TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Masih Belum Move On, Ya?


__ADS_3

Rahma menyandarkan kepalanya ke dinding dan berulang-ulang memejamkan matanya. Yang terjadi pada suaminya saat ini adalah sakit yang paling parah sepanjang masa pernikahan.


Selama setahun belakangan, pria ini divonis kanker getah bening yang terus menggerogoti tubuhnya hingga kurus kering. Kasusnya hampir sama dengan mantan istrinya dulu. Namun apakah dia akan menyusulnya juga ke sana?


Sudah berbagai hal dia lakukan demi kesembuhan suaminya, namun kondisinya masih tetap sama.


Apakah dia marah Tuhan?


Entahlah.


Tetapi yang dia ingat, peranan Tuhan dalam hidupnya seolah begitu kecil. Demikian yang ia rasakan sejak terdahulu. Tuhan mengujinya begitu keras.


“Aku pernah mencintai seorang pria, tapi setelah sekian lama menunggu, pria itu justru dengan membawa seorang istri—tepat di persiapan pernikahan kami dan membuatku terpaksa menjadi yang kedua.


“Pria itu memilihku, tapi juga memilih wanita yang baru saja menjadi istrinya. Padahal, aku lebih lama menunggu.


“Aku ikhlas ketika menjadi seorang madu di rumah mertua meskipun aku cinta pertama.


“Tapi apa yang aku dapatkan? Aku malah dibedakan, tidak dipedulikan dan hampir tak mempunyai teman.


“Di saat yang bersamaan, aku juga kehilangan anak pertamaku. Dipenjarakan akibat kesalahan yang tidak sengaja aku perbuat dan membuat namaku jadi tercoreng. Parahnya lagi perceraian juga menungguku di sana. Lantas setelah itu, aku dibuang begitu saja.


“Aku dirundung berbagai kesusahan. Kaki Ibuku patah, aku tidak bisa bekerja hingga semua materi yang aku miliki habis terjual. Namun begitu, masih tetap tidak bisa membuat beliau sembuh dari penyakitnya. Beliau tetap meninggalkanku.


“Beruntung ada lelaki yang mau menikahiku dengan begitu tulusnya hingga aku jatuh cinta ke dua kali. Kami bahagia dan dikaruniai anak-anak yang lucu.


“Tapi yang aku sayangkan, Tuhan kembali merenggut kebahagiaanku dalam sekejap dengan memberi suamiku rasa sakit yang mengancam nyawanya. Apakah itu adil bagiku?


“Tidak ....


“Setelah banyak sekali lika-liku yang sudah yang aku jalani—sampai sekarang masih belum berakhir.


“Bagaimana dengan anak-anakku nanti andai dia meninggalkan kami?


“Harus berapa kalikah sayapku patah?”


Sesalnya sedemikian panjang.


Saat ini... ia sedang berada di depan IGD. Juga berada di depan mantan suami yang juga pernah menjadi salah satu manusia penghancur hidupnya. Rasa bencinya justru kian bertambah. Ia bukan Rahma yang dulu lagi. Dia adalah Rahma sekarang yang penuh dendam.


“Sakit apa suamimu?” tanya Yudha akhirnya setelah sekian lama.


“Bukan urusanmu,” jawab Rahma ketus.


“Dih, ditanya baik-baik malah nyolot, masih belum move on, ya?” sindir Dara.

__ADS_1


“Bukan urusanmu juga.” Rahma menatap Dara sangat sinis.


“Dasar perempuan labil.”


“Ra, sudah,” ucap Yudha kepada Dara, bermaksud agar perempuan itu tidak usah meladeninya. Sebab Rahma sedang tidak bersedia untuk di ajak bicara.


“Pilihan kamu itu sudah benar, Mas,” kata Dara selanjutnya, “Vita kena ujian, makin kuat imannya. Makin tertutup auratnya. Ini malah mengumbar.”


Semua orang mempunyai sudut pandang masing-masing. Tapi menurut Dara, orang ditimpa berbagai macam kemalangan, itu karena ada yang salah dalam dirinya yang harus diperbaiki. Seharusnya dia introspeksi diri, bukan malah semakin menjauh dari-Nya.


“Jangan asal menjudge, kalau tidak tahu apa-apa lebih baik diam!” bentak Rahma kian tersulut emosi. Matanya menajam mengerikan yang jelas sangat tidak pantas diperlihatkan kepada semua orang apalagi ada anak kecil di sini.


Yudha tertegun. Ia baru melihat sisi lain dari mantan istrinya tersebut. Dia pun menggendong Rayyan keluar sejenak untuk menghindari orang aneh ini.


‘Jangan sampai dia melihatnya.’


“Mama kapan bangunnya?” tanya Rayyan setelah keduanya duduk di lobby.


“Kita doakan Mama, ya. Semoga Mama sama adik baik-baik saja,” jawab Yudha, “tapi janji setelah ini jangan nakal lagi, ya?”


Rayyan tersenyum, dia meminta papanya untuk menautkan jari kelingkingnya, “Janji.”


“Memangnya kenapa Kaka ajak Mama main, Nak? Mama itu tidak boleh terlalu capek ... Papa kan sudah bilang. Dalam perut Mama itu ada adik juga,” Yudha bertanya agar dia bisa mendengarkan keluh kesah anak pertamanya. Tujuannya adalah supaya dia bisa memberikannya pengertian.


