jodi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. Rumah Vita gelap. Sepi. Tak berpenghuni.


“Kau ini, bukannya mencari istrimu malah sakit begini. Pekerjaanku itu banyak, cari sendiri istrimu. Aku lelah, bodoh! Dasar laki-laki tidak berguna. Banci kamu, Bang! Kawin saja kamu bisa. Tapi berjuang kamu tidak bisa.” Alif menarik kerah Abangnya tanpa perlawanan pada saat dia luput dari pengawasan Rahma.


“Kau ini memang merepotkan banyak orang!” ucapnya lagi bersungut-sungut.


Alif segera melepaskan kerah Yudha pada saat mendengar derap langkah kaki masuk ke dalam kamar ini. Ya, dia Rahma. Wanita itu membawakan makanan untuk suaminya.


Yudha tersenyum pada saat wanita itu mendekat ke arahnya. Rahma sempat senang karena mengira Yudha sudah jauh lebih baik setelah di ajak berbicara oleh Alif.


Namun pada saat langkahnya sudah hampir tiba sempurna di hadapan pria itu, terdengar ucapan nama yang amat mengiris relung hati ....


“Vita ... kamu kapan pulang?”


Ya, wanita itulah yang tampak di matanya saat ini. Untuk pertama kalinya Rahma merasa dipermalukan. Celakanya, di depan adik iparnya sendiri.


***

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2