TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Lelaki Tidak Berperasaan


__ADS_3

“Mukamu tegang sekali,” kata Yudha menggodanya. “Jangan panik, aku hanya bercanda.”


“Bukan begitu,” jawab Vita menyangkal. “Mas Yudha sudah bersiap-siap. Apa kata dunia kalau siang ini Mas Yudha justru ditemukan di dalam ....”


“Aku tahu. Dont worry, istriku.” Pria itu kembali mengecup dalam kening istrinya. “Aku pergi dulu. Bye Sweety.”


Vita mengangguk disertai dengan senyuman manisnya. Senyum yang selalu menampakkan lesung pipi yang indah dan selalu membuat pria ini merindu.


Detik berikutnya Yudha masuk ke dalam mobilnya hingga kemudian mobil itu berjalan meninggalkan pelataran rumah.


Vita memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Secara kebetulan, dia berpapasan dengan ibu mertuanya yang sedang melintas.


“Sudah berangkat suamimu?” tanya Umi Ros.


“Sudah, Mi.”


“Katanya mau tes kesehatan.” Umi Ros mengingatkan lantaran niat utama menyusul Vita secepatnya adalah untuk melakukan hal itu. Dan ini sangat penting.


“Nanti siang, Umi. Setelah Alif berangkat.”


Sebelum pergi Yudha mengatakan bahwa dia hanya berangkat setengah hari saja karena Alif mengatakan bahwa dia berangkat siang hari.


Mereka berangkat secara bergantian agar salah satu yang tidak pergi bisa menjadi perwakilan. Karena akhir-akhir ini, Abah sudah hampir menyerahkan sepenuhnya terhadap kedua anak laki-lakinya.


“Oh, begitu. Kalian istirahat, gih. Memangnya tidak capek, di mobil semalaman? Atau mungkin butuh tukang pijat biar Umi panggilkan.”


“Ada benarnya juga apa yang Umi tawarkan itu,” Vita menjawab.


“Kamu mengurus bayi sendirian, tidak ada yang membantumu selama 24 jam. Kamu butuh waktu sendiri untuk istirahat. Jadi, khusus hari ini, biar Umi yang mengurus si kecil. Hitung-hitung lepas kangen sama cucu. Umi sudah lama juga tidak mengurus anak kecil. Pasti menyenangkan,” kata Umi Ros sambil mengusap-usap kepala lebat cucunya.


Jeda sebentar, Umi kembali mengucapkan, “Sekarang kamu tiduran, nanti ada tukang pijat yang datang ke rumah. Umi hubungi segera orangnya, ya.”


“Ini benaran Umi?” ulang Vita memastikan. Perhatian semacam inilah yang ia inginkan belakangan ini, namun belum pernah terealisasikan karena keadaannya.


Tetapi hari ini terwujud karena mertuanya yang sangat baik sekali, mau mengerti dan memosisikan diri menjadi dirinya.


“Benar, Nak. Ray kan cucunya Umi. Pasti dia nyaman dengan Omanya. Yang penting sediakan ASI-nya saja. ASI lancar ‘kan?”


“Alhamdulillah lancar.”

__ADS_1


“Ya sudah, masuklah!” titah Umi lagi setelah Baby Ray berpindah ke gendongan Umi Ros.


Dia lekas-lekas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian berbaring menunggu tukang pijat langganan Umi Ros datang.


Vita tidak pernah menyia-nyiakan momen langka ini. Selama ini, dia telah banyak melupakan diri sendiri yang juga perlu di urus. Lelah, letih dan kurang tidur membuatnya terkadang hampir naik darah.


Beruntung, Vita tidak sampai mengalami seperti apa yang sering orang lain alami pasca persalinan. Dia mempunyai pertahanan diri yang cukup baik jika menyangkut hal ini—selama tidak ada poligami menyakitkan di rumah tangganya!


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya wanita itu mendengar pintu kamar diketuk. Membuka pintu, Vita mempersilakan masuk perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahunan. Dengan berbaring di matras lantai, Vita merasakan sensasi pijatan dan luluran coklat yang memanjakan tubuhnya, dari tangan terampil wanita itu.


***


Beberapa jam berlalu. Vita membuka matanya pada saat merasa ranjang bergerak. Yudha, pria itu sudah pulang dan sedang duduk memperhatikannya.


“Ya ampun kamu sudah pulang?” tanyanya langsung terduduk. Dari raut wajahnya yang demikian dia terlihat sangat terkejut. “Sudah berapa jam aku tidur? Rayyan mana?”


“Ssst, tenang. Rayyan tidur di kamar Umi. Tadi aku sudah melihatnya,” jawab Yudha dengan suara lembut seperti biasanya.


“Kita harus ke rumah sakit, ya? Maaf, Mas. Aku tidur terlalu lama, dari pagi.”


