TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Dasar Menyusahkan!


__ADS_3

Bab 20.


Selama beberapa hari ini Haikal kelimpungan mencari Naya. Setelah kepergiannya malam itu, tak ada lagi Naya di dalam rumahnya. Haikal baru tahu wanita itu kabur setelah melihat beberapa pakaiannya tidak ada di dalam lemari.


Haikal juga sudah menanyakan orang-orang terdekat di sekelilingnya, para tetangga, termasuk RT setempat—tetapi mereka bilang tidak tahu karena kemungkinan wanita itu pergi pada saat malam hari.


“Kita harus mencarinya ke mana lagi, Bi?” Ros bertanya. Selama beberapa hari ini pula wanita itu ikut cemas. Ingin ikut mencari, tetapi dilarang karena keadaannya.


“Aku tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi,” jawab Haikal setengah frustrasi, “yang lebih gila lagi, obatnya juga tidak ada yang dibawa satu pun.”


“Oh, Ya Allah, Uni,” desis Ros menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya terasa mumet karena terus ikut memikirkan ke mana perginya adik madunya tersebut. “Memangnya kalian ini ada masalah apa, sih? Kenapa Uni sampai kabur. Apa kau menyakitinya? Atau aku? Kalau iya, aku minta maaf....”


“Bukan, bukan salahmu. Dia sendiri yang keras kepala,” jawab pria itu, serta merta ia menjelaskan perdebatan keduanya pada malam itu yang didasari rasa cemburu.


“Sebelum aku meninggalkannya untuk menenangkan diri, aku memang sempat mengancam akan menalaknya karena dia meminta untuk pergi kalau aku tak memilihnya. Tujuanku hanya untuk menakut-nakutinya saja.”


“Astaga, kenapa kau gampang sekali mengucapkan talak?” kata Ros tak habis pikir, “sekarang Uni sudah keluar dari rumah, itu tandanya talak itu sudah jatuh.”


“Aku terpaksa melakukannya karena dia sudah sangat keterlaluan,” Haikal menatap istrinya, “kalau dia tidak memulai, aku tidak akan melakukannya. Kurang apa aku selama ini? Sebisa mungkin aku memperlakukan kalian dengan cara yang sama. Mungkin jika ada sedikit perbedaan, itu tak menjadi masalah karena aku hanya manusia biasa. Tapi dia selalu saja cemburu dengan bayanganmu.”


Sementara di kejauhan sana, Dawiya memutar bola matanya malas, “Dasar menyusahkan. Kasihan anak-anakku. Apa dia pikir setiap hari putraku hanya memikirkan cinta saja? Makanlah cinta, tu. Sakit sendiri, kan.” Wanita tua itu kemudian melenggang pergi. Masuk ke kamarnya sendiri dan menuliskan wasiat berupa warisan untuk cucu-cucunya kelak. Agar mereka mempunyai masa depan yang bagus dan cemerlang.


Di depan, mereka masih membahas Naya.


“Sedemikian cemburunya, kah?” kata Ros menanggapi ucapan suaminya barusan, “aku tahu diri kau juga miliknya. Oleh karena itu, aku tidak pernah menunjukkan bahwa aku menguasaimu. Kalau ditanya cinta, sakit, tentu saja aku juga seperti itu. Tapi kita diberi nalar untuk berpikir. Yaitu dengan membatasi diri dari hal-hal yang dapat menyakiti hati kita sendiri.”


Haikal tersenyum dalam sedihnya. Dia bangga terhadap istrinya yang satu ini. Hingga tak kuasa memeluk dan menciumnya sepenuh hati. “Surga untukmu dan mungkin neraka untukku kelak, karena sudah membuatmu sakit dan banyak sekali mengalah. Maaf dan terima kasih atas semua pengorbananmu ini. Jangan biarkan aku sendiri untuk menghadapi semuanya.”


Haikal memejamkan mata di dalam peluknya. Mengingat awal mereka bertemu. Menjadi seorang pembohong, menyuruhnya untuk menunggu, dinikahi tapi dimadu.


‘Andai kau tahu, berat bagiku menjalani semua amanah ini. Memang tidak ada niatan untuk menikahi Naya pada awalnya. Tapi Naya membutuhkan pertolonganku agar tetap bisa hidup, dan kami adalah lawan jenis yang kelak bisa menimbulkan fitnah dan dosa jika kami terlalu sering bersama. Ini sudah kupikirkan matang-matang meski pada akhirnya akulah tetap yang paling bersalah.’


🌺🌺🌺

__ADS_1


Bosan mencari Naya membuat akhirnya Haikal memilih untuk berhenti sejenak. Lagi pula, dia mempunyai tanggung jawab lain untuk menafkahi istrinya yang lain dan anak-anaknya.


Banyak pekerjaan yang harus dijalaninya karena dia sudah mulai merintis usaha sendiri. Terlebih, Ros juga sudah melahirkan anak keduanya yang diberi Nama Alif Noran.


