
Bab 12.
Mungkin seperti inilah gambaran surga dunia yang biasa dikatakan oleh orang-orang ketika mereka melakukan malam pertamanya. Tak terlupakan. Memang sangat indah dan mampu mengantarkannya mencapai puncak tertinggi. Pantas saja banyak orang yang suka menyeleweng jika tak dipenuhi kebutuhannya. Sebab rasanya memang sangat candu hingga mereka ingin terus mengulangnya lagi dan lagi.
“Kita harus mandi dulu sebelum mereka bangun,” gumam Haikal ketika dia bangun lebih dulu daripada istrinya.
“Aku belum tahu caranya mandi wajib itu seperti apa.”
“Begini....” Haikal mengajarkan doanya serta urutan yang harus terlebih dahulu dibersihkan, “setelah itu lakukan gerakan wudu seperti biasa kamu hendak salat. Lengkap.”
“Terus?” Ros menunggu kelanjutannya.
“Basahi tanganmu dengan air, lalu sela rambutmu menggunakan jari sampai merata, baru setelah itu kamu guyur kepala sebanyak tiga kali. Pastikan juga merata sampai ke ujung rambut. Setelah itu, mandi seperti biasa dan bilas dengan air mulai dari sisi kanan. Terakhir, geser dari tempat tadi, lalu siram kakimu dengan air.”
“Sudah, itu saja?”
“Sudah.”
Namun, pada saat Ros hendak bangkit, seseorang mengetuk pintu kamarnya. “Ros, bangun. Mandi dulu sebentar lagi waktu subuh!”
Keduanya sontak saling memandang.
“Kita keduluan Bunda,” gumam Ros. “Iya, Bun. Kami sudah bangun dari tadi!” serunya menjawab Bunda.
“Ya, sudah. Ada air panas di dapur kalau kamu kedinginan.”
“Iya, Bun!”
“Apa mereka mendengar kita semalam?” tanya Haikal.
“Mudah-mudahan tidak,” jawab Ros menyibak selimut yang mereka gunakan.
__ADS_1
“Kau yakin bisa terlihat baik-baik saja setelah ini?” pria itu merasa seram setelah dia melihat bagaimana cara istrinya beranjak dari tempat tidur.
“Memangnya aku selemah itu?” cebik Ros memakai kembali bajunya, kemudian keluar kamar untuk mandi terlebih dahulu. Kamar mandi dan sumur hanya ada satu, apesnya tempat itu agak jauh dari kamar—sehingga ini menjadi PR berat bagi Haikal andai dia tak pandai mencuri waktu demi menghindari bertemu dengan orang yang mempunyai tujuan sama sepertinya.
‘Mungkin besok-besok aku harus bangun lebih cepat. Kalau bisa tengah malam.’
Haikal masuk ke dalam kamar mandi berikutnya setelah Ros keluar dari sana. Barulah setelah itu, dia menuju ke masjid bersama ayah mertuanya karena azan sudah mulai terdengar.
Seperti beberapa tahun lalu, masjid selalu mendadak ramai jika Haikal sedang berada di sana. Entah apa yang menyebabkannya, tetapi kedatangan Haikal seolah mendongkrak semangat mereka untuk melakukan ibadah.
Pria itu sendiri tak menyadari karena hanya sesekali dia datang ke sini. Tetapi Arok, jelas menyadari perubahan mencolok tersebut. Ia juga mengira bahwa menantunya itu memang memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya, terlebih kaum hawa. Hmm, ini sedikit mengkhawatirkan sebenarnya. Dia sangat berharap semoga, menantunya tersebut bisa menahan diri dari segala jenis godaan yang paling liar sekalipun.
Usai melakukan salat, keduanya langsung pulang ke rumah. Namun di jalan, Arok pun tak bisa menahan diri untuk diam saat melihat rambut menantunya yang masih terlihat kelimis, layaknya seekor kecoak yang baru saja keluar dari sela-sela persembunyian.
“Yah... basah, deh, subuh-subuh!”
“Namanya juga keramas, ya, basahlah,” balas Haikal menahan malu.
“Tapi kan, ada penyebabnya. Duh, habis diapain anakku semalam,” Arok bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada sedikit tak rela bahwa putrinya sekarang sudah tak gadis lagi. Dan mungkin saja sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu.
Arok memegang pundaknya dan berujar, “Kau sangat tahu bagaimana aku mencintainya. Dia anakku satu-satunya. Jaga dia karena semua tanggung jawab sekarang pindah ke tanganmu.”
