
12.
Acara empat bulanan dilakukan selepas ashar hingga menjelang maghrib. Rumah yang tadinya luas menjadi terlihat sempit dipenuhi oleh banyak orang—terutama ibu-ibu dawis setempat, Umi Ros yang mengundangnya.
Lantunan-lantunan ayat suci menggema membuat tubuh merinding. Sampai bayi yang berada di dalam kandungan Dara pun ikut serta merasakannya.
“Gerak-gerak, Bu,” ucapnya kepada Ibu Ratna yang baru saja tiba bersama ayahnya beberapa jam lalu.
Ibu Ratna tersenyum, merangkul anaknya dan mengusap-usap perut putrinya. Matanya berembun, masih tak menyangka anak yang dia gendong kemarin sore kini sudah menjadi seorang ibu juga.
“Salatnya jangan sampai tinggal, ya,” katanya dan berlanjut memberikan banyak petuah lain yang penting bagi perempuan sedang mengandung.
Sementara Alif sendiri tengah duduk tak jauh darinya. Memakai warna baju yang sama seperti Dara, yaitu warna pink. Tema kali ini sangat feminim menyesuaikan jenis kela min anak pertama mereka yang diperkirakan perempuan.
“Jadi cucu pertama Ayah perempuan?” Hilman bertanya kepada putrinya. Dengan suara yang terdengar masih kurang jelas karena belum sepenuhnya sembuh dari stroke. Jalannya pun masih memakai tongkat dengan ekstra kehati-hatian.
Orang yang pada awalnya garang, langsung berubah lemah ketika mendapat sekali serangan penyakit. Di sini semua dapat melihat bagaimana Tuhan berkuasa menundukkan kepala orang yang terlalu tegak mendongak.
“Iya, Yah... cucu Ayah perempuan,” jawab Dara kepada lelaki di sampingnya.
Sementara Alif tengah sibuk dengan Yudha memastikan sendiri kondisi mike, soud dan lain-lainnya karena sebentar lagi, Abah Haikal akan memberikan tausiyah.
“Aman, Bang.” Alif menjawab semua kekhawatiran abangnya.
Yudha mengangkat jempol dan kembali duduk di tempat semula. Memangku Rayyan yang memang selalu menempel padanya layaknya prangko.
“Kaka ngantuk, Mas?” tanya Vita melihat Rayyan menyandar di dada papanya dengan mata setengah dipaksakan terbuka.
“Sepertinya.”
“Bawa ke atas saja, biar sekalian aku menidurkan si kembar,” ujar Vita menatap suaminya, “dua bocil itu kalau dibiarkan main bisa sampai tengah malam.”
Ini sudah sering terjadi, anak-anak seusia Umar dan Mauza memang masih sangat senang bermain. Jika di biarkan, mau sampai besok pun, mereka masih akan tetap melek. Mengacak-acak isi rumah.
Keduanya beranjak setelah berpamitan kepada Umi Ros dan juga Abah. Mereka terlebih dahulu menuju ke belakang, mengambil Umar dan Mauza yang tengah di asuh oleh Mbak Ratih. Setelah itu menuju ke atas bersama.
“Sekalian kamu istirahat, tidak perlu menunggu sampai selesai,” ucap Yudha ketika semua anak-anaknya sudah berada di kamar yang sejuk.
“Pinginnya sih, gitu. Tapi belakangan ini aku lagi susah tidur, mikir sebentar lagi mau sesar. Kalau dah brojol, baru aku bisa tenang.” Vita duduk di ranjang menyelimuti ketiga anak-anaknya.
“Cepat lahir, Princes. Kasihan Papa, Nak. Sudah libur dua bulan,” kekeh Yudha pelan sembari mengusap perut istrinya.
Vita tersenyum. Membayangkan betapa tersiksanya lelaki jika dijauhkan dari kebutuhan pokoknya. Pun dengan dirinya sendiri yang juga merasakan hal sama. Jangankan melakukan aktivitas tersebut, untuk berjalan saja dia harus extra hati-hati karena masih sering flek. Sungguh mengkhawatirkan.
“Setelah lahir pun, kamu harus menahan lagi selama empat puluh hari. Apa kamu masih kuat? Masih sanggup?” Vita bertanya.
“Semoga saja bisa,” ujarnya terdengar tak meyakinkan. Sebab Yudha selalu bisa mencari cara lain meski tanpa harus menyemai ladang istrinya. Niscaya hanya merekalah yang tahu bagaimana semua itu bisa terjadi!
“Maaf ya, Mas. Aku membuatmu tersiksa,” kata Vita setelah beberapa saat. “Laki-laki lain, kalau istrinya tidak bisa ...” Vita membiarkan Yudha mencari sendiri lanjutannya, “dia akan menikah lagi. Apa kamu juga akan seperti itu?”
