
Duk!
Kepala Vita terantuk sandaran ranjang. Wanita itu masih terkantuk-kantuk padahal sinar mentari telah terang hingga sinarnya menyentuh cela-cela jendela.
“Mama masih mengantuk sekali, Dek. Tapi kamu sudah awas begini matanya,” ujarnya pada baby Ray yang saat ini sudah bergerak-gerak lincah.
Mempunyai bayi membuat jam tidurnya benar-benar kacau. Dia hanya bisa mengambil waktu tidur ketika Rayyan tidur, selebihnya—ia akan berjaga selama bayinya terjaga. Dia sudah mewanti-wanti hal ini sebelumnya, kurang tidur dan kurang istirahat yang berlangsung setiap hari, bukan tidak mungkin, lama-kelamaan dia bisa jadi lebih mudah stres. Atau lebih parahnya, mengalami baby blues.
“Semangat, Vita! Kamu harus yakin kamu bisa. Kamu bisa mengelola stres, kamu bukan wanita manja. Ini pilihanmu, jadi jangan mengeluh, jangan menyerah!” ujarnya menyemangati diri.
Namun beberapa menit kemudian, dia terlelap hingga tak menyadari, Dara membawa bayinya keluar. Dia sengaja tidak berisik agar Vita tetap dapat beristirahat dengan cukup. Memang dia sangat pengertian sekali!
“Hei, kamu ditinggal Emakmu tidur,” ucap Dara terkekeh. “Kita jemur saja barang kali nanti ketemu cowok cuakep.” Gadis itu keluar rumah. Di luar sana dia duduk santai menyambut matahari sambil memangku bayi.
“Aku tidak tahu kalau kamu sama Emakmu tidak ada. Pasti hidupku kesepian. Tolong bilang ke Emakmu, jangan pergi dulu sebelum aku punya pasangan.”
Dara mengamini ucapannya sendiri. Pagi itu di sana dia dikerubungi oleh ibu-ibu kontrakan lainnya yang sangat ingin melihat wajah bayi Vita yang baru saja launching.
“Ya Allah, cakepnya. Bisa saja Mbak Vita cari investor asing,” seorang Ibu-ibu menyeletuk.
“Ini bukan saham, Mpok. Tapi anak orang.”
“Kan gitu istilahnya. Kalau kamu sendiri kapan?”
“Nanti tunggu keajaiban.”
“Lah Ibunya ke mana memangnya, Dar?”
“Tidak usah dicari-cari, lagi istirahat. Kasihan dia.”
“Memangnya suaminya ke mana, sih?”
“Kepo saja si Ibu ini heww!”
Tatkala mereka sedang bercakap-cakap, kedua bola mata Dara tak sengaja menangkap pemandangan mematahkan hati. Bibirnya tiba-tiba langsung mengatup rapat. Dia melihat mobil Alif berhenti di dekat sini. Untuk apalagi kalau bukan untuk menjemput kekasihnya yang tinggal di sebelah.
“Kumenangiiiiisss.... membayangkan ....”
__ADS_1
***
“Tunggu sebentar ya, Pak. Akan saya panggilkan,” ucap sipir atau petugas lapas yang sedang berjaga.
Yudha baru tiba di sini beberapa menit yang lalu. Kantor terlihat sepi saat ini, mungkin karena ini hari-hari biasa, bukan hari libur.
“Kak ... akhirnya kamu datang juga,” ucap Rahma begitu wanita itu dikeluarkan dari selnya. Wanita langsung berhambur mendekapnya tanpa peduli banyak orang yang sedang tak sengaja mengawasi. Namun Yudha tetaplah Yudha. Dia bukanlah pria yang tega menolak atau memperlakukan wanita lebih buruk.
“Aku bersyukur kamu sudah sembuh,” katanya setelah merenggangkan pelukan. “Maafkan aku, Kak. Aku tidak sengaja melakukan ini. Aku harap Kakak mengerti kenapa aku berniat melakukannya. Aku sedang sangat hancur sekali waktu itu. Aku mencintaimu, tidak mungkin aku melukaimu ....” tatapannya begitu memohon. Matanya mengembun. Wajah cantiknya terlihat begitu kuyu dan pucat tanpa riasan.
“Duduklah!” kata Yudha mempersilakannya. Mereka duduk dengan posisi berhadapan. Meja besar terbentang memberi mereka jarak.
“Jangan ceraikan aku,” katanya sebelum Yudha benar-benar mengucapkan kata terlarang itu.
Tiba-tiba segenap keyakinan yang sudah ia bentuk matang menggumpal menjadi lebur seketika. Dapatkah ia bercerai dari wanita ini?
