TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Betapa Bodohnya Dia


__ADS_3

“Jangan lupa potongin bawang merah ya, Bi. Buat bawang goreng,” titah Umi Ros kepada asisten rumah tangganya.


“Baik, Bu.”


Kedua orang tua itu sedang berkutat di dapur untuk membuat makan siang. Menu hari itu adalah sup daging. Sudah hampir matang dan wanginya pun sudah menyebar ke seluruh ruangan. Menggugah selera bagi siapa saja yang mengendus aromanya.


“Paling tidak kuat kalau potong ini,” gumam Bi Retno sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedang bibirnya tertawa karena merasa lucu.


“Apalagi saya. Makanya saya suruh Bibi saja,” kata Umi Ros ikut-ikutan tertawa.


“Masak apa itu?” muncul suara tak jauh dari mereka.


Seperti terpancing, satu korban harum aroma enak itu mendekat. Alif namanya. Ini hari minggu, jadi anak itu sedang menghabiskan waktunya di rumah.


“Masak sup daging. Kamu mau?” jawab Umi Ros sekaligus bertanya. “Tapi menunggu bawang gorengnya dulu.”


Alif mendekat, meraih gagang centong besar untuk ikut-ikutan mengaduk kuah sup itu dengan asal-asalan.


“Jangan keras-keras mengaduknya, nanti air panasnya menciprat ke mana-mana!” kali ini Umi Ros memakai urat. Paling sebal jika ada orang yang ikut-ikutan merusuh di dapur.


“Jangan marah, Umi cantik, nanti cantiknya hilang,” Alif mulai menggombal.


“Tukang membual ini pasti ceweknya banyak,” tebak Umi Ros.


Alif memilih untuk diam dan bergumam dalam hati, 'Kayaknya sudah ketahuan.'


“Kamu pikir Umi tidak memperhatikanmu. Kamu belakangan ini sering keluar entah ke mana tujuannya. Kamu sudah punya pacar kan? Tapi tidak mau bilang-bilang sama Umi.” Umi Ros menggerakkan jari telunjuknya tepat di wajah putranya. "Hati-hati loh, kamu pacaran."


“Iya ... tahu, aku tahu batasannya, Umi.”


“Mau nikah, ya nikah. Tapi jangan diam-diam. Bilang ke Umi sama Abah dulu,” kata Umi lagi. “Berarti benar ya, kamu sudah pacaran. Sama orang mana? Anak siapa?”


“Anak oranglah. Masa anak itik.”


“Ini anak kalau jawab tidak pernah mau serius!” gemas Umi Ros menabok pantatnya dengan gayung.


Tak kunjung mendapat jawaban, Umi Ros mengerjakan pekerjaan lain.


“Kalau ke Alif posesif, kalau ke Abang dibiarkan,” gurutu Alif setelah Umi Ros meninggalkannya untuk menaruh peralatan makan ke meja.


“Bi, ini sudah boleh diambil?” tanya Alif kepada bibi yang sudah mulai menyalakan kompor.


“Boleh, Mas Alif. Kan tinggal menunggu ini saja,” tunjuknya pada bawang merah yang di iris-iris.


Beberapa menit kemudian Alif ke meja makan untuk menyantap sup dagingnya. Dia duduk sendiri tanpa peduli orang lain atau keinginan untuk menunggu mereka.


Baru beberapa menit duduk di sana, tercium aroma lembut wangi parfum dari seseorang, yang tak lain adalah, Rahma. Wanita berperut buncit itu turun dengan memakai pakaian rapi.

__ADS_1


“Mau ke mana kamu, Rah?” tanya Alif begitu mendapatinya.


“Aku mau keluar.”


“Keluar ke mana? Jangan keluar-keluar sendiri. Nanti Ibumu marah lagi sama keluarga kita, dikira dibiarkan,” ujar Alif masa bodoh dengan perasaannya.


“Aku sama Ibu kok.”


“Ya sudah, hati-hati ya.”


“Iya, Lif,” balas Rahma tetap ramah.


Umi Ros mendekat setelah wanita itu pergi. “Mau ke mana dia?” tanyanya agak berbisik.


“Pergi sama Ibunya,” Alif menjawab.


"Oh ...." Umi menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah Alif.


Alif mengernyit. "Ada masalahkah?"


“Dari kemarin pergi terus. Umi repot di toko Abah. Ingin minta tolong sama Rahma supaya bantu sedikit mengurus rumah, tapi tidak enak sama ibunya.”


Alif menjawab sekenanya, “Kalau mau cari aman, Umi sewa pembantu lagi saja.”


“Lebih diperhalus lagi bahasanya, Nak. Jangan bilang pembantu tapi asisten rumah tangga. Pembantu apa pembantu? Memangnya di sini istana kerajaan.”


Alif menggeleng. “Belum.”