Alif adalah nama yang mempunyai makna yang sangat baik—agar dia menjadi pribadi yang menyenangkan dan disenangi banyak orang. Nyatanya memang benar demikian. Alif disenangi banyak orang meski berkelakuan sedikit brutal daripada kakaknya.


Yudha cenderung sabar dan banyak mengalah seperti uminya.


Alif lebih mirip dengan masa mudanya yang sangat menyukai tantangan. Namun begitu, dia tetap memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.


Kebahagiaan ini membuat Haikal sedikit melupakan istri keduanya sehingga Ros pun bertanya, “Kenapa sekarang berhenti mencari lagi, Bi? Apa kau tidak merindukannya?”


Ada setitik harapan di hati Ros bahwa suaminya sudah mulai bisa melupakan istrinya yang lain. Ya, itu hanya insting alamiah seorang wanita yang ingin lebih dicintai.


Tetapi jawaban yang ia dengar, cukup sedikit mengecewakan. “Tentu saja rindu. Denganmu juga, kalau beberapa hari kita tidak bertemu.”


Demikianlah jawaban yang selalu Haikal berikan apabila ditanya oleh siapa saja. Sedikit pun, Ros juga tak pernah menyinggung atau menanyakannya karena selain menghargai satu sama lain, dia juga takut mendengar jawabannya.


Ini terlalu berlebihan, pikir Ros dalam hatinya. Hanya perkara seperti itu saja, marahnya sampai sedemikian parah. Bukankah semua persoalan bisa dirampungkan dengan cara baik-baik?


‘Tidakkah dia mempunyai sedikit saja rasa kasihan? Sudah banyak waktu, pikiran dan tenaga kami untuk mencarinya selama ini.’


“Kita harus memakai cara untuk mencarinya,” kata Ros menemukan sebuah ide, “gimana kalau kita bagi-bagi sedekah? Pasti nanti akan banyak orang yang berkumpul di sana. Nah, satu persatu orang akan kita tanyakan, mana tahu, kita bisa menemukannya dari sana.”


Haikal pun menyetujui, kendati agak kurang yakin dalam hatinya dengan ide istrinya tersebut.


Hingga hari itu juga, mereka turun ke jalan untuk membagi-bagikan sedekah berupa sembako di beberapa tempat yang berbeda—sambil menanyakan dan menunjukkan foto seorang wanita yang dia cari.


Hari pertama, masih nihil. Hari kedua, masih nihil juga. Sampai seminggu berlalu, mereka akhirnya menemukan sedikit informasi dari seorang ibu-ibu pemilik kos.


“Eh, foto ini mirip perempuan sakit yang belum bayar kontrakanku,” katanya menajamkan mata melihat selembar foto yang Haikal tunjukkan kepadanya. “Mau aku usir, kasihan. Kalau tidak di usir aku yang rugi,” gerutunya ciri khas ibu-ibu kontrakan yang terkenal galak.


“Ibu yakin?” tanya Haikal antusias.

__ADS_1


“Iya, ini mirip. Ayo, aku antarkan kalian ke tempat penginapanku,” ujarnya lagi meminta Haikal dan Ros mengikuti di belakangnya.


Mereka menuju ke sebuah gang yang di depannya terdapat gapura kecil, lalu masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah rumah besar yang memiliki dua lantai.


“Nah, ini tempatnya,” tunjuk ibu kos pada salah satu kamar yang ada di bawah. Terletak paling belakang.


Tapi nahas, saat pintu diketuk, tak ada sahutan dari dalam sana. Dengan sangat terpaksa, ibu kontrakan itu mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu. Namun, yang di dapat hanya barang-barangnya saja.


“Eh, ke mana lah, ini si janda itu?” tanya beliau ke penghuni yang lain.


“Kami tidak tahu, Bu. Tapi barang-barangnya apa masih ada?”


“Masih....”


“Lagi keluar kali, cari makan,” sahut yang lain.


“Begini saja, biar kami yang menunggu di sini sampai Naya pulang,” Haikal memutuskan.


“Baiklah kalau begitu. Soalnya saya juga banyak kerjaan,” Ibu kos pamit undur diri dan melenggang pergi dari sana.


Ros masuk ke dalam kamar Naya. Dari baju-bajunya, dia mengenali bahwa ini memang benar miliknya karena dia pernah melihat Naya memakai pakaian ini saat dia berkunjung ke rumah.


“Sepertinya Uni tahu kalau kita akan ke sini. Jadi dia menghindar, Bi,” ucap Ros setelah beberapa saat kemudian. Wanita itu, membawa Alif dalam gendongannya dan meletakkannya di sana.


“Aku akan menunggunya sampai dia menyerah.”


** *


Bersambung.


Jangan lupa likenya yah...


Betewe, pati pada lagi bikin takjil nih emak-emak.

__ADS_1


__ADS_2