
Memang benar kata pepatah, ‘Berharap pada manusia adalah seni sederhana untuk menderita.’
Sekuat apa pun Vita bertahan, sekeras apa pun dia berjuang, jika bukan hanya dia yang Yudha mau, percuma saja—karena semua itu akan menjadi cacat dan luka. Penantian itu tidak akan sia-sia jika pria itu mempunyai rasa yang sama dengannya. Nyatanya, Rahma masih tetap menjadi yang paling utama.
Pun jika memang Yudha memilih dirinya, Vita tidak yakin kelak hubungan mereka akan baik-baik saja, karena yang pria itu pikirkan bukan hanya dia semata.
Salah mencintai orang yang belum bisa melupakan masa lalunya, kita hanya berperan sebagai badut, seperti itulah kiranya.
Vita berjalan cepat menuju ke arah pintu masuk, meski dia sendiri tidak tahu, jalan mana yang akan dituju. Namun karena jalannya menunduk, Vita tidak menyadari bahwa dirinya sampai menabrak orang. Cepat-cepat Vita mendongak untuk memastikan siapa orang tersebut.
Alif?
“Mau ke mana? Abang mana?” tanya orang itu datar. Ya, dia adalah Alif. Tetapi karena Vita tak menjawab dan terus berlari membuat Alif segera dapat menyadari bahwa Vita memang sedang berusaha melarikan diri. Takut terkena marah lagi, Alif berinisiatif untuk mengejarnya.
Terdengar telapak kaki yang mendekat membuat Vita berlari lebih cepat lagi daripada tadi. Namun tak berapa lama, Vita merasa pergelangan tangannya di cekal kencang. Langkah kakinya terlalu kecil sehingga ia tak dapat mengimbangi langkah panjang pria itu.
“Alif, lepas Lif!” Vita mengibaskan tangannya, namun tidak berhasil lepas lantaran cekalannya begitu kuat.
“Kamu boleh pergi, tapi selesaikan dulu masalahmu dengan Abangku. Jangan main kabur seperti ini. Kamu perempuan. Tidak baik pergi malam-malam sendirian.”
“Jangan ikut campuri urusanku. Lepaskan tanganmu, Lif. Lepas ...,” rintihnya dengan suara serak.
“Aku tahu ini berat untukmu. Maafkan Abang ya, Vit. Selesaikan dulu masalahmu, barulah kalian nanti ambil keputusan yang kiranya paling baik.”
“Hei, dengar!” kata Vita agak menyentak. “Aku tahu yang terbaik untuk diriku sendiri. Keputusan yang paling baik adalah aku pergi.”
“Masuklah, ke mobil!” titah Alif.
“Tidak. Jangan ikut campuri urusanku, Lif. Aku yakin kamulah penyebab dia menyusulku dan menggagalkan rencanaku. Iya kan?”
Tapi Alif tak terlalu peduli. Dia malah berkata, “Sepertinya aku harus memaksamu.” Alif menariknya lagi ke area parkir Terminal. Namun Vita memberontak dengan sekuat tenaganya.
“Kalian memang sama saja!” seru Vita. “Alif, jangan macam-macam denganku,” tegas Vita penuh dengan peringatan.
__ADS_1
“Aku tidak akan memakai cara ini sebelum kamu menyelesaikan kalian. Lagi pula malam-malam begini berbahaya untukmu bepergian. Aku hanya ingin melindungimu, itu saja.” Alif tetap mengeyel.
Keadaan ini tidak aman, pikir Vita. Dia sudah benar-benar muak dengan Yudha dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tetapi kenapa ada saja sandungan-sandungan seperti ini yang membuatnya sulit untuk pergi?
“Jangan paksa aku untuk bertemu dengannya lagi, Alif ....”
Alif diam saja.
Merasa keadaannya semakin terancam membuat Vita menjadi lebih waspada. Tidak ada jalan lain, terpaksa wanita itu mengambil cara kekerasan. Kedua bola mata itu mengincar bagian se langkangan pria itu kemudian langsung melayangkan tendangannya ke arah sana.
BUK!
“Maaf, Lif. Sudah kuperingatkan tadi, tapi salahmu tidak mau mendengar,” kata Vita sebelum wanita itu kembali melarikan diri. Dia benar-benar sudah bosan menjadi sopan.
Alif membungkuk dan mengerang kesakitan.