“Tidak apa-apa. Kita bersiap-siap sekarang.”


“Bersih-bersih dulu, setelah itu baru kita temui Rayyan.”


“Tapi dia tidak menangis ‘kan? Dia sudah kutinggal sejak pagi tadi.”


Inilah kelebihan seorang ibu, dia tetap tidak bisa meninggalkan anaknya begitu saja meski telinganya mendengar bahwa bayinya sedang berada di tangan orang yang tepat.


“Jangan khawatir. Dia tidak apa-apa. Mandilah, setelah itu baru aku. Atau mau kita mandi bersama?” godanya menyeringai nakal.


“Sudah tua masih saja genit.” Vita mencubit lengan Yudha. Entah kenapa seringaian itu terlihat menyeramkan baginya. Selain karena sudah lama dia tidak melakukannya, terus terang, dia selalu saja terngiang-ngiang bagaimana suaminya dulu menyentuh wanita lain.


“Aku belum terlalu tua. Masih dua puluh sembilan tahun.”


“Tapi sudah setengah umur rata-rata manusia. Sudah, ya. Jangan berbuat macam-macam lagi. Fokus cari bekal buat akhirat nanti, jangan malah sibuk poligami,” tegasnya dengan tangan bersedekap.


“Iya, Nyonya Vita Anggraeni. Apa mukaku ini kurang meyakinkan?" ucap Yudha dengan sabar. "Setiap apa yang kukatakan itu bersungguh-sungguh,” imbuhnya.


“Awas, loh,” ancamnya lagi dengan tangan menuding.

__ADS_1


“Iya ....”


Bahkan sampai di dalam kamar mandi pun, Vita masih saja mengancamnya seperti tadi.


“Awas, loh. Aku bisa potong angry bird-mu.”


“Ada-ada saja,” ujar Yudha sambil terkekeh sendiri. Terkadang ia bisa melihat istrinya seperti orang yang lebih dewasa pada saat masalah-masalah tertentu, tetapi ada kalanya dia juga bersikap seperti anak kecil yang sering bercanda dan menyukai tantangan.


Beberapa menit berlalu, terdengar knop pintu kamar mandi diputar disusul dengan tubuh menyembul keluar yang dililit dengan selembar handuk.


Yudha sontak menghentikan aktivitasnya untuk memperhatikan gerak-gerik wanita itu mencari pakaian. Sangat seksi dan menggugah kelelakiannya. Namun ia masih bisa mengendalikannya, mengingat ini bukan waktu yang tepat. Akan ada saatnya nanti wanita itu bertekuk lutut padanya.


“Siapkan pakaianku,” titah Yudha sebelum pria itu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mengganti pakaian, Vita mencari-cari pakaian Yudha di dalam lemari. Namun sayangnya, ia tak menemukan apa pun di sana.


“Pasti pakaiannya masih ada di kamar lama semua,” gumamnya. Kemudian pergi ke kamar seberang.


Membuka lemari, Vita mencari-cari pakaian yang cocok untuk suaminya.


Setelah dilihat-lihat, tampaknya, dari keseluruhan memang tidak ada yang berubah dari pakaian suaminya tersebut. Ada pun baju-baju baru, itu pun tidak seberapa.


Yudha cenderung lebih menyukai pakaian yang biasa-biasa saja. Tidak suka berburu fashion terbaru yang sedang nge-tren, sebagaimana yang biasa orang kaya lakukan untuk melengkapi gaya hidupnya.


Keluarga lumayan berada ini terlihat biasa-biasa saja. Tidak gemar berbelanja, tidak ada yang aneh, tidak ada yang berlebihan.


Sesungguhnya kedua mertuanya: Umi dan Abah adalah sebenar-benarnya wujud sorang muslim yang taat. Abah Haikal telah berhasil mendidik istri dan anak-anaknya dengan baik. Meskipun ada yang sedikit nakal; anak keduanya—tetapi Vita merasa bahwa dia masih berada di dalam batasnya.


Vita masih penasaran dengan semua isi-isi lemari suaminya itu. Pindah dari satu lemari ke lemari yang lain sembari melihat-lihat, meski sudah ada beberapa setel pakaian yang dia pilih dan dia keluarkan dari sana.


Kini ia bergeser ke sebelah. Awalnya, Vita sempat ragu karena parfum yang tercium sudah berbeda. Namun ia tetap saja memberanikan diri untuk membukanya. Dan benar saja, di saat itulah Vita terkejut. Sebagian banyak pakaian Rahma masih berada di sana. Tanpa bisa dicegah, air matanya langsung luruh.


Ternyata suaminya masih menyimpan baju-baju milik wanita itu!


“Kamu memang suami tidak berperasaan, Mas.”


***


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2