
“Jadi, kapan kamu mau kenalkan aku ke orang tuamu, Al?” tanya Andari entah yang sudah ke berapa kalinya.
“Hem.” Alif hanya berdeham tanpa mau memalingkan wajahnya sedikit pun. Keduanya kini sedang berada di dalam mobil karena Alif tengah mengantarkan Andari ke kampusnya.
“Selalu seperti itu tanggapannya.” Muka Andari sudah mulai berubah.
“Kalau kamu mau bertemu dengan Umi sama Abahku, kamu harus berubah penampilan,” kata Alif akhirnya.
Andari langsung berdecak sebal.
“Pakai ini,” jawab Alif menunjuk kepalanya. Bermaksud untuk menyarankannya memakai kerudung.
“Aku belum bisa melakukan itu.”
“Ya sudah kalau kamu belum bisa. Sampai kapan pun ya, kita tidak akan mungkin bersama.”
“Alif!” seru Andari. “Kenapa kamu bicara sembarangan? I love you, and you love me. Kamu bilang seperti ini seolah dirimu sudah sangat baik.”
“Seburuk-buruknya seorang pria, dia akan tetap mencari wanita yang baik untuk anaknya kelak,” jawab Alif kemudian.
“Hanya karena aku tidak memakai itu saja kamu bilang aku tidak baik. Apa isi pikiranmu itu. Its ok, aku akan melakukannya. Tapi tidak untuk sekarang.”
“Dengar, An ... kalau mau jadi istriku, silakan menyesuaikan diri. Kamu tahu kan, siapa Abahku? Aku tidak mau Abahku jadi bahan pergunjingan orang. Berhenti keluar malam dan perbaiki penampilanmu.”
“Kita putus!” cetus Andari.
Namun saat perempuan itu mengatakan demikian, Alif malah merayakan kemenangannya. “Yes! Yuhuuuuu!” serunya sangat senang.
Tidak peduli perempuan di sebelahnya memaki-makinya habis. Andari langsung minta diturunkan saat itu juga dan Alif gegas pergi meninggalkannya. Lepas sudah beban berat yang ditanggungnya selama ini karena keposesifan Andari. Benar-benar melegakan.
Siang itu, Alif langsung menuju ke salon pria. Dia langsung mengubah penampilan agar terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Dia memang sengaja membuat penampilannya seburuk mungkin karena ingin Andari semakin ilfeel, membencinya dan memutuskannya. Tapi sayang, upayanya kurang berhasil—karena kenyataannya, gadis itu malah justru semakin cinta buta, lengket dan posesif.
Kini dia sudah putus, tinggal bagaimana dia mencari pasangan yang baru.
Dengan penampilannya yang baru, mungkin tidak akan sulit untuk mendapatkannya. Namun, siapa kira-kira gadis yang bisa dia nikahi dan dia ajak susah bersama?
Terus terang, Alif sedikit tertarik dengan Dara dengan segala kemandiriannya. Tapi sayang, wanita itu tidak berpendidikan minimal kuliah D3 atau S1. Dia ingin mempunyai istri yang cerdas, berpendidikan tinggi, atau sepadan dengannya. Karena istri yang demikian, akan menghasilkan anak yang cerdas pula.
Andari; wanita yang awalnya dikenalkan oleh temannya itu memang memiliki kriteria yang dia cari selama ini. Namun dia mempunyai sifat yang benar-benar ... oh, menyebalkan sekali. Alif adalah penyuka kebebasan. Dia tidak suka dikekang apalagi oleh karena perempuan.
Sorenya, saat dia pulang ke rumah, Umi Ros dan Abah langsung pangling.
“Aduh, aduh. Ini ada orang bule dari mana, Bah?” Umi bertanya-tanya pada saat keduanya itu mendapatinya demikian.
“Nah, kalau begini baru kelihatan anak orang.” Abah mengangkat satu jempol tangannya.
Namun bukannya merespons, Alif justru mengucapkan hal lain. “Alif ingin nikah.”
__ADS_1
“Ingin nikah?” tanya Umi Ros mengulang. “Sama siapa?”
“Tahu.” Alif mengedikkan bahunya sehingga Umi dan Abah saling senggol.
“Putramu, ini kenapa, Abah? Pulang-pulang langsung minta nikah.”
Abah Haikal memaklumi. Sebab putranya yang satu ini sudah menginjak umur 27 tahun. Umur yang sangat matang untuk menikah dan mungkin saja, keinginan untuk ‘itu’ jelas pasti ada, seperti masa-masa remajanya dulu.
Beliau sangat mengerti keadaan ini dan tidak ingin putranya malah berbuat dosa. Tak lama berselang, beliau kemudian bertanya. “Sudah ada calonnya?”
“Katanya Abah punya kenalan kemarin bilang,” Alif menjawab.
“Mau Abah kenalkan ke putri beliau?”
Alif mengangguk.
“Ya sudah, besok kita atur jadwal ketemu. Perkenalan saja dulu. Kalau nanti tidak cocok, ya jangan diteruskan.”