Haikal mengangguk pasti.
Setelah hari agak siang, keduanya langsung mengumpulkan orang tua mereka untuk membicarakan sesuatu. Yakni rencana kepindahan mereka ke kota karena pekerjaan sudah menunggunya di sana.
Memang benar itu salah suatu alasan, tetapi bukan alasan yang utama. Karena sebenarnya, Haikal tidak terlalu nyaman tinggal di sini. Kehidupan di kota dan fasilitas yang dia miliki selama ini—sedikit banyak telah mengubahnya.
Banyak perbandingan yang membuatnya lebih senang hidup di sana. Sebab selain kemampuan bergerak bisa lebih leluasa; ke mana-mana bisa lebih dekat dan sebagainya, lowongan pekerjaan juga bisa lebih banyak dijumpai.
Berbeda jika dia di kampung halaman—mungkin lowongan pekerjaan hanya sedikit dan tidak tetap. Dari pandangannya, mereka yang bersekolah tinggi pun hanya bisa menjadi petani, guru, atau pedagang dengan hasil yang biasanya justru lebih banyak mengecewakan.
“Apa kalian tidak bisa lebih lama lagi di sini?” tanya Bunda tak rela ditinggalkan pergi oleh mereka berdua.
__ADS_1
“Ustaz harus kerja, Bun...” jawab Ros membela suaminya, “dan pekerjaannya di sana.”
“Memangnya di sini tidak ada pekerjaan? Dia kan, bisa jadi guru ngaji.”
Arok menyenggol istrinya dengan siku tangannya, “Jangan mengekang. Mereka sudah menikah dan bukan urusan kita lagi untuk mengatur hidupnya seperti yang kita mau. Biar mereka mandiri dan belajar bagaimana cara menjalani rumah tangga tanpa ikut campur tangan kita. Mereka punya rencana sendiri untuk maju, jadi jangan kamu coba halang-halangi.”
Sang istri lekas terdiam.
“Menjadi guru ngaji memang tugas yang mulia, tetapi mulia untuk istrinya atau tidak? Tentu kamu tahu kemampuan orang-orang di sini yang cenderung lebih memilih kajian gratis. Terkecuali, kalau Haikal punya pekerjaan utama lain. Itu baru bisa. Tentu kau tahu bagaimana susahnya mencari pekerjaan di sini. Paling-paling mentok ya, jadi petani.”
“Suruh saja mereka bayar,” kata istrinya kemudian.
“Tidak semudah itu. Kau tahu, bukan? Bagaimana runcingnya mulut orang-orang? Mematok harga dikira guru ngaji mata duitan. Sedangkan jika gratisan, istri sendiri yang kelaparan dan rumah tangga jadi berantakan. Kita itu hidup di dunia semuanya serba salah.”
Bunda tak mau kalah, “Katanya rezeki sudah di atur sama Allah?”
“Memang benar begitu, tapi memangnya jatuh begitu saja dari langit, tentu tidak, Bun. Harus ada usahanya dulu.”
Eh, malah mereka yang berdebat. Haikal dan Ros saling melirik satu sama lain.
“Sudahlah, kalau menantu kita punya pekerjaan yang bagus, kenapa tidak kita dukung?” lanjut Arok, “toh, menjadi seorang Mutawwif juga pekerjaan yang sangat baik, mengantarkan jamaah ke tanah suci untuk melakukan ibadah—yang di mana, dia juga akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka. Jangan hanya karena kau tidak rela anakmu pergi, kau jadi mengatur kehidupannya. Kalau begitu caranya, tadinya jangan kau nikahkan mereka.”
“Begini saja, Yah... kalau nanti aku pergi cukup lama, aku bisa mengantarkannya ke sini. Aku pikir Pariaman tidak terlalu jauh dari sini kalau pakai kendaraan sendiri,” sahut Haikal yang akhirnya disetujui oleh Arok dan juga istrinya.
“Nah, begitu baru benar!” sahut bunda bersemangat.
“Ya, sudah, kalau begitu keputusannya, aku hanya bisa mendoakan. Supaya kalian selalu diberi kemudahan dalam berusaha.”
“Usaha apa, Yah?” celetuk istrinya terdengar sangat konyol.
“Maksud Loe?” jawab Arok yang sontak ditertawakan oleh anak-anaknya.
Padahal maksud Arok tadi dalam usaha dalam berkarir, bukan usaha berkembang biak seperti yang ada di pikiran istrinya!
__ADS_1
Bersambung.
Nanti malam jangan ditunggu, ya. Aku update besok.