Rahma tidak sepenuhnya bersalah. Dia juga tak sepenuhnya buruk. Memang ada dorongan kuat dari Ibunya yang mempunyai niat lain. Namun dia hanyalah seorang wanita yang ingin mempertahankan orang yang dia cintai. Pun telah panjang waktu yang dia gunakan untuk menunggunya selama ini.
Bila dipikir-pikir, semua permasalahan ini terletak pada dirinya yang tidak mempunyai keberesan urat kepala.
Jika dia tak mengedepankan naf su, ia bisa jamin cerita hidupnya tidak akan berakhir demikian. Kenyataan ini menghempaskan dirinya ke dalam jurang paling dalam. Ya, semua ini berawal dari dirinya yang terlalu pandai bergaya. Dia pikir menjadi suami dari dua orang perempuan itu mudah?
“Kak, bantu aku keluar dari sini.” Kali ini permohonan itu sudah disertai lelehan air mata.
‘Aku memang selalu lemah dengan air itu,’ batinnya tak karu-karuan.
“Aku akan membantu mengeluarkanmu, mencabut laporan ini,” jawab Yudha kemudian.
“Benarkah?” tanya Rahma memastikan. Wajahnya begitu ceria mendambakan. “Berarti Kakak, mau memaafkanku?”
Tak berapa lama Yudha pun mengangguk. Tetapi kemudian pria itu kembali menghempaskannya lagi, “Tapi kita pisah....”
DEG ....
Air mata itu jatuh meluncur walau tanpa kejapan.
“Ke-kenapa?” tanya Rahma amat kecewa. “Aku tidak selingkuh, aku tidak pernah berkhianat. Kesalahan besar apa yang aku perbuat sehingga kamu mau membuangku begini?” wanita itu tergugu dan terlihat lemas sekali. Napasnya sesak dan cara bicaranya tersendat-sendat. “Mungkin bila aku banyak kesalahan, itu karena aku ingin mempertahankanmu dalam hidup aku, Kak.”
__ADS_1
Yudha menelan ludahnya dengan susah payah. “Aku sudah mencobanya untuk memiliki kalian berdua. Tapi nyatanya aku tidak mampu dan kamu sudah melihatnya sendiri selama ini.”
“Aku sudah kehilangan bayiku, tapi apa aku harus kehilangan kamu juga?” Siapa pun di sana, pasti bisa melihat betapa hancurnya wanita itu.
“Maafkan saya Rahma....”
“Saya?” ulang Rahma bermaksud mempertanyakan kata saya itu. “Memangnya aku orang lain, kamu ganti kata aku jadi saya?”
“....”
“Secepat itukah kamu berubah?” Rahma mengusap pipinya yang basah.
“Lebih baik aku patahkan kamu sekarang, daripada nanti-nanti. Masa depanmu masih sangat panjang. Kamu berhak bahagia dengan orang lain.”
Rahma langsung menyela segera. “Kenapa tidak dari dulu saja kamu bersikap seperti ini? Kenapa baru sekarang?”
“Kalianlah yang mendesakku. Jangan membolak-balikkan keadaan seolah sayalah yang paling bersalah. Ibumu dan kamu sendiri ikut andil dalam menyakiti hatimu sendiri,” ujar Yudha dengan penuh penekanan. Sadar nadanya terlampau tinggi, dia segera menurunkan intonasinya, “Maaf ... tapi saya tidak bisa mempertahankanmu lebih lama lagi. Kamu saya lepaskan supaya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari saya. Raihlah kebahagiaanmu di luar sana. Pasti masih banyak laki-laki yang bisa memilikimu seorang.”
“Kalau begitu ... jangan cabut kasus laporan ini, Kak,” ucap Rahma dengan tenggorokan tercekat. “Biarkan saya di sini sampai hukuman itu selesai. Saya lebih nyaman hancur di tempat ini daripada hancur di dunia luar.”
“Tidak, saya akan tetap membantumu untuk lepas dari tempat ini, Rah.”
Rahma sontak berdiri, “Tidak ... aku mau di sini saja.”
Yudha tidak mengerti betapa bodoh dan bengkoknya perempuan ini dengan segala pemikirannya.
“Rahma—”
“Urus segera perceraian kita, biar bisa secepatnya aku tanda tangani.” Menghapus air matanya dan menegakkan kepalanya lagi. “Tapi bolehkah aku meminta—agar aku juga mendapatkan porsi yang sama-sama adil?”
Yudha mengerutkan dahinya, “Apa yang hendak kamu minta?”
“Kalau kamu melepaskanku, kamu harus melepaskan Vita juga.”
Seketika pria itu bungkam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
__ADS_1
To be continued.