“Enak saja, aku masih ingin hidup,” jawab Yudha melebarkan mata.
“Aku hanya ngetes. Siapa tahu masih ada keinginan seperti dulu.”
__ADS_1
“Sudah dicoba, tidak mampu.”
“Ma, Ma!” panggil Rayyan menghentikan obrolan mereka, “itu suaranya Opah? Iya?”
Mereka mendengar Abah Haikal mengucap salam menggunakan pengeras suara.
“Iya, itu suaranya Opah, beliau lagi mengisi acara tausiyah,” jawab Vita.
“Aku mau sama Opah!” ucap Mauza hendak beranjak, namun di tahan oleh papanya.
“No, Sayang. Ini sudah waktunya tidur siang. Mau tidur jam berapa nanti malam kamu kalau kalian jam segini belum tidur. Ha?” Yudha menahan tubuh mereka semua dengan sangat kesal. Apa anak semua kecil seperti ini? Tidak ada yang mau diam, seperti belatung nangka saja pikirnya.
“Main sama Opahnya nanti, ya. Sekarang kita mau bobo dulu....” Vita ikut membujuk.
“Mau itu, bunyi spikel,” pinta Mauza. Bermaksud meminta mike yang menurutnya seru untuk dimainkan.
“Iya, nanti pinjam sama Om. Main spikel, tapi sekarang tidur dulu, ya.” Yudha jadi ikut-ikutan cadel.
Dengan berbagai cara mereka menidurkan anak-anak, sampai akhirnya semua upayanya berhasil membuat ketiganya terlelap.
***
Serangkaian acara empat bulanan Dara sudah hampir selesai, berikut foto-foto keluarga yang di lakukan di depan backdrop. Menjadikannya abadi melalui jepretan kamera yang nantinya akan dicetak dan di pajang sebagai sebuah kenang-kenangan.
“Kamu sama Mas Yudha mau foto juga?” ujar Dara kepada Vita.
Namun perempuan itu menggeleng. “Aku malu, jelek, gendut, belum make up juga.
“Hei, siapa yang bilang kamu jelek?” Dara memaksanya untuk naik ke sana tanpa memberikan kesempatan perempuan itu menolak, “nanti keburu pulang tukang potonya, hehee ... cuek aja napa sih, Beibs. Jangan minderan. Gendut? Ya, wajarlah. Yang kurang wajar itu kalau kurus kering padahal lagi hamil tua. Nanti dikira lagi busung lapar.” Dara melihat ke sekeliling mencari kakak iparnya di sekumpulan orang-orang yang tengah menikmati hidangan. Kemudian berteriak ketika dia menemukan sosok pria itu, “Mas! Hei, Mas Yudha!”
“Sini, Mas! Penting B G T.” tangan Dara melambai, meminta Yudha untuk mendekat.
Yudha terlebih dahulu berpamitan kepada orang-orang yang tengah di ajaknya mengobrol, kemudian berlalu mendekati dua perempuan ini.
“Foto dulu, Mas. Kasihan istrinya, buat kenang-kenangan anaknya nanti sebelum si jabang bayi brojol. Sebentar lagi, toh?”
Yudha hanya mengangguk. Pria itu pasrah saja saat di arahkan oleh fotografer untuk melakukan berbagai pose foto.
“Ish, beda banget sama suamiku,” gumam Dara mencebik kesal. Masih teringat tadi saat dirinya dan Alif melakukan sesi foto. Alif adalah orang yang paling susah di atur. Berulang kali pula pria itu meminta untuk menyudahi aktivitas yang menurutnya sama sekali tidak berfaedah seperti ini. Ribet amat katanya.
Di tempat lain, Alif sedang menjauh dari kerumunan karena mulutnya terasa asam. Apa lagi kalau bukan untuk merokok?
Namun dia tak menyadari bahwa ada seorang lelaki tua yang tengah menemaninya semenjak tadi. Dia baru sadar ketika kepalanya tak sengaja menoleh ke belakang. “Eh, ada orang.”
Hilman tersenyum kaku. Sudah lama beliau ingin duduk berdua dengan menantunya untuk sekadar berbicara empat mata. Tapi rasa gengsi dan malu selalu mendominasinya.
“Ayah mau ke mana? Biar aku antar. Atau mau ke toilet?” tawar Alif sambil menarik kursi agar ayah mertuanya lekas duduk. Sebab setahunya, lelaki itu memang tidak bisa berdiri terlalu lama karena kakinya sudah pengapuran. “Duduk dulu, Yah. Takut pegal nantinya.”
Pria itu kemudian duduk dengan perlahan, menatap menantunya yang sedang mematikan rokok. “Ganti bajumu setelah ini, jangan sampai Dara menghirup asap rokokmu. Dara mungkin kuat, tapi kasihan bayinya.”