“Kamu hubungi dia lagi, ya. Cek terus siapa tahu dia sudah pulang ke sana.”


“Ya, nanti Alif hubungi dia,” jawab Alif tanpa berniat mengucapkan hal lain lagi. Dia sudah berjanji untuk tidak membicarakan keberadaan Vita saat ini. Yang jelas, hanya dirinya yang tahu dan akan ikut serta menjadi orang pertama yang nanti Vita butuhkan.


Sementara di tempat lain, Rahma sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia merasakan perutnya mulas dari semalam.


“Semalam kamu makan apa?” tanya Nely menyelidik.


“Tidak makan apa pun, Bu. Tapi ini sakit sekali,” jawab Rahma.


“Kamu kecapean atau tidak di sana? Atau Umi Ros menyuruhmu untu bekerja keras?”


Rahma menggeleng, “Sama sekali tidak, Bu. Umi Ros itu baik sekali, tidak pernah menyuruhku untuk melakukan apa-apa di sana.”


“Jangan bohong kamu, Ibu telepon Umi Ros nih sekarang.”


Rahma menggeleng, “Ibu ... sudah! Keluarga kita baru saja membaik, tolong jangan bikin keributan lagi.”


“Mereka harus tahu, nanti kalau ada apa-apa sama cucunya bagaimana?” Nely tetap kekeh untuk menghubunginya.

__ADS_1


“Tapi Ibu jangan menyalah-nyalahkan mereka. Ini sama sekali bukan salah mereka.”


Namun Ibunya itu tak peduli.


“Jeng, ini gimana sih. Menantu sakit perut kok kamu biarkan saja. Untung dia telepon saya tadi dan langsung saya jemput. Kalau tidak, entah bagaimanalah anak ini,” kata Nely begitu telepon tersambung kepada Umi Ros.


“Loh, kok Ibu menyalahkan saya. Rahma sendiri kenapa tidak bilang?” Umi Ros balik bertanya. "Kalau dia butuh ke rumah sakit, pasti akan kami antarkan. Banyak orang kok di rumah. Alif juga ada."


“Nah, itulah yang jadi pertanyaan. Kenapa sampai sakit begini kok Jeng Ros tidak tahu.”


“Saya bukan malaikat yang bisa tahu isi hati seseorang, Bu. Lagi pula dia lebih suka di kamarnya, jadi siapa pula yang bisa tahu kalau dia kenapa-kenapa.”


“Memangnya Jeng Ros tidak pernah mengeceknya? Sesekalilah Jeng Ros itu ke atas, melihat keadaan menantu Jeng Ros itu bagaimana. Jangan karena Yudha sedang tidak ada, kalian jadi lupa.”


“Astaghfirullah ....” terdengar helaan napas kasar dari seberang. Tak lama kemudian panggilan ditutup dengan sangat tidak menyenangkan.


“Kok malah dimatikan begini. Kebiasaan!” gerutu Nely, lantas menepuk jok kemudi. “Bisa nyetir atau tidak? Lama sekalilah kamu. Ini anak saya sudah kesakitan begini.”


“Iya ini sudah cepat kok, Bu. Saya tidak bisa membawa kendaraan lebih cepat lagi dari rata-rata seharusnya. Nanti saya bisa kena suspend,” jawab driver laki-laki itu dengan sabar.


Nely berkata dengan angkuh. “Lebih baik kamu yang kena suspend daripada anak saya yang kenapa-kenapa.”


“Saya mengendarai mobil dengan sangat hati-hati karena sedang menjaga nyawa kalian juga, Bu. Sabar sebentar, ya.”


Melihat putrinya yang sedang meringis membuat Nely ketar-ketir. Tak lama kemudian, dia melihat seduatu di kain yang Rahma kenakan.


“Ya Allah, kamu keluar darah Rahma!” pekik Nely panik. Suasana di mobil mendadak menjadi panas dingin. “Kenapa bisa begini?”


“Sakit ... Bu,” ucap Rahma setengah merintih. Dia juga sudah menangis-nangis sakit sekaligus takut terjadi apa-apa dengannya dan juga anaknya.


“Ayo jujur, sebenarnya kamu ini kenapa, apa kamu jatuh?” tanya Nely menuntut. "Jawab!"


Tak lama kemudian, kepala Rahma mengangguk pelan.


“Jatuh di mana? Kapan?” Nely semakin berang.


“Jatuh di dapur semalam, waktu mau seduh minum,” jawab Rahma dengan suara lirih.


Mata Nely melebar mendengar hal sedemikian mengerikan. “ASTAGA! Kamu sakit dari semalam dan kamu diam saja?”


Rahma langsung menjawab, “Rahma takut ... tolong jangan marahin Rahma. Jangan bikin Rahma tambah stres, plis.”


Nely sontak menyerapah. “Ya Allah, betapa bodohnya aku punya anak.”


***


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2