TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Tolong Nikahi Istri Saya


__ADS_3

19.


Untuk kedua kalinya Rio menginjakkan kaki ke rumah Yudha, setelah dua tahun lalu kedua orang itu sempat bersilaturahmi, membicarakan masalah seputar pekerjaan.


Pada saat itu, Yudha pernah menggunakan jasanya untuk membangun sebuah rumah sewa yang terletak di pinggiran kota.


Berprofesi sebagai jasa kontraktor, membuatnya memiliki jaringan yang lumayan luas. Dan ia sama sekali tak menyangka bahwa Yudha adalah salah satu kliennya. Berdasarkan pengakuan dari pria tersebut, Yudha mengetahui nomor kontak pribadinya dari teman ke teman.


Dua orang pria yang pernah mencintai wanita yang sama. Pertemuan mereka benar-benar menyebalkan sekaligus menyenangkan.


Sebelumnya Rio pikir, Yudha adalah bayangan seorang pria paling buruk. Betapa teganya dia menyia-nyiakan seorang perempuan yang lemah seperti Rahma.


Namun ternyata dugaannya salah, setelah dikaji-kaji lebih jauh, salah satu faktor utama mereka berpisah adalah karena kebebalan otak mertuanya yang terlalu memaksakan kehendak. Almarhumah Ibu Nely lah yang memaksanya, menyodor-nyodorkan putrinya untuk dinikahi karena sebuah alasan yang sebenarnya cukup ganjil terdengar ditelinganya. Padahal jelas-jelas mereka tahu bahwa Yudha sudah beristri.


“Siapa, Mbak?” tanya Vita ketika Ratih mengabarkan kepadanya bahwa ada tamu yang datang.


“Namanya Pak Rio Permadi, mau bertemu sama Pak Yudha katanya,” jawab perempuan berusia tak jauh darinya tersebut. 


“Tapi papanya anak-anak kan, belum pulang.”


“Sebaiknya Ibu temui dulu saja. Saya juga sudah bilang seperti itu tadi, tapi beliau tetap kekeh menunggu.”


“Ya, sudah. Aku titip anak-anak sebentar, ya.”


Ratih mengiyakan. Perempuan itu duduk bergabung bersama ketiga anak gembul yang sedang bermain sambil belajar mencoret-coret papan tulis.


Sementara itu, Vita berjalan ke ruang tamu untuk menemui Rio. Jarak yang cukup jauh antara tempat sebelumnya ke ruang tamu membuat napasnya menjadi pendek dan terlihat kepayahan.


“Selamat sore, Bu ...” sapa Rio begitu melihat Vita menghampirinya.


“Selamat sore juga, Pak Rio ...” balas Vita mengatupkan tangannya. Lalu duduk di depannya bersiap mendengarkan Rio yang hendak menyampaikan kepentingan.


‘Kasihan sekali orang ini... wajahnya pucat, kurus kering dan terlihat sangat memprihatinkan. Apa sakitnya sudah sedemikian parah?’ batinnya merasa begitu iba. ‘Kenapa dia dibiarkan datang sendiri ke sini? Tidak biasanya juga Rio kekeh sekali ingin bertemu sama Mas Yudha.’


Meski Vita tahu mereka berteman, tapi dia pikir mereka tidak pernah dekat. Ah, Vita mendadak membayangkan berbagai macam kemungkinan.


“Maaf sebelumnya karena saya mengganggu waktu Anda. Tapi izinkan saya bertemu dengan pak Yudha. Saya ada sedikit kepentingan dengan beliau.”


Vita mengangguk, “Tapi beliau belum pulang, apa Pak Rio mau menunggu?”


“Tidak apa-apa, biar saya menunggu di sini,” ujarnya tetap bersikeras. “Biasanya jam berapa beliau pulang, Bu Vita?” dia bertanya dengan suara lirih dan lemah.


Vita melihat jam dinding. “Biasanya jam segini beliau sudah sampai rumah, tapi mungkin terjebak macet, jadi agak telat. Biasalah, bukan Jakarta namanya kalau tidak macet,” ujarnya ditanggapi oleh Rio dengan anggukkan kepala.


