
Terdengar klakson mobil berbunyi pada saat Yudha dan juga Vita sedang melakukan sarapan. Tak lama kemudian disusul suara salam dari seorang pria yang masuk ke dalam rumah. Cepat-cepat Vita menuju ke kamar untuk memakai sweater dan bergo untuk menutupi sebagian tubuhnya yang sebelumnya terbuka.
“Mau berangkat bareng atau tidak, Bang? Sudah sesiang ini masih belum berangkat juga.” Alif bertanya sambil mengambil kerupuk di dalam stoples. “Nasi uduk dari mana nih? Beli?”
“Dia yang masak,” jawab Yudha sambil mengarah ke istrinya.
“Pintar masak juga kamu, ya,” puji Alif seraya mengunyah kerupuk itu. “Mau dapat pahala tidak, Vit?”
“Kamu pasti mau menyuruhku,” tebak Vita yang menanggapinya dengan serius.
“Aku belum sarapan. Tadi di rumah Umi masak bubur ayam. Aku tidak terlalu suka. Kalau ada nasi uduk seperti ini, mending ini saja.”
“Jadi mau dibawakan begitu maksudmu?”
“Ya, kamu memang peka sekali. Tidak seperti ...,” Alif menoleh ke Abangnya yang sedang menenggak air minum.
“Jangan samakan, aku bukan perempuan,” balas Yudha.
“Aku tahu perempuan lebih menggunakan perasaan dan laki-laki lebih mengandalkan logika. Tapi kamu memang tidak punya logika, Bang. Masa staf baru kamu kirim ke luar negeri?” kata Alif berbicara menjurus tentang pekerjaannya.
“Aku sedang tidak ada waktu untuk pergi ke sana,” jawab Yudha sembari mencuci tangannya di wastafel. “Kamu sendiri kenapa tidak mau mengawal?”
Alif meringis. Mengingat dirinya yang juga sama-sama sedang malas bepergian ke luar negeri untuk saat ini.
“Ya sudah biarkan saja, sekalian belajar,” kata Yudha kemudian.
Vita beranjak berdiri, mengambil box makanan untuk Alif dan memasukkan makanan itu untuknya. Wanita itu kembali menghampiri mereka setelah apa yang dikerjakannya selesai, lantas menaruh box makanan itu di atas meja.
“Mas, aku nanti mau pergi keluar sebentar,” ucap Vita meminta izin menyela obrolan mereka.
“Mau ke mana, biar aku antar.”
“Tidak usah. Hanya ke supermarket saja sebentar.” Vita terpaksa berbohong. Sebenarnya dia akan pergi ke tempat lain dan tidak ingin Yudha mengetahuinya.
“Naik apa?” Yudha bertanya.
“Gampang nanti. Naik motor juga bisa.” Vita tersenyum, meyakinkan Yudha bahwa dia benar-benar bisa melakukannya sendirian.
“Jangan panas-panasan naik motor. Mending pesan taksi online saja.”
Alif sontak menyahut. “Masak bisa, ngurus suami bisa, ngurus rumah bisa, ngurus uang juga bisa, naik motor juga bisa. Ada tidak di sana stok yang sepertimu, Vit?” pertanyaan Alif membuat Vita tersenyum lucu. “Aku butuh istri yang serba bisa sepertimu biar tidak terlalu merepotkan hidup laki-laki. Ya—minimal jangan bikin pusing kalau sekedar kekurangan cabai di dapur.” Jeda sesaat, kemudian menambahkan. “Kalau perlu yang bisa mencari uang sekalian.”
“Terus kalau kamu cari yang seperti itu, tugasmu jadi laki-laki ngapain?” tanya Vita.
“Tugasku membuat istriku senang.”
“Kamu kira membuat istri senang cukup hanya dengan memanjakannya saja?”
“Berhenti berkhayal, Lif. Ayo kita berangkat,” pungkas Yudha mendorong tubuh Alif agar segera keluar dari dalam sini lantaran ada yang akan ia lakukan terhadap istrinya.
Namun ternyata tubuh Alif alot sekali saat di dorong keluar sehingga akhirnya Yudha membiarkan saja Alif melihat adegan yang tidak seharusnya. Yakni mencium wanita itu. “Hati-hati di rumah, ya. Kalau butuh apa-apa, kabari saja.”
“Iya, Mas Yudha juga hati-hati.” Vita menghamburkan diri ke dekapan Yudha. Dia benar-benar rindu kepada pria ini. Sebenarnya, Vita ingin lebih lama lagi seperti ini, tetapi sayangnya waktunya tidak banyak. Alif sedang menunggu suaminya sekarang.
“Ya Allah. Enak sekali ya, punya istri dua,” kata Alif hampir meneteskan air liur melihat kemesraan mereka.
***
__ADS_1
Vita baru saja keluar dari sebuah klinik. Mobil yang ditumpanginya kini mengantarkannya pulang ke rumah Alif.