Yudha langsung memeluknya erat dan menciumnya. “Waktu Kaka kecil, Kaka juga diperlakukan sama seperti adik-adik. Karena masih membutuhkan perhatian ekstra. Beda sama Kaka yang sekarang. Kaka sudah besar, sudah sekolah, sudah tahu banyak hal. Tidak seperti Umar dan Mauza yang masih harus di arahkan. Coba kalau mereka tidak di jaga. Jalan saja masih suka jatuh-jatuh.”


Rayyan tersenyum mendengarkan penjelasan papanya. Mungkin dia sedang mengingat sesuatu tentang kedua adiknya.


“Tapi ...” Yudha menjeda kalimatnya untuk menatap lekat mata putra pertamanya, “bukan berarti Mama tidak sayang. Mama sayang sama Kaka. Hanya saja waktunya harus di bagi. Jadi Kaka tidak perlu khawatir, ya.”


Rayyan mengangguk, lalu bertanya satu hal, “Papa sayang aku juga?”


“Oh, iya ... itu pasti, Nak.”


Rayyan tersenyum. Kemudian memeluk papanya dengan erat. Keduanya bersama mendoakan kesembuhan orang yang mereka cinta.


Berbeda dengan kedua manusia lain yang masih berada di depan IGD. Dara yang cenderung lebih mudah dipantik, menjadikannya kurang sabar dalam menghadapi serangan di depannya.


“Kamunya saja yang sensitif. Ditanya baik-baik malah nyolot. Kan itu pertanda bahwa kamu mantan yang belum bisa move on.”


“Hati-hati kalau bicara!” kecam Rahma. “Siapa pula yang masih cinta sama laki-laki lemah gemulai seperti banci dan sok alim seperti dia, cuih!”


“Ish,” Dara terkekeh. “Aku hanya memancingmu tadi, tapi semakin di pancing kamu malah semakin menunjukkan diri yang sebenarnya.”


“Kurang kerjaan sekali mau tahu siapa aku sebenarnya,” balas Rahma tak kalah sinis. “Memangnya apa untungnya buatmu?”

__ADS_1


“Ya—minimal bisa membuat Mas Yudha semakin paham. Mana kualitas yang lebih baik.”


“Aku tidak peduli andai dia menilaiku buruk. Jangan kira aku masih mengharapkannya. JIJIK!” tekan Rahma.


Membuat kedua bola mata Dara melebar puas, “Wuow ...”


‘Ingat-ingat, ya, katanya jijik. Tepuk tangan yang paling keras andai nanti dia kebingungan dan terpaksa meminta bantuan sama keluarga Umi Ros. Memangnya dia punya siapa? Kita lihat saja.’


Bukankah menjadi manusia tidak boleh berbicara berlebihan? Batin Dara menambahkan.


“Atas nama keluarga Ibu Vita Anggraeni?” panggil seorang perawat.


“Iya, Susu!” Dara mengangkat tangannya, di saat yang bersamaan dia juga membekap mulutnya, “kebablasan, ehehe ... huruf U-nya terlalu banyak. Maaf ya, Sus....” menoleh ke kanan dan ke kiri, Dara mencari-cari kakak iparnya. Secara kebetulan, pria itu muncul dari dalam lift.


“Hai, Mas! Cepat, kamu di panggil dokter. Kamu saja yang masuk, situ kan suaminya. Kaka biar sama aku.”


“Makasih, Ra.”


Dara menggerakkan tangannya mengajak Ray untuk mendekat, “Sini, sini, Kaka sama Onti dulu.”


Rayyan mengangguk. Anak itu bersiap mendaratkan pantatnya ke pangkuan Dara, namun sebelum benar-benar terjadi, wanita itu langsung menangkapnya, “Eits, Kaka duduk di samping, nanti Onti peluk saja, ya,” ujarnya tersenyum agar bocah itu tak salah mengerti penolakannya.


“Memangnya kenapa, Onti? Kaka mau duduk di sini ...” tunjuknya ke pangkuan.


“Di sini juga ada adik,” jawab Dara menunjukkan perutnya sendiri, “jadi ... besok-besok jangan duduk di sini dulu sampai adik bayinya lahir. Nanti kalau ketindihan kan kasihan.” Dara mengarahkan Rayyan supaya anak ini duduk di di sampingnya saja.


“Adik kaya Mama juga?” tanya Rayyan untuk memperjelas.


“Iya.”


“Kenapa adiknya banyak, sih?” Rayyan memberengut sebal.


Detik berikutnya, ponsel Dara berdering. ‘Lumayan, bisa buat mengalihkan pembicaraan, aku bingung mau jawab apa. Aku belum terlatih menghadapi anak sedang merajuk.’


“Eh, Kaka ... lihat, Om video call. Kita angkat, yuk!” sambil menunjukkan layar ponselnya ke Rayyan.


“Hu’um.”


Wajah Alif dan si kembar langsung nampak begitu Dara menggeser ikon panggilannya.


***


Bersambung.


Selamat akhir pekan. Besok minggu aku libur, ya. Jangan di tunggu❤

__ADS_1


__ADS_2