Detik berikutnya, Vita beranjak dari tempat duduk, berniat untuk mengambil ponsel, “Sebentar, ya. Saya coba hubungi beliau sudah sampai di mana.”


“Silakan, Bu,” jawab Rio ramah.


Sebenarnya, Vita ingin sekali bertanya lebih banyak  untuk apa dia datang dan bersama siapa dia bisa sampai di tempat ini—tetapi setelah dipikir-pikir, kurang santun rasanya menanyakan hal demikian. Padahal sudah dijelaskan bahwa Rio hanya berkepentingan dengan suaminya saja.

__ADS_1


‘Apa kabar dengan rumah tangga mereka? Apa orang ini tahu bahwa istrinya, Rahma ....’ dalam pikiran Vita terlintas bayangan Rahma di Hotel kemarin bersama dengan seorang lelaki yang dia ketahui adalah rekan dari suaminya sendiri.


‘Kabar terakhir kali yang aku dengar, waktu itu Rio dirawat satu rumah sakit yang sama denganku, saat aku mengalami pendarahan. Tapi bukannya mereka masih suami istri? Terus kenapa Rahma sudah jalan dengan sembarang lelaki?’


Vita sempat berpikir, apa niat Rahma kemarin saat mengetuk pintunya karena hendak meminta tolong? Ya, seperti itukah?


Vita mengambil ponsel dari tempat sebelumnya ia duduk.


“Ya Allah, Bu... kalau mau ambil apa-apa tinggal panggil saya saja, jadi Ibu tidak perlu bolak-balik. Ngeri saya lihatnya,” dumel Ratih melihat majikannya wara-wiri ke belakang.


“Sudah tidak apa-apa, Mbak. Lagian saya juga mau telepon di sini.”


Vita mencari kontak ponsel Yudha dan memintanya agar segera pulang karena ada seorang tamu yang menunggunya di rumah.


“Iya sebentar lagi, Sayang...” jawab Yudha dari seberang. “Ini sudah sampai di tikungan dekat gapura kompleks. Ada siapa?”


“Suaminya Rahma.”


“Ada apa gerangan?”


“Makanya cepat sampai. Soalnya dia cuma mau bicara sama kamu.” Vita menutup panggilan, dia menyuruh Mbak Ratih membawakan minum untuk tamunya. Hingga lima menit kemudian terdengar bunyi klakson mobil suaminya berhenti di depan rumah.


“Alhamdulillah... sampai,” Yudha bergumam ketika mobil berhenti. Pria itu turun sembari meringis dan mengibas-ngibaskan pantatnya yang terasa pegal karena sudah terlalu lama duduk. Dan itu tak luput dari pengawasan istrinya yang tengah menyambutnya di depan rumah.


“Nyeri pantatku, Moy. Dua jam mandek di Soedirman.” Pria itu mengeluhkan macetnya jalanan di pusat kota.


“Tangsel.”


“Jauh amat.”


“Iya, lumayan.” Yudha mengulurkan tangannya yang diterima oleh sang istri, lalu keduanya masuk ke dalam rumah. “Assalamualaikum....”


“Waalaikumsalam,” jawab Rio ketika Yudha masuk dan langsung menemuinya.


“Waalaikumsalam, Pak....” Yudha duduk di depan pria itu dan mempersilakan istrinya untuk masuk. Namun baru saja Vita masuk ke dalam ruang tengah, wanita itu langsung mengirim pesan.


Vita: okay, aku masuk. Tapi jangan main rahasia-rahasiaan, nanti ya. Awas, lho. Aku kurang suka.


Yudha: Y.


“Ya ampun, singkat amat balasnya.”


Wajar jika wanita itu khawatir, sebab ia tahu persis, suaminya adalah orang yang tidak tegaan dan gampang tersentuh. Dia khawatir Yudha bakal berbuat aneh-aneh jika dihadapkan dengan pilihan yang mendesak.


“Begini, Pak...” ujar Rio setelah mereka sedikit berbasa-basi.


“Iya, langsung saja.” Yudha mempersilakan.


“Sebelumnya saya minta maaf, padahal mungkin masih banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Tapi... entah kenapa kaki saya mengantarkannya ke tempat ini,” ujar Rio menjeda sesaat, “mengingat kondisi saya sekarang ini yang sedang sakit, jadi saya sedang sangat membutuhkan bantuan.”

