
Bab 7.
“Semalam pulang jam berapa?” Beren bertanya pada pagi harinya pada saat dia mendapati Ustaz Salman sudah berada di masjid lebih awal. “Padahal rumah sengaja tidak kukunci. Tapi Ustaz malah tidak masuk.”
“Aku ingin tidur di sini,” jawab Haikal selang beberapa lama. “Waktuku tinggal tiga hari lagi, Bang. Habis itu aku benar-benar pergi dari tempat ini,” ujarnya memberitahu sembari menatap sekilas.
Beren menyadari perubahan nada bicara pria ini yang lebih berat dan sangat berbeda dari biasanya. Membuatnya semakin segan kala mendekati.
“Kami pasti akan merindukanmu, Taz. Padahal... kami berharap Ustaz bisa lebih lama di sini, tapi kami juga tidak mungkin bisa menahanmu. Ustaz juga punya keluarga.”
Haikal mengangguk. Pria itu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Memikirkan ke mana arahnya setelah pergi. Dan rencananya, ia akan kembali mengenyam pendidikan di pondok pesantren seperti teman-temannya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna, terutama untuk dirinya sendiri.
Pada sore harinya, kajian kembali dilanjutkan. Kali ini, Haikal mengajarkan ibadah wajib lainnya yang harus dilakukan di kehidupan sehari-hari. Dia juga menjawab banyak sekali pertanyaan dari sejumlah orang yang kebetulan tidak terlalu sulit untuk dijabarkan. Barulah setelahnya dia kembali berkumpul dengan orang-orang di sana. Membicarakan segala jenis usaha yang cocok bagi mereka, di tanah yang subur ini.
Haikal baru bisa tidur jam dua belas malam. Itu pun hanya terhitung beberapa menit saja. Dia terbangun lagi untuk melakukan salat dua rakaat di sepertiga malam. Memohon ampun pada-Nya atas semua kesalahan yang selama ini dia lakukan.
Dia pun menyambut pagi di masjid itu lagi sampai fajar menyingsing. Di saat itulah—ia tak sengaja bertemu dengan Rosyadah yang tengah menyapu halaman. Perbedaan masih jelas terasa. Gadis itu masih saja mendiamkannya layaknya dia tak pernah ada di sana.
“Mau aku bantu, Ros?” Haikal mencoba berbasa-basi, namun hanya ditanggapi dengan gelengan kepala. “Kamu kenapa jarang keluar sekarang? Sedang kurang sehatkah?”
Lagi, dia menjawab dengan gelengan kepala.
“Apa kau sedang sakit gigi?”
Dia menggeleng lagi membuat Haikal menggaruk kepalanya bingung.
Beren yang saat itu melintas, ikut menyahut ketika mendengar interaksi mereka berdua, “Kemarin waktu Ustaz pergi kamu lari-lari, tanya ke Om: ke mana Ustaz Salman, Om?” ujarnya meniru gaya bicara keponakannya seperti kemarin.
Sontak akhirnya Ros bersuara, “Om!”
“Lah, itu ada suaranya. Dari tadi aku tanya kamu diam saja. Apa aku punya salah?” ujar Haikal Tak habis pikir, “kalau kiranya seperti itu, aku minta maaf, ya.”
“Bukan begitu ... Ustaz Salman tidak salah,” lirih Ros lantas menjatuhkan sapu lidinya ke tanah.
__ADS_1
“Lalu?”
Terlalu banyak basa-basi membuat Beren merasa gemas, sehingga pria berusia hampir empat puluhan tersebut kembali menyahut, “Ros itu malu, karena kemarin ayahnya bilang begitu sama, Ustaz Salman. Jadi dia tidak mau di....”
“Ya Allah, Om... kenapa Om sangat ember?” sela Ros menghentikan Beren bicara. Dia tampak keberatan jika pria itu membuka lagi kasus kemarin.
Seberapa malunya Ros sekarang ini tak dapat di ukur. Sontak ia menangis di tempat itu ketika melihat muka Ustaz Salman seperti menahan gelak tawanya.
Oh, jadi ini penyebabnya? Ujar Haikal tanpa suara. Namun kemudian ia mengajak gadis itu duduk di depan rumah Omnya, ingin membicarakan sesuatu.
