TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Akibat Sumpah Kakak Ipar


__ADS_3

Keributan tak terelakkan tatkala mereka sedang dalam perjalanan pulang. Jelas Alif sangat keberatan dan kebingungan sekali bagaimana cara menolak pertemuan berikutnya.


Alif pikir anak orang kaya akan terawat dan lebih memperhatikan dirinya karena uang yang dimiliki. Tetapi ternyata keluarga ini lain daripada yang lain. Biar kata perempuan itu perempuan baik-baik, namun Alif tetap merasa keberatan jika harus hidup satu rumah dengannya.


Alif begitu terkejut pada saat wanita itu membuka cadarnya. Bibirnya agak maju ke depan sebab karena giginya. Bagaimana bisa betah di rumah kalau seperti ini yang dilihat setiap hari? Ah, pasti sangat membosankan. Jangankan hasrat untuk menyentuh. Untuk melihat pun tidak.


‘Amit-amit,’ batinnya terus terngiang-ngiang. Bisa-bisanya Abah mau menjodohkannya dengan wanita seperti dia. Apa nanti beliau tidak mau punya menantu yang giginya ...?


Terang saja ia akan menjadi bahan gunjingan orang. Memangnya tidak ada stok perempuan lain lagi di dunia yang maha luas ini?


Kalau dipikir-pikir, apa dia termakan sumpah kakak iparnya waktu itu?


“Kalau kamu berani mengatakannya, aku sumpahi kamu susah mendapat jodoh.”


Astaga. Benar. Alif telah melanggar janjinya. Dia telah mengatakan semuanya setelah sekian lama menutupi.


Tapi bukankah apa yang dilakukannya adalah termasuk kebaikan?


Oleh karenanya, mereka kini sudah bersatu lagi. Mereka yang merasakan manfaatnya. Kalau tidak demikian, mana mungkin akan terjadi adegan mesra di ruang persalinan?


“Jadi bagaimana Lif?” tanya Abah Haikal meledek putranya.


“Abah ini benar-benar,” kata Alif geram yang justru membuat kedua orang tuanya tergelak.


“Abah pikir Deana itu tidak jauh beda dari kakaknya,” jawab Abah melirik di kaca spion tengah. Melihat istri dan anaknya yang tengah ribut di belakang. “Abah sudah pernah melihat kakaknya. Tapi ternyata beda ayah.”


“Beda ayah beda rupa, Bah,” sahut Umi Ros segera.


“Aku tidak mau. Mending telat nikah daripada nikah sam dia. Seperti tidak ada pilihan lain saja,” kata Alif dengan ketus.


Malu sama mantanku, pikir Alif. Sebab Andari lebih dari segalanya. Hanya saja dia terlalu posesif dan cenderung tidak suka diatur. Ia tidak mau nanti dinilai turun selera atau sedang sakit mata olehnya.


“Gemuk kan bisa dikurangi, mungkin dengan diet atau olahraga,” kata Umi memberikan opsi lain.


“Tapi kalau pendek tidak bisa ditinggikan, Mi. Memang sudah kodratnya begitu, terkecuali operasi pemanjangan kaki.”


“Ya ya, ya sudah. Umi sama Abah tidak akan pernah memaksa. Tapi kala boleh Umi kasih saran, jangan mencari standar yang terlalu tinggi, nanti bisa kecewa. Sebab setiap manusia itu mempunyai banyak kekurangan."


"Tapi kalau seperti Dea tadi banyak kelebihannya,” sahut Abah.

__ADS_1


Umi masih saja tergelak setelah mengatakan demikian.


“Iya, kelebihan lemak,” sahut Alif masih ketus. Mood-nya hilang hari ini. Apes sekali nasibnya.


Ah, sudahlah. Tahan dulu niat ingin menikah tahun ini.


"Lain kali kalau ingin mengenalkan calon sama Alif, kasih lihat fotonya dulu, Bah," kata Umi.


"Foto bisa menipu."


"Tapi setidaknya masih lebih baik."


Abah tersenyum.


***


Dua hari kemudian, Yudha sedang bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta sore ini. Memilih perjalanan malam, agar bisa lebih cepat sampai ke tujuan dibandingkan siang yang padat dan penuh kemacetan.


“Ini apa saja yang mau dibawa?” tanya Vita membantunya mempacking barang yang akan dibawa suaminya pulang.


“Kalau bisa aku akan membawamu juga.”