“Baik, Yah,” jawab Alif. Tak ingin membantah meskipun dia juga paham tanpa Hilman memberi tahunya. Sebab ia tak ingin persoalan ini berbuntut panjang. Terlebih hubungan mereka tak terlalu baik selama ini.
“Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu.”
__ADS_1
Mata Alif sedikit melebar mendengar ucapan beliau barusan. Baru kali ini beliau bisa bercerita lebih panjang kepadanya selama empat bulan pernikahan. Mungkinkah hatinya sudah mulai luluh?
Tak berapa lama Alif mengangguk mempersilakan.
“Tolong maafkan Ayah ....”
DEG.
Terang saja Alif heran. Tertegun mendengar permintaan maaf Hilman yang sebelumnya sangat haram keluar dari mulutnya. Tanpa kelu juga dia menyematkan panggilan ayah di depannya. Hal yang sebelumnya tidak pernah beliau lakukan.
“Aku mengaku salah. Dan mungkin penyakit ini adalah karma yang harus aku terima. Karena dengan beginilah waktu itu kalian bisa menikah.”
Hilman juga tidak yakin sekarang dia bisa mempunyai cucu andai dirinya masih sehat. Sebab sehatnya selama ini adalah kesombongan dan kedengkian.
“Seharusnya aku tak menilaimu hanya dari segi penampilan. Padahal kau dan keluargamu begitu baik.”
Hilman selalu malu ketika dia mengingat pernah menyiram anak ini dengan secangkir teh panas dan mengusirnya pergi. Dia pikir rencananya untuk menghalangi jodoh anaknya akan berhasil, nyatanya tidak bisa. Apa yang sudah menjadi ketentuan-Nya, tetap akan terjadi. Mereka tetap berjodoh. Sejauh apa pun jurang memisahkan.
“Aku melihat dia sangat betah dan bahagia di sini, di terima menjadi bagian keluarga kalian. Bukan sebagai orang lain yang baru saja datang,” ujarnya lagi menjeda sesaat, “terus terang aku sangat malu karena sudah terlalu berlebihan menyikapi kedatanganmu waktu itu. Maafkan Ayah, Nak....”
Sontak Alif beranjak dari tempat duduknya menahan tubuh ayah mertuanya yang hendak bersujud di kakinya. “Yah, tolong jangan seperti ini, aku sudah memaafkanmu.” dia membantu mertuanya untuk kembali duduk di tempat semula.
“Tolong jaga anak dan cucuku,” rintihnya pelan. Selama berbulan-bulan beliau sakit dan menjadi kesusahan semua orang apalagi istrinya. Beliau mengira ini adalah sebab dari dosa yang pernah dilakukannya kepada Alif. Pasti anak ini sangat sakit hati dengannya.
“Itu pasti, Yah, itu pasti. Tidak perlu ayah pinta juga pasti aku akan menjaga mereka. Aku sangat menyayangi Dara, dia istriku,” jawab Alif dengan tegas.
“Apa kamu dendam denganku?” tanya Hilman lagi membuat Alif tertegun. “Aku tak pernah mendengarmu bicara denganku, padahal aku selalu mengharapkannya. Kau adalah menantu durhaka yang paling menyebalkan di dunia!”
Alif sontak terkekeh. Rupanya, beliau ingin di dekati, tapi ... gengsi untuk mengungkapkannya. “Baiklah ... mulai sekarang aku akan lebih banyak berbicara denganmu, Yah.”
Hilang sudah kekakuan di antara mereka. Keduanya tersenyum. Kesalahpahaman yang pernah ada di antara mereka seketika terhapuskan dan berakhir saling memeluk.
“Semoga setelah kita berdamai, penyakitku segera sembuh. Supaya aku bisa menggendong dan mengajak cucuku bermain nanti kalau dia sudah lahir.”
“Aamiin, Yah, aamiin.”
Mata Alif sedikit berkaca karena tanpa di sangka, mulai hari ini dia bisa akrab dengan mertua layaknya keluarga harmonis lain di luar sana.
‘Terima kasih Baby Cil, kehadiranmu membawa berkah untuk Papi. Karenamu kami berdamai.’
***
Bersambung
Aku kasih banyak hari ini karena weekend aku libur ya.
Ini visual tukang poligaminya ya!
Tolong jangan jatuh cinta, dia gak mau poligami lagi katanya. Soalnya masih pengen hidup.
__ADS_1
Kalau mas alif sama dara kan memang sudah ada di sebelah, ya. Visualnya juga. kalau gak salah ada di bagian pengumuman. Judulnya Ternoda Di Malam Pengantin. Maaf, Aku bawel umumin lagi, soalnya ada yang memang belum tau hheh🤭😁
Selamat berlibur semuanya!