"Sudah, tidak apa-apa, tidak perlu malu," ujar Haikal agar Ros bersikap biasa lagi padanya.
"Tapi tetap saja! Ayah ini memang jahat."
"Bukan jahat, itu tandanya Ayah peduli, sayang padamu. Sebab beliau hanya ingin putrinya berada di laki-laki yang tepat dan merasa bahwasannya akulah orangnya. Meskipun itu belum tentu benar."
Rosyadah semakin menunduk.
“Berhentilah menggodaku, Om. Lebih baik kau sibukkan dirimu mencari istri daripada jadi bujang tua!”
“Aku sudah punya istri di surga, 40,” jawab Beren.
“Ngarang, yang jelek saja tidak mau sama Om, apalagi bidadari?” Ros memutar bola matanya malas.
“Bicaralah kalian, mumpung ada aku yang mengawasi. Sebab kalau aku pergi bisa jadi fitnah.”
“Biasanya kalau ada laki-laki sama perempuan berduaan yang ketiganya setan,” ujar Ros tak mau kalah.
“Enak saja. Om ini hafal ayat kursi.”
“Kalau hanya ayat kursi, setan malah lebih hafal. Bilang saja Om mau kepo, iya kan?”
“Itu alasan utamanya hehehe....” Beren mengakui kelakuannya.
__ADS_1
“Sudah, sudah!” kekeh Haikal mendengar pembicaraan mereka berdua. Hingga selang beberapa lama, pria itu pun terdengar lebih serius. "Aku ingin bertanya. Apa kamu sudah punya pacar?" Haikal bertanya lagi meski ia sudah mengetahui jawabannya. Hal ini dilakukan untuk mencairkan suasana saja.
"Pacar dari mana? Ayahku dua puluh empat jam nguntit anaknya ke mana pun pergi."
“Oh, syukurlah. Kalau kamu masih sendiri, Apa Ros bersedia andai aku lamar?”
“A-apa?” Ros seketika tergagap mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya barusan. Apa ini artinya pria di depannya sedang mengajaknya untuk bersungguh-sungguh?
“Aku ingin melamarmu, Ros. Apa masih kurang jelas?” Entah dorongan dari mana, tetapi pada saat melihat Ros hari ini, dia merasa begitu yakin ingin melamarnya. 'Semoga saja keputusanku ini tidak salah.'
Karena tidak terlalu yakin, Ros kembali memastikan, “Apa saya tidak salah dengar? Ustaz mau melamar saya?”
“Kamu tidak salah dengar. Aku memang mau melamarmu, yang kelak juga akan aku persunting untuk menjadi istriku.”
Semakin menangislah gadis itu karena tidak tahu apa yang harus dia jawab. Ini pertama kalinya dia di ajak menikah oleh seorang laki-laki yang dia sukai.
“Aku juga menyukaimu, Ros. Kalau kamu bersedia, kau akan aku lamar setelah tugasku selesai.”
“Ciyeeee... sampai nangis,” ucapan panjang terdengar dari mulut Beren. Ros sangka, Omnya ini memang diciptakan untuk menjadi tukang rusuh di acara romantisnya. Duh, andai tidak ada Beren di sampingnya, pasti suasana akan lebih intim lagi. Sayang, Beren tak mau meninggalkan mereka karena berbagai alasan.
“Jadi jawabannya?” Haikal kembali bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban. Namun anggukkan kepala setelahnya, membuat Haikal lantas mengucap syukur berulang-ulang. Restu ayahnya sudah dia dapatkan, anak gadisnya juga sudah menerimanya, kini hanya tinggal jujur saja atas siapa dirinya sebenarnya.
‘Semoga keadaan nanti akan tetap sama setelah mereka mengetahui siapa aku sebenarnya. Awalnya mungkin mereka akan marah dan kecewa, tetapi ... perlahan, mereka pasti akan memaafkan....’
Ros akhirnya pulang dalam keadaan senyum yang tak surut-surut. Sampai di kamarnya pun, jantungnya masih berdebar-debar. Dia sangat menantikan hari itu dan berharap, keduanya segera dipersatukan dalam ikatan yang suci.
“Akhirnya hanya aku yang memilikinya. Ya, hanya aku.”
🌺🌺🌺
Bersambung.
Selamat sahur!
__ADS_1