Untuk pertama kalinya dia memeriksakan kandungannya yang sudah hampir menginjak usia sembilan minggu.
Hasil cetak USG sudah berada di tangannya sekarang. Menurut keterangan dokter, dia sudah sebesar buah anggur. Sehat, normal dan tidak ada masalah apa pun.
Meskipun Vita tidak pernah hamil sebelumnya, lantas tidak membuatnya menjadi orang yang buta pengetahuan tentang hal itu. Ada browser yang bisa menjawab semua pertanyaannya dan membuatnya tahu; mana makanan yang dilarang dan mana makanan bergizi yang harus dia makan untuk perkembangan bayinya.
Acap kali memikirkan tentang pertumbuhan anaknya, membuat mata Vita mengembun. Dia belum memberitahukan hal ini kepada Yudha. Bukan—bukan bermaksud untuk menyembunyikan atau memisahkan mereka berdua. Namun jika Yudha mengetahuinya lebih dulu, maka dia akan semakin tertahan di sini, tidak bisa lepas dari jeratnya dan bisa menghancurkan semua rencana kepergiannya.
Lain halnya jika Yudha adalah pria yang peka. Nyatanya sampai saat ini pria itu tidak pernah mempertanyakannya sama sekali. Padahal, sudah dua bulan lebih mereka bersama.
Apabila otak pria itu tidak dangkal, pasti Yudha dapat menangkap kejanggalan ini. Bukankah selama ini Vita tidak pernah mempunyai alasan untuk menolak berhubungan suami istri?
Jawabannya sederhana. Yudha hanya terlalu sibuk dengan istri keduanya yang sangat menyusahkan banyak orang itu!?
“Aku mau pergi ... tapi tidak ada satu pun foto pernikahan kita. Apa yang bisa kuperlihatkan padanya nanti?”
“Lagi sedih ya, Mbak?” tanya driver wanita itu tak bermaksud untuk ikut campur masalah penumpang yang tidak dikenalnya. Dia hanya sekadar basa-basi. Perempuan itu hanya merasa kasihan setelah mendengar isaknya yang tertahan.
“Iya, biasa. Masalah rumah tangga,” jawab Vita tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut.
“Tidak apa-apa menangis, Mbak. Menangis bukan berarti kita lemah. Tetapi menangis bisa membuat kita menjadi lebih lega.”
Vita menegakkan kepalanya dan mengangguk. Dia tersenyum malu karena kedapatan menangis seperti ini. Memalukan, batinnya menyalahi diri. “Kak, apakah terminal jauh dari sini?” tanya Vita kemudian.
“Rambutan terminal yang paling dekat dan lengkap,” jawab si driver. “Memangnya tujuan mana?”
“Ke Banjar Negara.”
“Pasti ada, biasanya Bus paling banyak itu sore. Sebab perjalanan malam itu lebih nyaman. Lebih adem. Lebih cepat karena jalanan cukup lengang.”
“Memang mau berangkat kapan?”
“Masih tanya-tanya saja, Kak.”
“Kalau mau, saya bisa mengantarkannya.” Si perempuan yang diperkirakan berusia sebaya dengannya tersebut menyerahkan kartu nama.
“Tapi saya tidak bisa memastikan kapan waktunya.”
“Tidak apa-apa, pegang saja dulu.”
“Baiklah, saya simpan ya, Kak.”
Perempuan itu mengangguk.
Karena kebaikan driver itulah yang membuat mereka menjadi lebih akrab. Mereka bercerita banyak hal di dalam mobil itu dan berlanjut saling berkenalan.
Namanya Dara. Dia seorang perantau yang berasal dari daerah perbatasan Jawa Timur. Dara menceritakan, dia terpaksa menjadi seorang driver karena sedang kesusahan mencari pekerjaan di kota ini. Selama dua bulan lebih lamaran yang dikirimkan ke beberapa PT tidak kunjung mendapatkan jawaban selain hanya membuang-buang waktunya saja.
“Yang kuliah saja cari kerjaan susah, apalagi yang cuma SMA sepertiku. Aku hanya mengambil jalur yang paling cepat asal halal. Tidak mungkin aku menunggu jawaban dari sejumlah perusahaan yang kukirim lamaran, karena bisa membuat waktuku terbuang lebih lama lagi. Sedangkan kebutuhan hidup harus terus berjalan.”
“Kamu benar,” kata Vita menanggapi.
“Sekarang kalau aku harus pindah, aku sudah terlanjur nyaman. Tidak ada paksaan. Tidak ada jam kerja yang menjerat. Tidak ada peraturan yang membebani. Boleh libur kapan saja semauku. Mau cari seperti yang apa lagi?”
“Tapi mobil yang kamu gunakan ini milik siapa Kak?”