Menyeberang ke jalan raya, Vita berlari serampangan. Hingga tanpa dia sadari, ada seseorang yang menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Alif memekik lara dan sempat ditolong oleh beberapa orang yang kebetulan iba kepadanya. Namun bukannya menolong, mereka malah menyerapahinya pedas karena sempat dituduh akan memerkosa seorang wanita.
“Iya, jadi tidak kena tendang itunya!”
“Baik-baik kamu, ya.”
“Sialan, kalau tidak tahu masalahnya jangan asal menuduh, bodoh!” umpatnya memarahi kembali. Alif berjalan sedikit membungkuk untuk mencari Abangnya. Tidak sulit untuk menemukan pria itu karena dia masih berada di tempat yang tadi.
“Bang!” panggil Alif. “Abang!”
Sekali lagi Alif memanggil, “Bang, Vita pergi kenapa tidak kau kejar?”
Yudha tidak terlalu menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memanggil dan mendekatinya. Tubuhnya seakan tak sanggup lagi beranjak atau sekadar menoleh ketika dia mengetahui Vita pergi meninggalkannya begitu saja. Tulang-belulangnya seperti terlepas. Tidak ada yang mampu dia lihat selain langit gelap yang melingkupi kota.
Dalam hujan yang semakin deras, Yudha menemukan dirinya lunglai melangkah saat ditarik paksa oleh adiknya. Dia tidak lagi dapat membedakan, sadar ataukah dirinya pada saat itu. Namun ketika kesadarannya sudah mulai terkumpul, pria itu mendapati dirinya di atas ranjang rumah sakit dan ditunggui oleh beberapa anggota keluarganya.
__ADS_1
‘Kupikir akan lebih baik jika orang sepertiku mati saja,’ pikirnya demikian.
Umi, Abah dan juga Nely berada di sana sekarang. Mereka terus bertanya macam-macam kepada Alif sehingga membuat pria sedikit malas itu menjadi jengah.
“Sekarang ada di mana Vitanya?” tanya Umi Ros entah sudah yang ke berapa kali.
“Ya mana Alif tahu, Mi. Memangnya orang kabur bilang dulu, dia mau ke mana?” Alif menjawab.
“Tapi seharusnya kamu bisa mengejarnya. Dia hanya sendiri larut malam begini. Sedangkan kamu bilang sudah tidak ada Bus lagi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?” kata Umi lagi.
“Alif sudah berusaha mengejarnya, memberikannya pengertian. Tapi dia malah menendang telurku sampai luka.”
Nely ikut menyahuti ucapan besannya. “Sebenarnya ada masalah apa ini sebenarnya, Alif?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“Tanyakan saja menantumu. Apa pula urusanku mengetahui urusan mereka.”
“Alif!” tegas Abah Haikal menyorot tajam putra keduanya. “Sudah tidak punya sopan santun, kamu.”
“Maaf, Bah. Tapi lebih baik jangan mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah rumah tangga mereka. Aku tidak tahu menahu. Bukan pula urusanku menjawab pertanyaan ini,” jawab Alif tegas.
“Ya sudah kalau kamu tidak tahu, Alif. Jangan marah-marah. Ibu Nely bertanya padamu karena Abangmu tidak bisa diajak bicara sekarang. Mohon dimaklumi,” sahut Umi Ros lembut. “Coba kamu hubungi Vita, ya. Umi minta tolong kamu cari dia, Nak.”
Alif menghela napasnya kasar. Dia benar-benar tidak mood kali ini. Bagaimana mungkin dia mencari perempuan yang sudah menendang telurnya begitu keras?!
Tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa, Alif lantas mendekati Abangnya yang terbaring tanpa mau membuka suara sedikit pun. “Kau juga, Bang. Sudah kuperingatkan dari awal, kalau tidak mampu punya istri dua, jangan sok-sok’an. Kalau sudah begini, kamu merepotkan banyak orang jadinya, kau dengar!”
Wajah Nely mengerut masam. Dia pergi meninggalkan ruangan tanpa memohon diri.
“Bah, bagaimana ini, Bah ...,” ucap Umi begitu menyayangkan kejadian ini. Selama ini dia kurang begitu dekat dengan menantunya karena beda rumah, sehingga dia tidak pernah bisa mendengar keluh kesahnya.
“Bersabarlah, tetap di sini. Biar Abah ikut mencarinya,” kata Abah kemudian.
***
__ADS_1
To be continued.