“Siapa namanya, Abah?” tanya Alif.
“Nanti kamu kenalan sendiri saja,” jawab Abah tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut. Sepasang suami istri tersebut meninggalkan putranya dan saling berbisik.
“Yang satu seperti ini, yang satu lagi seperti itu. Abah ini punya anak unik-unik,” kata Umi Ros sambil cekikikan. Pria dan wanita yang sudah menikah hampir tiga puluh tahun itu masih selalu terlihat mesra dan kompak.
“Oh iya. Kabar cucu kita bagaimana Umi?”
“Mana lihat?” pinta Abah meminta istrinya menunjukkannya. Beliau sangat senang sekali melihat potret tersebut. Rayyan sudah lebih besar dari yang terakhir kali beliau lihat. “Kapan Yudha bisa bawa dia ke sini?”
“Lagi usaha, Abah. Makanya di bantu, biar cepat bisa boyong mereka.”
“Bilang sama Yudha, tinggal di sini saja sama istri dan anaknya. Tidak usah beli-beli rumah baru. Kita sudah tua, tidak ingin terlalu jauh dari anak dan cucu.”
Abah yakin, jika istrinya yang mengatakan, mereka akan lebih mudah luluh.
“Nanti kita bicarakan sama-sama. Tapi uangnya sudah Abah kasih? Kemarin Umi dengar Yudha minta dibantu.”
“Belum. Yudha memang sudah menemukan tempatnya. Tapi belum sepenuhnya deal. Nunggu keputusan istrinya dulu, cocok atau tidak.”
“Oh ....”
“Mereka berdua masih ada di sana?”
“Iya, Bah. Sekalian Yudha ingin liburan katanya. Sudah lama tidak pernah pergi-pergi lagi semenjak menikah.”
“Enak memangnya tempatnya di sana?”
“Katanya sih begitu.”
__ADS_1
“Kapan-kapan kita ke sana ya, Mi.”
“Yang penting kuat perjalanan jauh, itu saja kalau saran dari Umi.”
“Masih kuat ....”
***
Sementara di tempat lain....
Sudah beberapa hari ini Rahma tinggal di rumah. Dia juga sudah memasukkan beberapa lamaran ke perusahaan-perusahaan yang diinginkannya. Nanti yang paling tercepat memanggil, itulah yang akan Rahma ambil.
Kehidupannya benar-benar berbeda dan berubah 180 derajat setelah ia bercerai dari Yudha. Tidak ada lagi uang bulanan yang masuk ke rekeningnya sehingga ia terpaksa harus mencarinya dengan tenaganya sendiri dengan segala keterbatasannya.
‘Aku belum pernah kerja selama dua puluh sembilan tahun ini. Mudah-mudahan aku bisa. Mungkin inilah hikmah yang sebenarnya. Perpisahan membuat aku menjadi wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun.’
“Belum ada calon lagi memangnya?” tanya Nely bergabung dengannya duduk.
“Ibu ini apa-apaan, sih. Akta cerai saja belum keluar. Belum kepikiran apa-apa.”
“Kan enak kalau sudah ada calon, minimal buat bantu-bantu keseharianmu.”
“Kalau pun sudah ada tidak mungkin Rahma minta-minta. Malu atuh Ibu. Di mana harga diri Rahma.”
“Tapi pasti dia punya pikiran, 'oh iya calon istriku belum bekerja' terus gimana caranyalah, pasti dia juga akan peka,” kata Nely kemudian. “Oh, iya. Gimana soal harta gono-ginimu?” sambung beliau lagi membuat Rahma terkejut.
“Gono-gini apa?” tanya Rahma tak mengerti. “Dari awal Rahma tidak membawa apa pun ke sana. Harta mana yang mau dipusingkan, Bu?”
“Ya minimal kamu dapat kompensasilah, masa dibuang begitu saja. Kamu itu janda, kalau bahasa kasarnya, sudah bekas pakai. Seharusnya sih dapat kalau Yudha tahu diri mah.”
“Astagfirullah, Bu,” sergah Rahma tidak menyukai apa yang Ibunya barusan katakan. “Rahma sama sekali tidak pernah merasa terpaksa menikah dengan Kak Yudha. Apa yang kami lakukan, atas keinginan Rahma juga sebelumnya. Jadi tidak ada istilah seperti itu.”
“Kalau kamu tidak mau menuntutnya, biar Ibu yang datang ke sana.”
“IBU!” pekik Rahma saat Ibunya beranjak dari tempat duduk. “Jangan bikin gara-gara lagi. Malu, Ibu ... malu. Biar ini jadi urusan Rahma saja.”
Namun Nely tidak peduli. Perempuan paruh baya itu keluar dari rumah setelah menenteng tas jinjingnya. Rahma sudah tahu, ke mana arah kaki ibunya akan melangkah.
Perang dunia sepertinya akan terjadi lagi.
***
To be continued.
Kita kasih pelajaran apa buat Mpok2 yg satu ini yah?
Kasih jawaban ya di kolom komentar.
__ADS_1
Votenya jangan lupa. Hari senayan ini.