Yang Vita maksudkan adalah persiapan pernikahan, tempat tinggal dan sebagainya. Mungkin bila memang ada sesuatu yang mengharuskan dirinya untuk hadir, demikian hanya sebentar saja. Karena siapa lagi kalau bukan karena Rayyan. Sebagian besar waktunya telah tersita untuknya sekarang.


“Temanmu itu bagaimana? Katanya kalian pulang bersama?” tanya Yudha menanyakan Dara.


“Dara ya di rumahnya, Mas. Dia hanya mampir di sini sebentar waktu itu.”


“Belum bali ke sana lagi?”


“Dara memang sudah berhenti bekerja. Barang-barangnya juga sudah dibawa pulang,” jawab Vita.


Beberapa waktu lalu, Dara mereka memang pulang dengan menyewa satu Travel sekaligus untuk membawa serta barang-barangnya.


Yudha belum mengetahui bahwa kontrakan mereka sudah hampir kosong. Hanya tersisa beberapa barang milik Vita yang masih terbungkus rapi di kamarnya. Tapi Vita pun belum mengetahui, bisa kembali lagi ke sana atau tidak. Selama ini dia mengulur waktu untuk memikirkan keputusan besar yang akan dia ambil.


Banyak pertimbangan yang sebenarnya membuatnya begitu ragu. Namun tidak bisa dipungkiri, dia butuh seorang suami di sampingnya. Selain nafkah yang tidak bisa ia cari sendiri—yang paling ia takutkan adalah mendidiknya nanti. Rayyan butuh kasih sayang seimbang, dari ibu mau pun ayahnya.


Lagi pula, kedua mertuanya adalah orang yang sangat baik. Mau mencari di mana lagi kedua mertua sepertinya?

__ADS_1


Belum tentu, ke depannya—jika ia mempunyai suami lagi, ia akan mendapatkan mertua sebaik mereka.


Rasanya sangat egois sekali jika ia hanya mementingkan perasaannya sendiri, sebab karena sakit hati. Tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti pernah mempunyai kesalahan apalagi dirinya. Ya, semua berawal dari dirinya yang mungkin terlalu mudah untuk diajak tidur bersama.


Ah, mungkin semua terjadi karena mereka jodoh bukan?


Ada yang berkata, jodoh bisa datang dari mana saja, bagaimana pun caranya. Dan Vita percaya, setiap orang bisa berubah, apalagi Mas Yudha. Dia ingin melihat seberapa keras usahanya dalam memperjuangkan mereka kembali.


“Mau bekerja di rumahkah?” tanya Yudha masih mengenai Dara.


“Dara mau sekolah lagi. Tabungannya sudah cukup untuk meneruskan pendidikannya.”


“Hebat. Kamu mau begitu juga?”


Vita sontak mengangguk. Melihat semangat Dara kemarin membuatnya tertular. Tidak ada kata terlambat menurutnya. Tidak ada yang dapat menghentikan perempuan. Kalau mereka di luar sana bisa melakukannya, kenapa ia tidak?  


“Tapi nanti kalau Rayyan sudah agak besar,” jawab Vita tak lama berselang.


“Ya, aku sangat mendukungmu.” Yudha tersenyum bangga melihat semangat istrinya. “Tapi di sana nanti kamu akan banyak mengenal mahasiswa. Jaga mata. Jangan lirik mahasiswa lain yang lebih tampan dariku.”


“Aku tidak bisa janji.” Vita meledeknya sehingga pria itu menatap kecewa. “Sekali-sekali aku ingin membalasmu,” tambahnya menyindir. “Memangnya cuma kamu saja yang bisa mendua. Aku juga bisa. Sangat bisa.”


“Sayang ...,” sebuah peringatan dari Yudha dengan wajah menghiba. “Jangan bicara seperti itu.”


“Apaan sih, geli aku mendengarmu memanggilku begitu!”


“Kalau begitu niatmu tidak akan aku izinkan.”


“Terserah.”


Vita meninggalkannya untuk mencari kesibukan lain. Meninggalkan Yudha yang tengah terbakar rasa panas cemburu tersebut.


‘Apa seperti ini yang pernah dia rasakan? Bahkan apa yang kulakukan lebih dari ini.’


Sepanjang hari ia terus terpikirkan. Ternyata tidak mudah merelakan orang yang kita cintai membagi cintanya, perhatiannya, serta malamnya. Benar-benar menyakitkan.  


***


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2