__ADS_1


“Bantuan berupa ...?”


Rio mendongakkan wajahnya menatap lelaki di depannya setelah ia menghela napas. “Saat ini, saya sedang sakit parah ... sehingga saya tidak bisa melakukan tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang ayah dan suami dengan baik.”


Yudha terdiam, sebab menyimak dan menanti Rio kembali melanjutkan bicaranya.


“Oleh karena itu, saya ingin meninggalkan sebuah wasiat. Andai saya meninggal nanti, sudikah kiranya Pak Yudha menikahi Rahma lagi dan menyayangi anak-anak saya?”


Deg!


Kedua bola mata Yudha sontak melebar. Begitu juga dengan Vita yang mendengar dari dalam sana sampai perutnya mendadak terasa mengencang atau kontraksi ringan. Wanita itu hendak berlari menghampiri, namun dicegah oleh Umi Ros untuk tetap tenang di sana dan mendengarkannya sampai selesai.


“Sabar, Nak... Umi tahu perasaanmu, tapi menyela juga tidak baik. Istighfar... tarik napas panjang dan keluarkan perlahan biar lebih tenang.”


Kembali kepada mereka yang berada di depan.


“Saya tahu Bapak adalah orang baik. Perceraian kalian dulu juga bukan semata-mata karena Rahma, tapi karena ibu mertua. Tapi bukankah beliau sekarang sudah tidak ada? Jadi tidak ada yang mampu menghalangi kalian lagi....”


Yudha tersenyum dia paham pasti pria ini sedang tertekan dengan kondisinya dan merasa mengecil, “Jangan mendahului takdir Allah, Pak Rio. Saya yakin Anda pasti akan sembuh. Mungkin, Bapak berbicara seperti ini karena Bapak sangat menyayangi mereka. Tapi bukan seperti ini caranya, Pak. Jika Bapak memang sayang sama mereka, seharusnya Bapak berjuang lebih keras lagi untuk sembuh.”


“Rasanya itu tidak mungkin,” jawab Rio serupa orang yang hampir putus asa. Dia sudah terlalu merepotkan banyak orang. Dari mana lagi dia bisa mendapatkan biaya untuk kesembuhannya?


Meminta Rahma menjual rumahnya?


Lalu di mana istri dan anak-anaknya nanti akan tinggal?


“Kenapa tidak mungkin?” tanya Yudha menatap wajah lelaki di depannya dengan sangat iba.


Rio tak menjawab, lelaki itu justru mengalihkan soal, “Tolong pertimbangkan permintaan saya tadi, Pak. Hanya Pak Yudha saja bisa saya percaya, bahwa mereka akan dijaga dengan baik. Saya takut Rahma jatuh ke pelukan orang yang salah. Kasihan, dia sebenarnya wanita yang baik juga, hanya saja, dia masih butuh di bimbing.”


Yudha tersenyum. “Maaf sebelumnya, Pak Rio. Saya sudah pernah menyakiti istri dan anak pertama saya. Jadi saya tidak mungkin mengulanginya. Terlebih sekarang, kelak bukan hanya anak pertama saja yang saya sakiti jika saya menikah lagi—tapi ada anak kedua, ketiga, dan ke empat. Jadi permintaan ini saya tolak dengan tegas,” jawabnya membuat raut wajah yang menatap penuh harap itu menjadi kecewa.


“Kalau Anda memang minta bantuan kepada saya, saya akan bantu... tapi bukan untuk menikahi istri Bapak. Melainkan untuk membantu membiayai pengobatan Bapak,” Yudha mencoba memberikan pilihan lain, “bagaimana kalau demikian?”


****


Bersambung.


Biasanya libur, ini khusus buat kalian yang kangen sama aku 🤣


btw kangen gak sih?


Readers: Gak Thor, kamu kejam. Rahma disiksa mulu.


Othorrr: Sabar-sabar, nanti aku kasih bahagia juga kok 🥰😘


Jangan lupa votenya disimpan buat besok.


likenyajanganlupa juga👍

__ADS_1


__ADS_2