__ADS_1
“Aku dipinjamkan dari kantor dan aku membayar sewanya per minggu,” jawab Dara. “Tidak usah memakai ‘Kak’ panggil saja aku Dara,” ujar Dara merasa keberatan dipanggil demikian.
“Kamu jadi driver memangnya sudah punya SIM?”
“Kalau tidak punya SIM, lantas bagaimana cara aku mendaftarkan diri, syantik?” ujar Dara tak habis pikir. “Pendaftarannya itu susah, harus lengkap melalui online. Itu pun satu bulan lebih aku baru mendapat kabar baik.”
“Orang tuamu tahu kamu kerja seperti ini?”
“Tahulah. Aku kerja seperti ini atas izin dari orang tua.”
“Kamu berani sekali hidup sendirian di sini, Dar.”
“Tadinya aku mengontrak sama temanku. Serumah dua orang. Jadi bisa menghemat bujet pengeluaran. Tapi dia sedang pulang sekarang. Katanya menikah tapi tidak balik-balik. Entahlah. Aku juga tidak tahu dan tidak mau tahu. Terserah.”
“Ini kompleksnya, Dar. Masuk sini,” tunjuk Vita pada saat mobil sudah mendekati gerbang kompleksnya.
“Oh, sini?” gumam Dara sambil membelokkan mobilnya ke arah tersebut.
“Iya, aku tinggal di sini,” Vita tersenyum kepada Dara.
Dia senang bisa berkenalan dengan gadis ini dan entah kenapa dia langsung merasa nyaman. Secara pengalaman, mungkin juga secara naluri, orang-orang seperti Vita dapat mengetahui dengan mudah dalam mengenali watak seseorang; baik yang berpura-pura atau yang tulus hatinya hanya dengan sekali pandang melalui roman wajah atau gerak-gerik, atau juga caranya berbicara.
“Senang berkenalan denganmu, Dar,” tambahnya kemudian.
Dara tersenyum menanggapi ucapannya. “Sampai ketemu lagi kalau umur kita panjang.”
“Aamiin, semoga umur kita panjang, jadi kita bisa ketemu lagi.” Vita melambaikan tangannya kepada Dara pada saat taksi online itu menjauh darinya.
Beberapa jam berlalu. Hari sudah hampir gelap pada saat Vita menyibak tirai jendela ruang tamu. Dia menunggu-nunggu wajah suaminya yang tak kunjung terlihat. Entah sudah sampai di mana dia berada. Padahal jam segini biasanya dia sudah sampai di rumah.
“Sudah hampir jam enam. Seharusnya kamu sudah pulang. Apa kamu mampir ke sana dulu, Mas?” gumamnya membayangkan satu wajah perempuan: Rahma.
Hingga pukul jam tujuh malam Vita menunggu, Yudha masih belum pulang juga. Lelah dan cemas menunggu membuat Vita akhirnya tak sabar untuk menghubungi suaminya.
“Kamu di mana?” tanya Vita pada saat telepon sudah tersambung. “Kenapa belum sampai juga semalam ini? Tolong jangan bikin cemas.”
“Aku ada di rumah sakit, Vit. Rahma sedang di opname. Keadaannya cukup parah jadi aku belum bisa pulang,” jawab Yudha dari seberang.
“Bukan alasan itu yang ingin aku dengar. Ada ponsel!” jawab Vita agak menyentak. “Apa karena hal seperti ini membuatmu melupakanku? Aku mencemaskanmu di rumah. Aku menunggumu dari tadi kamu tahu tidak!? Tolong peka sedikit jadi laki-laki!” Vita memutuskan panggilan usai berkata demikian. Dia juga melempar ponselnya lantaran terlalu emosi.
“Aakhhh!” Dalam keremangan lampu kamar Vita berteriak meluapkan kekesalan.
Malam itu Vita sama sekali tidak bisa memejamkan matanya hingga fajar menjelang.
Keesokan harinya, kepadaannya pun masih sama. Hatinya semakin rawan. Sendirian. Kesepian. Tidak ada teman. Dia juga tidak punya keberanian untuk mengadu kepada mertuanya. “Aku bukan anak-anak yang suka mengadu untuk mendapatkan sebuah dukungan.”
Dia membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas sedang. Keputusan untuk pergi sore ini juga sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Tidak ada alasan yang bisa membuatnya bertahan di sini.
Yudha terlalu menganggapnya sepele. Yudha seperti tak menganggapnya ada. Bahkan sampai sekarang, pria itu pun tidak datang menemuinya atau minimal menghubunginya kembali setelah percekcokan singkatnya semalam.
Apa dia tidak memikirkanku sama sekali?
Vita terpaksa memukul-mukul kepalanya sendiri lantaran tidak bisa memukul kepala suaminya yang bebal itu. Seraya memasukkan barang-barangnya, dia menangis terisak-isak.
...***...
T S B
__ADS_1